Form Penjurian 2: Penjelasan

August 20, 2008 at 2:52 pm | Posted in ARTIKEL & DISKUSI, KONTES AGLAONEMA | 10 Comments
Tags: ,

Form Penjurian 2: Penjelasan
oleh: Bpk. Destika Cahyana, Jakarta

Kesan pertama: Efek visual keindahan obyek secara keseluruhan–tanaman, wadah, dan ornamen pendukung–yang muncul setelah proses perawatan dan penyelarasan obyek. Dalam konteks ini, kesan pertama sejatinya HASIL AKHIR dari serangkaian proses yang dilakukan pemilik dan disajikan dalam kontes.

Pembobotan nilai bisa dilihat pada kolom penilaian, biasa (1-10), indah (11-20), dan berkesan (21–30). Yang mesti diingat obyek secara keseluruhan artinya bukan hanya tanaman. Maka, pada kesan pertama teknik penanaman mengambil peran penting. Bentuk, ukuran, warna pot yang cocok dapat mendongkrak nilai. Begitu juga posisi penanaman dan sentuhan akhir (misal daun yang bersih dan tidak berdebu).
***

Kesehatan: Kesehatan sebuah pohon biasanya dipengaruhi oleh patogen (gangguan hama dan penyakit), kekurangan hara, dan kestabilan tumbuh (misal tanaman baru dipindah pot atau diganti media, meski tak ada serangan hama dan penyakit, kestabilan tumbuh dia masih rendah).

Skema mudahnya:
Kesehatan:
1. Gangguan kesehatan karena hama, penyakit, dan kurang hara
2. Gangguan kesehatan karena proses perawatan (pemindahan pot, pemotongan daun rusak, pemotongan batang, dsb)

Kasus yang sering muncul ialah, ada tanaman yang cacat (misalnya daun bolong dengan luka sudah kering) lalu juri secara otomatis memberikan nilai kesehatan rendah. Menurut saya itu kurang tepat, karena keringnya luka sudah tidak mengancam kehidupan tanaman tersebut. Daun bolong–yang terlalu banyak–otomatis mengurangi kesan pertama. Pada kolom lain yang lebih detail–bentuk (pada karakter spesies/hibrid)–pun sudah tak maksimal. Maka tidak adil, menurut saya, bila pada kolom kesehatan pun drop. Sebagai analogi, jari teman saya terpotong 5 tahun lalu. Meski jarinya tak lengkap, kesehatan teman saya saat ini tetap baik.

***

Karakter spesies/hibrid (meliputi daun dan tangkai): Bentuk, tekstur, warna/motif. Menurut saya ini cukup mewadahi semua tanaman hias daun. Yang diperlukan ialah pengetahuan juri tentang karakter masing-masing spesies atau hibrid tanaman daun tersebut.

***
Keserasian: Ini biasanya disebut orang sebagai kekompakkan sebuah tanaman hias daun. Kekompakkan tanaman hias daun ditentukan oleh posisi tumbuh yang tepat, dengan arah tumbuh yang tepat, dan proporsi ukuran yang sesuai.

Karena itu, untuk mendapat pohon prima sebetulnya bagaimana 1) Menumbuhkan daun pada posisi yang tepat, lalu 2) Mengarahkan daun pada arah yang tepat, dan 3) Mengendalikan pertumbuhan pada ukuran yang proporsional antar daun. Itulah yang dilakukan P Songgo yang kerap menjuarai kontes.

***

Form penjurian ini tak lagi memasukkan kelangkaan, karena yang dinilai ialah estetika sebuah tanaman hasil perawatan seseorang. Prinsip itu juga berlaku di penilaian bonsai dan adenium. Jadi, meski anda hanya punya snow white jangan khawatir, bisa saja mengalahkan hot lady (bila kelas merah dan non merah digabung atau dipilih best in show antara pemenang merah dan non merah).

Di thailand dan dunia anggrek memang ada kontes untuk para pemulia. Ini bertujuan untuk merangsang pemulia dan petani menghasilkan jenis baru.

Salam,

Destika Cahyana

10 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Akhirnya …… kalimat yang tak tunggu2 muncul juga (thanks Mr. Destika) :

    Mengendalikan pertumbuhan pada ukuran yang proporsional antar daun. Itulah yang dilakukan P Songgo yang kerap menjuarai kontes.

    Mengendalikan = membuat, merawat, mengarahkan, atau menjaga sesuatu agar SESUAI dengan TUJUAN tertentu. Jelas2 nampak disini ada yang mendahului kegiatan merawat, yi. SETTING OBJECTIVE = penetapan sasaran yang hendak dituju.

    Tidak terkecuali Mr. Songgo dan rekan2 lain saat mulai merawat aglo, pasti sudah ada penetapan tujuan lebih dulu tentang gambaran akhir aglao tsb akan seperti apa. Oleh Mr. Destika tujuan tsb dideskripsikan sebagai pertumbuhan pada ukuran yang proporsional antar daun. Dengan bahasa yang lain, tentu yang dimaksud beliau adalah BANGUN ARSITEKTUR aglao yang menyebabkan aglao tsb NAMPAK dan MENAMPAKKAN potensi keindahannya. Saya kira demikian pula adanya dengan yang dimaksud Mr. Dian, Mr. Windarji, dan Mr. Anis.

    Lantas mengapa bangun arsitektur aglao IDEAL tetap saja masih dirasa sulit untuk didefinisikan dengan lebih konkret ? Bisakah didekati dengan kenyataan bahwa arsitektur tanaman yang berada di atas tanah sepenuhnya ditentukan oleh phillotaxy, inklinasi dan bentuk daun ?

    Ada cerita dari dunia JAGUNG, para ahli perjagungan yakin dan bisa membuktikan bahwa terdapat korelasi positip antara ‘distribusi, inklinasi dan pola’ daun terhadap produksi jagung. Steward (2003) : Luasan dan distribusi area daun (leaf area) dan sudut tegakan daun (leaf angle) yang membangun ‘bangun’ canopy tanaman punya maksud dan berpengaruh nyata terhadap fotosintesis, pada akhirnya berpengaruh pada tingkat produksi. Mereka berhasil mengukur dan menghitung bangun ideal tersebut dan menjadi acuan breeder serta petani dalam menghasilkan benih dan cara bertani jagung.

    Berangkat dari sini tidak adakah bahasa atau besaran arsitektur yang bisa digunakan untuk mengkomunikasikan bangun canopy aglao, hingga aglao nampak kompak, serasi, mampu menonjolkan pernik2 hiasan daun etc, etc, etc.

    Seandainya bisa ditemukan bahasa tersebut, mungkin arti keindahan aglao lebih mudah di-komunikasi-kan. Ke yang awam dan pemula lomba sekalipun,bahkan buat para breeder sebagai acuan arah seleksi aglao.

    Ganggeng Kanyoet

    Kita lanjut besok dimulai dari phillotaxy aglao …… (mudah2an Mr. Faries bergabung untuk lebih menjelaskan tentang hal ini)

  2. Trims bapak-bapak, diskusi ini makin menarik, dan gaya tarik ulur, lempar tangkap bola, akan menghasilkan sesuatu yang pastinya or mudah-mudahan akan bermanfaat bagi dunia per Aglao an kita…..

    Thanks again for sharing it with us…

    Salam,
    Indah

  3. Ngukur Leaf Area Index dan Leaf angle index memang hanya dilakukan pada jagung.. parameternya juga kualitatiif, yaitu hasil panen, bobot brangkasan, dan bobot kering.

    Nah klo buat aglo sepertinya gak relevan.. sebab secara fisiologi fotosintesis jangung itu C4 (klo ga salah),dan aglo itu CAM (Crassulacea Acid Metabolism), so sepertinya ga analog dengan jagung. Apalagi buat kontes yang penilaiannya kuantitatif dengan skoring.. makin ga relevan

    Terusterang klo buat kontes saya masih no komen deh… takut salah komen malah repot..

  4. Mbak Indah dan Pak GK…

    Ada satu hal lagi yang mungkin masih perlu didiskusikan.

    Dalam menilai kecantikan dan cara berbusana seorang putri indonesia misalnya (dalam hal ini soal beauty, bukan brain dan behavior), dewan juri menilai sang putri dari depan, dari kepala hingga kaki. Tak pernah dewan juri menilai para putri yang memunggunginya, dari kepala hingga kaki.

    Demikian juga pada bonsai dan adenium. Ada istilah yang dinamakan point of view atau titik pandangan utama. Orang awam menyebutnya muka pohon. Yang menentukan ialah pemilik pohon atau perawat pohon. Saat merawat pohon maka sang pemilik selalu mengarahkan agar pohon itu terlihat indah dan selaras dari titik pandangan utama yang dipilihnya.

    Di arena kontes, pemilik pohon menandai point of view itu dengan stiker, agar para juri menilai dari sudut pandang yang sama dengan sang pemilik. Dengan kata lain, tampilan pohon dinilai oleh 3 atau juri pada titik yang sama.

    Pada aglaonema, setahu saya, point of view, belum menjadi hal yang dianggap penting. Karena itu kerapkali, keindahan aglaoenma yang dilihat saya, dengan yang dilihat pemilik, atau Bung GK (misalnya) agak berbeda. Juri yang sekarang ada pun, masih sedikit yang menganggap penting point of view.

    Bila pada bonsai atau adenium, muka biasanya dilihat secara horizontal, dari depan. Pada aglaonema, Mr Ukay, menyebutnya dari atas dengan sudut kemiringan 45 derajat. Tinggal posisi depannya yang mesti ditentukan di pot. Itu bisa jadi ada benarnya. Namun, yang terpenting, sebaiknya pemilik menentukan point of view, lalu memberi tanda di pot. Dari situlah nanti juri menilai, dengan sudut 45 derajat. Agar setiap juri menilai pohon seperti maunya pemilik pohon yang merawatnya.

    Sekadar info, pada philo yang sangat besar, sudut itu bisa bergeser, mungkin malah mendekati sudut pada bonsai dan adenium. Ditunggu masukan dan saran yang membangun.

    Salam,

    Destika Cahyana

  5. Mas/Mbak Destika, terima kasih banyak banget atas pencerahannya ini….kebetulan saya lagi perlu sekali data yang dijabarkan ini……..Trims ya sekali lagi….

    Salam,
    Indah

  6. Itu juga yang saya pikirken om Dest,
    Karena gampang ngerawatnya & kontes-genik, gimana klo yang ikut lagi2 Legacy dikurangi dikit nilainya, biar fair sama yang lain, hehe…

    Salam,
    Chris

  7. Ha ha,

    Om Christ bisa aja. Ha ha. Ini sekadar bocoran dan kabar bagus, biasanya bila ada 2 pohon yang penampilan setara, misalnya legacy dengan aglaonema berdarah cochin yang penampilannya sama-sama bagus, maka juri menilai atau memilih aglaonema berdarah cochin lebih tinggi. Itu karena untuk menghasilkan legacy indah dan prima lebih mudah ketimbang aglaonema berdarah cochin yang gampang letoy.

    Tapi, kalau penampilannya jomplang, apa daya deh…

    Salam,

    Destika Cahyana

  8. Ha ha ha juga. Mbak Indah Gimana sih. Mas Destika jelas-jelas udah dipanggol Om oleh Om Crist, masa sih masih ragu soal kejantanannya. Tapi kayaknya di miolis ini memang banyak yang meragukan, kayak saya inilah. Makanya pake Mas Anis biar jelas aja. he-he he.
    Om Des, ikutan Pak Cris, kayaknya ada sedikit rancu soal indukan yang disebut diuraiannya. …..maka juri menilai atau memilih aglaonema berdarah cochin lebih tinggi. …… dst. Mungkin yang dimaksud cochin disini adalah commutatum kali yah. soalnya, pak Greg kebanyakan memakai A. commutatum ketimbang Cochin sebagai indukan selain rotundum tentunya.

    Salam
    Mas Anis bielsyah

  9. He ha,

    Sory Om Anis, mungkin bahasa saya yang agak kacau, karena disambi dengan bekerja. he he. Maaf.

    Maksud saya gini, misal aglaonema berdarah cochin (yang secara fenotif terlihat dominan dengan warna merah yang seperti dijeplak) itu ialah cochin atau chao phraya. Maka tim juri biasanya mengunggulkan cochin atau chao phraya ketimbang legacy. Dengan alasan, merawat turunan cochin jauh lebih sulit ketimbang merawat turunan commutatum.

    Bila berkaitan dengan pemuliaan, Om Anis benar, menghasilkan aglaonema merah yang bagus di atas commutatum jauh lebih sulit ketimbang di atas cochin. Catatan: yang menurunkan darah merah pada aglaonema rotundum dan cawang (di thailand, yang sebetulnya turunan rotundum juga).

    Di lapangan, penyilangan antara comutatum, rotundum, cochin, cawang, dsb, saling bersilangan antar spesies atau antar turunan yang sudah hibrid dengan spesies tergantung tujuan sang penyilang. Belum lagi back cross. Jadi yang saya maksud berdarah cochin itu, yang secara dominan karakter fenotifnya terlihat.

    Tapi, sekali lagi, itu secara teori, berdasarkan pengalaman pemulia dan pekebun aglaonema yang pernah saya hubungi. Saya sendiri belum pernah menyilangkan. he he. Mungkin pengalaman teman-teman bisa jadi berbeda.

    Salam,

    Destika Cahyana

  10. Waduh mas Destika, maaaaf banget…en thanks mas Anis untuk koreksinya, saya kurang perhatikan sebutannya Oom dari mas Christ tadi…soalnya lagi focus nih sama penjabaran yang sedang diuraikan oleh mas-mas semua…..Maklum pemula jadi senang sekali dapat ilmu-ilmu baru seperti ini, dan terima kasih juga untuk penjabarannya yang clear, detailed, mudah dipahami en sangat logis….Jadi ya bisa ngikutinnya deh….

    Salam AI,
    Indah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: