Energy Positive pada Kontes AI-Trubus

November 18, 2008 at 4:23 am | Posted in KONTES AGLAONEMA, OPINI | 14 Comments
Tags:

Energy Positive pada Kontes AI-Trubus
oleh Bpk. Gatot Purwoko

Keluarga AI-ku terkasih,

Luar biasa semangat anggota AI memancar ke penjuru alam penggemar Aglaonema. Bermula dari obrolan pengurus, berlanjut pada perbincangan calon panitia, terus sampai diskusi dengan anggota. Semuanya bergelora dalam hembusan semangat gotong royong dan rasa penasaran menjawab tantangan pihak media partner sekaligus pemilik fasilitas infrastruktur, Trubus.

Dalam tahapan persiapan sebagai bagian dari proses perhelatan, tampak jelas bahwa anggota keluarga AI, bukan sekedar pandai mengobarkan semangat dan melakukan diskursus pemikiran dan pengalaman. Tindakan nyata secara fisikal dilakukan tanpa banyak gembar gembor. Sebuah tanda tanda sangat menjajikan pembuat sukses, terasa dekat teraih. Padahal kita semua tahu, bahwa seluruh nama anggota panitia punya kegiatan dan kewajiban pekerjaan nafkah yang lebih utama.

Wajah Kang Anton sebagai yang datang pertama di lokasi, tampak sumringah. Sekali lagi tanda baik, indikasi pancaran semangat yang berlanjut pada tindakan fisik secara nyata. Disusul kawan kawan lain yang siap bertugas tanpa meminta imbalan, bahkan memberi lebih, dalam harapan kemajuan komunitas. Dari situ, sejarah ditulis. Dukungan dari anggota keluarga Aglaonema Indonesia mengalir deras sebagai peserta kontes. Walau hampir seluruhnya mungkin baru pertama kali ikut kontes, namun setiap pot yang dibawa tampak bagaikan tanaman hasil pemeliharaan veteran kontes. Bravo!. “Kami memberi bukti bukan janji”, seolah spanduk raksasa terbentang menemani setiap kedatangan peserta dari AI. Bukan hanya Jakarta, Bung. Perwakilan dari Jogja dan Semarang tampak riang gembira ikut serta.

Betul, bahkan ternyata alam semesta pun mendukung. Pancaran gelombang energy positive gabungan semangat seluruh anggota AI, dialirkan oleh alam menuju pada seluruh penggemar Aglaonema di tanah air. Mulai dari Trubus, yang mudah saja memberikan beragam dukungan dan persetujuan pada setiap permintaan panitia. Sampai para kolektor besar, jawara kontes, pedagang kakap dan lainnya bergetar terpanggil untuk ikut serta atau paling tidak hadir.

Pak Songgo dan Pak Wiwik ringan saja bilang ke Trubus untuk memindahkan seluruh koleksi mereka yang sedang dipinjam untuk pameran tanaman 2 milyar. Padahal tanaman tersebut sudah terpajang 2 minggu, terlalu lelah untuk tampil juara. No worries, demi mendukung AI. Pak Harry Setiawan senyum senyum dibelakang Mas Barokah perawat andalannya, menurunkan peserta dari Rawa Domba. Pak SunSun yang sebetulnya sudah kehabisan bahan, akibat para juaranya sudah pada laku, he he he, teuteup ikut serta. Mas Tam mengantar beberapa pot raksasa dari Bogor dengan senyum mesem yang khas. Bu Santy Pieters juga tampak muncul menikmati deretan peserta dari pagar penonton. Belum lagi Pak Solimin yang juga ikut serta dan Dr. Purbo yang ambil bagian sebagai juri. Banyak lagi wajah lain pentolan aglaonema yang tak sempat saya sebut namanya menghiasi siang itu. Mereka adalah para kolektor pemegang hybrid yang mungkin hanya ada dalam jumlah tak lebih dari hitungan jari tangan dan
kaki.

Whoaaa, ada dua wajah yang sangat langka muncul. Pak Iyang (Syahrial), seorang kolektor yang menggetarkan hati, datang pula dari PekanBaru. Dengan tampilan low profile dia bergabung dalam obrolan di antara penonton. Saya jadi ingat saat kami satu kelas angkatan pertama kursus perawatan aglaonema oleh Trubus beberapa tahun yang lalu. Kemudian, saat bertatap mata dengan pak Solimin, saya mendapat kode untuk menoleh dan ………, waduh ada Pak Suhardi (dikenal juga sebagai Sukardi). Buat saya, beliau adalah setengah dewa dalam percaturan kolektor aglaonema. Kalau saya tak salah kutip, dia pernah memegang hampir 40 seedling hasil silangan Pak Greg, termasuk Casanova dan Larasati. Belakangan, dari kebun beliau, keluar Tamara, Hughes dan Arini. sementara pemegang seedling hybrid lainnya adalah Bu Soeroyo dan Dr. Purbo. Seperti dalam cerita, Pak Sukardi muncul low profile tapi tetap ramah menjawab ajakan ngobrol. Hayo ngaku siapa yang semangat “nanya
nanya” terus di pinggir ring sampai sore, he he he. Seingat saya sejak jaman Lapangan Banteng, beliau hampir gak pernah keliatan. Kali ini bukan hanya hadir, tapi ikut kontes demi aglaonema indonesia. Tribute kita kepada Aglaonema dijawab dengan penghormatan oleh para kolektor tersebut dengan kehadirannya.

Keluarga Aglaonema Indonesia-ku, ijinkan saya mengajak anda semua untuk memberi ucapan selamat pada diri kita masing masing yang telah mengeluarkan energy positif; kemudian mengucapkan terima kasih pada kawan kawan disebelah kita yang telah memberikan karya nyata sebagai panitia maupun peserta. Seratus delapan puluh dua pot peserta kontes belum pernah tercapai sebelumnya. Apalagi dengan kualitas tanaman yang dahsyat.

Tentu banyak kekurangan dan ruangan untuk perbaikan. Kita akan lakukan evaluasi dan transformasikan itu semua menjadi bahan yang sangat bermanfaat untuk kegiatan dimasa mendatang. In the mean time, little celebration will never hurt. I thank you, my friend.

Salam sejahtera,
gatot purwoko
Cirendeu

14 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. wahhhhh sy nyesel ga poto2 ama mereka neh.. kok ok GP
    ga ngaseh tahu mana yg bu santi peters, mana yg pak
    suhardi, mana yg pak iyang seh

    sy cuman sempet tahu bgtu ditunjukin ma temens2 mana
    itu pak solimin , ama yg namanya pak wiwik

  2. Salahnya sendiri nguber-nguber tanaman, padahal hari Minggu itu kalau kita bikin foto sama siapa saja yang dipinggiran arena, semuanya pentolan Aglaonema.

    Salam AI,

    Henry Biantoro

  3. wah abisna ga tahu yg ini siapa yg itu siapa, sy
    tahunya cuman si gundul bertuah ama si senyum maut om,
    itupun nyuruh kumendan jadi paparazi

  4. Om kolonel sampean jepretnya terlalu kesusu
    ini kan sebelum para setan aglo ngumpul disono
    awalnya memang om songgo doang & kilurah yang disono trus baru nyang lain ngumpul…
    Kalo bu santi kan waktu itu ada di sebelahnya juragan taip waktu ngobrol ama mr suhardi…
    Tenang aja kolonel mana tau beberapa taun kedepan sampean yg jadi setan aglonya..
    melihat semangat sampean yang ga pernah kendor gitu he hehe..
    salam
    don’z

  5. Amien.. moga tidak menjadi mimpi kalee yee??
    Tp kalo boleh id suruh memilih sy ingin jd malaikat
    aglao bukan setan aglao, cuman malaikat aglao itu yg
    kyk gmn yah?? ada yg bisa memberikan petunjuk??

    Salamangeloflove,
    Masdavid_yang_cukup_jadi_Durmagati

  6. T-shirt putih, rambut pendek > Pak Songgo, pabrik SP.

    Kaos oblong Nautica > Pak Harry Setiawan, Irene Flora – Rawa Domba.

    Salam AI,

    Henry Biantoro

  7. kolonel piye tho…
    kan waktu kolonel lagi mojok deket sang penggembira disitu setannya lagi ngumpul semua
    ada pak Iyang ,om songgo, om hary.s om aseng, om wiwi dll ada juga juragan lampung lupa namanya.
    salah sendiri ga kenalan kwekekekek…
    kalo yang ngobrol lama bareng pak suhardi siapa lagi kalo bukan pilot AI yang ladi ngincer casanova
    mana ampe obral kartu nama pula…kirain tuh kartu nama udah abis buat mbak yg jagain pintu tol hwa ha ha
    maaf pak pilot….ampun

    salamsksd
    don’z

  8. SETUJUUU…..
    sudah selayaknya tim AI dan Trubus mendapat acungan “jempol” karena sudah bekerja keras,,

    YANG perlu di pikirkan BERSAMA adalah bagaimana kita mendesain kontes yang menarik untuk di daerah, tentunya AI bergandeng tangan dengan pihak2 yang kompeten,,,,
    sehingga “aglo” makin rame bukan karena “hanya” harga akan tetapi serapan penggermar sehinga akan berdampak pada pasar juga,,,,bener ora yo…

    salam

  9. Melihat ceritanya dan foto2nya, saya ucapken SELAMAT dan SALUT atas kontes yang bisa dibilang sukses dalam sejarah Aglaonema…

    Saya juga amati dan pernah lakukan kontes walaupun tidak sehebat yang di Parkit kemarin, adalah bagaimana membuat relasi antara Kontes dan Pasar….itulah PR bersama..

    Saya dulu berpikir kontes bisa menggarirahkan pasar, tetapi tidak ada korelasi yang signifikan…..Saya pikir kita semua masih semangat untuk mengerjakan PR ini….

    Sekitar 1 tahun lalu, saya bertemu dengan Mr. Ayung di Jogja tepatnya di tempat Mr. Dian Alit/Dian Masma. Kami berbicara bagaimana pasar di kota2 kelas 3 ( kabupaten/kotamadya ) bisa juga mengenal dan akhirnya mencintai dan membeli aglaonema….Kota kelas 3 ini belum terisi pasarnya ( wilayah Jawa )

    Salam
    Dian Plantarum

  10. Koyone betul buanget pak..he..he..

    salamkenal
    adji

  11. owalah.. bajunya yg warna apa aja yah? yg kotak2 kan
    pak wiwik.. terus yg orange tuh siapa ? maseh inget ga
    om donz??

    kalo bu santi pieters itu yg sudah sepuh itu yah? yang
    dituntun ama ibu indri??

  12. Senior Har dan HB, emang gak salah nodong beliau jadi Pilotnya AI.
    Background sebagai penjalajah angkasa sdh turun ke Bumi Aglaonema…
    Tetap semangat…

    Salam AI,

    Moes
    Co pilot todongan juga…

  13. Iya….Pidato yang sangat menarik pak Moes… Tks pak GP

    salam
    adji

  14. Nggak ada kata2 lain yg dapat saya ucapkan,,,,,, selain :

    ” HIDUP AI dan smoga Aglaonema dapat dan tetap memancarkan keindahannya sampai kepelosok penjuru dunia”

    Salam AI
    Aries-Wd


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: