Kriteria Juara

August 4, 2008 at 7:02 am | Posted in ARTIKEL & DISKUSI, KONTES AGLAONEMA | 26 Comments
Tags:

Kriteria Juara

Mr. Arief dan rekan yang berkegiatan lomba aglao, ada pertanyaan MANA YANG DIANGGAP LEBIH BAIK dalam suatu lomba :
1. Aglao kompak berdaun besar atau aglao kompak berdaun kecil ?
2. Sama jenisnya (misal Legacy), sama2 kompak, yang satu berdaun besar sedang yang lain berdaun kecil ?.
3. Masih jenis yang sama, yang satu berdaun melebar yang lain berdaun memanjang.
4. Jenis yang sama, internode pendek atau internode panjang ?
5. Jenis yang sama, petiole panjang atau petiole pendek ?
6. Apakah jenis menyimpang lebih dihargai (punyak nilai tambah), misal POS mutasi > pos biasa.
7. Atau ada kriteria ideal dari suatu kenampakan kekompakan itu ? Misal kompak biasanya karena internode pendek, daun kecil, petiole pendek, etc, etc …. ?
Harapannya, dengan tahu hal2 di atas, paling ndak saya bisa ngatur pupuknya. Thanks sebelumnya.

Ganggeng Kanyoet

26 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Mr. GK,
    karena mr. Arief dan senior yang lain belum menjawab,
    klo boleh saya ingin ikut nimbrung dulu daripada topiknya hilang ditelan bumi.

    Klo tidak salah, biasanya nilai tertinggi ada di segi kekompakan daun atau bentuk tanaman.
    Semakin good-looking berarti semakin besar kemungkinan menjadi juara.
    Kemudian setelah itu klo corak diperhitungkan, sepertinya corak nilainya lebih besar dari ukuran daun (cmiiw), dengan asumsi ukuran daun yang dibandingkan tidak terlalu kecil / kerdil.
    Setelah itu apabila hasilnya masih berimbang biasanya kelangkaan akan berbicara.

    Klo soal daun melebar atau memanjang mungkin tergantung dari jurinya suka yang lebar atau yang panjang.
    Internode (klo tidak salah jarak antara titik tumbuh daun kan?) sepertinya trendnya lebih ke internode pendek.
    Petiole (tangkai daun kan?) sepertinya juga lebih bagus klo semakin pendek, apalagi untuk kelas tunggal.

    Apa dengan pupuk saja bisa mengatur penampilan?
    Bukannya lingkungan, seperti intensitas sinar & kelembaban juga berpengaruh?
    Bagaimana dengan media juga, dan yang sampai sekarang saya heran pada juara2 aglo majemuk, bagaimana caranya menyiram medianya klo medianya saja tidak nampak alias tertutup daun2 yang amat sangat rimbun?

    Chris

  2. Plok !…plok !…plok !…( suara tepuk tangan, bukannya orang ditempelengin…). Hebat Boss Chris….that’s why ngai gak pernah jadi juri…hehehe…
    Soalnya kalau saya yang menilai sih ya saya lihat dulu barangnya….saya pelototin, saya tantangin, semedi bentar, baru saya nilai. Saya gak suka diatur tulisan dari kertas…hehehe
    Tidak semua yang kecil lebih buruk dari yang besar. Tidak semua yang runcing panjang lebih buruk dari yang lebar pendek.
    Ini menurut saya looooocch…
    Tapi menurut Pak Chris itulah yang banyak digunakan ( walaupun tidak tertulis ) untuk penjurian kebanyakan di Indonesia.

  3. Waduh, kaget pak Oy, soalnya keras banget tepoknya, kirain ngusir nyamuk lho…
    Klo yang ini tadi : “…mungkin tergantung dari jurinya suka yang lebar atau yang panjang.” kebetulan saya bukannya serious, tapi ternyata pak Oy termasuk yang beranggapan size does not matter juga, yang penting bentuknya lah yaw…

  4. Kaluk baca primbon ‘Katurangganing Wanito’ entah itu di kitab Bentaljemur ato kitab yang lain, disitu ada deskripsi fisik mengikuti sifat keindahan dalam diri wanita. Misal, ‘rai njahit’ begini begitu, rambut lurus harus punya bentuk sinom begini begitu …. Bahkan ditulis pula, meski kesan pertama OK usahakan jangan milih yang begini begitu, supaya dikemudian hari tidak kecewa di tempat tidur, etc, etc, etc. Dalam milih pasangan bisa dibaca disitu, mau menitik beratkan pilihan fungsi istri/suami atau fungsi kekasih yang hebat, ada ‘ciri wanci’ nya sendiri2.

    Artinya para pujangga dulu sudah punya keyakinan dan mampu mendeskripsikan bahwa : ‘di dalam keindahan selalu mencerminkan suatu kegunaan dan tatanan yang mendasarinya’. Lhah Mr. Oy dan senior lomba yang lain pastilah dapat mendeskripsikan tatanan ‘keindahan aglao’ itu, kaluk dalam bahasa tulis. Harusnya seperti ini itu.

    Bentuk selalu mengikuti fungsi, kata Baptise Lamark. Bahwa bentuk lama tidak mungkin digunakan guna mewujudkan fungsi2 baru. Bentuk tanaman (aglao) yang olehnya semula difungsikan sebagai bentuk optima penopang hidup, apakah masih bisa berfungsi sebagai bentuk sasaran lomba aglao ?.

    Tidak semua yang kecil lebih buruk dari yang besar. Tidak semua yang runcing panjang lebih buruk dari yang lebar pendek. Bagaimana itu yang kecil bisa tidak lebih buruk ? Bagaimana itu yang besar bisa lebih baik ? Bagaimana itu yang runcing bisa jadi lebih baik ? Apa sayrat dan kriterianya ? Mudah2an Mr. Oy dapat menulisken bayangan yang tergambar dalam semedinya. Tangguhnya piye gitu. Kaluk tanggung majapahit harus gini gitu, tangguh pejajaran seperti ini itu, tangguh mataram … etc, etc, etc

    Klo soal daun melebar atau memanjang mungkin tergantung dari jurinya suka yang lebar atau yang panjang. Bisa muncul perdebatan panjang untuk yang begini. Handaikata sejak awal ada gambaran sasaran yang dituju, pasti lebih memudahkan perawatan dalam perjalanan menuju tangga juara. Kaluk kolaborasi Mr. Destika dan Mr. Adeng bisa mendeskripsikan ‘arabicum yang baik’ (red: silakan beli dan baca Adenium Spektakuler terbitan Trubus), kenapa tidak di aglao? Kaluk bonsai, perkutut, anjing trah, bisa, kenapa tidak dengan aglao ? Saya pernah nanya ke Mr. Adeng, mana mungkin keindahan, perasaan atau emosi bisa ditulis dan diwakili huruf ? Jawab beliau : bukannya mengganti keindahan dengan angka atau huruf, saya hanya membantu agar keindahan adenium dapat lebih dinikmati dan dirasakan secara lebih mendalam bagi yang awam sekalipun.

    Apa dengan pupuk saja bisa mengatur penampilan? Absolutely bisa !! Terutama dari pengaturan ratio N dengan P (untuk morfologi), pasti dengan dibantu pula kondisi lingkungan + sabar.

    Ganggeng Kanyoet

  5. menurut saya “kriteria juara” harus dibaca dalam konteks

    1.Obyektifitas juri saat itu (pengalaman, pengetahuan, kesenioran,
    diakui dikalangan pencinta tanaman hias dll) > dengan catatan berbanding dengan
    kualitas juri lain yang tidak ikut menilai > obyektivitas ala juri yg bertugas

    2.Terbukanya unsur subyektifitas, karena yang dinilai ada faktor2 non eksak/tak pasti
    dan banyak faktor dalam keindahan tanaman tak bisa diukur, tapi dirasakan > selera

    3.Kriteria juara harus dibaca dalam konteks “juara saat berlaga” jadi siapa saja pesaingnya
    konsekuensinya ia baru juara di lomba itu, belum juara nasional,
    meski dilakukan di jakarta dan diembel-embeli kontes nasional.
    kalo lawannya cuma 10 sudah bisa dikatakan pemenang nasional wah …

    4.Kriteria juara jadinya relatif, tidak untuk mencari 1 (satu-satunya) sebagai yang the best,
    tapi bertujuan untuk mencari keutamaan atau penampilan prima sebuah tanaman
    (ada banyak juara 1 mestinya)

    5. Kontes tetap perlu untuk menciptakan “standar” (dalam tanda petik) tanaman hias berlabel juara,
    meski mungkin ada yang lebih bagus tapi tak ikut kontes. Jangan hanya lihat kontes, tapi intip juga kolektor
    yg mungkin menyimpan “limited edition”. Inilah kecantikan bunga bakung di dasar lembah, berbanding rose di vas meja istana.

    salam

    senu

  6. Salam Aglaovers

    Tentang kriteria Juara, saya pikir memang perlu ada standardisasi, (walaupun ini sifatnya pendekatan saja). Subyektifitas setiap orang memang berbeda-beda. Tetapi objektifitas yang diangkat dari subyektifitas banyak orang (dalam rapat/konggres/perhimpunan/asosiasi) dimungkinkan untuk dijadikan panduan dalam penjurian. Tentunya correctiveable.

    Logika dasar yang harus dipenuhi adalah :
    – Mewakili cara pandang khalayak tentang persepsi Aglaonema yang pantas juara
    – Mewakili cara pandang kolektor tentang persepsi Aglaonema yang pantas juara
    – Mewakili distribusi pembobotan nilai dari setiap parameter yang dinilai.

    Penerjemahan dari logika dasar tersebut kira-kira adalah :
    – Parameter Total Performance / Total Impressions : tampilan dan kesan secara umum ketika pertama kali melihat tanaman tersebut.
    – Kesehatan : menunjukkan kualitas perawatan
    – Kekompakan : menunjukkan aspek harmoni dan keseimbangan
    – Corak : penunjang tampilan
    – Warna : penunjang tampilan

    untuk Corak dan Warna karena sebagian besar hal ini bersifat given, sulit untuk dibentuk walaupun bisa dengan cara tertentu tetapi belum ada research pasti dan spesifik buat agalonema maka pembobotan dapat dengan prosentase nilai yang tidak begitu tinggi.
    Atau dengan kreasi teknis lomba dengan membedakan kelas non corak dan corak atau merah non merah supaya azas keadilan bisa didekati.

    Mungkin saja ada parameter lain…alangkah indahnya kalo berdiskusi…Otoritas Juri memang ada, tetapi karena ini untuk khalayak ramai sebaiknya fungsi otoritas agak dikurangi supaya ada pertanggung jawaban yang mendekati ilmiah…

    Misal saya pernah lihat ada juri yang langsung menancapkan bendera pada tanaman tertentu tanpa mengisi form penjurian. Ketika dikomplain sangat subyektif jawabanya..menurut saya ini yang juara dan saya punya otoritas…Saya pikir ini tidak pas..

    Salam
    Dian Wikanto
    http://www.plantarum.indonetwork.co.id

  7. Wah saya salut sama juri tsb…..salut akan keberaniannya jadi juri…hehehe…kok gak takut dikeroyok….
    Seorang juri mau tidak mau harus bisa menjelaskan apa yang dia nilai, bermusyawarah secara sehat dengan juri lain, dan diharamkan bertindak sok kuasa. Juri bertanggung jawab penuh terhadap apa yang diputuskan.
    Kadang saya agak geli kalau ada kata-2 : keputusan juri tidak dapat diganggu gugat…seakan-2 juri itu manusia yang super suci dan tidak pernah melakukan kesalahan…hehehe…mestinya kalau ada yang kurang puas, diberi hak untuk berusaha dengan sehat mematahkan teori juri, dengan catatan, orang tersebut benar-2 expert.
    Tapi di pihak lain, kalau keputusan juri bisa diganggu gugat, dikhawatirkan yang berani bayar mahal bisa merubah keputusan….susah ya ?
    hehehe

  8. Mas Dian en pak Setyo, thanks untuk pencerahan tentang penjurian ini….Sangat manfaat untuk kita, even para newbies…so kita bisa mengarahkan perawatannya ke kriteria tersebut, tentunya bila memungkinkan….tapi paling tidak ada basic kriterias yang jadi patokan kita berkarya…….

    Trims berat…sangat informatif en berguna….

    Salam AI,
    Indah

  9. Lha iya Mr. Oy, otoritas juri yang dimaksudkan seharusnya sebatas morality bahwa secara moral peserta “harus mengamini” bahwa posisi juri adalah memang penilai yang harus “dipercaya” kredibilitasnya. Morality tersebut juga harus dilihat oleh penyelenggara kontes bahwa untuk memilih seorang juri juga jangan asal-asalan..Kriteria Juri juga harus dibuat misalnya :

    sudah pernah menjadi juri minimal 5 kali dalam kontes lokal baru bisa menjuri di kontes regional, atau 5 kali pernah jadi juri di kontes regional baru bisa jadi juri di tingkat nasional..

    itu misalnya loh, ( lebih enak kita bicarakan bareng ).

    Kalo istilah expert aglaonema juga sangat relatif…expertise mengacu kepada terminologi keahlian…ahli apa ??? ahli aglaonema….kedengaran janggal kan…?!!!

    Kalo ahli botani kan ada seperti Pak Greg, ahli botani yang menekuni aglaonema…kalo saya, yang saya obok-obok masalah kimia tanah & lingkungan, karena sekolah saya itu. Nah apa kita ahli aglaonema??

    kayaknya kita ini ahli jual beli dan ahli menikmati aglaonema….nah karena itu…muncul seolah-olah seperti kompetensi…..

    Toekang Ngopi belum tentu ahli meracik kopi loh…

    huehuhuehue ( hayo tambah puyeng toh )…

    Salam
    Dian Wikanto
    http://www.plantarum.indonetwork.co.id

  10. posisi juri adalah memang penilai yang harus “dipercaya” kredibilitasnya.

    Saya meliatnya JURI harusnya BUKAN lah dalam posisi PENILAI. Juri adalah orang yang diminta menjadi SAKSI bahwa balon juara adalah BENAR sesuai kriteria standar untuk bisa disebut juara. Diantara puluhan aglao peserta lomba, dia harus jadi saksi bahwa pada saat lomba tersebut manakah yang paling sesuai dengan kriteria juara yang sudah ditentukan. Sekali lagi dalam hal lomba apapun, JURI BUKAN PENILAI. Sekalipun itu lomba badminton.

    Standart Aglao Juara ? Apakah itu ? ADALAH kalimat uraian FAKTA bagaimana SEHARUSNYA sosok aglao bisa disebut juara. Kalimat2 disitu bukan berasal dari TUHAN atau sesuatu yang ‘diper-tuhan-kan’, harus BERASAL dan DITENTUKAN oleh komunitas pecinta aglao, SIAPAPUN dan apapun latar belakangnya. Entah itu pedagang, ekonom, petani organik maupun non organik, sarjana teknik, dokter etc, etc.

    STANDART berisi tentang bagaimana seharusnya sosok tanaman aglao itu’. Deskripsi perihal IMPIAN sosok aglao IDEAL. Sosok aglao yang bahkan sampai saat inipun BELUM TERWUJUD. Suatu SOSOK aglao yang hendaknya justru ingin kita WUJUDKAN kelak melalui teknik breeding dan perawatan. Mosok seh rekan2 mimpi tentang aglao saja NDAK BISA dan NDAK PUNYA…….. ho ho ho ho.

    Mari kita minta supaya impian Mr. Greg dan para breeder lainnya menyesuaikan mimpi komunitas. Bukan pada arah yang sebaliknya, sebab nanti bisa2 dalam dunia aglaopun muncul perkara ‘syirik’. Biarlah breeder yang bekerja untuk kita. Kenapa RAGU dan TAKUT mengungkapkan mimpi aglao juara : arah daunnya harus nyebar memenuhi 8 penjuru mataangin, inklinasi daun harus 55 derajat, pola pattern daun harus berbatas tegas, simetri, panjang petiole maksimal 1/3 panjang daun secara keseluruhan, dimensi panjang dan bagian terlebar daun harus sekian banding sekian, warna putih ndak boleh campur kuning, etc, etc ….. Kaluk di lomba anggrek BISA, kenapa aglao tidak ?

    Kaluk cerita mimpi saja takut …… Kaluk mimpi aja harus nunggu dan sama dengan mimpinya Mr. Greg, bener2 repot dan kebangetan deh ……..

    Ganggeng Kanyoet

    Saya sudah menduga, Mr. Oy ndak bakal mimpi, lha wong begadan

  11. Saya meliatnya JURI harusnya BUKAN lah dalam posisi PENILAI. Juri adalah orang yang diminta menjadi SAKSI bahwa balon juara adalah BENAR sesuai kriteria standar untuk bisa disebut juara.

    Artinya adalah bahwa harus ada standardisasi dulu, tanpa standardisasi hal ini tidak mungkin bisa dilakukan. Cara kerja mengisi nilai dalam form penjurian selama ini artinya “harus” ditinggalkan…diganti dengan mengisi form yang bertajuk conformity dan uncorformity yang didalamnya sudah ada guidance tentang kesesuaian dan ketidaksesuaian tanaman terhadap standar yang ditetapkan ( saya memakai istilah seperti dalam audit lingkungan ).

    Hanya saja cara ini sangat rigid dan tidak mudah, mengingat objek yang dinilai adalah objek yang 100 % tidak ada yang sama…kalaupun harus ada rating standar juga akan susah karena tidak ada prototype aglaonema yang bisa dijadikan rujukan yang bersifat mewakili gradasi rating…kalaupun ingin dikasih parameter seperti petiole atau inklinasi dan lain-lain, juga tidak gampang karena ketika dirumuskan dalam design grafis untuk mendekati aglaonema yang prima (perfect) juga belum tentu bagus, banyak kasus ketika ketajaman warna dari tiap daun berbeda justru menghasilkan mozaik yang bagus atau beragamnya besar daun kadang juga membuat jadi bagus secara total…, nothings perfect…

    Saya pikir ini bukan seperti mengukur kadar Arsen terlarut atau Kapasitas Tukar Kation yang serba measurable dan pasti…dimana ketika kita sesuaikan dengan kadar acuan ohhh ini diatas ambang batas atau ohh ini KTK nya ndak bagus….

    Nilai seni yang bersandar pada cita rasa yang mewakili cita rasa publik juga harus diakomodir dalam hal ini (dalam bentuk total performance/impressions)…. nilai seni ini yang saya pikir perlu dimunculkan dalam porsi yang memadai dalam penilaian aglaonema….pada akhirnya juri tetap menjadi penilai walaupun pake metode conformity dan unconformity.

    Salam
    Dian Wikanto

  12. Halo mbah GK, nyuwun ngampuro, kulo bade sambung urun….(hi hi hi, betul ga sih bahasa Jawa ini, maklum Jatong, maaf ya mbah)

    Mbah, barangkali mbah bisa membantu, kira-kira apa sih kriteria yang terlihat, terbaca en tertangkap dari para pemain dari komunitas ini, masing-masing dengan latar belakang yang berbeda seperti contoh-contoh yang mbah sebutkan diatas ini……..Saya mengerti mbah GK termasuk pemain lama di dunia tanaman en bukan hanya di dunia Aglaos saja, sehingga barangkali dengan waktu yang berjalan tersebut, mbah sudah dapat mengumpulkan data analisanya komunitas Aglaos yang lebih reel? Kalo data ini ada mbah, kan kami-kami ini yang pemula bisa lebih memahami apa en bagaimana sih “dunia Aglaos” ini……..

    Nah ini dia, sekali lagi mau minta bantuan Mbah GK untuk hal tersebut diatas ini…..Kalo rekan-rekan lain belum BISA en belum PUNYA impian sosok Aglao Ideal, tolong dong Mbah kasih kira-kira seperti apa sih seharusnya kriteria sosok Aglao Ideal itu……Sebagai pemain lama, ya mestinya Mbah punya keinginan ataupun mimpi sendiri, berdasarkan penglihatan, pengamatan, pencermatan, pengetahuan en pengalaman Mbah bermain selama ini…… Sharing dong Mbah sama kita-kita pemula ini, apa saja sih kriteria seharusnya ini….Tapi yang reel en kalo bisa yang exact gitu ya Mbah, jangan yang abstrak en sulit dimengerti…jadi kami-kami pemula ini bisa mencatatnya di agenda kita untuk jadi salah satu Acuan kedepannya nanti….Tolong ya Mbah

    Sebenarnya kami-kami pemula ini (or pastinya saya lah Mbah) ngga keberatan kok njiplak or ngikutin mimpi para Breeder or para Pakar Aglaos ini, kalo nanti memang hasilnya bisa mewujudkan sosok Aglaos yang sehat en cantik en yang sangat-sangat bisa dinikmati, baik secara lahiriah…mata en tangan misalnya….maupun secara batiniah…emosi en kalbu…..(he he he sama ya artinya)…….Karena apa mbah? Wong kami sendiri ini belum bisa mimpi apa-apa samasekali, boro-boro mimpi, ngertos en pahampun masih jauh dari bisa Mbah……So…okay-okay aja tuh ngikutin mimpi orang, kalo mampu sih, selama hasilnya pun okay-okay banget kan……

    Mbok dongengi kami mimpinya Mbah GK ya, mbah kan pasti bisa mimpi banyak , wong Mbah kan sudah ngerti en lihat banyak, ya mesti banyak yang direkam sama tempat mimpi Mbah……Ga takut kan Mbah ndongengi mimpi Mbah pada kami..? Matur suwun njih Mbah….

    Matur Suwun en Nyuwun Ngampuro 1000x…..Jangan marah ya Mbah GK, kami hanya ingin belajar pada yang lebih berpengalaman didunia Aglaos yang sama-sama kita cintai ini….

    Salamaglaosselalu,

    Indah

  13. Mr.GK dan rekans…

    menurut saya tanaman yg bagus adalah tanaman yg pernah turun kontes walaupun gak pernah dapat juara ( yg pentingkan pemiliknya dah percaya diri untk ikut kontes. itu adalh modal utama. ), dan orang yg selayaknya menjadi juri adalah orang yg pernah mengikuti kontes dan beberapa bahkan sering mendapat juara. ( masak sih…. kalo dah pernah dapat juara gak bs menilai tanaman bagus?… kelewatan ) ho…ho…ho…

    Salam,

    arief

  14. Mas Arief
    Mohon maaf belum jawab,,,,
    Hmmmm,,,,,yang punya lereng gg Ungaran turun heheheh Bung Oyik jagonya
    untuk kreteria sebenarnya setiap perhimpunan sudah ada pedoman,,,
    kemarin Mas Arief minta ada pelatihan ttg juri, gimana AI Jogya,,,
    memang butuh waktu untuk bisa dan paham tentunya harus mau belajar terus dan tahan kritik tentunya,,,hehhhe
    Kalau dijelaskan disini panjang,,kita harus kudu pratek langsung…setuju ora Bung Oyik
    Kapan AI ada diskusi…di mana ,,,aku tunggu ya,,,

    Salam

  15. Shiaap kumandan !!! hehehe….memang harus sering berlatih secara langsung, karena kita tidak akan pernah pinter kalau hanya lihat di buku/majalah/tabloid.
    Biarpun telah ber ribu kali jadi juri, tapi saya yakin setiap ada penjurian lagi, pasti dihadapkan pada sesuatu yang baru.
    Benul ndak ndaaan ???

  16. Sori, baru sempat ikutan lagi.
    Saya tertarik urung rembug karena mbah GK ingin membuat aglao yang layak juara dengan mengatur pemupukan, dll. Ini akan menjadi informasi yang ditunggu-tunggu.
    Pengalaman teman-teman yang kerap jadi juri mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan. (Ini juga untuk penggemar yang belum pd ikut kontes, meski tanaman sangat prospek).

    – TAHAPAN NOMINASI :
    – Masing-masing Juri memilih 10 nominasi terbaik
    – Misal dari 5 juri, kadang diperoleh 15–20 tanaman mominasi, maka yang masuk nominasi 10 besar, hanya yang mendapatkan paling banyak suara juri. Kadang hanya 3 juri yang memilihnya. Jadi lolos tidaknya 1 tanaman masuk nominasi, tetap melalui voting, sehingga subyektivitas satu juri diminimalkan.

    TAHAPAN PENILAIAN : (Agak mirip dengan usulan Bung Kris) : Ini yang ada kriterianya dan tertulis di formulir penjurian. (Beda daerah beda kriteria, meski hasil akhirnya umumnya sama karena tujuannya memang mencari aglaonema terbaik)

    – A. Total performance (Kesan pertama dari tanaman dengan memperhatikan kekompakan antar semua bagian, keserasian pot, dll). Bobot poin berkisar 25–40. Umumnya 30–35.
    – B. Kesehatan tanaman (Pohon sehat biasanya daunnya subur dan mengkilap, Bebas dari serangan hama dan penyakit, bebas dari kerusakan fisik (utuh), dll). Bobot poin 20–35. Umumnya 20–30

    – C. Karakterisitik jenis (Motif, warna, ketebalan, ukuran tangkai), yang dianggap lebih menarik bila ada motif tertentu dibanding polos, Warna lebih tajam lebih menarik ketimbang blur, daun tebal lebih baik ketimbang daun tipis, tangkai daun pendek lebih baik ketimbang daun panjang, dll. Selera di Asia umumnya menyukai warna cerah ketimbang yang soft. Ruas batang pendek lebih baik dibanding dengan yang panjang. Bentuk dan ukuran daun belum pernah dibahas juri, tetapi selama ini daun membulat dianggap lebih menarik ketimbang daun memanjang, Ukuran daun belum pernah menjadi pertimbangan khusus. Pada batas tertentu, daun lebar dari ukuran normal mendapat nilai plus, tetapi, kelemahannya, daun lebih sulit kompak. Bobot poin 20–30.

    – D. Kelangkaan. Biasanya bobot poin rendah, hanya 10–15.
    Total poin 100.
    Pemberian nilai bisa menggunakan poin besar 60–90, atau poin kecil, 6–9. Pemberian nilai dan Pembobotan biasanya dirembukkan oleh juri sebelum bertugas.

    Yang sering menjadi perdebatan adalah jenis yang langka kalah oleh jenis masal. Perlu diingat bahwa, bobot kelangkaan/ nilainya rendah. Sehingga tanaman mahal pun bisa kalah oleh aglao kelas masal yang lebih prima. Lain halnya kalau dibuka kelas unik/langka, pasti pembobotan akan tinggi. Namun di aglaonema belum pernah dilombakan.

    TAHAPAN PENENTUAN JUARA:
    Setelah nilai diperoleh, para juri kemudian berkumpul untuk merembukkan layak tidaknya tanaman yang memperoleh nilai tertinggi menjadi juara. Selama ini, aglaonema yang memperoleh nilai tertinggi memang menjadi juara 1. Namun, peringkat di bawahnya terkadang harus direvisi.

    Sedikit catatan, juri yang dipilih umumnya yang sudah mengenal aglaonema dengan baik, jujur, dan netral.
    Tidak harus pernah menjadi juara atau anggota perkumpulan tertentu (karena pasti membatasi jumlah juri yang selama ini jumlahnya terbatas). Semoga bermanfaat. Dan maaf kalau sok tahu.

    Wassalam

    Mas Anis_bielsyah

  17. Menurut saya itu sudah ok mas Anis….lagian juga sebenarnya belum ada research yang spesifik dan belum ada produk researchnya yang dilaunching….jadi semua masih angan-angan logical alias hipotetik yang boleh jadi tidak terbukti…..Sekali kali ada research dan dipublikasi dalam jurnal Aglaonema misalnya dengan judul : Pengaruh Pemberian Tanin terhadap Pertumbuhan Aglaonema pada Berbagai Kombinasi Media Tanam…atau Pengaruh Dosis Pemupukan Phospor dan Potassium terhadap Aktifitas Pigmen Anthocyanin pada Aglaonema Madame Soeroyo…..Nah itu baru saya cocok….kalo belum ada…ya selamanya hipotetik.

    Tentang aglaonema juara kayaknya udah ada benang merahnya….tinggal merajut aja….wah kalo gitu saya bisa jadi Juri donk mas…udah punya 4 piala dari surabaya, dan kalimantan…Bukan saya sih yang kontes…cuma beli tanaman ama dikasih pialanya…hayoo….gimana kalo gini….

    Dosen ekonomi jadi konsultan manajemen sebuah enterprise banyak sekali, tapi dosen ekonomi tersebut CV atau toko kelontong aja juga gak punya….apa ndak layak jadi konsultan ??? huehuehe

    Meneliti perilaku Ryan kan ndak harus jadi Homyped…( sandal kalee )

    Salam
    Dian Wikanto
    On The Way to Lapangan Banteng
    Moga2 ketemu Megawati

  18. Seni adalah dunia perasaan dan emosi yang membantu manusia agar dapat merasa secara mendalam. Di lain sisi, kuantifikasi adalah kawasan realisasi intelektual yang membantu manusia agar dapat mengerti dengan jelas. Dus Mr. Dian, ndak perlulah kuatir kuantifikasi ‘seni’ atau ‘keindahan’ akan menjadikannya rigid dan kaku. Keindahan aglao sebagai fakta protokol yang sebelumnya HANYA punya nilai sensorial dan estetik, oleh kuantifikasi diharapkan berubah dari yang semula bersifat subyektip dan privat menjadi bersifat obyektip dan berlaku umum – dengan lain kata, DAPAT di-KOMUNIKASI – kan.

    Contonya: se abad lalu banyak seniman menganggap warna adalah nilai seni kualitatip yang hanya dapat dirasakan. Sekarang, coba amati layar monitor masing2. Keindahan warna2 di situ disusun berdasarkan basis angka (entah sistem RGB, CMYK, HSL, Lab, etc, etc.) Dengan menggali dan meng-kuantifikasi unsur pokok warna seperti rona, cerlang dan kejenuhan pigmen, maka komputer dapat menerangkan warna yang bahkan lebih luas cakupannya dibanding palet pelukis.

    Benarkah keindahan warna magenta menjadi hilang gara2 dinotasikan -185,74,120 – pada sistem RGB ? Menjadi kaku karena tidak diperikan sebagai warna malam temaram dikala sakit gigi dipayungi bulan separoh, di bawah dinginnya sapuan mega serta lirikan bintang2 di baliknya ? Tentu saja tidak. Notasi RGB tidak mengubah ‘rasa‘ warna, cumak menjadikannya lebih mudah dimengerti dan dijelasken (gampang di-komunikasi-kan). Wanita lukisan Picasso juga tidak nampak sebagai pengidap ‘skizofrenia’ hanya karena dilukiskan dalam garis2 lurus nan kaku.

    Yang harus dipecahkan adalah apa saja sih unsur pokok penyusun keindahan aglao ? Bagaimana memerikannya kemudian ? Mr. Dian benar adanya, ini bukan pekerjaan mudah dan gampang. Butuh inspirasi kreatip serta dedikasi. Nothing worth is easy …… (harusnya Mr. Destika dapat bercerita banyak disini ……).

    prototype aglaonema yang bisa dijadikan rujukan yang bersifat mewakili gradasi rating

    Adakah sejarah atlet loncat indah mendapat point 10 (dalam skala penjurian 1 -10) ?. Olympiade sudah sampai ke 27 belum kedengaran peristiwa itu . Lantas darimana datangnya angka 10 itu dulu ? Disusun berdasarkan prototype loncatan siapa ? Dialah loncatan IDAMAN dan IMPIAN para insan loncat indah. Mirip dengan salah satu kriteria penjurian anggrek yang baik dan indah, bila ‘besaran sudut ujung sepal’ sebesar 120 derajat. Adakah prototype anggrek yang punya sudut setepat itu ? Aglaonema ? May be … some day …..

    Pastinya saya yang pemula berasa kesulitan dalam diskusi masalah di atas. Ini sudah masuk tataran wilayah diskusinya senior2 AI dan komunitas aglao lain. Sejauh ini saya hanya pengin tahu :

    MANA YANG DIANGGAP LEBIH BAIK dalam suatu lomba :

    1. Aglao kompak berdaun besar atau aglao kompak berdaun kecil ? 2. Sama jenisnya (misal Legacy), sama2 kompak, yang satu berdaun besar sedang yang lain berdaun kecil?. 3. Masih jenis yang sama, yang satu berdaun melebar yang lain berdaun memanjang. 4. Jenis yang sama, internode pendek atau internode panjang ? 5. Jenis yang sama, petiole panjang atau petiole pendek ? 6. Apakah jenis menyimpang lebih dihargai (punyak nilai tambah), misal POS mutasi > pos biasa. 7. Atau ada kriteria ideal dari suatu kenampakan kekompakan itu ? Misal kompak biasanya karena internode pendek, daun kecil, petiole pendek, etc, etc …. ?

    Ganggeng Kanyoet

    Warna ‘putih’ bagi Mr. Chris jadi lebih mudah dirasa dan dimengerti kaluk ditulis pakai notasi (255,255,255) RGB atau (170,0,255) HSL.

  19. Betul Mr. GK.
    Klo bilang ke saya “putih”, pasti langsung saya input di program 255,255,255.
    Tapi klo bilang putih gading malah saya binun, seberapa besar unsur warna kuningnya, padahal kuning juga harus ditanyakan seberapa merah atau seberapa hijau kuningnya. Lhah, bingung kan?
    Ngomong2 soal gading pak Lurah pasti lebih tau, hehe…

    Salam,
    Chris

  20. Makin menarik aja neh…adrenalin saya muncul, ,…thats we must reach…

    Kuantifikasi sebagai sebuah metode memang kadang bisa mewakili sebuah fakta…Tetapi apakah kuantifikasi yang rigid bisa sangat mendekati suatu faktor uncertainty yang cukup tinggi disitu…( saya lampirkan foto aglao flame of thailand dengan perlakuan yang sama…media cocopeat yang bertanin sejenis alkaloid yang bisa menyebabkan pertumbuhan terganggu yang bisa jadi asam tanat dan menurunkan pH tetapi sengaja tidak saya beri dolomit, pakis, sekam bakar, pasir malang, tanpa humus, takaran sama persis, letak bersebelahan, sinar matahari sama, angin saya kondisikan pake kipas angin searah ). Pupuk pake Atonik, B-1 Liquinox, dan Grow Quick S dicampur tanpa disiramkan ke media sama sekali tetapi disemprotkan ke daun saja.

    Hasilnya ternyata berbeda…sebaran warna, lebar daun, ketajaman warna ( semua berbeda ). Kalo pake metode kuantifikasi SEDERHANA adalah sebagai berikut :

    (Luas Sebaran Warna Merah/Luas Daun) X 100% = X misalnya ===> hasilnya beda

    (Ketajaman Warna Aktual/Ketajaman Warna Standar) X 100 % = Y misalnya ===> juga beda

    Trus saya coba bertanya pada pengunjung, bagus mana A atau B ( jawaban juga berbeda ada yang milih A dan ada yang B ) antara Bunga Citra ama Cinta Laura lahhhh…kalo orang bilang sebelas dua belas, atau selawe seket ibaratnya..

    Point saya adalah, Saya setuju Kuantifikasi tetapi tidak di semua parameter…biarlah keindahan tetap sebagai keindahan…kalo saya bilang SAYA SUKA KEINDAHAN, TETAPI SAYA TIDAK TAHU APA ITU KEINDAHAN, SAYA HANYA BERUSAHA MENDEKATINYA KALAU BISA MENDAPATKANNYA…

    Misal saya ngefans sama Ita Mustafa trus Ida Iasha, trus Btari Karlinda sekarang ngefans ama Sandra Dewi….sebagai subyek sekaligus obyek ada beberapa parameter yang bisa di kuantifikasi tetapi sekaligus juga ada yang tidak bisa yaitu mereka semua cantik..tapi saya yakin setiap orang akan berbeda memahami kecantikan dan keindahannya…ini kawan saya disamping malah nyeletuk Aku ngefans ama Syaharani….

    Maksud saya saya ingin bilang kalo derajat ketidakpastiannya cukup lumayan tinggi…

    Busway, saya yakin ada manfaatnya diskusi kita semua suatu saat…

    Salam
    Di Lapangan Banteng gak ada Ibu Megawati ternyata..

  21. Nohon maaf bung Chris, soal bentuk daun merupakan masalah selera yang bersifat sangat subyektif. Karena itulah belum pernah ada kriteria yang memasukkan bentuk daun sebagai saah satu aspek yang dinilai. Untuk beberapa kali pameran, tipe-tipe Widuri kerap muncul sebagai pemenang mengalahkan sexy pink atau legacy. Tipe daun tiara kerap mengalahkan hot lady. (Kesimpulan saya : yang ujung daun tumpul mungkin dianggap lebih menarik ketimbang daun runcing. Daun kokoh tegak dianggap lebih menarik ketimbang daun kemayu yang menjuntai. Makanya umumnya aglaonema Greg lebih sering memenangkan lomba ketimbang produk thailand, kecuali Legacy. Namun beberapa produk “kemayu” Thai seperti super red, red mascot masih bersaing karena unggul pada kekompakan daun.
    Jadi masalah selera (bentuk daun, warna: merah kuning hijau) tidak termasuk dalam penilaian penjurian. Formulir dari pak Widarji, bisa menjadi acuan

  22. Mas Anis,
    Terima kasih sudah menjelaskan dengan rinci Kriteria Pemilihan Aglaonema Juara.
    Bukan saya yang mengusulkan kriteria penilaian, sedikit banyak ini juga hasil saduran.
    Saduran dari berbagai sumber termasuk dari bocorannya pak Robert Pramono yang kemarin barusan juara di kelas blek2an anthurium, hehe..

    Tentang daun membulat dianggap lebih menarik dari daun memanjang saya bisa mengerti untuk sebagian besar aglo memang begitu. Tapi bagaimana klo misalnya seperti Legacy & PoS? Dan, bagaimana juga dengan bentuk daun yang menangkup dan yang membuka, mana yang lebih difavoritkan?

    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk kesediaannya menjawab.

    Salam,
    Chris

  23. So pastilah mas Dian, mas Chris….en pak Anis en lainnya…saya kira apa yang dicerahkan bapak2 kepada kami semua akan sangat sangat sangat membantu kami, sangat amat bermanfaat en sangat jelas en cukup detailed. Saya terutama, paling tidak akan mencoba memulali mengarahkan perawatan Aglaos sedikit banyaknya mengacu kepada kriterias besaran, yang gratefully sudah disebutkan en sudah coba disimpulkan oleh bapaks, yang tanpa info ini tentunya kita tidak akan pernah tahu sendiri……en secara umum kelihatannya memang begitulah keindahan tanaman per aspeknya dapat dinilai…saat ini………kedepannya…? mungkin bisa lebih detailed en spesific…why not….?
    Kalo itu ga mudheng juga sih ……….ya repot…..

    Lagipula betul mas Dian….keindahan or seni. or selera or rasa…….adalah sesuatu yang relatifitasnya sangat sangat tinggi…tergantung dari sisi mana menilai dan melihatnya….or dimana or siapa…
    Keindahan, seni, selera, rasa, mau dikorelasikan dengan rumus2.?..en harus exact,..?……yo wis mampus wae………
    Apalagi jika munculnya keindahan, seni, selera, rasa, tersebut akan sangat terpengaruh oleh banyak faktor external yang diluar kemampuan manusia biasa untuk menguasainya….kecuali kalau manusia ini sudah agak2 setengah non manusia…yah misalnya di munculnya keindahan Aglao ini….. daya alam yang mempengaruhinya, cuaca…angin…matahari…tanah……..dsb dsb… …Kita bisa menyiasatinya memang…..paling tidak mencoba menyiasatinya…tapi hasilnya…?
    Jenis sama, perawatan sama, bisa beda hasil keindahannya….apa ga bikin bingung tuh?
    yang jelas sama-sama indah, tergantung lihat dari sisi mana en oleh siapa…persis kata mas Dian….

    Jadi saat ini mungkin kemampuan, pengetahuan en pengalaman para Pakars en Seniors sudah maximal tercapai dengan mencoba membuat kriteria seperti ini, en saya berpendapat untuk pengetahuan “botanic” tentang Aglaos………bukan keindahannya…(which is still en will always be disputable)……baru sampai sini….sehingga yang tercapai saat ini sudahlah maximal….

    Namun tentunya apabila ada yang bisa lebih menyempurnakannya dan memberikan masukan lebih detailed untuk kriteria penjurian….saat ini….ya pastinya akan diterima dengan tangan terbuka oleh para Pakars terkait….tapi benar yang reel…..

    Tapi……. kalo balik nanya lagi ……en….keukeuh….dengan keinginan yang tak jelas….ya ga nyumbang sesuatulah untuk kemajuan per Aglao an di Indonesia ini….Sayang sekali…padahal setiap manusia pasti punya sesuatu kemampuan didalam dirinya untuk turut bermanfaat dan membantu bagi sesuatu yang dianggapnya belum sempurna…..Bukan begitu???

    Mohon maaf sedikit ikut berpendapat…dari sisi seseorang yang baru mulai melangkah di dunia per Aglao an…en yang sangat mengharapkan kemajuan perkembangan dunia per Aglao an ini lebih en lebih lagi……..dan mohon maaf bila bicaranya kurang intelek….maklum kalo bicara yang rumit-rumit suka binun tuh…..

    Thanks sekali lagi ya mas Dian en pak Anis en mas Chris….

    Salam AI,
    Indah

  24. Dari pembicaraan 2 begawan ini, saya cuma tahu bahwa Ita Mustafa, Ida Iasha, trus Btari Karlinda, Sandra Dewi itu semua cantik, cuma sayang…ada 1 kekurangannya…..yaitu : mereka gak ada yang mau menikah sama saya…..hehehehe…. atau itu malah kelebihan mereka ya… ? Kalau mereka mau sama saya berarti mereka artis cantik yang bodo….ihik…ihik…
    Saya pribadi hanya penikmat, bukan pengurai kenikmatan. Kalau terlalu jauh saya mengurai, lha kapan nikmatnya ??? Kalau saya disuruh menilai, misal ada Tiara ditanding Buterfly, ya kalau saya belum tentu menang Tiara biarpun sama-2 kompak dan sehat. Tiara memang bagus. Lha Buterfly ya memang begitu itu, jangan disalahkan kalau dia lahir begitu, lha wong ya memang cuma Buterfly. Tapi ya masa yang murah gak boleh menang ? Kalau Buterfly memang kompak dan sangat bagus untuk ukuran setangkai Buterfly, ya layaklah….
    Tapi kalo disuruh jadi juri, maka saya akan lari……..takut ditimpukin yang punya brg mahal tapi kalah….heheheheh….
    Menurut saya LHOOOOOO…

  25. Memang beberapa ada yang berpendapat, tidak semua dapat didefinisikan secara mutlak oleh pengukuran (kuantifikasi), selalu saja butuh pemerian kualitatip yang lebih verbal dibanding numeris. Walau demikian saya tetap cenderung mengatakan, bahwa definisi verbal itu sebenarnya hanya diperlukan SEMENTARA waktu saja, sampai diketemukan standar atau tolok ukur kuantitatip yang dapat lebih dimengerti dan tidak mendua.

    Contonya : wah .. sepanas air mendidih. Suhu mendidih dimana ? Di gunung atau di pantai ?. Sampai kemudian ditemukan termometer, cukup dikatakan panasnya 80 derajat celcius. Wuuah …… segede Pamela Anderson. Padahal lebih komunikatip dan unbias bila dikatakan 36 B. Se-sexy Meriem Belina. Mangsudnya Belina umur 17 atau yang 49 tahun ? Kenapa mesti sulit begitu, kaluk secara sederhana dapat dinyatakan dengan standar baku lingkar dada-pinggul-bokong : 80-31-80 ?.

    Dalam penjurian setiap lomba tidak ada konteks ‘sebab-akibat’, jadi harusnya tidak perlu ada kekhuatiran uncertainty. Jenis lomba non kompetisi adalah perkara perbandingan sesuatu dengan parameter dasar pembanding, dus kaluk kemudian timbul kerancuan, mudah diduga dari mana asalnya. Pertama, masalah ‘human error’. Kedua, nilai2 tolok tidak dinyatakan dalam satuan2 (standar) yang cocok. Ketiga, nilai tolok belum terdefinisikan sebagai satuan dasar, masih bergantung pada parameter yang lebih mendasar lainnya. Intinya, pengindraan2 pribadi para juri belum terjemahkan secara baku dan sederhana.

    Berbeda dengan pengertian uncertainty yang dicontohkan Mr. Dian, yang adalah dalam konteks penelitian sebab-akibat. Ini oleh Werner Heissenberg dilukiskan dengan sangat bagus : tak seorangpun mampu meramalkan akan terjadinya suatu rangkaian peristiwa sesudah suatu peristiwa yang lain, KACUALI sebagai kemungkinan yang dapat di-hitung2. Minimzing uncertainty, alatnya adalah statistik plus sederet prosedur baku yang kemarin diulas Mr. Faries. Dalam penelitian, pola yang tidak tertangkap jangan cepat2 diartikan uncertainty. Boleh jadi memang ada kesalahan pilihan amatan, atau ada amatan yang tidak terkenali (Sebelum Newton menemukan gravitasi, Galileo dan Kepler HAMPIR2 berhasil menangkap hakikat gravitasi, namun mereka membelok sebelum sampai sasaran akibat salah pengertian tentang apa yang kini disebut ‘gaya’ oleh ahli fisika). Konsep uncertainty Heissenberg janganlah dijadikan ‘berhala modern’, tempat termudah mengaduh dan pencurahan segala ‘keputus-asaan’ budi. Seharusnya kita jadikan ia sebagai pemerkuat semangat kegemaran manusia akan jangkauan yang bebas. Hati2 pula menafsirken uncertainty, supaya tidak terjerumus pada kesimpulan bahwa Tuhan itu memang benar2 main dadu ….. ho ho ho.

    Pilihlah standar dan tolok yang cocok, rasional dan berterima umum. Standar jangan disusun berdasar gabungan ‘kekakuan’ definisi pribadi, alih2 lebih pada nilai dasar variablenya saja. Agar lebih gampang, penetapan standar harus ditentukan dulu tujuannya, hendak dipakai untuk apa, etc, etc. Boleh jadi yang dianggap cantik itu tidak sama, namun variablenya pasti adalah sama kaluk kisarannya masih seputar Ida Iasha, Luna Maya, BCL. Baru kaluk ada yang bilang Prety atau Ratmi B-29 itu juga cantik, patut diduga beliau saat itu sedang tidak dalam kondisi sehat atau memang punya kelainan – tidak berterima umum – out layer – buang saja.

    Ganggeng Kanyoet

    Kaluk fore play terus, lantas kapan mbahas materi pokok masalah penilaiannya sendiri ?

  26. Sekedar urun rembug dari penggemar pemula di Jogja..

    Mungkin contoh yang bisa dijadikan pembanding adalah kriteria penjurian anggrek ala PAI yang mengacu pada standar dari Royal Society of Horticulture, England (…ciiw..). Standar ini diberlakukan dengan membagi anggrek menjadi kelas species and hybrid. Untuk species sendiri masih dibagi menjadi beberapa kelas seperti phalaenopsis, dendrobium, miltonium, odontoglossum, vanda, etc. Begitu juga untuk kelas hybrid.

    Aturan lain mungkin terkait dengan jumlah bulb, jumlah tangkai bunga, persentase bunga yang sudah mekar tiap tangkai etc…

    Dengan perbandingan yang sama, mungkin bisa dibagi:
    1. kelas species dan hybrid untuk aglaonema.

    2. untuk hybrid bisa dibagi kelas turunan chochinesis/ motif solid (e.g. yellow chocine, sultan brunei, paramruay, dan kelas non motif solid /corak (e.g pride of sumatera, tropica, miss thailand, tiara, adelia, etc)

    3. berdasarkan jumlah rumpun (tunggal/majemuk)

    4. untuk tunggal, masih mungkin dibagi berdasarkan jumlah daun 9dibawah sepuluh atau diatas sepuluh..).

    Mengenai pembagian berdasarkan warna, juga masih bisa dilakukan kendatipun pemotongan areanya hanya bisa dua macam (hijau-putih dan non hijau-putih). Tetapi dengan pembagian warna ini seolah-olah dua jenis yang sama bagusnya (e.g morodoklo dan dolores) dapat dianggap tidak kompatible sehingga harus dibedakan kelasnya. Kembali menilik pada kasus penjurian anggrek, sepertinya tidak ada pembagian menurut warna (…ciiw..)

    Menilai keindahan suatu obyek sangat sulit (the beauty is in the eyes of the beholder), karena itulah seringkali menimbulkan kontroversi. Namun jika harus menilai, maka harus ada kriteria. Seorang kurator tidak dapat mengomentari nilai suatu karya seni tanpa standar. Bahkan karya lukis dan karya sastrapun masih tetap dapat diberi “point penilaian” (e.g Philip Moris Art Competition, Nobel Prize for Literature, Pulitzer Awards, etc).

    Mungkin dalam berbicara kriteria, perlu diingat beberapa prinsip dasarnya
    1. same birds flock together
    2. never david vs goliath
    3. first impression is the honest feeling, the second is fact, the third is calculation, and the fourth is fair and just decision (red pale-looking “widya” is always worse compared to pink-bright “golden baby”, albeit we may still be able to sell those “high class-aglaonema with poor appearance” with higher price, in addition to “low class-aglaonema with excellent appearance”)

    Just two cents from an aglaolovers, for it is worth.

    Salam hormat,
    dhidhie.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: