MSC – Mejeng Sebelum Contreng !

April 8, 2009 at 3:59 pm | Posted in PERBANYAKAN AGLAONEMA | 2 Comments

MSC – Mejeng Sebelum Contreng !

Frens,

Menjelang contreng mo sharing yang merah merah.. btw bukan kamfanye  merah merah ye.. yang ini dah rada kurang merah dah ada penghijauan dikit.

Ming Mongkol

Namanya ming mongkol termasuk seri sayur mayur lah kalo versi para ningrat aglaonema. Namun bukan jenisnya yg hendak aku sharing pada teman2 melainkan ada cerita sedikit tentang dia.

Aglao ini aku rawat sejak 3 daun pada akhir Agustus 2006.. (ternyata dah lama ya). Sampai maret 2008 si ming mongkol ini sudahpun aming masih lagi sebatang, ogah branak. Diam diam dilakukan sesuatu padanya atas ide mas Faza daripada Citrus Garden yg meracik ‘obelix’ hasil reka reka logik kira kira yang diilhami oleh ‘asterix’ nya Mister GK yg sudahpun dipublish dimilis cukup ampuh numbuhin tunas anakan.
obelix

Obelix kemudian diaplikasikan pada beberapa aglao perawan tua nan aming2 salah satu si ming mongkol. Walau sebenarnya ming mongkol ini bukan yang paling berhasil (paling top, red kochin dengan 11 anak sekaligus) namun karena sudah lama ga bertunas, prestasi ming mongkol ini lumayan lah.

salam

zai

Hati-hati Pacu Anakan dengan Sinar Matahari

April 8, 2009 at 3:23 pm | Posted in PERBANYAKAN AGLAONEMA | 1 Comment

Hati-hati Pacu Anakan dengan Sinar Matahari

Pren … di milis ini banyak sekali pakar aglao, baik yg ilmunya didapat karena makan bangku sekolahan atau autodidak. Sementara keberhasilan teman2 mengembang biakan dan menghasilkan aglao kelas kontes bukan didapat dalam waktu singkat, tapi butuh waktu lama, diantaranya melakukan tryal n error …

Nah kita-kita yg nggak pernah makan bangku sekolahan  (ilmu pertanian), harus rajin mendengarkan tausyiah para senior dan sesepuh, terus berusaha untuk melakukan uji coba. Kalau berhasil ya harus bersyukur pada yang  diatas, kalau nggak berhasil ya  bonggol di buang, beli lagi. Habis perkara.

Dari situ kita akan mendapatkan ilmu baru. Tapi harap diingat, keberhasilan di tempat lain belum tentu akan berhasil di tempat kita. Sukses pada aglao jenis lain belum tentu sukses untuk jenis aglao yg lainnya. Dan itu sudah saya buktikan.

Uji coba saya lakukan pada pusaka (legacy). Setelah baca Trubus, biar banyak anak harus sering2 di jemur. Saya coba selama 4 hari berturut2, hasilnya ….. legacy saya malah erek** (maaf). daun pada njegrak ke atas semua. Dari pada legacy jadi sapu lidi, uji coba saya hentikan ….

Adakah yang salah pada percobaan saya? mohon penjelasan dan pencerahan dari senior

 

salam

jual_gosip

Kultur Jaringan Aglaonema di Dapur

March 10, 2009 at 3:30 pm | Posted in PERBANYAKAN AGLAONEMA | 52 Comments
Tags:

Quote:”Menurut Edhi, semua jenis tanaman dapat diperbanyak dengan metode ini. Edhi telah berhasil mengkultur nepenthes, aglaonema, dan anggrek. Itu terlihat di ruang inkubasi seluas 2 m x 3 m. Di sana botol-botol berisi eksplan Nepenthes rafflesiana, aglaonema tiara dan widuri, philodendron, serta jati berbaris rapi di rak besi 3 tingkat.”

Kalau aglaonema tiara dan widuri sudah berhasil di KJ, apakah ndak ada kemungkinan untuk meng-KJ aglaonema yang lain ya? stardust, rindu, gadis, red imrpessa dsb?

salam,
tomo

Kultur Jaringan Aglaonema di Dapur

BAGI SEBAGIAN ORANG, TAUGE DAN BUNCIS PALING DIBUAT OSENGOSENG. PISANG UNTUK CUCI MULUT DAN AIR KELAPA BUAT MINUMNYA. NAMUN IR EDHI SANDRA MSI, DI BOGOR, MEMAKAI SEMUA BAHAN ITU SEBAGAI MEDIA KULTUR JARINGAN. PARA PENGHUNI DAPUR ITU MENYULAP UJUNG TUNAS SEPANJANG 3 CM JADI 1.000 TANAMAN.

Semua berawal 14 tahun silam di ruang sempit 2 m x 3 m yang berisi autoclave, laminar, dan botol kultur di rak setinggi 2 m. Di salah satu laboratorium kultur jaringan Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, itu Edhi menatap 17 bahan media Murashige dan Skooge (MS) dengan wajah bingung. ‘Harga bahan media MS saja sudah Rp15- juta, belum biaya lainnya,’ kata kepala unit kultur jaringan di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, IPB, itu. Padahal, ketika itu dana yang dimiliki sangat minim.

Ketika itu media MS harus diracik sendiri, belum ada yang dijual dalam bentuk jadi. Untuk membuat media MS 1 liter, mestinya hanya butuh 0,25 mg sodium molybdate, Na2MoO4. Apesnya, bahan itu tak bisa dibeli eceran. Edhi mesti membeli kemasan paling kecil isi 100 g. Harganya Rp690.000. Hormon Thidiazuron 100 mg harganya Rp1,7-juta. Padahal, pemakaian cuma 0,005-0,2 mg/l. CoCl2 25 g Rp1,3-juta, pemakaiannya hanya 0,025 mg/l.

Kegundahan Edhi sirna setelah bertemu mendiang Prof M Yahya Fakuara, guru besar di Fakultas Kehutanan, IPB. ‘Jangan menyerah, gunakan plasma nutfah yang banyak di Indonesia. Jangan mengekor terus dengan teknologi Barat,’ ujar Edhi mengulangi ucapan Yahya. Kata-kata pria yang meraih gelar doktor di University of The Philippines itu membuat pikiran Edhi mengkristal. Ingatannya melayang ke masa kuliah tingkat satu dulu.
Air kelapa

Di tingkat pertama kuliah, 1984, Edhi gemar mengoleksi anggrek. Di dunia anggrek itulah Edhi mengenal air kelapa. Para penganggrek senior yang tak mengenal ilmu pertanian kerap menggunakan air kelapa sebagai campuran media penumbuh biji anggrek dalam botol. Edhi lantas membuka-buka literatur mengenai air kelapa. Ia menemukan air kelapa kaya potasium atau kalium hingga 17%. Dengan kalium tinggi itu, air kelapa merangsang pembungaan anggrek dendrobium dan phalaenopsis. Mineral lain seperti natrium (Na), kalsium (Ca), magnesium (Mg), ferum (Fe), cuprum (Cu), fosfor (P), dan sulfur (S) ada dalam air kelapa.

Air kelapa juga kelompok hormon alami: auksin dan sitokinin. Dalam kultur jaringan auksin berperan memicu terbentuknya kalus, menghambat kerja sitokinin membentuk klorofil dalam kalus, mendorong proses morfogenesis kalus, membentuk akar, dan mendorong proses embriogenesis. Sedangkan sitokinin merangsang pembelahan sel, proliferasi meristem ujung, menghambat pembentukan akar, dan mendorong pembentukan klorofil pada kalus.

Sayang, Edhi tak bisa langsung memakai air kelapa sebagai media kultur jaringan. ‘Komposisi untuk media anggrek dan kultur jaringan berbeda,’ ujar Sarjana Biologi, IPB, itu. Beragam volume air kelapa mulai dari 150 ml, 200 ml, 250 ml, hingga 500 ml per liter media kultur diuji kecocokannya. Empat bulan berselang Edhi mendapat takaran yang pas, 150 ml air kelapa/l media.

Usai meneliti komposisi air kelapa yang pas, Edhi mencari bahan pemasok unsur hara. Lazimnya pada kultur jaringan dipakai bahan proanalis alias senyawa murni. Misalnya KNO3 murni. ‘Karena murni, maka harganya mahal,’ kata ahli fisiologi tanaman itu. Ia lalu mengganti sumber unsur hara dari proanalis dengan teknis (kemurnian rendah, red) yang murah. Misalnya KNO3 murni yang harganya Rp900.000/100 g diganti pupuk NPK yang mudah diperoleh di toko pertanian. Harganya di bawah Rp50.000.
Sayur dari dapur

Namun, itu saja belum cukup, ada 6 penyusun media kultur yang wajib dipenuhi: unsur makro dan mikro, vitamin, sumber energi, bahan organik seperti asam amino dan asam lemak, pemadat, serta hormon. Lagi-lagi demi menghemat biaya Edhi menggunakan pisang ambon sebagai sumber energi di media kuljar. Itu karena anggota famili Musaceae itu mengandung karbohidrat yang berenergi tinggi. Dalam 100 gram berat kering pisang mengandung energi 136 kalori.

Edhi juga menggunakan sayuran taoge dan buncis yang biasa dimasak sang istri sebagai campuran bahan media. Yang disebut pertama mengandung antioksidan, vitamin E, kanavanin-jenis asam amino-, dan hormon auksin. Sementara buncis mengandung protein, karbohidrat, vitamin, serat kasar, dan mineral. Namun, yang paling penting diambil dari buncis adalah sitokinin yang bisa memacu pertumbuhan tunas.

Akhirnya setelah 10 tahun meneliti, Edhi menemukan takaran ideal bahan organik untuk media kultur jaringan. Ia pun membangun laboratorium di rumah tinggalnya di Taman Cimanggu, Bogor.

Sayang, semuanya tak berjalan mulus. Kalus dalam botol kaca mengalami kontaminasi hingga 40-60%. Anehnya terjadi 1-2 bulan setelah eksplan dimasukkan ke dalam botol. ‘Yang parah kontaminasi bisa sampai 80% jika mati lampu,’ kata Ir Hapsiati, sang istri. Maklum, laboratorium di rumah Edhi tak secanggih perusahaan besar. Di perusahaan modern kultur jaringan dilakukan di ruang steril. Pelakunya memakai pakaian khusus. Suhu ruang inkubasi tempat penyimpanan kultur pun stabil, 20oC, lantaran ber-AC. Di tempat Edhi, ruang inkubasi dekat dengan dapur dan tak berpendingin.
Karet gelang

Ayah 3 anak itu lebih berhati-hati mensterilisasi eksplan, botol, dan media. Namun, betapa keras ia jaga kebersihan, bakteri selalu datang. Sampai suatu ketika, awal 2008, pria bertubuh gempal itu terkejut melihat 3 botol berisi eksplan di ruang terbuka di lantai 2 rumahnya malah tumbuh subur. ‘Di sana mereka kehujanan dan kepanasan selama sebulan, tapi tak terkontaminasi bakteri sedikit pun,’ ujar master ilmu pengetahuan kehutanan, IPB, itu. Usut punya usut penutup botol berbeda dengan yang lain. Tutup plastik dobel 3 dengan 30 karet gelang.

Biasanya hanya satu lapis plastik dan diikat 2 karet gelang untuk botol yang ditaruh dalam ruang inkubasi. Rupanya ketika itu Edhi ingin menguatkan tanaman kultur sebelum dikeluarkan dari botol alias hardening. Plastik transparan yang digunakan untuk menutup botol digandakan 3 kali dan ikat dikencangkan dengan 30 karet gelang.

Dari kasus itu Edhi menduga sumber masalah terletak pada kerapatan penutup botol. Ternyata benar, selapis tutup plastik tak bisa menahan tekanan dari luar yang besar. Karet gelang pun memuai jika terkena panas sehingga 2 karet tak cukup kencang. Bila memuai, ikatan kendor. Bakteri pun masuk dan beranak-pinak dalam botol yang kaya hara.

Edhi lalu menambah lapisan plastik penutup botol dan karet gelang. Mulai dari 6, 8, dan seterusnya hingga akhirnya didapat yang benar-benar ideal. Kini ia menggunakan 5 lapis plastik transparan dan 50 karet. Hasilnya, tak ada lagi eksplan yang terkontaminasi meski kucing kesayangan Edhi kerap beristirahat di antara botol-botol berisi eksplan.
Patahkan mitos

Penelitian Edhi mematahkan mitos teknik kultur jaringan berbiaya mahal dan sulit. Dengan cara Edhi yang organik, biaya produksi hanya Rp400/tanaman. Sementara dengan MS dan bahan-bahan murni Rp1.000/tanaman.

Menurut Edhi, semua jenis tanaman dapat diperbanyak dengan metode ini. Edhi telah berhasil mengkultur nepenthes, aglaonema, dan anggrek. Itu terlihat di ruang inkubasi seluas 2 m x 3 m. Di sana botol-botol berisi eksplan Nepenthes rafflesiana, aglaonema tiara dan widuri, philodendron, serta jati berbaris rapi di rak besi 3 tingkat.

Bila jumlah tanaman telah memenuhi kuota, misal 1.000 tanaman, Edhi mengeluarkan dari botol dan menanamnya secara berkelompok dalam pot bermedia campuran sekam bakar dan cocopeat. Maka tanaman hasil kultur jaringan dari dapur siap dipasarkan. (Rosy Nur Apriyanti)

Sumber: http://www.trubus-online.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=1&artid=1697

TEKNIK PERBANYAKAN VEGETATIF BEBERAPA AKSESI AGLAONEMA

November 5, 2008 at 3:37 am | Posted in PERBANYAKAN AGLAONEMA | Leave a comment

TEKNIK PERBANYAKAN VEGETATIF BEBERAPA AKSESI AGLAONEMA
MENGGUNAKAN SETEK MATA TUNAS TUNGGAL DENGAN BATANG TERBELAH
Laily Qodriyah1 dan Agus Sutisna2

1Teknisi Litkayasa Pelaksana dan 2Teknisi Litkayasa Nonkelas pada
Balai Penelitian Tanaman Hias, Jalan Raya Ciherang, Segunung, Pacet,
Cianjur 43253, Kotak Pos 8, Sindanglaya, Telp. (0263) 512607,
Faks. (0263) 514138
Buletin Teknik Pertanian Vol. 12 No. 2, 2007 75

Aglaonema atau lebih dikenal dengan nama Sri Rejeki merupakan salah satu tanaman hias berdaun indah yang sangat populer di Indonesia. Melejitnya harga aglaonema beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa para pencinta tanaman makin melirik kepada jenis tanaman yang memiliki daun indah, tidak hanya yang berbunga indah dan beraroma wangi saja (Budiarto 2007).
Aglaonema berasal dari daerah Asia beriklim tropis, dan tersebar dari Cina bagian selatan, Myanmar, Thailand, Malaysia, Indonesia hingga Filipina (Leman 2004). Di habitat aslinya, tanaman ini hidup di hutan di bawah tegakan pohon yang terlindung dari sinar matahari langsung (Trubus 2006).
Aglaonema diklasifikasikan ke dalam famili Araceae bersama-sama dengan anthurium, philodendron, dan diefenbachia (blanceng). Genus Aglaonema memiliki lebih 80  spesies dengan tempat tumbuh menyebar dari dataran rendah hingga medium. Hingga kini beberapa ahli memperkirakan masih banyak spesies-spesies alam dan varian-varian aglaonema yang belum ditemukan dan diketahui deskripsinya (Nicholson 1969).
Aglaonema dapat diperbanyak dengan menggunakan biji, anakan, dan setek batang. Pada skala komersial, setek batang merupakan cara perbanyakan yang umum dilakukan.
Para petani biasanya memperbanyak tanaman dengan cara memotong batang sepanjang 3-4 cm. Potongan batang yang memiliki 3-5 ruas ini kemudian ditanam dengan posisi horizontal hingga tumbuh tunas. Selanjutnya, tanaman baru dipindahkan ke dalam pot (Andrianto dan Indarto 2004).
Namun, dengan cara ini tunas yang tumbuh hanya berkisar 1-3 tunas dan tidak seragam (Siar et al. 2002).
Batang aglaonema berbentuk silinder berbuku dengan mata tunas terdapat pada setiap ruas. Menurut Budiarto (2007), setiap mata tunas tidur ini berpotensi tumbuh menjadi tanaman baru. Selain respon genotipe, perubahan dominasi apikal selama masa penyetekan dan umur batang/tunas juga
mempengaruhi pertumbuhan setiap mata tunas. Percobaan bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan mata tunas tidur beberapa aksesi aglaonema menggunakan setek batang mata tunas tunggal dengan batang terbelah.

Selengkapnya silahkan download di sini : Perbanyakan Vegetatif Aglaonema

Kiat memperbanyak Aglaonema cara cepat (4)

January 27, 2008 at 1:44 pm | Posted in PERBANYAKAN AGLAONEMA | 1 Comment

Kiat memperbanyak Aglaonema cara cepat (4)

Pak Faries Fadhil wrote:
thx bu Thari, berarti ada yang tertukar di kepala saya ttg fungsi ABA dan Ethylen. Tapi ada juga lho sitokinin yang digunakan untuk defoliasi.. yaitu Thidiazuron Trus ttg percobaan Darwin, setahu saya auxin itu ditemukan awal tahun 1900an, dan keberadaannya sempat diragukan. dan pada thn 1970an sudah ditemukan kalo memang auxin akan rusak oleh cahaya matahari (lihat buku Plant Physiology tulisan Salisbury n Ross 1995) dan juga suhu yang tinggi. makanya auxin disimpan di tempat yang aman dari cahaya matahari dan suhu tinggi. Pemakaian auxin pada konsentrasi tinggi memang akan membunuh tanaman. Ada beberapa Herbisida yang bahan utamanya adalah Auxin jenis 2,4D Membaca tulisan ibu membuat saya harus menggali lagi apa2 yang pernah saya pelajari di kampus IPB dulu. Semoga diskusi ini bisa menjadi lebih menarik

Pak Zainuddin Siregar wrote:
Bravo.. bu thari.. Terimakasih sharing ilmu-nya bu.. dari hanya tahu prinsip-nya sikit sikit.. aku bisa dapat ilmu lebih banyak nih…
Btw.. auksin dapat dari mana ya bu ? Apa nama produk di pasaran ya ?

Ha ha ha.. Black velvet tidak dimutilasi bu.. ceritanya begini.. beberapa bulan lalu saat milis aglaonema cuma punya 1 anggota, saat buka-buka internet aku lihat gambar koleksi black velvet Bung Faries di milis tetangga dan saat itu beliau beritahu harga si BV cukup mengagetkan, kebetulan ketika itu aku sedang berada di negeri origin si BV itu. Lantas aku bawa satu induk black velvet ukuran cukup besar dari kota Sandakan, Sabah, Borneo, lebar daun sudah mencapai 25 cm dan bulb (umbi) sudah sebesar ibu jari kaki panjang sekitar 10 cm. Sayang sekali sesampai di medan semua daun sudah menguning karena stess berat satu hari jalan darat dari lokasi ke Kota Kinabalu ditambah transit selama 2 hari di semenanjung dan si BV masih tetap dalam bungkusan koran dan plastik kresek dan terbalut pakaian kotor karena takut ketahuan karantina dan masih dalam tas pakaian.. maklum saat itu gak tahu bagaimana packing tanaman yang aman. Jadilah cuma bulb yang aku harapkan bisa diperbanyak.. Kala itu aku sudah pernah pakai NG dan GM untuk adenium kami.. aku coba NG ini kali aja bisa menumbuhkan lebih banyak anakan dari bulb si BV tadi.. beberapa lama kemudian tumbuh anakan pertama (si sulung ini yang akhirnya pindah ke Yogya).. waktu bongkar untuk dipisahkan dari bulb nya.. wow.. surprise.. ternyata ada banyak tunas ukuran 1-4 cm telah bermunculan dari bulb induk tadi.. dan ketika itu si bulb menghasilkan 10 individu baru.. Sekarang pun bulb tadi masih punya 2 tunas kecil, yang terakhir yang ke 11 aku pisah untuk pak Judi.. Ide penggunaan sitokinin ini lah yang aku gabung dengan mutilasi aglaonema nya pak Judi bu.. barangkali bisa dapat tunas anakan yang lebih banyak.. ternyata.. ada benarnya..

Begitu kira-kira bu Thari.. jadi ga tega-tega kali lah, si BV cuma dipaksa beranak aja.. he he he…

Wassalam

Zai

Pak Faries fadhil wrote:
di pasaran bebas auxin sepeti IBA, IAA, atau NAA hampir tidak ada. anda bisa beli auxin di toko kimia. bilang aja beli IBA, NAA atau IAA. jangan ambil auxin yang 2,4D, yang ini kalo ga tau makenya bisa membunuh tanaman.

Atau kalo mau lebih gampang, pake umbi bawang merah aja. Umbi bawang merah mengandung hormon auxin dan sitokinin yang cukup tinggi, dan dapat membantu inisiasi akar untuk stek

Goodluck

Bu Rosy N Apriyanti wrote:
Wah betul juga tuh. Dari pada beli auxin mending pake bawang merah yang ada di rumah. Tapi kalau pake umbi bawang merah, cara pakainya gimana ya??
Wassalam
Rosy
Pak Zainuddin Siregar wrote:
Wah terimaksih Bung Faries.. kami yang mau buka buku pun ga tahu bukunya jadi ketiban ilmu nih.. cuma ingat2 dasar2 aja dulu..

Thanks dan jangan bosan :)

Betul juga ya.. berapa banyak bawang merah dipakai dan cara ngolahnya serta ngaplikasikannya..
Thanks

Zai

Pak Permono Avianto wrote:
Dear Aglov’s
Betul pak zai, saya sangat terbantu nih dengan diskusi ina i apalagi ttg ilmu agro kayaknya saya nol putul, he he, cuman nyantol aja ama nama kimianya. thank’s pak Faries dan Bu thari atas ulasannya saya jadi ada gambaran untuk perlakuan terhadap aglo saya.
SA
antok-dumai

Kiat memperbanyak Aglaonema cara cepat (3)

January 27, 2008 at 1:25 pm | Posted in PERBANYAKAN AGLAONEMA | 1 Comment

Kiat memperbanyak Aglaonema cara cepat (3)

Pak Faries Fadhil wrote:
Wah hal ini yang saya paling senang untuk sharing, karena kebetulan saya sekolah pertanian dan juga hoby tanaman. terutama membahas tentang fisiologis.

Tapi saya minta maaf dulu nih buat bu Thari, ga apa2 ya kalo saya koreksi.

1. Laju fotosintesis tertinggi bukanlah pada daun muda. daun muda adalah jaringan “sink” atau pengguna fotosintat (hasil fotosintesis). Laju tertinggi fotosintesis ada pada daun dewasa, yang morfologinya sudah lengkap dan sempurna.

2. Tidak ada hubungan antara produksi gula dengan auxin. Auxin tertinggi memang ditemukan di pucuk tanaman. auxin dibuat oleh tanaman dalam sebuah proses metabolisme yang rumit yang justru menghindari sinar matahari. Ada satu hal lucu yang sebetulnya selama ini disalah-fahami oleh kebanyakan orang. Waktu kita masih SD atau SMP atau SMA, kita diajarkan tentang fenomena fotonasti yaitu pergerakan tanaman yang dipengaruhi oleh respon cahaya. Nah kita kan dulu pernah tuh ngecambahin kacang ijo yang ditutup dalam kotak yang dilubangi di salah satu sisi kotak tsb. Pasti si kacang ijo akan tumbuh ke arah lubang di mana cahaya masuk. Nah hal ini selama ini dimengerti oleh kita sebagai : Si tanaman lagi nyari cahaya… padahal yang sebenarnya terjadi adalah : Auxin adalah hormon yang mudah rusak oleh cahaya matahari, dan tanaman mendistribusikan auxin dari daun ke seluruh bagian. Fungsi auxin adalah sebagai promotor perpanjangan sel. Jika hanya sebagian sisi tanaman yang kena sinar matahari, maka sisi yang kena sinar itu auxinnya banyak yang rusak, dan sisi yang satunya lagi auxinnya tidak rusak. Akhirnya panjang sel kedua sisi itu berbeda. makanya kemudian si tanaman jadi bengkok… faham kan yaaa…. :)

3. Kinerja hormon dalam tanaman sengat berhubungan antara satu hormon dengan hormon2 yang lainnya. Hormon makro dalam tanaman ada 5 yaitu : Auxin (sebagai promotor perpanjangan sel, menjaga dominasi tunas apikal, promotor inisiasi akar, dan membantu penyerbukan), Giberelin (sebagai promotor pembesaran sel, pemecah dormansi, dan inisiasi kecambah dan bunga), Sitokinin (promotor duplikasi sel, promotor aktivitas tunas lateral ), Asam Absisat (pengguguran daun, bunga, membantu perkecambahan), dan yang terakhir Ethylen (membantu pematangan buah).

Bu Tharie Wie wrote:
Terimakasih pak Faries, atas koreksinya . . . :)

Selanjutnya mohon pencerahan bila pemahaman saya tentang tanaman ada yang kurang atau salah. Maklum tidak punya latar belakang pertanian sih, dan hanya tahu dari buku pengetahuan populer saja selama ini.
Tapi berhubung mengaku pecinta tanaman, saya harus belajar agar tahu apa yang terjadi, apa yang dibutuhkan, dan apa yang membuat tanaman menjadi senang.

Untuk mempercepat pemahaman dan sok ilmiah, saya biasa membuat suatu “model” sederhana yang sekiranya dapat menjelaskan “grand design” tanaman. Daripada saya menghapal kerja hormon a begini.. begitu, kerja hormon b begini juga..dan begitu juga … dst, lebih baik memahami sesuatu, tetapi secara menyeluruh dapat menjelaskan keberkaitan kerja hormon.

Untuk memudahkan, saya membagi hormon tanaman dalam 3 kelompok besar, yaitu :
a. Hormon pertumbuhan, disekresikan bila terdapat kondisi yang dapat mendukung pertumbuhan, pokoknya lebih dari sekedar bertahan hidup. Contoh, auksin (IBA) dan sitokinin (CK)

b.Hormon stres, disekresikan bila ada gangguan yang sifatnya jangka panjang yang sekiranya membuat sengsara atau bahkan mati. Bila gangguan/stress terjadi, tanaman akan segera memindahkan/meredistribusi sumber daya pada area
stress ke bagian lain dari tanaman, hingga stress tersebut teratasi. Termasuk dalam kelompok ini adalah hormon giberelin (GA), dan ethylene (ET)

c.Hormon regulator, disekresikan bila ada perubahan kondisi secara cepat, misal kondisi baik ke stres atau sebaliknya dari stres ke kondisi baik. Termasuk dalam kelompok ini adalah hormon asam salisil (Salicylic Acid = SA) dan asam abisat (Abscicic acid =ABA).

Sehubungan dengan tulisan saya terdahulu :

1. Betul laju fotosistesis tertinggi berlangsung pada daun yang telah sempurna. Kemampuan daun untuk berfotosintesa meningkat pada awal perkembangan daun, tetapi kemudian mulai turun, kadang sebelum daun tersebut berkembang penuh atau “fully developed” (kata Benyamin Lakitan, 2001, Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan, hal. 156, kebetulan bukunya ada di meja kantor nih). Agar sederhana dan mudah dipahami, saya pilih model tanaman baru tumbuh yang masih berdaun tunggal. Toh pada saat daun terbentuk, proplastid sudah berkembang menjadi kloroplas dan  memungkinkan untuk fotositesis..he.. he.. cari gampangnya kan.

2. Seperti pada uraian di atas pada pengelompokan hormon, pemahaman saya sejauh ini, hormon akan disekresikan bila tercapai atau ada suatu kondisi/keadaan tertentu yang terpenuhi. Tanaman tidak akan mengeluarkan hormon bila tidak ada rangsangan atau pengaruh dari luar. Ada contoh lain. Pada saat kondisi kekeringan entah itu karena kekurangan air
atau karena terik matahari, akan disekresikan hormon asam abisat hingga membuat stomata daun menutup (mencegah transpirasi lebih lanjut). Demikian pula dengan auksin, bila kondisi banyak makanan terpenuhi, artinya banyak gula/karbohidrat, maka akan disekresikan auksin. Kata beberapa pakar biologi, konsentrasi sitokinin berhubungan erat dengan keberadaan mineral, terutama NH4 . . . nah lo.
Fotonasti atau phototropism (percobaan Darwin dan anak lelakinya, Fancis di tahun 1881), tidak menyebutkan auksin rusak oleh sinar matahari. Sepanjang yang saya baca selama ini, dijelaskan bahwa auksin akan “migrate away” sehubungan dengan sinar matahari. Dan itu saya terjemahkan dengan menyingkir, atau berpindah menjauhi sinar matahari. Auksin akan ngumpet ke bagian sisi gelap.
Apa yang terjadi di bagian sisi terang …? Saya coba jelaskan dilain waktu biar tulisan ini tidak terlalu panjang.

3. Hingga saat ini, paling tidak ada 10 macam hormon yang berhasil dikenali. Namun yang sering kita dengar memang hanya 5 macam (kita setujui sebagai makro hormon saja ya). Dalam literatur disebutkan fungsi masing-masing hormon tersebut, ini dan itu, yang mungkin satu hormon bisa mempunyai lebih dari 5 fungsi.
Yang perlu menjadi catatan, kerja hormon bisa saling tumpang tindih, hingga sulit dihapalkan. Dan yang paling penting kerja hormon jangan dipahami secara individual. Kedua hal tersebut justru sering menimbulkan salah pengertian. Contoh :

a. Auksin dan giberelin, keduanya mempunyai kesamaan fungsi “cell elongation ” , pemanjangan sel. Tapi masing-masing memiliki mekanisme kerja dan rangsangan kondisi yang berbeda (uraiannya lain kali aja ya nanti terlalu panjang).

b. Pemberian auksin dengan konsentrasi tinggi tidak membuat tanaman menjadi tumbuh tinggi, tetapi justru akan membuat tanaman mati. Hal ini telah dimanfaatkan tentara USA dalam perang Vietnam dan terkenal dengan
istilah “agent orange” (herbisida dengan konsentrasi auksin tinggi), untuk merontokan daun dan membasmi semak.

Kerja hormon harus dipahami secara saling terkait, misal ethyelin akan disekresikan bila dirasa konsentrasi auksin sudah terlalu tinggi (ingat agent orange).
Catatan untuk Pak Farish, asam abisat tidak berfungsi membantu perkecambahan tetapi banyak digunakan dalam teknologi penyimpanan benih. Karena salah satu fungsi asam abisat adalah untuk membuat “dorman” benih.
Demikian pula yang membuat daun gugur bukan asam abisat, namun ethyelin (ingat “agent orange” di Vietnam, filmnya bagus lho pak).

Demikian rekans milis pemahaman saya tentang hormon. Saya memang sulit menghapal, jadi untuk itu saya harus
mencoba membuat model, agar mudah dihapal dan dimengerti. Dari model tersebut akan lebih mudah memahami mengapa hormon auksin juga dijumpai di bunga, apa itu parthenocarpy dsb. Praktek lapangan untuk model hormon selama ini, salah satunya saya pakai untuk perbanyakan adenium secara stek.
Sebelum bahan stek dipotong, bagian yang nantinya akan ditanam biasanya saya kerat melingkar atau saya tutup
dengan plester hitam selama 1 bulan. Maksud keratan agar gula/karbohidrat menumpuk di sekitar keratan
sekaligus pula auksin (bukan ada gula ada semut, tapi ada gula ada auksin . . . he he he).
Penutupan plester akan membuat bagian tersebut berkembang jaringan parenchymatis yang kaya dengan
auksin. Pemanfatan efek fotonasti, plester hitam menjadi tempat ngumpet akusin yang takut matahari.
Dengan demikian saya dapat menghemat uang dengan tidak membeli auksin . Metode ini pada awal musim panas nanti, akan saya coba di tanaman aglaonema. Hasilnya nanti saya laporkan deh.

Sorry … jadi agak melantur. BTW terimakasih Pak Faries, memang banyak yang harus saya pelajari lagi.

T H A R I

Pak Eku Purwantoro wrote:
Wah…wah, saya yang ‘mengaku’ pecinta tanaman jadi merasa ‘tak tahu apa-apa’ tentang tanaman :-(

Matur sembah nuwum Bu Thari dan Terima kasih banyak Pak Faries atas sharing ilmu-nya yang luar biasa.

SA,
Epurwantoro

Pak Judi Ginta wrote:
Saya juga pak Pur, untung gabung milis yang luar biasa ini.. Terimakasih atas curahan ilmunya bu Thari & pak Faries..
Hidup serasa jadi lebih cerah :-)

SA,
judi

Kiat memperbanyak Aglaonema cara cepat (2)

January 27, 2008 at 1:17 pm | Posted in PERBANYAKAN AGLAONEMA | 3 Comments

Kiat memperbanyak Aglaonema cara cepat (2)

Pak Zainuddin Siregar wrote:
Nah begini nih… senang sekali… pada keluar tuh ilmu2 teman2 kan :-) Thanks pak Andri… Bagaimana teman teman lain ? keluarin semua.. Wah mau ralat tadi pak Judi dan temans..
Maksudnya aku siram setiap perlu (2-3 kali seminggu) dengan larutan NG 1/3 – 1/2 dosis.. :-) Gambar kurang jelas krn bukan pakai digicam,

Urutan gambar bagaimana dibuat.. gak diabadikan dulu..

Bu Tharie Wie wrote:
Dear Friends,
Saya coba ikut “urun rembug”, tapi agak malu juga. Karena baru kenal aglaonema 3 bulan yang lalu. Kerja hormon menurut logika saya sbb:
Tanaman memperoleh makanan (karbohidrat/gula) dari hasil proses fotosintesa CO2 dan air dengan bantuan
sinar matahari. Tempat dimana laju fotosintesa tertinggi berada di pucuk daun muda (tunas). Tempat
ini bagi tanaman merupakan pabrik gula. Manakala gula melimpah, lebih dari cukup untuk bertahan hidup,
tanaman akan memproduksi hormon AUKSIN. (Makanya konsentrasi auksin tertinggi ada di tunas, karena
paling banyak dijumpai gula disini).
Auksin akan merangsang “cell elongation”, membuat tanaman tumbuh ke arah atas, menggapai matahari.
Harapannya, semakin tinggi intensitas sinar matahari, akan semakin tinggi laju fotosintesa, semakin banyak pula makanan/gula yang dihasilkan. Auksin bekerja pada jaringan sel muda. Nakalnya, auksin ini menghalangi tumbuhnya tunas-tunas samping.
Dengan maksud agar energi tanaman dapat tercurahkan di tunas pucuk untuk senantiasa tumbuh memanjang ke atas
(makanya dinamai “apical bud”, tunas penggapai matahari).

Apakah tunas samping tidak bisa berfotosintesa ? Bisa sich bisa, tapi dengan laju yang jauh lebih rendah dari tunas pucuk. Tunas samping kan berada di bawah, kadang ternaungi, hinga intensitas sinar matahari yang diterima juga berkurang.

Tanaman juga mengenal skala prioritas, dengan memanfaatkan energi secara efektif dan efisien.Pintarnya tanaman, sebagian kecil auksin akan dikirim ke bagian akar agar terjadi “cell elongation” di akar. Akar memanjang ke bawah, menyebabkan kontak akar dengan tanah semakin luas. Artinya, semakin banyak air yang dapat diserap tanaman. Semakin banyak air semakin besar laju fotosintesa tanaman. Banyak sinar matahari dan banyak CO2 tidak ada gunanya bila tidak ada air. Hebatnya tanaman, dia juga mikirin pengamanan jalur suplly (air hanya dapat diserap tanaman melalui akar).
Akar yang semakin dalam, berarti juga semakin banyak mineral (disebut orang unsur hara) yang dapat diserap. Nah, manakala mineral melimpah, lebih untuk sekedar bertahan hidup, tanaman akan memproduksi hormon SITOKININ. Hormon ini banyak dijumpai di akar, karena hanya akar yang efektip menyerap unsur mineral.
Fungsi utama sitokinin adalah merangsang terjadinya “cell division”, jadi dia hanya bekerja untuk jaringan
sel tua. Sitokinin akan memprakasai tumbuhnya tunas samping, selama di tempat tersebut jauh atau tidak ada
pengaruh auksin.
Takut dia dengan auksin… !! :) Auksin seakan-akan membuat “dormant” kerja sitokinin.

Tanaman tidak bodoh, anehnya bersama dengan auksin di akar, sitokinin akan merangsang “cell division” hingga tumbuh akar-akar rambut. Banyaknya akar rambut, berarti memperluas bidang penyerapan akar, semakin banyak air dan mineral diserap, semakin terjamin supply bahan baku fotosintesa. Hebat ya.. !

Berkaitan dengan perbanyakan aglaonema melalui stek, pendapat saya :
- Batang stek sebaiknya yang telah ada mata tunasnya, biar tanaman dapat melakukan fotosintesa, bertahan
hidup, dan dapat memproduksi auksin.
- Untuk meningkatkan keberhasilan, tambahkan hormon auksin dan sitokonin. Kata pakar kultur jaringan, bila
perbandingan auksin/sitokinin 50:50 akan merangsang pembentukan kalus. Bila auksin jauh lebih banyak, akan
merangsang perakaran. Bila sitokinin lebih banyak, akan merangsang pertunasan.

Pak Zai, si cantik BLACK VELVET yang dirumah saya itukah yang Bapak MUTILASI??!!! cck..cck…. Tega nian
ya.. :) atau hasil mutilasinya?
Tapi keberhasilan Pak Zai untuk uji coba perbanyakan sudah 100 % terbukti.. Bravo..!!

Regards.
T H A R I

Pak Judi Ginta wrote:
Thanks bu Thari,.. nah ini yg saya suka dari milis ini, bisa sharing ilmu & pengalaman bagi kita semua :-).. Coba dulu saya sekolah di pertanian,.. lha dulu sekolah perkapalan, kerja di komputer, hobby tanaman, agak susah nyambungnya hehe :-),..
Btw, postingan pak Zai & bu Thari saya jadikan artikel di site aglaonema kita di http://www.aglaonema.cjb.net.
Untuk rekans lain kalo ada bahan artikel atau liputan ttg aglo bisa di-submit, thanks.

SA,
judi

Kiat memperbanyak Aglaonema cara cepat (1)

January 27, 2008 at 1:08 pm | Posted in PERBANYAKAN AGLAONEMA | Leave a comment

Kiat memperbanyak Aglaonema cara cepat (1)

Pak Zainuddin Siregar wrote:
Temans,

Dulu ada teman yang mencoba experiment mencacah (mutilasi) batang aglaonema, bagaimana hasilnya, berapa persen berhasil ?

Waktu itu teman kita (pak judi ya ?) di ilhami dari tulisan mencacah batang aglao di majalah trubus.

Adakah teman-teman yg pernah mencoba stek 1 ruas ?

Di ilhami dengan cerita mutilasi di atas dan digabung dengan pengalaman berhasil mendapatkan 10 anakan dari satu bonggol Alocasia reginula (black velvet)..

Dicoba sebuah experiment membuat stek satu ruas yang aku modifikasi agar aman.. ternyata keberhasilan cukup tinggi.. dan surprise antara percaya tidak.. satu mata tunas keluar 2 pucuk.. ruar biasa… ternyata tunas kedua tumbuh dari pangkal tunas pertama. Mudah2an bisa dapat satu mata tunas dapat lebih dari 2 tunas..

Bu Thari yang tahu banyak tentang hormon pasti bisa menduga jalan cerita bagaimana bisa jadi begitu..

Salam Aglao

Zai

Pak Joshua Hendro wrote:
Pak Zai, saya malah diilhami penculik aglo saya. Seakan-akan mengatakan :

” Jangan pernah biarkan bonggol tanaman sia-sia terpendam dalam tanah, apalagi sudah ada akarnya.”

Begitu kita dapat Aglo, saat repotting, cek bonggolnya, bila ada bonggol cukup panjang, cacah di situ, sisakan sedikit akar untuk tanaman yg kita beli. Dua akar cukup kayaknya untuk tanaman yang belum terlalu gede.

Memang resikonya adalah aglo yang kita beli akan memerlukan waktu lebih lama untuk beranak. Tapi, bonggol dengan akar sepertinya lebih menjanjikan untuk bertunas.

Penanaman bonggol berakar pernah saya coba. Rasanya lebih cepat bila ditutup dengan kantong plastik. Kira-kira 1 1/2 bulan udah mulai semi. Bisa lebih dari satu.

Bukankah bila tetap kita biarkan dalam tanah belum tentu 1 bulan keluar anaknya ?

SA

-kajo-

Pak Hermawan Andrianto wrote:
Pak Zai dan rekan’s

aku udah coba tapi untuk 2 ruas,dengan pertimbangan kalau 1 ruas gagal masih ada gantinya……dan hasilnya lumayan,muncul tunas 3-5 anakan ….media cocopeat…..dengan perlakuan setelah dipotong direndam Root-F 15 mnt dan ujung2nya diolesi juga

Tambahan hormon NG dan GM setelah ditanam 1 minggu dan rutin tiap minggu

Stek ruas dengan posisi vertikal keberhasilannya 100% dan horizontal 50:50 (suka tjd pembusukan)

Stek ruas dengan posisi Horizontal akan menghasilkan anakan lebih kecil (daun batang,tangkai) mini dan agak lambat pertumbuhannya…..tapi sangat cantik jika tampil berkelompok

Percobaan diatas +/- 1 bulan sudah keluar tunas tanpa menggunakan pot (hanya pollybag) tanpa dikerudungi dengan plastik

Aglao yg saya gunakan :

1.Sithiporn (king)
2.Green Sun
3.White Stem
4.BJ.Freeman

dan satu jenis dieffen Pacific Rim

Maaf agak keluar jalur dikit :

percobaan diatas saya sambil juga untuk membuat multistem / Upik Abu jadi Cinderella…..hasilnya sudah muncul 1-2 tunas pada adenium usia 1bln….thx buat mbak Thari dan Pak Zai untuk sharing ilmunya :)

Bagaimana rekan lain,sudah ada yg mencoba blum?

Regards

andri

Pak Zainuddin Siregar wrote:
Pak Kajo dan Temans,

Wah.. tapi hati2 pak Kajo.. bisa bisa aglao daun mengecil..penampilan rusak.. aku sarankan sebaiknya jangan.. kan sayang daun mengecil kadang2 mengkerut, kecuali mau aglao diremajakan. Daun pertama tumbuh mengecil..karena serapan hara terganggu hal ini juga jadi indikator awal untuk mengetahui aglao baru potong atau tidak untuk aglao ukuran besar belum berbunga (Hal ini baru setelah kena dulu).
Tapi hal ini bisa diatasi pemotongan dilakukan saat pucuk udah mau membuka dan udah agak gede.. bakal daun berikutnya keluar saat itu diharapkan akar sudah cukup banyak sehingga gak terhambat tumbuhnya..

Aglao stek 1 ruas di beri perlakuan sama ide dengan pak kajo.. Aglaonema yang mau dimutilasi ditanam dalam pot tinggi hingga pangkal daun terbawah.. biasanya setiap ruas akan tumbuh akar. Setelah akar cukup panjang, batang yang sdh berakar di potong2 masing masing satu ruas/mata tunas. Gunakan pisau tajam dan bersih.. Jika terdapat 7 ruas (mata tunas) batang jadi maka diperoleh 8 stek + bagian batang berdaun, luka diberi fungisida ditanam dalam media steril.. diletakkan di tempat teduh..

Karena akar sudah ada, tinggal numbuhkan tunas.. aku pakai sitokinin dosis rendah 1/3 – 1/2 dosis dari produk NG (meniru bu Thari nih) setiap kali nyiram (2-3 minggu sekali).. kayaknya sitokinin ini yang merangsang pertumbuhan tunas kedua tadi.. mungkin…

Mudah2an berguna.. share experiences dari teman-teman sangat diharapkan..
Salam Aglao

Zai
Pak Judi Ginta wrote:
Sepertinya musti dicoba cara pak Zai ini,:-),.. thanks pak. Dulu pernah mutilasi DC 3 ruas tanpa akar dgn posisi horz & vert. Sekitar 1,5 bulan yg vert udah tumbuh tunas & daun apalagi yg bagian bonggol (batang bawah + akar) muncul sedikitnya 8 tunas tapi yang udah besar & daun buka baru 2. Kalo yg horz sepertinya mau muncul 2 tunas tapi kecil & lamaaaa sekali.

Kalo dieffen pernah coba ke StarBright dicacah sampai 1-2 ruas jadi 7 bagian. 6 bagian ditanam horz dan 1 vert, hasilnya busuk 1 yg horz dan sisanya semua tumbuh 1 tunas tapi cukup lama dan daun pertama kecil.Sayang waktu itu gak di-treatment intensif dgn sitokinin dari NG + hara dari GM,.. makanya jadi pengen coba lagi nih, mau cari calon korban mutilasi dulu.. :-)

SA,
judi

Diskusi Propagasi Aglaonema

January 26, 2008 at 4:18 am | Posted in PERBANYAKAN AGLAONEMA | Leave a comment

Diskusi Propagasi Aglaonema

Hermawan Andrianto wrote:

Begini mbah Gk dan aglovers,
Pertanyaan untuk Mr. AH;
Mr Gk : Kenapa mesti dua daun yang ditinggal di bonggol bawah ? Bukankah itu memperkecil peluang keluar tunas pada daun tersisa, dua calon anak jadi muspro. Kenapa ndak cukup satu daun seperti yang dilakukan Mr. Moes ?

Pak Andrianto : Jawaban versi Saya :
1. 2 daun yg saya tinggalin itu,saya anggap sebagai ‘juru masak’ buat bonggol di bawahnya …..jadi naiknya calon2 tunas lebih cepat ketimbang di tinggalin hanya 1 daun (ibaratnya 2 kepala lebih baik dan mudah utk diskusi)
Mr GK: 2. Untuk mengantisipasi pertanyaan kenapa ndak pakai 3-4-5-6 dst daun saja yg di tinggalin ?
Pak Andrianto: jawaban saya :
kalau yg masak kebanyakan ……yg makan nanti siapa?,malah2 nanti di buang2 percuma ….hue3x kan sayang mbah,pupuk dan hormon lagi mahal2nya sekarang,mending buat di pucuk atas saja,kan bisa nambah2 mahal pucukan atas untung bawahnya :D

Dahulu,resiko rontok daun pada pucuk aglo yg akan di repoting tinggi sekali,walaupun kita menggunakan hormon ‘Superthrieve’ sekalipun,sekarang sudah ada karya anak bangsa yg melebihi ‘Supethrieve’
Mbah GK masih arisan ‘Anthu..’ ,masa ndak pernah liat dan mencoba hormon bikinan Bekasi yg tembus beberapa kontainer ke Belanda dan Philipine….

Monggo silahken Mbah GK jjs,sambil liat Hormon apa yg ada ‘Manual Book” nya 4 halaman ,berikut gambar perbanyakan Aglonema,Anthu,Adenium pula he3x

Met Hunting yo Mbah….di tunggu sharing lainnya,’Berantem’ juga boleh….ora pareng nesu….,Salam buat Mas Wid kalau mbah Golf bareng….di tunggu bagi2 Adelianya kalau sudah buanyak

Happie Gardening N Met Weekend’s All

Salam

A.H

Pak Ganggeng Kanyoet wrote:

Sip saya setuju. Dua lebih banyak dari satu …… dan lebih aman karena ada reserve nya. Safety player ……… ho ho ho ho. Juga karena Mr. AH menghendaki kemunculan anak lebih dari 4 sekaligus, sukur2 bisa 11.
Supethrieve ? Ex Kanada ? Mr. Adeng pernah memperagakan metode Thailand, pakai tupperware, pasir malang + superthrieve + air ion. Cara bagus, walau masih kelamaan nunggu keluarnya akar.
Potong pucuk, ada lag time di pucuk yang minus akar. Perlu waktu lebih sebulan sebelum tumbuh normal. Dikerat aja ? Ide datang dari alm. Mr. Frans – cangkok. Daripada aglao nampak ‘mblenduk-mblenduk’ ? Dikerat saja, toh tujuan sama. Saat dipotong, pucuk dah keluar akar.
 
Hormon bikinan Bekasi ? Biozone kah ? Saya ndak suka gaya iklannya. Banyak mirip iklan Bos Eddy, saya mbalah jadi ndak tertarik. Kok seperti iklan ‘air azizat’ atawa ‘rapet swargaloka’nya juragan dari Pati ya ? Juga karena salah satunya bawa2 istilah alami, jadi agak ngganjel di otak kiri. Setahu saya masalah terbesar kinerja hormon alami selalu terbentur proses ‘oxygenase’ (lain kali perlu didiskusikan).
 
Masalah akar di pucuk sudah teratasi by sistem kerat. Terasa masih kurang. Kurang cepat. Masih ada kendala WAKTU. Tunas anak muncul karena dekapitasi (pucuk dipotong). Potong pucuk dulu, baru keluar tunas anak  Kurang asyik. Mustinya saat potong pucuk, tunas anakan di calon bonggol dan akar di bagian calon pucuk, sekalian dah keluar semua ? NYAMLENG tenan. Penghematan waktu buanyak sekale.
Setengah tahun yang lalu, saya main ke kebun petani kenalan. Kaget setengah mati. We ladalah, hampir semua aglaonya nyembul tunas anak dari media, ndak cuman satu lagi. Minimal tiga, tanpa pucuk lagi. Pasti ada apa2nya  …. Yuuuk mari. Saya ketinggalan jaman rupanya.
Tenan to. Mereka main hormon. Yang bikin gelo, lha kok hormonnya musti berasal dari yang satu itu. Lha kalau ketemu pasti mbagusi karo mesam-mesem, ngece. Celaka 13.
Ada rasa gengsi dikit saat minta bagian hormon ke sumbernya, tapi ndak masalah demi hobi. Lha wong yang lain aja ndak gengsi ‘nggoreng’ taikam kok. Hormon warna ijo. Novelgro ? Bukan, kata ‘dia’. Coba aja dulu, baru diskusi, lanjutnya. Cara pakai : oleskan merata ke batang bonggol bawah (bukan di akar). Tanam kembali. Jangan disiram minimal 6 jam after oles. Jangan dioleskan sehabis potong pucuk. Jangan diencerkan, langsung oles saja. Hasil paling baik bila saat mengoles dilakukan di waktu subuh sehabis mandi junub (syarat terakhir ini terbukti salah dan ngawur, hanya guyon khas dia).
Praktek pada 5 jenis aglao di rumah membuktikan, 2 WAT (weeks after treatment), tunas anak pada muncul. Hebat.
Kok masih ada yang kurang. Harus bisa lebih cepat lagi. Akhirnya perlu kombinasi dengan metode potong pucuk + kerat. Oles + kerat, setelah keluar tunas dan akar,  potong pucuk. Berhasil, jauh lebih cepat, 2x sistem oles thok, dan lebih dari 4 kali sistem potong pucuk biasa. Lihat gambarnya saja dah tambah nyeni kan ?.   
Masih ada yang kurang lagi. Masih repot pake bongkar2 media. Kenapa ndak sistem semprot (foliar spray) atau yang lain, agar lebih praktis. Ho ho ho ho ternyata ini juga sudah diantispasi yang punya. Foliar spray dan sistem dicat ke pot sedang dijalankan, sampai taraf percobaan konsentrasi terefesien, katanya. Kita tunggu hasilnya.
Ada 8 rekan yang tak kirimi sample hormon itu. Entek, saya ndak punya lagi. Maaf baru tadi siang ngirimnya. Ada kendala di TIKI – ONS, kirim benda cair dilarang. Harus cari kurir agen lain.
 
Ganggeng Kanyoet
Mr. AH kenal juga dengan pak Wid to ? Bisa minta dikirimi langsung kalau gitu ……..

Perbanyakan Aglao dengan Memotong Pucuk

January 24, 2008 at 1:56 pm | Posted in PERBANYAKAN AGLAONEMA | Leave a comment

Perbanyakan Aglao dengan Memotong Pucuk
oleh Bpk. Hermawan Andrianto

Dear Aglover,

Sekedar sharing perbanyakan aglo dgn cara memotong pucuk atasnya,kondisi aglo yg mau di banyakain harus sudah sehat,akar banyak,cukup umur dan kalau bisa bonggolnya panjang,biar tunas anakan yg timbul bisa 5-11 hue 3x

Salam

A.H

Breeding 1
Gambar 1

Breeding 2
Gambar 2

Breeding 3
Gambar 3

Breeding 4
Gambar 4

Maju terus …..Belanda jauhhhh cuman baru bisa beli hormon aja

Next Page »

Blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.