Kriteria Lomba – Bab 2: Posisi Pengamatan

August 12, 2008 at 8:53 am | Posted in ARTIKEL & DISKUSI, KONTES AGLAONEMA | 1 Comment
Tags: ,

Kriteria Lomba – Bab 2: Posisi Pengamatan
oleh Bpk Ganggeng Kanyoet, Yogyakarta

Rekan2 milis aglaonema@yahoogroups.com
Tampak2nya jawaban atas pertanyaan kriteria juara aglao harus kita gali sendiri. Dari Keluarga AI berjawab memutuskan untuk ‘dengan manis tanpa harus membuat keruh’. Sementara dari keluarga “care perkembangan” aglao, muncul KEPASTIAN jawaban, ‘bahwa ada SUBYEKTIFITAS dalam penilaian…. . Sesuatu yang tentu bukan jawaban atas pertanyaan kriteria aglao indah yang pernah terlontar sejak awal diskusi ini …..

Diskusi kita tidak seharusnya berarah MENILAI yang sudah ada. Bagaimana kita mau menilai kalau lombapun belum pernah ikut ? (apalagi merasakan kekalahan). Malahan saudara kita yang BIASA menang pun ndak berasa beda. So .. walau cumak berbekal semangat AMATEURSM, mosok tidak mungkin digali sendiri parameter2 aglao indah. Bahwa benar ada peluang hasil KECERDASAN kita nantinya akan menepiskan hal2 metafisis dan doktrinal sebelumnya. Sekali lagi itu hanyalah sebuah unsur kebetulan dan ketidak-sengajaan semata.

Mungkin keliat terlalu berlebihan berharap parameter yang hendak kita bangun mampu menjadi acuan semua orang untuk menilai aglao, bukan hanya yang ditunjuk sebagai juri saja. Tapi harus dicoba, alangkah baiknya kalau diskusi ini bersifat ‘open source’, seperti layaknya LINUX (ho ho ho …… pastinya bukan iklan). Manchester United nampak bagus bukan karena Mr. Binder Singh berkata demikian. …. Supaya tidak njlimet, langsung kita lanjutkan lagi diskusi saja.

Setelah perihal ‘tujuan lomba di-ACC. Pertanyaan kedua yang kudu dijawab adalah: POSISI pengamatan awal. Darimana (red: posisi) keindahan aglao hendak diamati ? Apakah pada posisi bagian tengah tanaman sejajar, lebih tinggi, atau lebih rendah dari mata pengamat ? Atau musti diamati secara muter2 dan di-longok2 ? Ini penting dibakukan sebab tiap sisi punya keindahan yang bisa ditonjolkan. Jawaban pertanyaan ini bisa dibantu dengan bagaimana biasanya kita meletakkan dan meliat pot aglao di rumah?. Rumah siapa ? Pasti harus pakai jawaban mayoritas, bukan pada jawaban pribadi2 unik. Harus ada kesepakatan dulu tentang ini. Ucok Baba keliat tinggi kalau diamati pada posisi mata di bawah mata kaki. Kobe Bryant terlalu rendah kalau diamati dari puncak Monas.

Ganggeng Kanyoet
Mudah2an keluarga Don Corleone dan Don Altobelli tetap bersedia memberi masukan.

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Dear All,

    Amat menarik untuk membahas kriteria penjurian aglao. Namun, saya ingin bertanya sebelumnya: apakah bila teman-teman berhasil merumuskan kriteria-kriteria aglaonema terbaik, AI, akan mengakui itu sebagai “Produk” AI atau hanya sebagai produk anggota milis? Bersediakah organisasi ini mensosialisasikan ke organisasi lain? (Atau hanya akan melayang-layang di dunia maya). Ya ini sebagai warning agar buah pikiran kita bersama tidak mubasir.
    Apa pun kondisinya, saya tetap mendukung upaya teman-teman.

    Mengenai posisi, mungkin bisa berkaca pada lomba adenium (Ala Adeng alm), yaitu dari sebuah sisi. Biasanya, panitia telah menentukan “muka” 1 tanaman dengan label kecil di pot. Untuk mengetahui bila ada satu “masalah” di sisi yang tidak terlihat (misal cabang atau batang busuk, atau adanya penyakit), ketua dewan juri yang akan memberi kode tertentu).
    Di Lomba Trubus pun menurut seorang panitia, biasanya sudah di atur sisi paling “enak ” dilihat. Mengenai tinggi sudut pandang, mungkin sudut 45 derajat paling mewakili. Hal ini juga biasanya dilakukan oleh fotografer saat memotret tanaman.

    Sori mayori, Bab I tentang apa yah? Membahas tujuan lomba? Saya sedikit binun. Bukannya tujuan lomba itu mencari yang terbaik. Atau maksudnya menetapkan sistem penjurian. Di anggrek ada International judging dan ada show judging. Show judging lebih menitikberatkan penilaian pada penampilan saat itu. Pemenangnya biasanya yang paling banyak/lebat atau paling semarak, atau paling besar ukuran bunganya. Untuk menentukan pemenangnya sistem voting juga berlaku. Yang international judging: ya yang terukur, seperti yang sedang dibahas: tebal bunga, daya tahan, kelebatan, dll. Bentuk bulat dipisahkan dengan bintang (pada dendrobium). Karena tidak ingin mempertandingkan satu jenis dengan jenis lain, maka dibuka banyak kelas (kategori), yang mencapai 30–40 kelas (Indonesia). Di luar bisa 70 kelas, bahkan lebih. Di adenium bisa sampai 14–18 kategori.
    Nah, seharusnya penentuan kelas/kategori aglaonema, ini yang menjadi bab I. Berapa kategori yang mungkin dibuat. (10 kelas, 15 kelas, dll). Kalau lomba skala nasional, idealnya banyak kelas. Tapi kalo tingkat Kelurahan, 5 kelas pun sudah memadai. Ada usul?

    Salam

    Mas Anis_bielsyah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: