Juara 1,2 & 3 Greg Hambali Award

March 5, 2009 at 11:47 am | Posted in OPINI | 9 Comments
Tags:

Juara 1,2 & 3 Greg Hambali Award

Rekans aglovers,

Melihat foto para jawara aglo yang menduduki posisi 1,2 dan 3 di Greg Hambali Award, ada 2 hal sederhana yang saya pribadi simpulkan .
1. Merah bukan jaminan untuk menjadi juara. Kalau kita lihat TOP 10…dari 10 pot ada 4 pot non merah dan pada akhirnya 3 pot non merah yang dikukuhkan sebagai TOP 3.
2. Aglo mahal tidak mesti menjadi juara. Di GH Award kemarin Harlequeen dikalahkan oleh Moonlightnya pak Robert.

Monggo kalo ada rekans yang mau menambahkan dan mengoreksi.

Salam,
Yenni

moonlight-mediumMoonlight

harlequinHarlequin

mutiara-mediumMutiara

9 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Bu Yenyen Dimungkinkan juga “disamping” yg non merah memang kualitas nya cukup OK..Mata Para Jurinya pun sudah “jenuh” “melihat” yg merah2 cukup banyak…sehingga warna yg minoritas yaitu non merah memperlihatkan “aura” yg berbeda di mata para juri..sehingga “jiwa seni” para juri lebih condong/tertarik ke yg non merah..biasanya jiwa seni itu timbul /mencari hal2 yg tidak umum…Btw yg menang no.1 memang harga pasarnya ngak semahal yg no 2..tetapi karena juara maka nilai jualnya mungkin sekarang lebih mahal dari pada sebelumnya..bahkan bisa lebih mahal dari pada harga pasar yg no.2..efeknya di pasaran/pameran nyari ML agak susah ya…??maksude yg murah gitu..sekedar pendapat aja..
    salam-johanes

  2. Bener juga teh Yeyen & mas Jo,.. Sekedar renungan, bisa salah bisa juga keliru🙂.. Setiap event pasti ada goal/target atawa mangsud dan tujuan, bergantung siapa2 dibelakangnya, maaf,.. bukan berprasangka negatif, hanya sekedar renungan iseng..

    Arena kontes sangat empuk dijadikan ajang promosi. Dengan mudah membentuk opini di masyarakat bahwa obyek2 pemenang kontes adalah benar2 obyek patut untuk dicari, diperjualbelikan dan dimiliki. Cukup menggoda, terutama bagi para pelaku pasar untuk kemudian terobsesi pada hasil kontes tsb.

    Walaupun kalau dilihat dari segi tampilan dari perawatan(subyek sbg grower aglo) mungkin rata2 peserta hampir sama, benar2 optimal. Kemudian jika penilaian bergeser pada karakter yang akan ditonjolkan(obyek : aglonya) ya mungkin tergantung mood para juri dan misi dari kontes tsb.

    Kenapa Tiara, Widuri atau yang merah2 lain kemudian tidak di-menangkan di GHA?. Asumsi saya karena mereka sudah terlanjur populer. Sudah beberapa kali di-menang-kan dalam kontes2 sebelumnya, dan kondisi pasarnya kurang kondusif dengan ancaman gelontoran Tiara, Widuri dari Thai dengan harga ‘tempur’.

    Sehingga perlu ditampilken(digoreng) aglo yang belum sepopuler Tiara & Widuri dan diprediksi bisa mengikuti jejak2 langkahnya. Namun melihat kondisi global saat ini, sepertinya kembali kepada masyarakat bagaimana menilai keindahan suatu aglo untuk dinikmati..

    *note: mbaca pengumuman pemenang GHA di milis ini kmn yang agak blur, kenapa disebut didepan adalah obyek, bukan subyek dulu..🙂

    salam,
    Judi

  3. Memang tak bisa dipungkiri kalo citra satu produk akan naik kalau produk tersebut menang disatu kontes. Bisa diperkirakan kalao harga ML pasti akan menukik naik. Pertanyaannya apakah akan mengalahkan harga HQ ? Yang jelas dan pasti….saya tetep aja hanya bisa mengkoleksinya dalam bentuk foto…..tetep ga kebeli….hehehehe.

    Mas Jud, kebetulan saya ada di lapangan saat event berlangsung. Terus terang secara pribadi …dari awal kontes, saya memang lebih tertarik sama ML dan Mutiara….entah kenapa. Kemenangan ML mengalahkan HQ ….rasanya…tidak dipengaruhi oleh…faktor lain kecuali karena memang ML yang satu itu tampil prima….dimata juri penentu nilai akhir. Dan pada kontes ini mereka adalah kombinasi peserta dan penonton. Cara penjurian kali ini berbeda dari biasa. Tahap 1…juri yang ditentukan panitia….dari 126–> 30 lalu pak Greg memilih 10 dari 30 pot yang lolos…dan pada tahap akhir…..penonton dan peserta yang menentukan siapa yang patut menduduki singasana kerajaan aglo dalam kontes ini.
    Salam,
    Yenni

  4. dari ketiga aglao jawara,Budhe Yenni sudah memiliki jenis yang mana?
    kalau belum ada, kayanya sekarang saat yang tepat untuk memilikinya atau kalaupun terlambat, belum lama-lama banget.

    salam,

    tomo

  5. Mekanisme seleksi akhir yang menarik teh Yenni,..
    Maaf, sekedar pendapat (bisa jadi salah, bisa juga kliru🙂.., mungkin berilham dari juri vote log, manuver yang cukup brilliant untuk alibi tanggung jawab atas keputusan final. Cukup bekal menyanggah dengan ‘blame it on the floor’ jika kemudian ada yang heran nanya ‘how come?’..🙂

    Setidaknya 2 pendekatan ngasalologi utk mekanisme ini:
    1. ‘Hidden obsession’ dari audiens secara psikologis bisa dipancing keluar dengan ‘distinguished appearance’ obyek pengamatan yg nda populer but prospektif. Jujur,.. kaluk dah punya Tiara Widuri, janganken di kontes,.. di pameran aja rada males ngelirik mereka, biar sepigimanapun.. What for?.. wong dah punya. Beda dengan misalnya HQ yg blun dipunyai,.. tengtu lebih menarik untuk diobsesiken, diobservasi & dikelupas abis ampe kemringet utk nemu argumen2 pembenaran, biar lega & nda merasa kliru ngakui cantik & harga cucok bow..🙂 Agak muskil dan sedikit ‘hil yang mustahal’ jika Donna Carmen & Pride Of Sumatra, apalagi Ciput & Sannola Evan (breeder:Sukasdi?) ujug2 / ndilalah menang kemaren..

    2. Open voting, entah metode ngacung, unjuk jari & gigi, teriak, keplok2 atau lainnya mungkin bisa jadi media untuk adu kesaktian🙂.. Figur2 panutan atau Idol memiliki kesaktian alamiah untuk men-drive figuran lain dalam independensi keputusan. Gampangnya gini, kaluk saya begitu mengidolaken Dewi Persik dan kebetulan berada disampingnya, pas ditanya nikah siri enak nda?.. Apapun jawaban DP, sebagai fans berat yang mengagumi kesaktiannya yo pangsrah wis, njawab idem aza, daripada sungkanisme..🙂

    Pernah dulu mbaca dimana, Mr Greg bilang aglo harus seperti fashion.Tafsiran kasarnya, mode akan selalu berganti sesuai trend. Salah/telat ikut trend mungkin bisa dibilang nda fashionable, nda modis, nda trendy, atawa salah kostum..

    Lalu kenapa Ponari sedemikian hebat daya sugestinya?.. mungkin dimensi irasionalitas lebih mendominasi dari rasionalitas. Wong minum air yg dicelup batu sambil tangan satunya maen gameboy bisa dianggep mujarab & sakti mandraguna. Kultur disini mungkin mudah menerima pembenaran2 yang bersemayam di alam sugesti, melampaui segala pola pemikiran yang holistik sekalipun. Kaluk memang air itu benar2 mujarab dan berfaedah, kenapa nda diproduksi masal dalam kemasan misalnya, kemudian dipasarken secara luas merakyat jelata?.. yo mbuh..🙂

    salam,
    Judi

  6. Ide mbah judi boleh juga tuh, tentang air kemasan bermerk ‘ponari’. Kenapa masyarakat kita ngak mau ngambil praktisnya aja, dapat satu botol air yg udah dicelupin ama batu dari ponari trus dibawa pulang lalu dirumah dicampur ama air 1 toren (anggap aja air yg dari ponari sebagai masternya). Dijamin tuh air ponari ngak hanya dapat menyembuhkan manusia yg lg sakit tapi juga dpt menyembuhkan aglo yg sakit bahkan kita dapat mengkomersilkannya (‘kan yg penting sugestinya).maaf mbah jud kalo melenceng dari topik/maksud tujuan mbah jud.
    Salam,

    rachmad31

  7. Olait om Rachmad,..
    Cumak kok kuwatir, kaluk sampe Thai keduluan tau sugesti batunya Ponari disini & mereka punya teknologi cloning batu.. Apa nda nanti kita musti impor batu masal dari sana ?.. hehe🙂

    salam,
    Judi

  8. btw….foto-fotonya bisa dilihat dimana ya???

    kok saya gak ketemu2 ya….

    salam

    abadi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: