Aglao Lokal VS Aglao Thailand

March 5, 2009 at 12:32 pm | Posted in OPINI | 3 Comments
Tags:

Aglao Lokal VS Aglao Thailand

Parameter yang digunakan : Mode of Penetration = Pola/pattern yang berhubungan dengan repositioning sebuah produk jika dalam waktu tertentu kalah karena image. Bagaimana supaya produk tersebut bisa eksis lagi, sehingga pedagangnya, devisa negara tempat asal produk bisa naik lagi…

SWOT menunjukkan Strenght factor dari produk thailand ( bisa aglao thailand atau aglao lokal yang dibawa ke thailand adalah) : produksi yang bisa massal sehingga biaya produksi menjadi lebih rendah, teknologi, dukungan pemerintah, banyaknya penyilang, jaringan distribusi.

Thesis Kontradiksi Pokok : Higher Image, Higher Price

Anti Thesis :
1. Lower Image, Lower Price = How to Destruct the image
2. Destruction through similar product with similar price = Why cheaper than here (customer question)
3. Answering : because it must cheaper actually, the prove is here, you can look at thai products is not expensive ( statement agent to customer )
4. And the customer will switching from local products to import products

Synthesis : the penetration is well done achieve actually, there is new equilibrium that the import products was positioned, it will increasing sales of import products and decrease the local products

Tapi synthesis ini akan jadi thesis baru dan begitu seterusnya…..wanna become a player ???

Contoh Kasus :

Pada waktu harga aglao lokal berada pada “optimum performance”, saya mendapatkan penawaran barang thailand dari kantong transit medan dan surabaya. Barang lokal yang dibesarkan di Thailand. Wow harga sangat berbeda dan lebih murah. Harga justru cenderung sama dengan barang thailand sendiri.
Equilibrium baru telah sedang akan diciptakan by design, harga barang lokal ditarik turun equal dengan harga barang thailand. The impacts are : prestise turun, harga juga ikut terkoreksi turunnnn…., permintaan barang lokal menurun dikarenakan rerata penggerak pasar adalah pedagang, agen barang thailand mulai kembali eksis di pasar dengan isu ” Semua aglaonema pada dasarnya sama, sama dari sisi ongkos produksi, lalu kenapa yang itu musti lebih mahal jauh diatas yang ini, padahal kalau dirawat mempunyai cita rasa yang sama . ”

Salam
Dian

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Yang Thai ndak perlu laboratorium yang lokal perlu laboratorium, nkale ?

    Ganggeng Kanyoet

  2. Menarik juga siklus penyeimbangan harga ini, kerna selalu berputar
    menuju titik seimbang. Lalu pigimana membedaken aglo lokalan aseli dgn
    aglo lokalan ex Thai kaluk penampakan, harga dan citarasanya sama?,
    ambil contoh POS asli lokal dan POS ex Thai..

    Analisis SWOT untuk produk lokal mungkin Strength pada
    kualitas/karakter?(turunan rotundum) atau penamaan produk & citra
    breeder?(kerna disinyalir cukup berpengaruh pada image dan prestise).
    Sementara Weakness pada harga dan kapasitas produksi(lha wong limited
    edition gmn?). Lalu Opportunity: mulek pada lingkaran komunitas itu2
    aja(kecuali ada yg mbocorin ke Thai🙂.. Treat:Kaluk dateng tsunami
    produk lokal yg sama dari Thai dgn harga lebih nyungsep.

    Mungkin siklus seperti ini memang sengaja dipertahanken. Kadang iseng2
    ngalamun, knapa nurunin harga aja nunggu impor skala besar. Knapa kok
    nda langsung aja diproduksi secara massal dengan harga merakyat dari
    awal, jadi nda perlu impor produk kita sendiri.

    salam,
    Judi

  3. Lalu yang menang sopo ya antara si thesis dan si anti thesis , kalau saya sih liatnya skor’e wis 10-2 ..tapi memang betul bahwa kalu dipikir-pikir biaya untuk menyilang antara di thai dan di Indonesia nda akan beda jauh . Cumak kalu disana banyak yang nyilang jadi kemungkinan satu penyilang “memonopoli” image sebagai “penyilang handal” tidak ada . Sekaligus seorang penyilang akan menjadi kompetitif krn harus menghasilkan produk2 baru kalau dia nda mau tersingkir dari peredaran .. Ujungnya bagus buat konsumen .

    Agak berbeda dengan situasi di dalam negeri bahwa cumak sedikit penyilang , setidaknya yg diketahui dan punya dana untuk meluaskan namanya , dan kemampuan untuk memasarkan hasil silangannya . Jadi gampang sekali sebuah image dimonopoli , yg ujungnya bisa dimanfaatkan dalam memonopoli pasar lokal dan membentuk exclusifitas bagi aglao keluarannya ..

    Hanya ternyata krn globalisasi .. penyilang domestic harus bersaing dengan penyilang2 handal dari negeri seberang , jadi kayak di Sea Games , kalu PON sudah berhasil , bisakah di SEA Games juga berhasil .. krn saingannya nda kalah hebat .

    Mungkin setelah itu masing-masing masuk ke pasar dengan strategi andalannya , bukan dari segi keahlian nyilang , tapi dari segi pemasarannya , penetrasi ke pasar krn masing2 menyilang kan tujuannya emang buat begitu (UUD kata urang sunda mah .. Ujung2nya duit) .. Kemampuan boleh sama , tapi dalam segi pemasaran ..analisa saya mah gini

    a) domestic mengedepankan exclusivitas
    b) thai mengedepankan masal dan harga murah

    pada awalnya pas lagi booming2nya , bisa dikata aglao silangan lokal berada di atas angin .. krn merupakan incaran para kolektor dan pedagang ..cuma akhir2 ini kayaknya justru aglao2 thai berada di atas angin .. kenapa ? karena pasar aglao2 thai sudah mengepung dan menjepit aglao2 lokal dan menggerek turun harganya , ditambah dengan kepintaran mereka menghantam aglao lokalan dgn menternakkan masterpiece2 aglao lokalan di tanah mereka .. sebelum dipake menderek turun aglao2 lokal dari singgasana exclusive , menjadi aglao2 biasa .. nda beda dgn produk mereka ..

    Sulit buat aglao2 lokal memukul balik krn pada saat mau memukul balik , lha pasar wis kadung suka sama aglao2 thai dan harganya yg murah serta berharap aglao2 lokal pada suatu saat menjadi sama harganya krn hal ini.. mrk dah sadar bahwa harga aglao2 exclusif bentar lagi akan sama .. mrk juga tau bahwa kalau pemilik2 aglao lokalan di Indonesia nda mau nurunin harga , ya tinggal nunggu aja sampe si thai bawa masuk hasil ternak mereka ..toh nda seberapa penting , nda ado urusan ama perut ini .. jadi nda buru2..juga nda penting hasil ternak dimana .. jaman globalisasi gitu..

    Nah dari sisi aglao lokal .. satu senjata yg dipake saat ini adalah nasionalisme , dgn beli aglao lokalan berarti mendukung hasil karya bangsa .. apakah mempan ? Kayaknya perdagangan dgn mengandalkan slogan ini nda cukup .. atau kalau yg memang menyangkut hayat hidup orang banyak , kayak produk sepatu , pakaian jadi .. bisalah dipakai , tapi kalau untuk barang klangenan demi harga yg tinggi , yo wis kebangeten ..

    Kalu disuruh pegang yang mana .. ay taruhan bahwa yg menang adalah… ya kayak saya2 ini pembeli
    heheheheheheheheh.. soale kayaknya harga masih akan terus mencari kata mas dian mah equilibrium yg baru…yg kayaknya seh bakalan turun bukannya naek..

    salam

    anton


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: