Secangkir Kopi Hangat untuk Hobiis Pemula

September 5, 2008 at 4:39 am | Posted in CARA BERTANAM DAN PERAWATAN, MEDIA TANAM, OPINI | 6 Comments

Secangkir Kopi Hangat untuk Hobiis Pemula
oleh Bpk. Gede Sudarma, Jakarta

Apa bedanya antara…
– kemalingan aglo koleksi dengan
– aglo mati busuk atau
– beli aglo berkelas (baca: gengsi) dengan harga tinggi lalu dalam kurun waktu singkat harga terjun bebas dari langit ketujuh, drop mendekati harga sere / seledri di pasar kampung atau
– nggak bisa beli aglo idaman sampai kerah baju basah terus tiap liat aglo menor atau
– sekalinya bisa beli namun mulut ‘mak direktur’ bak peniup seruling ndangdut alias monyong terus ?

Dunia hobby, dunia ‘irrasional’ yang terpaksa dirasionalken demi mudahnya ngetung dapetnye berape lepasnye (baca: ruginye) berape, berape puun kali berape total ruginye berape… si Anu meninggal gara-gara kena serangan jantung… rugi sekian em gara-gara aglo, si Ana ndak pernah bisa tidur nyenyak sejak ngambil Arjuna, Si Ani uring-uringan terus gara-gara Ruby-nya dimakan Kura-Kura, Si Ano brantem mulu ame bininye gare-gare suke Rindu ame Gadis, etece…

Dengan niat ‘do something good for else’ (nak ana ma’sut laen, huerrr…), saya ingin sekedar sharing tentang pengalaman saya merawat aglo sejak lima tahunan lalu. Memang belum terlalu lama dibanding kolektor-kolektor kelas kampiun yang sudah dijadikan acuan dibuku-buku yang bahkan ‘nafas’nyapun selalu didengar (baru hidungnya kembang-kempis, belum ngomong… sudah ditulis sama wartawan, ancene pernyataan yang tepat en akurat) atau rekan-rekan kolektor, grower anggota milist AI yang terhormat (peace man…!), apalagi dibanding petani / pedagang kaki lima yang mungkin lahir, tumbuh rambut dan botax diantara semak-semak tanaman sri rejeki.
Namun dalam kurun waktu yang singkat ini rasanya (bukan saya bermaksud takabur) saya pernah mengalami masa ‘ancur-ancuran’ dalam merawat aglo, mulai dari bonggol / akar / daun busuk, akar / batang coklat, batang kopong, batang ‘njeglek’, batang / daun lonyo sampai akar batang daun lenyap tak berbekas alias digondole karoe malinge… kamprete !, dari DC sampai SP, dari Arjuna / Srikandi sampai Romeo / Juliet. Pun sebaliknya, saya pernah mengalami masa-masa ‘kedigjayaan’ dimana ‘tongkat kayu dan
batu jadi tanaman’, rasanya kok begitu mudahnya merawat aglo, setiap tancep… jrot-jrot-jrot jadi aglo ‘contest form’ (meski harga jualnya kemudian jauh dibawah harga beli saat masih anakan dulu) dan setelahnya lalu modiarr.. yo ben… wis gak enek regane… Suasana hati sangat ‘fluktuatif’, span-nya tingi, kadang merasa seperti petani paling hebat di dunia (Bojonggede, red) melihat aglo segar bugar, seolah dada dada… dan berujar… selamat pagi pak de, selamat sore pak de… sementara besoknya hati ini benar-benar merasa gak pede blaszs… kala membongkar SP akarnya gundul bahkan bonggolnyapun sudah tiada, herannya kok daunnya nggak njeglek… dasar penipu…
Hampir semua media yang pernah kita kenal pada umumnya ataupun yang nggak umum yang jarang kita kenal pernah saya pakai. Pakis, sekam bakar, sekam mentah, andam, e’ek embek baik yang sudah jadi tanah ataupun yang masih ‘glondongan’, kotoran kelelawar (kalau yang ini kayaknya belum deh… baru ide), kaliandra, pasir malang, pasir bangunan (semua sudah diayak), daun bambu, cocopeat, cocochip, arang batok, arang kayu, pecahan bata, pecahan batako, pecahan genteng, tanah sawah, tanah merah / coklat / hitam, gabus / styrofoam … sampai pada pupuk moderen made in dalem negri sampai dari bawah planet, be-satu, growmore, super thrive, hyponex, gandasil, osmocote, dekastar, atonik, metalik, extreme root, extreme growth, bao-de, ‘viagra’, root-up, quick grow, biozon, similikiti, weleh weleh, capek deh… blender gak lagi dipakai nge-jus buah, rusak gara-gara buat nge-gerus taie-kambinge… binie sewote… malem-malem begitu kumendan tidur kita mengendap-endap bak orang mau selingkuh, nggodok media sambil mulut ngepul terus kayak sepur taun dodol, aduk-aduk layaknya mengaduk cairan bijih emas yang siap dicetakdan menghayal besoknya punya kumpeni sekelas deBeers… atau minimal jadi saingan Wijaya… the art of the garden… kadang sampai jam 2 pagi masih cuci-cuci media atau sekedar ngelap-ngelap daun, spray-spray tipis (padahal jam ½ tigaan sudah harus diangkut sama malingnya)… UEDIAN TENANAN !
Sekali lagi ini hanya pengalaman saya bergila-ria dengan aglo… atas nama hobby (meski terpaksa banyak bohong sama bini), ditempat saya, dengan kondisi lingkungan alam Buitenzorg (Bogor), tepatnya di BSD (Billabong Sonoan Dikit alias Pura Bojonggede), air sumur fresh (kalau diminum benar-benar bisa menghilangkan dahaga), cukup panas namun sering hujan (Bogor hanya mengenal 4 musim – musim mendung, musim hujan, musim banjir dan musim kawin…he…he…), tempat sempit, sinar matahari terbatas
(11AM-14PM), angin hanya mengandalkan exhaust fan (kalau PLN nggak ‘njeglek’). Di tempat lain mungkin akan berbeda bahkan seratus delapan puluh derajat. Jadi ini sifatnya hanya ’emperis’, ‘gak elmiah blasss…’
butuh diverifikasi, dikoreksi… dan bila perlu boleh kasi komisi (…asal jangan bonggolan dece!) untuk mungkin kedepan bisa dijadikan sekedar buku saku untuk menghindari ‘totally damaged’ terutama untuk aglo kelas ‘benci tapi rindu’, ‘rindu ama gadis’ atau ‘mata melek otak njeglek’ (bak abis di-ka-o mat taisen).

Tulisan ini khusus saya peruntukkan buat rekan-rekan pemula, yang baru
belajaran atau yang masih bermasalah dengan pasca tanam.

Lets get it on…
Ada beberapa istilah (menurut hemat saya) yang perlu DIRENUNGKAN saat
‘ternak aglo’ baik saat mulai memilih media, memilih pot, menanam
diawal, merawat pasca tanam, menyiram, memupuk, mengganti media,
nyemprot kutu, dst, dll, dkk, dsb… (pokok’e wuakehh…)

Saya ndak akan sharing tentang bagaimana merawat aglo supaya prima
karena banyak rekan-rekan kolektor, grower yang jauh lebih experience
dan lebih mak-nyes dari saya (saya akui itu) namun saya hanya sharing
tentang hal mencegah ‘totally damaged’, ‘ancur-ancuran kui mau’ …
sepengalaman saya…

Yang paling sering kita alami (dan bikin kueselll…) adalah aglo nampak
sehat walafiat, tumbuh sampai 3, 4 ,5 daun… habis gitu tahu-tahu mandeg,
daun tumbuh mengecil, keriting, ngeblok hijau atau bahkan menguning,
lalu rontok satu persatu (terus kapan kita bisa menikmati keindahannya).
Yang menyedihkan… kita merawat dari 1-2 daun, begitu waktunya beranak
kita berharap-harap… tahu-tahu… boro-boro beranak, bonggol tuntas, habis
nggak berbekas. Kalau sudah begini,semangat langsung drop ke titik
nadir. Penyebab utamanya adalah NAFSU dan ke-SERAKAH-an ! That’s it !
Ingin melihat tanaman subur, cepat besar, warna ngejreng, kontes juara,
beranak banyak, jual anakan masih dengan harga tinggi, untung banyak,
cepat kaya… (lalu kawin lagi, mati masuk surga… karepe wong urip…).
Akhirnya aglo digenjot dengan pupuk, hormon, air… ibarat nginjak pedal
gas mobil balap, lari sekencang-kencangnya, lupa kalau itu mobil ada
rem-nya dan baru berhenti kalau nabrak tembok atau nyemplung ke setu.
Mungkin kalau si aglo bisa teriak dia akan teriak … amfuuunnn beeehhh…

“Ketahuilah Apa Maunya Si Aglo” (wealah… nulisnya macem motipator yang
ngomong di tipi-tipi itu…)

Ibarat merawat bayi yang baru lahir, kadang nangis karena mau pipis,
nangis karena lapar, nangis karena kedinginan, nangis karena sakit perut
mau (maaf) kentut dll… dan untuk si aglo kita harus terjemahkan sendiri
berdasarkan visual kita, sehingga si aglo bisa tumbuh sehat dan pada
akhirnya kita-pun bisa menikmati keindahannya (dan tentu saja jual
anakannya, ini yang paling penting).

Yang perlu direnungkan adalah…
– Jenis aglo yang mau ditanam (maksudnya indukan, anakan terutama akar
sehat/sakit, tanpa akar, bonggolan dengan akar, bonggolan tanpa akar,
pucuk tanpa akar, dll)
– Kondisi lingkungan dimana kita biasa menaruh aglo (terutama dalam hal
kecepatan media untuk kering)
– Kondisi lingkungan (sinar matahari dan angin) mutlak perlu
– Kondisi air yang dipakai untuk menyiram
– Intensitas penyiraman
– Caranya menyiram
– Frekuensi penyiraman
– Pemupukan (manfaat dan efek sampingnya kalau kebanyakan)
– Dosisnya pemupukan
– Waktunya melakukan pemupukan
– Intensitas pemupukan
– Frekuensi pemupukan
– dan segala tetek-mbengek lainnya… (maksudnya segitu-itu, nggak ada
lagi lainnya)

“Kondisi pasca penanaman / repotting sampai kurang lebih 1 bulan pasca
tanam / repotting akan menentukan kedepannya…”
(anda harus berhenti sejenak disini, renungkan apa maksud kalimat yang
tercetak dalam tanda kutip diatas, kalau gak ngerti, stop sampai disini,
merenung terus sampai mengerti…… lah wong istri saya aja yang udah
belasan tahun tidur ama saya ndak pernah ngerti apa yang saya
sampaikan…)

Maksudnya kira-kira, kurang lebih… bagaimana membuat si aglo kembali
segar dan bisa tumbuh sehat (bahasa kaki limanya: akar jalan pucuk
jalan). Kalau kondisi ini sudah bisa tercapai baru kemudian berpikir
bagaimana menjaga agar si aglo tidak pernah nge-drop selama
pertumbuhannya dan kedepan perawatannya jadi lebih mudah (insyaalloh,
haleluya, avighnamastu… kalau akar sudah jalan dan sehat).

Ada satu pertanyaan yang sering saya lontarkan untuk diri sendiri, “Mana
yang lebih sering menyebabkan aglo mati, aglo yang sering disiram /
dipupuk atau aglo yang jarang disiram / tidak pernah dipupuk?” For sure,
the first one but the first one ! Belum pernah mati karena kekeringan,
belum pernah mblonyo karena kegaringan… paling akarnya rusak dikerubungi
kutu, tapi gak sampai ko-it, masih bisa diselamatkan.

Idealnya supaya akar jalan (dan kemudian bisa mendapatkan aglo prima)
adalah dengan mencukupi kebutuhan haranya, airnya, pupuk encer-encer
saja paling cepat 2 minggu sampai sebulan sekali, full sinar matahari
tapi hawa udara tidak panas, sirkulasi udara bagus. Kering-basah,
kering-basah… jangan kering terus, basah terus … Idealnya, habis
menyiram media harus cepat menjadi lembab dan lembab ini harus bertahan
cukup lama sampai akhirnya menjadi kering baru disiram lagi.
Kering terus sering mengakibatkan banyak kutu diakar, aglo bisa
nge-drop. Penyerapan P, K lebih banyak saat kering (katanya lho…),
batang jadi lebih kuat tapi cepat/sering tumbuh bunga…
Basah terus… so pasti mblonyok…
Lembab terus… mmm… bisa bonyok bisa nggak, kalau nggak bonyok paling
bertahan beberapa lama, habis gitu ya bonyok juga. Penyerapan N tinggi
saat basah / lembab, tanaman jadi subur tapi ‘gemblung’ sehingga
batangnya mudah patah.

Kalau dilanjut ala penulisan diatas, saya yakin anda akan bosan (atau
mungkin sudah pingsan karena bosan)… maka saya singkat saja dengan quick
list… (masih dalam scope mencegah ancur-ancuran pasca tanam)

Sekali lagi jangan sampai ada kesalah-pahaman. Media dan treatment yang
saya sampaikan ini adalah untuk perawatan pasca tanam sampai akar
benar-benar jalan dan sehat (boleh juga dipakai seterusnya kalau cocok),
dengan media sederhana yang mudah didapat. Kalau yang mahal sih
banyaaakkk….

Pot
Semua pot yang saya pakai, bagian bawahnya sudah saya tambahin lubang
pembuangan air dan pakai pot yang ada kakinya (kecuali pot ditaruh di
rak yang tidak menghalangi pembuangan air dan sirkulasi udara)

Media
Media yang bagus adalah media yang cukup rapat tapi porous (dan
porositasnya ini harus bertahan cukup lama, tidak mudah menjadi padat),
mudah kering, cukup unsur hara (tanpa harus memupuk). Yang bagus
sepengalaman saya adalah andam (jenis tertentu, tidak semua, lihat foto
terlampir) yang sudah dicuci bersih sampai air buangannya bening lalu
dijemur kering. Untuk mempertahankan porositas supaya bertahan lama,
biasanya saya campur dengan pakis hancur (yang sudah tua, mudah patah)
dan juga sudah dicuci bersih dan dijemur kering. Perbandingan terserah,
sesuaikan kondisi lingkungan setempat.

Menanam atau Re-potting
Penanaman selalu saya lakukan selagi media kering atau sedikit lembab
(tandanya medianya buyar). Saat menanam harus diusahakan sedemikian rupa
sehingga jangan sampai ada bagian tanaman (terutama batang, bonggol dan
akar) yang terluka / memar. Merapatkan media dengan cara menepuk pinggir
pot (pelan-pelan saja, sekedar digoyang-goyang).
Tanaman yang mau ditanam (saat mau re-potting) juga diusahakan selagi
kering / lembab sedikit. Kalau tanaman dari kondisi akar-bonggol basah,
maka cuci bersih, buang yang rusak / potong pakai pisau stainless yang
tajam (jangan dipotong pakai kuku), lalu biarkan kering-anginkan.
Setelah semua oke baru kemudian ditanam pelan-pelan (usahakan jangan
sampai ada akar yang tertindih bagian media yang kasar karena saat
penyiraman potential menyebabkan akar memar).

Menyiram
Salah satu kunci penting adalah MENYIRAM. Ada kalanya saat repotting
nggak perlu langsung disiram, ada juga yang bisa langsung disiram.
Setelah memperhatikan semua faktor diatas maka penyiraman langsung bisa
dilakukan kalau akar sehat (nampak berwarna putih) dan banyak. Kalau
akar sedikit lebih baik nggak usah langsung disiram, sebab kalau akar
tersebut busuk nggak ada lagi spare-nya (nggak ada redundant). Tapi
cukup di-spray sedikit sekedar lembab. Tanaman yang akarnya sehat dan
diguyur langsung bisa langsung ditempatkan ditempat dimana kita biasa
menaruh aglo. Sedangkan yang di spray, juga anakan yang masih kecil,
pucuk tanpa akar, atau akarnya kurang prima (semuanya dalam kondisi
sedikit lembab) ditaruh ditempat yang agak teduh sampai kira-kira 2
mingguan, sedangkan yang tidak ada akar sama sekali sampai 4-8 minggu.
Untuk tanaman dengan akar sehat, penyiraman berikutnya (pasca penyiraman
pertama) baru dilakukan setelah media kering (>4 hari). Sedangkan yang
lainnya hanya dikabutin permukaan medianya setiap 2 hari dan baru siram
total setelah >1 minggu. Pokoknya improvisasi ndirilah… Jangan melakukan
pemupukan atau ‘hormonisasi’ pasca penanaman diawal / repotting ini
sampai kita benar-benar yakin akar jalan (untuk pupuk) dan setelah lewat
3 bulan untuk hormone (sebaiknya jangan pakai hormone-hormonanlah kalau
belum paham benar how to use it…).
Boleh sekali-sekali dipakai (bukan bermaksud promosi) B1, BaoDe, Extreme
Root atau Biozon. Tiga yang pertama diencerkan ½ dosis yang dianjurkan
sedangkan Biozon langsung diaplikasikan… sedikit saja pelan-pelan saja
sambil melihat perkembangannya. Jangan sampai media basah / lembab
terlalu lama.

Saat ini saya hanya memakai media andam yang sudah dicuci bersih, kadang
saya campur dengan pakis yang juga sudah dicuci bersih (tergantung
besarnya pot, makin besar makin renggang medianya atau makin banyak
pakisnya). Dan baru kali ini juga dapet ‘penghargaan’ berupa ‘pujian’
dari kumendan, katanya bahwa sekarang aglonya pada ‘njegrak’ (dia nggak
tahu kalau yang lainnya juga ‘njegrak’), vigour, pat lima derajat… beda
dengan sebelum-sebelumnya, meski yang tersisa hanya aglo kelas bawah
kesamping…

Gitu aja… Mudah-mudahan ada manfaatnya. Akhirnya mohon maaf kalau ada
kata, kalimat, cara penyampaian, makna yang tersirat yang kurang
berkenan dihati. Tidak ada maksud lain selain make everybody happy…
maklum saya juga sedang dalam tahap belajaran… masih sering mengalami
aglo bermasalah…

Have a nice fasting season to my Moslem colleagues… Selamat Menunaikan
Ibadah Puasa, semoga amal ibadahnya diterima oleh Alloh Subhanahu wa
Ta’ala

It’s Friday man….

Salam,
Gede Sudarma

6 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. kebanyaken komentar, boso jowone juweh lambe ndombleh

  2. Panjang dan langka, tapi salut untuk pembelajaran bagi pemula kayak saya. Salam

  3. Ampuh tenan, bahasane enak banget dicerna orang seperti aku … bener, bener … apa yg ditulis dan aku baca sampe tuntas sangat bermanfaat dan sesua dengan banyak kenyataan yg aku alami di lapangan (di desaku …). Terima kasihn atas segala informasinya dan aku mohon untuk mendokumentasikan dalam benak otak pikiranku …. aku bisa membaca sampai lebih dua kali gak bosen-bosen meski diulang terus …

  4. Well Done! I Like it!

  5. Baru sempat baca Bli Gede, hebring,sharing yg sangat aplikatif. Bahasa membumi banget..lucu and ndak mboseni meski baca berulang-ulang. Sangat baik hati mau berbagi pengalaman selama beraglo ria. thank u so much.ditunggu sharing lainnya, terutama soal perawatan aglao mutant biar ndak tewas maning tewas maning….Salut buat The Master of Mutant !!Regards endang.

  6. Yth. Saudaraku para penikmat kopi panas,

    Ingin lebih menikmati kopi panas, sekaligus meningkatkan stamina, potensi libido, syahwat, dan sembuhkan frigiditas, serta termasuk cegah penuaan/menopause dini?
    Coba saja kopi panas yang akan anda nikmati berikan/taburkan 1/3 sachet produk yang satu ini: “REXIMAX”

    hp/sms: 02137878828, 081807490541, 081310104072

    Reximax adalah ramuan herbal yang diracik khusus dari bahan herbal alami dengan komposisi yang seimbang sehingga tidak ada efek samping berfungsi untuk meninggkatkan Vitalitas yang prima, meningkatkan kesuburan hormon, regenerasi sel, dan meningkatkan kekebalan tubuh. Juga bermanfaat untuk therapy detoxifikasi, diabetes, melancarkan peredaran darah, menyembuhkan impotensi, lemah syahwat dan frigiditas, memperlambat penuaan serta menopause dini.

    Delapan ramuan alami yang terkandung dalam Reximax untuk kehidupan yang lebih harmonis, terdiri dari :
    TRIBULUS TERRESTRIS
    PURWOCENG (Pimpinella Alpina)
    PANAX GINSENG
    TONGKAT ALI ( Eurycoma Longifola)
    MACA ( Lepidium Perulianum Chacon )
    MADU
    KOPI
    NON DAIRY CREAMERS (NDC)

    Cara Penyajian & Pemakaiannya
    Ambil 1/3 sachet langsung ditaburkan dalam minuman kopi panas yang sudah tersedia dan siap saji, langsung Anda nikmati dengan santai bersama kolega-kolega Anda baik dirumah maupun di Kafe-kafe dikota Anda.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: