Aglao Lokal VS Aglao Thailand

March 5, 2009 at 12:32 pm | Posted in OPINI | 3 Comments
Tags:

Aglao Lokal VS Aglao Thailand

Parameter yang digunakan : Mode of Penetration = Pola/pattern yang berhubungan dengan repositioning sebuah produk jika dalam waktu tertentu kalah karena image. Bagaimana supaya produk tersebut bisa eksis lagi, sehingga pedagangnya, devisa negara tempat asal produk bisa naik lagi…

SWOT menunjukkan Strenght factor dari produk thailand ( bisa aglao thailand atau aglao lokal yang dibawa ke thailand adalah) : produksi yang bisa massal sehingga biaya produksi menjadi lebih rendah, teknologi, dukungan pemerintah, banyaknya penyilang, jaringan distribusi.

Thesis Kontradiksi Pokok : Higher Image, Higher Price

Anti Thesis :
1. Lower Image, Lower Price = How to Destruct the image
2. Destruction through similar product with similar price = Why cheaper than here (customer question)
3. Answering : because it must cheaper actually, the prove is here, you can look at thai products is not expensive ( statement agent to customer )
4. And the customer will switching from local products to import products

Synthesis : the penetration is well done achieve actually, there is new equilibrium that the import products was positioned, it will increasing sales of import products and decrease the local products

Tapi synthesis ini akan jadi thesis baru dan begitu seterusnya…..wanna become a player ???

Contoh Kasus :

Pada waktu harga aglao lokal berada pada “optimum performance”, saya mendapatkan penawaran barang thailand dari kantong transit medan dan surabaya. Barang lokal yang dibesarkan di Thailand. Wow harga sangat berbeda dan lebih murah. Harga justru cenderung sama dengan barang thailand sendiri.
Equilibrium baru telah sedang akan diciptakan by design, harga barang lokal ditarik turun equal dengan harga barang thailand. The impacts are : prestise turun, harga juga ikut terkoreksi turunnnn…., permintaan barang lokal menurun dikarenakan rerata penggerak pasar adalah pedagang, agen barang thailand mulai kembali eksis di pasar dengan isu ” Semua aglaonema pada dasarnya sama, sama dari sisi ongkos produksi, lalu kenapa yang itu musti lebih mahal jauh diatas yang ini, padahal kalau dirawat mempunyai cita rasa yang sama . ”

Salam
Dian

Advertisements

Juara 1,2 & 3 Greg Hambali Award

March 5, 2009 at 11:47 am | Posted in OPINI | 9 Comments
Tags:

Juara 1,2 & 3 Greg Hambali Award

Rekans aglovers,

Melihat foto para jawara aglo yang menduduki posisi 1,2 dan 3 di Greg Hambali Award, ada 2 hal sederhana yang saya pribadi simpulkan .
1. Merah bukan jaminan untuk menjadi juara. Kalau kita lihat TOP 10…dari 10 pot ada 4 pot non merah dan pada akhirnya 3 pot non merah yang dikukuhkan sebagai TOP 3.
2. Aglo mahal tidak mesti menjadi juara. Di GH Award kemarin Harlequeen dikalahkan oleh Moonlightnya pak Robert.

Monggo kalo ada rekans yang mau menambahkan dan mengoreksi.

Salam,
Yenni

moonlight-mediumMoonlight

harlequinHarlequin

mutiara-mediumMutiara

Kwadranisme Aglo

March 5, 2009 at 11:41 am | Posted in OPINI | 5 Comments
Tags:

Kwadranisme Aglo 🙂

Sekedar ilustrasi ngawur siang ini, terlampir hasil urek2an tentang mapping aglo di tanah air.
Sumbu absis(X) adalah Populasi aglo (jumlah sebaran)
Sedangken sumbu ordinat(Y) adalah harga pasar (harga jual-beli)

Secara nggedabrusisme, dapat dipetaken dalam 4 quadrant utama :
1. Kwadran I : Aglo dgn populasi sedikit – harga murah (Zona Origin) [5%]
2. Kwadran II : Aglo dgn populasi sedikit – harga mahal (Zona Prototype) [10%]
3. Kwadran III : Aglo dgn populasi banyak – harga mahal (Zona Multiply) [25%]
4. Kwadran IV : Aglo dgn populasi banyak – harga murah (Zona Massive) [60%]

Tenang zodara2,.. nda perlu kesusu protes dulu, satu-persatu kita intip..

1. Kwadran I : Dikit tapi murah, kenapa?.. nda banyak yg minat utk juwal/beli.
Misal, brp aglo species yg tampilan kurang eksotis & nda pantes koleksi.
Biasanya yg ngumpulin beginian kaluk ndak breeder(tukang kawin) aglo, ya
bener2 maniak origin/species :-).. tapi nda semua species nyemplung KW 1.
Index PN(Prosentase Ngasal) = sekitar 5% dari keseluruhan aglo.
Kaluk dagang aglo KW 1 ini repot, dah laku dikit untung dikit..

2. Kwadran II : Dikit tapi mahal, pantes.. wong barang eksklusifistik..
Yg nyemplung di zona prototype ini biasanya jenis2 hybrid baru, langka dan nyleneh.
Wis mesti hanya segelintir yg sanggup mbikin & ngoleksi ini, biasanya kaluk nda breeder
ya relasi2 deket breeder atau kolektor2 papan atas. Index PN = 10%
Dagang aglo KW 2, biar laku dikit untung pasti besar, apalagi laku banyak,.. wow..

3. Kwadran III : Banyak tapi mahal,.. lha.. ini dia.. Potential Trend/Market.
Biasanya isi zona multiply ini kebanyakan berasal dari penghuni di KW 2 yg nda krasan.
Kerna dah terlalu lama dikrangkeng pada posisi harga tetap, ning ternyata populasi kadung membludak.
Posisi KW 3 adalah kuncen (juru kunci).. :-).. semua aglo yang bisa dan akan diramal/dibuat menjadi
Trend oleh TrendSetter njedul di posisi ini, biasanya melalui pameran, kontes2an, dll. Index PN = 25%
Dagang aglo KW 3 harus pinter2 & cepet2an.. untung paling besar sesaat sblm trendy..

4. Kwadran IV : Banyak – murah,.. cucok bow,.. 🙂 Aglo berjuta ummat.
Jangan salahken teknologi kultur jaringan misalnya, jika ternyata sangat dapat diandalken untuk
memenuhi kebutuhan pasar. Penghuni KW 4 bisa jadi berasal dari KW lain
yang ternyata memiliki kecepatan pembiakan yg fantastis dan ugal2an.
Justru di posisi inilah aglo dapat dinikmati oleh khalayak luas, bener2 merakyat jelata.
Index PN = 60% & dagang aglo KW4 haruslah main volume biar untung..

Mungkin nda semua aglo sanggup bertahan tetap pada salah satu kwadran,
adakalanya naik KW atau turun KW, tergantung mood 🙂

Nah,.. sumonggo,..
Barangkali ada yg mo protes, mbikin orang laen protes, atawa nambahin, dipersilahken..

salam,
Judi

Energy Positive pada Kontes AI-Trubus

November 18, 2008 at 4:23 am | Posted in KONTES AGLAONEMA, OPINI | 14 Comments
Tags:

Energy Positive pada Kontes AI-Trubus
oleh Bpk. Gatot Purwoko

Keluarga AI-ku terkasih,

Luar biasa semangat anggota AI memancar ke penjuru alam penggemar Aglaonema. Bermula dari obrolan pengurus, berlanjut pada perbincangan calon panitia, terus sampai diskusi dengan anggota. Semuanya bergelora dalam hembusan semangat gotong royong dan rasa penasaran menjawab tantangan pihak media partner sekaligus pemilik fasilitas infrastruktur, Trubus.

Dalam tahapan persiapan sebagai bagian dari proses perhelatan, tampak jelas bahwa anggota keluarga AI, bukan sekedar pandai mengobarkan semangat dan melakukan diskursus pemikiran dan pengalaman. Tindakan nyata secara fisikal dilakukan tanpa banyak gembar gembor. Sebuah tanda tanda sangat menjajikan pembuat sukses, terasa dekat teraih. Padahal kita semua tahu, bahwa seluruh nama anggota panitia punya kegiatan dan kewajiban pekerjaan nafkah yang lebih utama.

Wajah Kang Anton sebagai yang datang pertama di lokasi, tampak sumringah. Sekali lagi tanda baik, indikasi pancaran semangat yang berlanjut pada tindakan fisik secara nyata. Disusul kawan kawan lain yang siap bertugas tanpa meminta imbalan, bahkan memberi lebih, dalam harapan kemajuan komunitas. Dari situ, sejarah ditulis. Dukungan dari anggota keluarga Aglaonema Indonesia mengalir deras sebagai peserta kontes. Walau hampir seluruhnya mungkin baru pertama kali ikut kontes, namun setiap pot yang dibawa tampak bagaikan tanaman hasil pemeliharaan veteran kontes. Bravo!. “Kami memberi bukti bukan janji”, seolah spanduk raksasa terbentang menemani setiap kedatangan peserta dari AI. Bukan hanya Jakarta, Bung. Perwakilan dari Jogja dan Semarang tampak riang gembira ikut serta.

Betul, bahkan ternyata alam semesta pun mendukung. Pancaran gelombang energy positive gabungan semangat seluruh anggota AI, dialirkan oleh alam menuju pada seluruh penggemar Aglaonema di tanah air. Mulai dari Trubus, yang mudah saja memberikan beragam dukungan dan persetujuan pada setiap permintaan panitia. Sampai para kolektor besar, jawara kontes, pedagang kakap dan lainnya bergetar terpanggil untuk ikut serta atau paling tidak hadir.

Pak Songgo dan Pak Wiwik ringan saja bilang ke Trubus untuk memindahkan seluruh koleksi mereka yang sedang dipinjam untuk pameran tanaman 2 milyar. Padahal tanaman tersebut sudah terpajang 2 minggu, terlalu lelah untuk tampil juara. No worries, demi mendukung AI. Pak Harry Setiawan senyum senyum dibelakang Mas Barokah perawat andalannya, menurunkan peserta dari Rawa Domba. Pak SunSun yang sebetulnya sudah kehabisan bahan, akibat para juaranya sudah pada laku, he he he, teuteup ikut serta. Mas Tam mengantar beberapa pot raksasa dari Bogor dengan senyum mesem yang khas. Bu Santy Pieters juga tampak muncul menikmati deretan peserta dari pagar penonton. Belum lagi Pak Solimin yang juga ikut serta dan Dr. Purbo yang ambil bagian sebagai juri. Banyak lagi wajah lain pentolan aglaonema yang tak sempat saya sebut namanya menghiasi siang itu. Mereka adalah para kolektor pemegang hybrid yang mungkin hanya ada dalam jumlah tak lebih dari hitungan jari tangan dan
kaki.

Whoaaa, ada dua wajah yang sangat langka muncul. Pak Iyang (Syahrial), seorang kolektor yang menggetarkan hati, datang pula dari PekanBaru. Dengan tampilan low profile dia bergabung dalam obrolan di antara penonton. Saya jadi ingat saat kami satu kelas angkatan pertama kursus perawatan aglaonema oleh Trubus beberapa tahun yang lalu. Kemudian, saat bertatap mata dengan pak Solimin, saya mendapat kode untuk menoleh dan ………, waduh ada Pak Suhardi (dikenal juga sebagai Sukardi). Buat saya, beliau adalah setengah dewa dalam percaturan kolektor aglaonema. Kalau saya tak salah kutip, dia pernah memegang hampir 40 seedling hasil silangan Pak Greg, termasuk Casanova dan Larasati. Belakangan, dari kebun beliau, keluar Tamara, Hughes dan Arini. sementara pemegang seedling hybrid lainnya adalah Bu Soeroyo dan Dr. Purbo. Seperti dalam cerita, Pak Sukardi muncul low profile tapi tetap ramah menjawab ajakan ngobrol. Hayo ngaku siapa yang semangat “nanya
nanya” terus di pinggir ring sampai sore, he he he. Seingat saya sejak jaman Lapangan Banteng, beliau hampir gak pernah keliatan. Kali ini bukan hanya hadir, tapi ikut kontes demi aglaonema indonesia. Tribute kita kepada Aglaonema dijawab dengan penghormatan oleh para kolektor tersebut dengan kehadirannya.

Keluarga Aglaonema Indonesia-ku, ijinkan saya mengajak anda semua untuk memberi ucapan selamat pada diri kita masing masing yang telah mengeluarkan energy positif; kemudian mengucapkan terima kasih pada kawan kawan disebelah kita yang telah memberikan karya nyata sebagai panitia maupun peserta. Seratus delapan puluh dua pot peserta kontes belum pernah tercapai sebelumnya. Apalagi dengan kualitas tanaman yang dahsyat.

Tentu banyak kekurangan dan ruangan untuk perbaikan. Kita akan lakukan evaluasi dan transformasikan itu semua menjadi bahan yang sangat bermanfaat untuk kegiatan dimasa mendatang. In the mean time, little celebration will never hurt. I thank you, my friend.

Salam sejahtera,
gatot purwoko
Cirendeu

Agloholic

September 10, 2008 at 12:20 pm | Posted in CARA BERTANAM DAN PERAWATAN, OPINI | 1 Comment
Tags:

Agloholic…

Ibarat merokok, awalnya hanya sekedar coba-coba… pueehhh… pahit amat
(rupanya tembakaunya ketelen), next… sambil cengangas-cengenges bergaya
ala the changcuters didepan cewek-cewek berseragam putih abu, ae lop yu
bibeh… geulis pisan euuyyy… pahit sedikit ditahan-tahan, nyedot dari
mulut keluar pol dari hidung sampai bulu hidung hangus kecoklatan (bila
perlu keluar asep dari telinga), uhuk-uhuk… batuk ‘like hell’, muka
bengkak, mata sembab menahan perih dan ‘seedling’ serasa ditarik-tarik…
Lulus ‘seragam putih abu’ sudah ngebul terus bak knalpot mayasari bakti
atau truk bongkok keluaran tahun tujupulu… ndak ada orang merokok mati…
jarene wong ndablek ! Adem benerrrrrr….. HAH ! It’s my world… ndak
pernah kapok, malah ketagihan…

Awalnya dece, pos, butterfly, paramruay… standard, terjangkau oleh kocek
sisa belanja sayur-mayur di pasar tradisional, ndak pakai ribut, ndak
perlu surat ijin dari ‘pentagon’. Lalu besoknya sudah mulai bisa
membedakan yang burik, yang mbatik, mana lokal, mana thai . Lusa… burik
lokal, kochin langka, aglo atu-atunya, harga nomor sekian… Satu bulan
tujuh hari setelahnya sudah Rindu ama Gadis pingitan, Tiara, Widuri,
Alicia, Arini, Paulina bahkan menghayal bisa memeluk Ken Dedes dan Dewi
Ratih … ck…ck..ck… bonek, bondo nekad… pokok asal mahal dan langka, biar
ijo royo-royo… wong liyo ra nduwe…ben…. Satu Gadis nggak cukup, iler
masih suka netes setiap ngeliat ada yang lebih menor, mata seolah-olah
sudah tidak terkalibrasi, mode midnight shoot always ON, barang bagus
ndak ada yang ndak kelihatan. ‘Perang barata-yuda’ dimulai,
kebohongan-kebohongan bermula dari sini, istri tidur telentang tanpa
benangpun nggak peduli… just don’t care… terribly sorry… masih lebih
asyik ngelus-elus si Gadis atau mengusap-usap Hot Lady dan yang Sexy
Pink… anak-anak pada mengeluh (meski dalam diam)… ndak ada lagi
week-end… you’re freed to do anything, kids… dunia kita masing-masing…
begitu kejamnya dunia. Istri selalu tersenyum namun bathinnya merintih
perih… tersisih oleh klangenan what so called AGLAONEMA.

Kecemplung di aglo… uang habis jut-jutan bahkan mungkin em-eman (kalau
dibelikan bayem dijamin cukup buat nyangonin orang se kecamatan), untung
gak sebrapa, ruginya banyakbrapa…

What are you going to search for, buddy ? Long answer to a short
question… selalu ndak bisa memberikan jawaban yang lugas, singkat,
ringkas, jelas, tegas, masuk akal dan bisa diterima logika… (not even
till date).

Sudah telanjur kecemplung kenapa nggak sekalian basah aja….. ra nduwe
duwik, duitnye kagak gablek, dak ado hepeng, no money no-dong… no work
no-ngkrong…

Back to agloworld…
Kepala bak ngikutin putaran odong-odong, geleng-geleng terus saat
melihat dece tetangga yang rimbun, banyak anakan… media dari kita, pot
dari kita, epriting dari kita bahkan ditarok diluar ‘gak keurus’, hujan
panas gak kenal pupuk, cuman sesekali disiram kalau pas media kering
bianget. Tapi kok ya bisa anakannya banyak (memang nggak mulus siiyy…
seperti layaknya taneman dirawat) sementara punya kita sudah ko-it
duluan… ya jelas bisa dong… Kalau diibaratkan anak kecil maunya permen,
dia itu tidak dikasih permen, tidak juga dikasih yang lainnya, in short…
tidak dikasih apa-apa dan juga tidak diapa-apakan. Sementara kita ini
mau ngasi si anak kecil jamu brotowali (yang pahitnya sampai keubun-ubun
berasa sampai tiga hari tiga malam) yang menyehatkan (menurut kita)
sehingga si anak kecil lari terbirit-birit ketakutan, nyemplung got dan
is dead… I learned a lot, but the more I learn the more I don’t know.
Suerrr… moemet dewe…..

Apakah kita sudah terjerumus menjadi Aglaoholic ?

Continue Reading Agloholic…

Secangkir Kopi Hangat untuk Hobiis Pemula

September 5, 2008 at 4:39 am | Posted in CARA BERTANAM DAN PERAWATAN, MEDIA TANAM, OPINI | 6 Comments

Secangkir Kopi Hangat untuk Hobiis Pemula
oleh Bpk. Gede Sudarma, Jakarta

Apa bedanya antara…
– kemalingan aglo koleksi dengan
– aglo mati busuk atau
– beli aglo berkelas (baca: gengsi) dengan harga tinggi lalu dalam kurun waktu singkat harga terjun bebas dari langit ketujuh, drop mendekati harga sere / seledri di pasar kampung atau
– nggak bisa beli aglo idaman sampai kerah baju basah terus tiap liat aglo menor atau
– sekalinya bisa beli namun mulut ‘mak direktur’ bak peniup seruling ndangdut alias monyong terus ?

Dunia hobby, dunia ‘irrasional’ yang terpaksa dirasionalken demi mudahnya ngetung dapetnye berape lepasnye (baca: ruginye) berape, berape puun kali berape total ruginye berape… si Anu meninggal gara-gara kena serangan jantung… rugi sekian em gara-gara aglo, si Ana ndak pernah bisa tidur nyenyak sejak ngambil Arjuna, Si Ani uring-uringan terus gara-gara Ruby-nya dimakan Kura-Kura, Si Ano brantem mulu ame bininye gare-gare suke Rindu ame Gadis, etece…

Dengan niat ‘do something good for else’ (nak ana ma’sut laen, huerrr…), saya ingin sekedar sharing tentang pengalaman saya merawat aglo sejak lima tahunan lalu. Memang belum terlalu lama dibanding kolektor-kolektor kelas kampiun yang sudah dijadikan acuan dibuku-buku yang bahkan ‘nafas’nyapun selalu didengar (baru hidungnya kembang-kempis, belum ngomong… sudah ditulis sama wartawan, ancene pernyataan yang tepat en akurat) atau rekan-rekan kolektor, grower anggota milist AI yang terhormat (peace man…!), apalagi dibanding petani / pedagang kaki lima yang mungkin lahir, tumbuh rambut dan botax diantara semak-semak tanaman sri rejeki.
Namun dalam kurun waktu yang singkat ini rasanya (bukan saya bermaksud takabur) saya pernah mengalami masa ‘ancur-ancuran’ dalam merawat aglo, mulai dari bonggol / akar / daun busuk, akar / batang coklat, batang kopong, batang ‘njeglek’, batang / daun lonyo sampai akar batang daun lenyap tak berbekas alias digondole karoe malinge… kamprete !, dari DC sampai SP, dari Arjuna / Srikandi sampai Romeo / Juliet. Pun sebaliknya, saya pernah mengalami masa-masa ‘kedigjayaan’ dimana ‘tongkat kayu dan
batu jadi tanaman’, rasanya kok begitu mudahnya merawat aglo, setiap tancep… jrot-jrot-jrot jadi aglo ‘contest form’ (meski harga jualnya kemudian jauh dibawah harga beli saat masih anakan dulu) dan setelahnya lalu modiarr.. yo ben… wis gak enek regane… Suasana hati sangat ‘fluktuatif’, span-nya tingi, kadang merasa seperti petani paling hebat di dunia (Bojonggede, red) melihat aglo segar bugar, seolah dada dada… dan berujar… selamat pagi pak de, selamat sore pak de… sementara besoknya hati ini benar-benar merasa gak pede blaszs… kala membongkar SP akarnya gundul bahkan bonggolnyapun sudah tiada, herannya kok daunnya nggak njeglek… dasar penipu…
Hampir semua media yang pernah kita kenal pada umumnya ataupun yang nggak umum yang jarang kita kenal pernah saya pakai. Pakis, sekam bakar, sekam mentah, andam, e’ek embek baik yang sudah jadi tanah ataupun yang masih ‘glondongan’, kotoran kelelawar (kalau yang ini kayaknya belum deh… baru ide), kaliandra, pasir malang, pasir bangunan (semua sudah diayak), daun bambu, cocopeat, cocochip, arang batok, arang kayu, pecahan bata, pecahan batako, pecahan genteng, tanah sawah, tanah merah / coklat / hitam, gabus / styrofoam … sampai pada pupuk moderen made in dalem negri sampai dari bawah planet, be-satu, growmore, super thrive, hyponex, gandasil, osmocote, dekastar, atonik, metalik, extreme root, extreme growth, bao-de, ‘viagra’, root-up, quick grow, biozon, similikiti, weleh weleh, capek deh… blender gak lagi dipakai nge-jus buah, rusak gara-gara buat nge-gerus taie-kambinge… binie sewote… malem-malem begitu kumendan tidur kita mengendap-endap bak orang mau selingkuh, nggodok media sambil mulut ngepul terus kayak sepur taun dodol, aduk-aduk layaknya mengaduk cairan bijih emas yang siap dicetakdan menghayal besoknya punya kumpeni sekelas deBeers… atau minimal jadi saingan Wijaya… the art of the garden… kadang sampai jam 2 pagi masih cuci-cuci media atau sekedar ngelap-ngelap daun, spray-spray tipis (padahal jam ½ tigaan sudah harus diangkut sama malingnya)… UEDIAN TENANAN !
Sekali lagi ini hanya pengalaman saya bergila-ria dengan aglo… atas nama hobby (meski terpaksa banyak bohong sama bini), ditempat saya, dengan kondisi lingkungan alam Buitenzorg (Bogor), tepatnya di BSD (Billabong Sonoan Dikit alias Pura Bojonggede), air sumur fresh (kalau diminum benar-benar bisa menghilangkan dahaga), cukup panas namun sering hujan (Bogor hanya mengenal 4 musim – musim mendung, musim hujan, musim banjir dan musim kawin…he…he…), tempat sempit, sinar matahari terbatas
(11AM-14PM), angin hanya mengandalkan exhaust fan (kalau PLN nggak ‘njeglek’). Di tempat lain mungkin akan berbeda bahkan seratus delapan puluh derajat. Jadi ini sifatnya hanya ’emperis’, ‘gak elmiah blasss…’
butuh diverifikasi, dikoreksi… dan bila perlu boleh kasi komisi (…asal jangan bonggolan dece!) untuk mungkin kedepan bisa dijadikan sekedar buku saku untuk menghindari ‘totally damaged’ terutama untuk aglo kelas ‘benci tapi rindu’, ‘rindu ama gadis’ atau ‘mata melek otak njeglek’ (bak abis di-ka-o mat taisen).

Continue Reading Secangkir Kopi Hangat untuk Hobiis Pemula…

Lesson Learn (dari kemalingan kemaren)

August 16, 2008 at 5:58 am | Posted in OPINI | 8 Comments
Tags:

Lesson Learn (dari kemalingan kemaren)

Saya sudah melupakan kejadian kemalingan kemaren (meski ada rasa sedih membayangkan tanaman klangenan ditaruh di karung dan entah bagaimana perawatan selanjutnya). Namun saya tetap memohon bantuan rekan-rekan milist seandainya menemukan tanda-tanda kemana aglo klangenan pergi, bisa kasi info / sms ke hape saya (0811997363). Penasaran saja siapa yang ‘membeli’ aglo saya tersebut, karena mereka ‘lupa mbayar’. Berharap aglo balik sih kecil kemungkinannya.
Semua ini demi ketenangan / kenyamanan kita bersama menghobby aglo.
Dari lubuk hati terdalam sekali lagi saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala support dan dukungan moril yang telah diberikan kepada saya. Ini telah mengembalikan semangat saya melangkah kedepan. Kemalingan adalah perkara biasa.
Yang menyebabkan nggak biasa, si ‘mister stranger’ juga telah membawa ‘hati’ kami sekeluarga. Anak saya yang cewek (masih kecil) sampai merengek dibelikan aglo lagi yang warnanya pink karena selama ini yang merah dan pink katanya punya dia. Sekarang mungkin belum bisa memenuhi keinginannya namun minimal ada beberapa aglo yang tersisa dan cukup untuk membangkitkan semangat menghobby aglo.

Lesson learn yang bisa diambil dari kejadian kemaren….
1. Si maling tahu jenis tanaman hias bernama aglo namun tidak tahu persis mana yang mahal, murah, langka, banyak… melihat yang diambil adalah semua jenis batik rona merah/pink (Termasuk Adelia, PoS, Thai Hybrids) dan aglo anakan yang mudah dijual, sedangkan beberapa yang masih lumayan jarang namun berwarna non-merah/non-pink atau lipstik masih disisakan seperti Moonlight, Lipstic Red, Mutiara, Legacy Putih, Gadis (mungkin dikira Tricolor), Jake Hanny, Srigading yang hijau (yang ada banyak pink diambil).
2. Pasang pagar yang rapat dengan bahan yang tidak mudah ditembus, digunting atau dirobek terutama untuk aglo koleksi.
3. Jangan pernah menyisakan celah lebih dari 4cm kepada si maling untuk bisa masuk atau menjarah dengan tangan / alat jepit atau memasukkan alat potong / gunting pagar.
4. Pasang alarm atau (bila perlu) cctv yang minimal bisa memitigasi kemalingan. Bisa juga ditambahkan  kaleng-kaleng berisi kerikil / kelereng yang dapat menimbulkan gaduh disekitar kita menaruh aglo. Juga  digantung kaleng-kaleng yang dapat menimbulkan suara bila kepentok.
5. Jangan pernah percaya satpam / sekuriti (dan jangan pernah percaya suara ting-ting, tiang listrik yang dipukul menandakan kondisi lingkungan aman, bisa jadi ini dilakukan si maling untuk melelapkan tidurnya si pemilik rumah).
6. Jangan pernah percaya orang asing / orang baru yang ingin melihat aglo koleksi.
7. Jangan terlalu percaya sama ketinggian pagar / tembok maupun duri-duri / beling yang dipasang diatas pagar / tembok (antisipasi juga kalau si maling menggunakan tali untuk manjat…)
8. Selalu pantau dan awasi siapa saja yang suka lewat di sekitar rumah kita.
9. Awasi juga tukang kembang, pemulung atau tukang-tukang lainnya yang sering lewat didepan rumah kita (bila perlu ambil fotonya secara diam-diam).
10. Lakukan semacam job safety / security analyses disekitar kita menaruh aglo dan lingkungan terdekat (contoh: kalau saya begini akibatnya bagaimana, dlsb).
11. Selalu waspada, berdoa dan sadar bahwa sesuatu yang ada (dalam hal ini aglo) bisa tiada / hilang.
12. Jangan pernah menyepelekan aglo murah, terlepas dari berapa harganya sebab kadang hati kita juga tertambat disitu.
13. Kalau terdengar atau terlihat sesuatu yang mencurigakan jangan langsung keluar sebab bisa jadi si maling tidak sendirian dan bawa senjata (saya sendiri sudah siapkan pipa 2 inchi sepanjang 2 m, minimal untuk ngampleng si maling)
14. Berserah diri total sama Yang Di Atas (‘air di dalam gelas tidak bisa melewatkan sampan tapi bila air segelas tersebut ditumpahkan kelaut niscaya bisa melewatkan kapal’).

Mudah-mudahan kita bisa tenang menghobby aglo ataupun tanaman hias lainnya.

Selamat menghobby aglo…

Salam,
Gede Sudarma
HP. 0811997363
dulu berburu aglo untuk dikoleksi, kali ini
benar-benar berburu aglo koleksi (yang digondol
maling)… sama-sama tantangan…

Nama Aglao dan UU No. 8 Tahun 1999

February 27, 2008 at 11:46 am | Posted in OPINI | Leave a comment

Nama Aglao dan UU No. 8 Tahun 1999

Sekedar wacana yang muncul dari diskusi ‘penamaan aglao’ dan ‘nama aglao’. Beberapa persoalan jadi menarik dilihat dari kacamata UU  NOMOR 8 TAHUN 1999
TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN
 
Kasus 1 :
Beberapa aglao dijual di pasar, sering ditawarkan sebagai ex si A, ex si B, dari negara A, dari negara B, etc, etc. Atao ada yang mengatakan barang ex A lebih berkualitas dari ex B, etc, etc. 
Dari diskusi milis, ternyata diketahui banyak juga aglao2 di atas masih simpang siur asal-usulnya, belum diyakini ex siapa.
Dus, mengacu Pasal 9 ayat (1) : Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan, mengiklankan suatu barang dan/atau jasa secara tidak benar, dan/atau seolah-olah:
h. barang tersebut berasal dari daerah tertentu;
i. secara langsung atau tidak langsung merendahkan barang dan/atau jasa lain;
Moral cerita : hati2 dalam pencantuman adjective seandainya ndak yakin benar. Apalagi kalau pabrikannya malah ndak ingat dan lupa ……  ho ho ho ho
 
Kasus 2 :
Beberapa aglao punya kemiripan nama meski diyakini asal aglao tersebut berbeda, yang satu dari negara A yang satu dari negara B.
Dari diskusi milis, hal demikian diakui mulai marak akhir2 ini. Meskipun tidak secara explisit menyalahkan penjual ex B, namun tetap terasa ada imbauan agar ex B berganti nama.
Ini agak rumit. Mari kita liat :
Pasal 21 ayat (1) :  Importir barang bertanggung jawab sebagai pembuat barang yang diimpor apabila importasi barang tersebut tidak dilakukan oleh agen atau perwakilan produsen luar negeri.
Pasal 24 ayat (1) a :  Pelaku usaha yang menjual barang dan/atau jasa kepada pelaku usaha lain bertanggung jawab atas tuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen apabila: pelaku usaha lain menjual kepada konsumen tanpa melakukan perubahan apa pun atas barang dan/atau jasa tersebut
Pasal 24 ayat (2) : Pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dibebaskan dari tanggung jawab atas tuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen apabila pelaku usaha lain yang membeli barang dan/atau jasa menjual kembali kepada konsumen dengan melakukan perubahan atas barang dan/atau jasa tersebut.
Moral cerita :  imbauan perubahan nama selayaknya dialamatkan pada ‘importir’ atau pembuat nama pertama kali. Jangan dialamatkan ke pedagang perantara, kasihan beliau nanti, dah jatuh tertimpa tangga pula.
 
Ada dua sanksi atas pelanggaran UU ini. Sanksi administratip (ganti rugi max Rp 200 juta)  dan Sanksi Pidana (max 5 tahun penjara atau max denda Rp 2 milyar).
 
Apa lagi …… ? Mohon dikaji masing2, baik dalam posisi sebagai pelaku usaha atau dalam posisi sebagai konsumen. Dapat dilihat di http://www.balitbangham.go.id
 
 
Monggo silakan dilanjut ………
 
 
Ganggeng Kanyoet 

Konsep nutrisi, bukan konsep pupuk

February 5, 2008 at 12:22 am | Posted in OPINI | Leave a comment
Konsep nutrisi, bukan konsep pupuk  
Ada pernah liat Indah Kiat, RAPP mupuk areal HPH  ? Ada pernah liat mbah Marijan mupuk hutan di Plawangan Merapi ? Tak pikir ndak ada ya. Tetap aja hutan2 tersebut tumbuh subur tanpa pupuk. Randu Belatung ndak pernah dipupuk, pohon jatinya juga bisa lebih dari sepelukan orang dewasa.
Kalau London Sumatra Plantation mupuk kebun sawitnya, Gula Putih Mataram ndak pernah lupa nambahi pasir silika di kebun tebunya, simbah2 menambahkan urea, KCl, kotoran sapi, abu bakaran jerami atau gamping di sawahnya, pasti ada mangsud dan tujuan dibelakang itu.
Ini perlu direnungkan. Mengapa mupuk, kalau tanpanya tanaman juga bisa tumbuh ?
Pasti bukan karena alasan ‘tanpa pupuk’ tanaman  bisa tumbuh, sawit  berbuah, rendemen tebu turun, bulir padi gabug, etc, etc, etc. Pasti ada tujuan lebih khusus lagi.
Yes, tak pikir2 lagi mereka telah belajar selama ini, tambahan material tertentu pada tanah membuat tanaman merespon dalam bentuk sifat tertentu seperti yang simbah2 impikan, misal buah jadi tambah besar, tumbuh gigas, bunga makin menarik, daun makin kinclong, etc, etc.    
Pointnya adalah : mupuk atau ndak mupuk bukan karena tanahnya jelek (miskin hara) atau tanahnya bagus (kaya hara). Mupuk karena berharap tanaman berespon tertentu yang memang simbah2 inginkan. Mupuk agar tanaman ‘do better’ klop dengan impian simbah.
What about aglao ? Respon seperti apa yang kita harap dari aglao ? Pupuk apa yang harus diberikan ?
Pertanyaan2 itu harus dijawab supaya ndak timbul ‘kelatahan’ seperti selama ini terjadi di-mana2: mupuk karena beranggapan tanah / media kurang nutrisi. Mupuk masih dianggap sebagai jaminan supaya media jadi kaya nutrisi. Itu saja, ndak ada tujuan khusus. Meanwhile kelatahan mupuk malah sering jadi sebab matinya tanaman, pencemaran lingkungan, pemborosan sumber daya alam, dan boros duit.
Banyak yang masih berkonsep ‘memupuk’ dibanding konsep nutrisi.
Saya terilhami penggunaan ‘tanah sawah’ by Mr. GS4610. Setelah tak pikir2, kok menarik juga praktek seperti beliau. Ada rekan lain yang pernah nyoba media tanah dan bisa berbagi pengalaman ? Saya pengin nyoba juga.
  
Ganggeng Kanyoet

Aglao Lokal Vs Impor

January 24, 2008 at 11:38 am | Posted in OPINI | Leave a comment

Aglao Lokal Vs Impor
oleh Bpk. Gede Sudarma

Secara umum aglo lokal lebih langka dari aglo thai dan secara umum juga aglo lokal tajuknya lebih bagus (njegrak) dibanding aglo thai yang cenderung gemulai. Tapi tidak semua begitu, belakangan ada juga aglo thai yang njegrak seperti legacy, dll. Kalau variasi warna sejujurnya saya bilang aglo thai lebih ‘colourful’ dibanding aglo lokal (yang banyak ‘mbatik’) dan karena aglo thai produksinya massal maka harga bisa miring. Nantipun kalau aglo lokal sudah banyak harga bisa miring.
(Note: berdasarkan ngobrol dengan Pak Haji Achmad – makasi sebelumnya atas pencerahannya, Pak Haji – , sebetulnya Pak Greg-pun tidak menghendaki harga aglo lokal terlalu tinggi sehingga bisa terjangkau oleh orang kita, bisa memperbanyak untuk kemudian diexpor keluar – kalau masalah nasionalisme, kita-kita kayaknya masih kalah jauh dari Pak Greg -. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, akibat ulah segelintir pedagang, harga aglo lokal menjadi selangit, orang kita nggak sanggup beli, aglo lokal banyak dibeli orang luar untuk diperbanyak, setelah diperbanyak kemudian dijual lagi ke orang kita… )
Pada hakekatnya tingkat harga aglo lebih dominan ditentukan oleh kelangkaannya (ini juga tergantung tingkat ‘kegilaan’ hobbyst-nya), jumlah produksinya, baru kemudian coraknya / tajuknya, dst, dsb, dkk….
Mudah-mudahan membantu… (biasanya hari Jumat isinya becanda, ini kok malah jadi serius…)
 
Salam,
Gede Sudarma

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.