Agloholic

September 10, 2008 at 12:20 pm | Posted in CARA BERTANAM DAN PERAWATAN, OPINI | 1 Comment
Tags:

Agloholic…

Ibarat merokok, awalnya hanya sekedar coba-coba… pueehhh… pahit amat
(rupanya tembakaunya ketelen), next… sambil cengangas-cengenges bergaya
ala the changcuters didepan cewek-cewek berseragam putih abu, ae lop yu
bibeh… geulis pisan euuyyy… pahit sedikit ditahan-tahan, nyedot dari
mulut keluar pol dari hidung sampai bulu hidung hangus kecoklatan (bila
perlu keluar asep dari telinga), uhuk-uhuk… batuk ‘like hell’, muka
bengkak, mata sembab menahan perih dan ‘seedling’ serasa ditarik-tarik…
Lulus ‘seragam putih abu’ sudah ngebul terus bak knalpot mayasari bakti
atau truk bongkok keluaran tahun tujupulu… ndak ada orang merokok mati…
jarene wong ndablek ! Adem benerrrrrr….. HAH ! It’s my world… ndak
pernah kapok, malah ketagihan…

Awalnya dece, pos, butterfly, paramruay… standard, terjangkau oleh kocek
sisa belanja sayur-mayur di pasar tradisional, ndak pakai ribut, ndak
perlu surat ijin dari ‘pentagon’. Lalu besoknya sudah mulai bisa
membedakan yang burik, yang mbatik, mana lokal, mana thai . Lusa… burik
lokal, kochin langka, aglo atu-atunya, harga nomor sekian… Satu bulan
tujuh hari setelahnya sudah Rindu ama Gadis pingitan, Tiara, Widuri,
Alicia, Arini, Paulina bahkan menghayal bisa memeluk Ken Dedes dan Dewi
Ratih … ck…ck..ck… bonek, bondo nekad… pokok asal mahal dan langka, biar
ijo royo-royo… wong liyo ra nduwe…ben…. Satu Gadis nggak cukup, iler
masih suka netes setiap ngeliat ada yang lebih menor, mata seolah-olah
sudah tidak terkalibrasi, mode midnight shoot always ON, barang bagus
ndak ada yang ndak kelihatan. ‘Perang barata-yuda’ dimulai,
kebohongan-kebohongan bermula dari sini, istri tidur telentang tanpa
benangpun nggak peduli… just don’t care… terribly sorry… masih lebih
asyik ngelus-elus si Gadis atau mengusap-usap Hot Lady dan yang Sexy
Pink… anak-anak pada mengeluh (meski dalam diam)… ndak ada lagi
week-end… you’re freed to do anything, kids… dunia kita masing-masing…
begitu kejamnya dunia. Istri selalu tersenyum namun bathinnya merintih
perih… tersisih oleh klangenan what so called AGLAONEMA.

Kecemplung di aglo… uang habis jut-jutan bahkan mungkin em-eman (kalau
dibelikan bayem dijamin cukup buat nyangonin orang se kecamatan), untung
gak sebrapa, ruginya banyakbrapa…

What are you going to search for, buddy ? Long answer to a short
question… selalu ndak bisa memberikan jawaban yang lugas, singkat,
ringkas, jelas, tegas, masuk akal dan bisa diterima logika… (not even
till date).

Sudah telanjur kecemplung kenapa nggak sekalian basah aja….. ra nduwe
duwik, duitnye kagak gablek, dak ado hepeng, no money no-dong… no work
no-ngkrong…

Back to agloworld…
Kepala bak ngikutin putaran odong-odong, geleng-geleng terus saat
melihat dece tetangga yang rimbun, banyak anakan… media dari kita, pot
dari kita, epriting dari kita bahkan ditarok diluar ‘gak keurus’, hujan
panas gak kenal pupuk, cuman sesekali disiram kalau pas media kering
bianget. Tapi kok ya bisa anakannya banyak (memang nggak mulus siiyy…
seperti layaknya taneman dirawat) sementara punya kita sudah ko-it
duluan… ya jelas bisa dong… Kalau diibaratkan anak kecil maunya permen,
dia itu tidak dikasih permen, tidak juga dikasih yang lainnya, in short…
tidak dikasih apa-apa dan juga tidak diapa-apakan. Sementara kita ini
mau ngasi si anak kecil jamu brotowali (yang pahitnya sampai keubun-ubun
berasa sampai tiga hari tiga malam) yang menyehatkan (menurut kita)
sehingga si anak kecil lari terbirit-birit ketakutan, nyemplung got dan
is dead… I learned a lot, but the more I learn the more I don’t know.
Suerrr… moemet dewe…..

Apakah kita sudah terjerumus menjadi Aglaoholic ?

Banyak kasus aglo silangan lokal yang sudah punah dan bahkan hampir
punah, tinggal satu-satunya atau dua tapi itupun dalam kondisi tidak
lebih bagus dari sekarat. Semua karena ‘over-handling’. Juwita tinggal
nama, Santi dua tahun lalu tinggal satu pot (katanya) dan sekarang
mungkin menyusul si Juwita. Ken Dedes, Tamara, Alicia, Arini, Cassanova,
Mirah Delima, Larasati… tidak lagi terdengar khabar-beritanya. How are
you doing guys ? Hope things are going well with them all. Muncul si
Jasmin, si anak hilang, tergopoh-gopoh dari Semarang, ke Jakarta hendak
mencari kawan sekampung, namun apa daya mereka sudah jadi korban
kejamnya ibukota. Sementara dari negeri gajah putih, golden fire, golden
bay, red sparkle, fransiska lenyap bak ditelan bumi. Supernova, Red Hot
Chili Pepper masih tersisa anakannya, meski hidup segan mati tak hendak…
permanently dorman…

Saya berprinsip bahwa merawat aglo haruslah mudah, titik. Media harus
murah dan mudah dicari, harus bisa menghasilkan aglo kualitas prima,
harus cepat beranak (syukur pada saat beranak harga jualnya masih
wookeiiyyy…), harus kenal segala problema tentang aglo… dan selalu ndak
pernah puas dengan kualitas yang sudah didapat. Ibarat seorang pelukis,
tidak pernah merasa puas meski orang lain menilai karyanya sebagai
sebuah masterpiece tapi si pelukis menganggap itu sebagai sesuatu yang
‘belum selesai’, perlu ‘disempurnakan’ (sehingga malah jadi ancurrr…)

Dan pada akhirnya ‘petaka buatan’ itupun terjadi, coba-coba… gonta-ganti
media, genjot pupuk atau tanpa pupuk sama sekali, main air,
potong-bonggol, dll. Apa sih yang terjadi kalau diginiin, digituin… lupa
dah sama harga belinya dulu…

Beberapa kasus yang pernah saya temui selama berkutat-ria dengan aglo…
model quick list aja biar mudah dibaca… (mudah-mudahan rekan-rekan bisa
menambahkan, menggabungkannya dengan pengalamannya sendiri dan
men-sharing kesimpulannya sama kita-kita disini… thanking you in advance
chaps… appreciate it!)

Penanganan
– Kegagalan merawat aglo sering bermula saat penanaman diawal /
repotting, dimana akar memar saat ditanam, akar stress karena kebanyakan
nyiram / langsung dipupuk bahkan dihormon, akar/bonggol bermasalah
sebelum ditanam.
– Kesalahan (kecil) penempatan aglo pasca tanam bisa berakibat fatal
(i.e. seharusnya diteduhkan malah langsung diekspose sinar matahari dan
akhirnya ‘lewat’, dll).
– Sering dipindah-pindahkan sebelum akarnya kuat.
– Sering berpindah tempat (teduh ke panas atau sebaliknya) sehingga
pertumbuhan daun besar-kecil dan tangkai daun panjang-pendek.
– Tempat yang terbatas (sempit) menyebabkan penanganan yang kurang
maksimal sehingga sering memakan korban terutama tanaman kecil atau yang
jarang terkena sinar matahari.

Pemupukan (dan Peng-hormon-an)
– Pemakaian pupuk berlebih menyebabkan akar ‘gosong’ (pupuk kebanyakan
masuk senyawa ‘garam’, hygroskopis – menyerap air, kalau media kering
maka kebanyakan pupuk akan menyerap air di perakaran) sehingga akar
menjadi stress, nampak kecoklatan tapi nggak busuk, mudah terkena
penyakit, pertumbuhan mandeg dan akhirnya mati.
– Pemakaian hormon akar ataupun tunas dengan aplikasi yang kurang tepat
menyebabkan akar bonyok, batang bonggol ter’iritasi’ nampak kemerahan /
kecoklatan / kehitaman.
– Selalu melakukan pemupukan diawali dengan penyiraman sehingga akar
tidak stress karena pupuk.
– Usahakan memupuk dengan dosis separoh dosis yang tertera dilabel
karena (mungkin) angka yang tertera dilabel adalah untuk kondisi ideal
(buatan), skala laboratorium dan setiap tanaman punya reaksi / kepekaan
masing-masing terhadap setiap chemical termasuk pupuk.
– Pemakaian ‘zat-zat kimia’ (tanda kutip), obat-obatan, potential
menghambat pertumbuhan tanaman bahkan bisa menyebabkan tanaman stress
dan mati.

Penyiraman
– Penyiraman sebelum media benar-benar kering (sedikit lembab) akan
menyebabkan akar stress dan pada akhirnya busuk.
– Lebih baik terlambat menyiram satu hari dibanding lebih awal menyiram
satu hari.
– Kalau tanaman akarnya sehat prima, maka siram guyur tidak masalah
asal media porous dan penyiraman berikutnya dilakukan setelah media
kering.
– Penyiraman sebaiknya dilakukan di pagi hari kalau kira-kira cuaca
bakal cerah karena (katanya) tanaman mulai beraktifitas di pagi hari
– Penyiraman pada sore hari potential menyebabkan akar stress karena
basahnya lama, apalagi besok harinya mendung atau hujan.
– Kalau mau amannya, penyiraman berikutnya dilakukan saat tanaman agak
loyo (karena kurang air, yang mana sore hari seharusnya kembali njegrak
tapi tetap loyo)

Media
– Media yang bagus adalah media yang porous, mudah kering, cukup unsur
hara (tanpa harus menambahkan dari luar), tidak mudah ter-dekomposisi
(hancur), ringan, mudah ditembus akar dan tentu saja mudah dicari.
– Secara kolektif tidak lama menahan air, juga bahan medianya sendiri
tidak lama basah.
– Saya pernah mengalami busuk akar, bonggol ter-‘iritasi’, batang
kecoklatan dengan beberapa jenis media seperti, pakis, sekam bakar,
pasir malang, sekam mentah, kaliandra, andam asli (masih kotor), kotoran
ternak, cocopeat, cocochip. Bahkan kalau kering sering kedapatan banyak
kutu putih di akar sehingga akar merangas dan rusak dan kalau basah /
lembab jadi jamuran.
– Pemakaian kaliandra, kompos, andam yang tidak dicuci bersih potential
tumbuh jamur yang merusak akar. Pemakaian sedikit bagus buat akar.

Sinar Matahari
– Sinar matahari mutlak diperlukan oleh aglo untuk foto-sintesa. Konon,
di siang hari CO2 + H2O dengan bantuan chlorofil dan sinar matahari
menjadi Carbohydrat (yang diserap oleh tanaman) + O2, sementara di malam
hari sebaliknya (perlu bantuan, verifikasi dari pakar botani).
– Aglo butuh banyak sinar tapi hawa udara sejuk (dan kelembaban cukup).
Makin banyak sinar, makin cerah warna daun, tajuk makin vigour, akar
tumbuh lebih cepat. Kelemahannya, sering datang kutu putih menyerang
pucuk dan kalau daun ketetesan air maka daun suka melepuh.

Sirkulasi Udara
– Sirkulasi udara juga mutlak diperlukan untuk menjaga tingkat
kelembaban lingkungan dimana kita menaruh aglo, juga mempercepat
pertumbuhan tanaman.

Lain-lain
– Yang paling sering menyebabkan aglo busuk adalah menyiram lebih awal
dari interval waktu yang seharusnya (kita harus tahu sifat fisik
medianya, berapa lama media akan kering dan sampai berapa lama kondisi
ini bisa bertahan, maksudnya dalam waktu 3 bulan lebih bisa jadi
kecepatan keringnya lebih lama dibanding saat-saat awal)
– Kedua yang sering menyebabkan busuk adalah pemakaian media yang
kurang ‘steril’ (tanda kutip), media sudah terkontaminasi (umumnya media
bekas), menanam saat media basah atau menyiram guyur langsung saat
repotting tanpa mempertimbangkan kondisi bonggol / perakaran
– Ketiga yang juga sering menyebabkan aglo stress adalah pemakaian
pupuk atau hormon berlebih.
– Pemakaian tanah (dalam pot) bagus untuk aglo tapi pertumbuhan akarnya
agak lambat (kecuali mungkin tanahnya sudah ‘diproses’)

Sementara segitu dulu, maklum sejak lahir dikaruniai bakat pelupa. Nanti
kalau ada yang teringat tak tambahin lagi.
Mohon maaf kalau ada kata-kata, cara penyampaian, makna yang tertangkap
yang kurang berkenan di hati. Tidak ada maksud lain selain sharing,
berbagi, ‘make everybody happy’. Mohon membahasnya / mengartikannya
sederhana saja, jangan membahas kata perkata layaknya membahas tafsir
kitab suci… Sederhana saja karena saya ini orangnya sederhana,
berpikirnyapun sederhana, meski kadang suka berpanjang lebar,
ngalor-ngidul, ‘mulek’ disitu-situ saja dan pada akhirnya nggak jelas
juntrungannya kemana.

Salam,
Gede Sudarma

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. lebih kurang sama dengan apa yang saya alami, sekarang saya lagi perbanyakan aglao dengan cara potong bonggol, saat penanaman pertama saya siram sekali sampai satu bulan lebih tidak pernah disiram lagi, alhamdulillah banyak yang tumbuh, dan aglaonema yang yang masih utuh saya lupa kapan terahir saya menyiramya, akan tetapi keadaannya lebih baik dari pada saat dilakukan penyiraman rutin, penyiraman rurin bisa dilakukan bila aglao sudah indukan dengan banyak anakan, sehingga banyak akar yang akan mengkonsumsi air sehingga tidak akan ada namanya over watering. DC saya mau disiram dua kali sehari mah nga papa, malah semakin subur, karena anakannya sudah banyak dan akar juga asangat banyak


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: