Know how dan why ORGANIK

July 20, 2008 at 5:39 am | Posted in PEMUPUKAN DAN ZPT | 8 Comments

 Know how dan why ORGANIK
oleh Ganggeng Kanyoet <ganggeng_k@yahoo.com> 

Gema pertanian organik maupun ‘suatainable agriculture’ sebenarnya sudah terdengar sejak tiga dekade yang lalu. Banyak buku, artikel, seminar ilmiah maupun ngilmiah, bicara tentang indahnya PRODUK ORGANIK dan POTENSI BAHAYA ‘pupuk kimia’ kedepan.

Tapi mengapa segala tempik-sorak itu se-akan2 laksana sebuah ‘retorika’ belaka. Sebab ternyata kemudian dalam praktek, trend demand pupuk dan pestisida kimia selalu saja meningkat di belahan dunia manapun. Tiap tahun siapapun menterinya, selalu bingung masalah ‘kelangkaan’ pupuk Urea dan TSP. Adakah ini pertanda yang jelas ? Bahwa kondisi ideal yang di-cita2kan sangat berlawanan dengan praktek. ‘Jauh panggang dari api’. Atau barangkali concern organik tersebut LEBIH BUKAN pada masalah pertanian  ….. ho ho ho ho.

Ada kala terbesit ‘prasangka’ buruk pada yang bisa berkata ‘TANPA pupuk kimia LEBIH meningkatken hasil dan lebih menguntungkan’. Sebab, tidak mustahil yang demikian itu berasal dari TRAUMA kegagalan sebelumnya dalam menjalanken praktek tani modern (pupuk dan pestisida sintetis) dengan BENAR?. Atau itu  hanya cara ME-MINIMALISIR kerugian dengan kembali ke satu2nya praktek tani lama yang dia kenal dan pahami ? Warisan leluhur – bertani dengan pupuk kandang memanfaatken unsur ‘SUNK COST’ di dalamnya. Pasti terasa ada kejanggalan disana, bila lihat tetangga sebelah sukses berorganik-ria, tidak menjadikan orang lain tertarik meniru. Atau memang benar apa kata Hornick (1993) : ‘kegagalan utama kampanye organic farming sebenarnyalah pada masalah ‘balikan’ ekonomi di dalamnya. Suatu sistem atau metode bila secara ekonomi tidak ‘sustain’, pasti tidak akan bertahan lama atau bahkan layu sebelum berkembang’. Harus bisa memuaskan secara phisik dan ekonomi.

Atau jangan2 semua ini karena terlalu banyak orang PAHAM membabi buta KNOW-HOW bertani tapi sama sekali BUTA tentang KNOW – WHY ? Atau sebaliknya, membabi buta pada WHY lupa pada HOW. Atau besar pula kemungkinan ndak paham how dan why sekaligus …….   ho ho ho ho ho

 

Ganggeng Kanyoet

Untuk temanku di Pringadi yang nyari topik ……  

8 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ehhhm … Sorry nich mbah

    Kelangkaan pupuk nggak berarti bahwa karena permintaan pupuk non organik itu berlebihan dibandingkan supplynya . Jaring ruwet sistem distribusi pupuk dari produsen di Indonesia , nggak beda sama dengan ruwetnya distribusi semen . Terlalu banyak celah untuk adanya permainan harga ,penumpukan barang di jalur-jalur tersebut ..Kalau lihat artikel terlampir (tahun kemaren sich) , seharusnya kebutuhan pupuk bisa dipenuhi di dalem negeri bahkan bisa diexport. Cuma kok bisa terjadi kelangkaan .. Mungkin ini tanda tanya .. Simpulnya dimana ? Belum lagi terakhir kali tidak beroperasinya secara penuh Pabrik Pupuk Iskandar Muda karena masalah supply gas DLL .. Jadi banyak faktor yang mempengaruhi Dan bukan hanya karena tingginya demand pupuk non organik

    Untuk kembali ke organik seratus persen memang akan sulit diwujudkan . Salah satu sebabnya adalah para petani pernah merasakan bahwa dengan pupuk non organik seperti urea DLL , produksi mereka meningkat dibandingkan dulu mereka tidak memakai pupuk non organik .. Nah kalau sekarang diminta untuk kembali ke tanpa pupuk , sulit masuk ke logika mereka bahwa hal tersebut akan menghasilkan lebih dari yang mereka raih saat ini . Belum lagi kesadaran mereka terhadap efek samping pupuk non organik ke lingkungan masih sangat rendah karena kebutuhan . Mereka belum memikirkan untuk mencoba karena desakan kebutuhan hidup sehingga pola pikirnya masih “semakin banyak adalah semakin baik” .. Nah ini identik dengan pemakaian pupuk non organik yang sudah terbukti dan dialami sendiri oleh mereka . Jadi untuk mengajak mereka kembali dengan mengatakan bahwa pertanian non organik akan memberi lebih banyak hasil nggak akan masuk akal buat mereka .Pengalaman mereka yang sebaliknya merupakan kendala yang akan susah ditembus .

    Kalau mau istilah pertanian non organik semakin populer di Indonesia, mungkin harus ditunjang oleh kesadaran manusia terhadap lingkungan yang cukup tinggi atau keselamatan manusia (seperti di negara2 eropa atau AS) baru pertanian organik bisa lebih berkembang (walau nggak 100 persen) . Sebagai contoh di pasaran Eropa Dan AS sekarang produk-produk yang memakai bahan / material berlabel organik/organic sedang menanjak karena kesadaran yang tinggi terhadap efek bahan kimia terhadap lingkungan . Beberapa brand kemeja terkenal mulai memasukan “organic cotton” dalam koleksi yang ditawarkan . Organic cotton itu jenis cotton yang dikembang biakan tanpa memakai bahan kimia sama sekali . Hanya saat ini masih lebih Mahal dari produk biasa karena proses nya lebih lama dan bahkan masih lebih Mahal , tapi gerakan kembali ke asal sepertinya sedang menanjak Dan semakin mendapat tempat . Belum terasa buat Indonesia saat ini tapi MEE dan US sedang memperketat masuknya barang ke negara mereka, terutama dalam hal kandungan bahan kimia . Contoh yang saya tahu bahwa udang dari Indonesia sempat beberapa kali dilarang masuk US Dan Jepang karena masalah kandungan satu jenis bahan kimia .. Padahal udang indonsia itu di tambak , jadi bahan kimia itu kemungkinan bisa berasal dari makanan/pakan udang atau dari air atau dari lingkungan sekitar. Begitu juga dengan pakaian DLL , semua semakin diperketat .. Nach mungkin tidak sekarang , tapi paling nggak saya pikir 5-10 tahun ke depan , justru angin akan berhembus mendukung pertanian / peternakan organik .. Karena pasar utamanya sedang beralih ke arah sana . Jadi kalu dari segi ekonomisnya .. Kayaknya tinggal tunggu waktu bahwa Kita akan “dipaksa” lagi untuk kembali ke pertanian organik( (walau nggak 100%) kalau nggak mau kehilangan pasar .

    Di Indonesia sendiri jangan salah lho , orang dikit demi sedikit mulai sangat berhati-hati dengan suatu produk yang mengandung bahan kimia..walau jumlahnya masih sangat sedikit (saya nggak termasuk kekeke)

    Gitu urun rembug dari saya

    Salam

    anton

  2. Kalau di suruh pilih makan sayur yang dipelihara tanpa atau dengan pestisida, wah tentu milih yang tanpa pestisida dong.

    Teringat dulu waktu masih bangku sekalahan ada survay yang hasilnya mengejutkan.. ternyata kasus avitaminosis (kekurangan vit A) di sumatera utara terbesar di tanah Karo yang notabene adalah penghasil sayur terbesar di SUMUT. Sepertinya data yang mirip bisa jadi terjadi di Bukittinggi, sudah biasa di rumah2 daerah ini (yg juga penghasil sayur terbesar) malah jarang tersaji sayur mayur, yang banyak adalah lauk/sambal. Apakah karena iklim yang dingin.. entah juga. Aku sendiri kalau ikut pulang kampung selalu ada permintaan khusus.. masak sayur untuk menantu.. hehehe.

    Apa yang terjadi, apakah mungkin mereka sendiri enggan memakan hasil tanaman sendiri ? Apakah karena mereka tahu berapa banyak pestisida disemprot biar ga diserang ulat, mereka tahu racun apa saja yang masuk ke sayur, jadi enggan makan ? Mungkin ada benarnya.

    Saat ini teknologi sayur tanpa pestisida sudah mungkin dilakukan, pertanian modern dengan system tekendali sudah memungkinkan untuk tanaman sayur dah buah semusim. Namun bagaimana dengan perkebunan besar ? Sawit penghasil minyak sawit ? Mungkin saja.. pemakaian musuh alami bisa digalakkan daripada memakai pestisida kimia.

    Bicara soal pupuk (alami / sintetik)..
    Kalau mengingat hutan hujan tropis yg memiliki pertumbuhan biomass yang luar biasa, pohon besar2 tanpa ada asupan hara tambahan.. Hutan bisa tumbuh subur ratusan, ribuan tahun lamanya.. bukan makin gersang namun akin subur. Namun di hutan nutrisi tidak banyak berpindah, siklusnya berputar. Namun jika keseimbangan sudah diganggu, hutan dirubah menjadi perkebunan.. siklus rusak.. kita tidak bisa berharap lagi bertanam tanpa pemberian pupuk. Beri pupuk organik ? bisa.. tapi harus menghitung jumlah transfer hara keluar melalui produksi hasil. Misalnya sawit kehilangan unsur hara dari hasil produksi yang keluar dari areal perekbunan setiap tahunnya sebanyak 0.5 Kg N per pokok atau setara 1.1 Kg urea per pokok/tahun yang harus digantikan agar pertanian yang sustainable dicapai. Apakah tergantikan dengan pupuk alami (organik) ? Kita rujuk saja salah satu pupuk oranik NASA yang memiliki 0.12%N. Artinya untuk mencapai pertanian yang sustainable (berklanjutan) artinya hara tanah tidak dikurangi, maka harus diberika setara 416 Kg per pokok. Kerapatan tanam sawit 130pokok/ha. Bayangkan jika satu kebun sawit itu 10,000 harus memupuk 1.3 juta pokok… wah berat ya.. perlu 542000 ton pupuk per tahun. Jumlah ini baru dihitung dari nutrisi yang keluar melalui produksi saja belum lagi dihitung yang terimmobilisasi ditanaman, terlindi, dll. Ini salah satu contoh saja.

    Sepertinya budidaya organik ga bisa dipaksakan 100% organik, mungkin dari segi penggunaan insektsida bisa digantikan APV nya mas faries.. Herbisida diganti cara mekanis, covercrop, dll. Untuk pupuk.. sepertinya harus menghitung berapa banyak nutrient removal dan yang perlu digantikan.

    Zai
    Oh terkejut daku dari air-men transfer ke urusan perut.. ntar deh aku jumpai di Pirngadi

  3. Wah baca cerita Bang Zai membuat saya teringat pengalaman punya kebun sayur 3ha di lembang, Bandung. Memang bang, kami sendiri ga mau makan hasil panen kami, karena kami tau betul bagaimana gilanya pekerja kami memakai pestisida, dan kami sendiri ga bisa mengontrol dengan ketat.

    Walhasil, kebun itu kami bubarkan.. karena perasaan bersalah yang mendalam

  4. Pak Ganggeng,

    selain cerirta pesimis, ada juga kok success story tentang pertanian organik. Di penghujung Orba banyak gerakan petani mengusung tema pertanian organik. Saya ikut ubyang-ubyung dalam gerakan itu bersama petani Magelang Jogja seperti Mbah Suko lereng Merapi itu dan berguru pada Pater Agatho Elsner pewaris pabrik Victorinox di Cisarua.

    Banyak Pemda mengadopsi kebijakan pertanian organik, seperti Sleman yang melarang keluarnya pupuk kandang dari wilayah Sleman. Kabupaten Sragen agak spektakuler karena mampu memproduksi beras organik dengan sustain sampai sekarang.

    Menurut saya ada beberapa penyebab kegagalan popularisasi pertanian organik:

    1. Tidak terintegrasinya aspek teknis organik dengan aspek organisasi dan kedaulatan petani. Selama isunya cuma soal know how, tidak mungkin sebuah gerakan bisa berhasil. Dalam pertanian organik, isu seharusnya tidak sekedar pada aspek teknis tetapi aspek kemandirian petani. Revolusi Hijau selain merusak lingkungan juga meletakkan petani pada posisi tergantung pada pabrik pupuk kimia. Posisi ini tidak akan berubah meski dalam era pertanian organik karena pabrik pupuk organik dengan cepat berdiri dan potensial membuat petani tergantung lagi dengan mendikte harga. Seharusnya teknologi organik bisa dikelola sendiri oleh petani lewat sentra-sentra produksi pupuk organik lokal.

    2. Lambatnya pemerintah merespon. Teknologi pupuk Saputra yang organik itu luar biasa karena mampu menambak kapasitas produksi tanpa merusak alam. Namun pemerintah takut karena pabrik pupuk kimia terlanjur menjadi industri hulu-hilir.

    ada lagi?

    salam

    rk

  5. Saya baru aja berhasil bikin vertikultur n hidroponik organik di cibubur.. sayang belum sempet difoto

    Produk yang ditanam selada merah, pak choy, bayam merah, kangkung,dan bayam hijau

  6. Kaluk pendapat rekan2 boleh dianggap representasi umum, saya berani berkesimpulan bahwa masalah organik vs anorganik tidak lain dan tidak bukan adalah wujud problem ‘krisis komunikasi’ dan ‘kemacetan komunikasi’. Yang kemudian menjadikannya dilema, ternyata ini tidak dihadapi orang awam saja, bahkan dalam kalangan ilmupun suatu tirai ketakpahaman terlalu kerap memisahkan ahli satu dari lainnya.

    Praktek pemupukan non-organik dikenalkan sejak seabad lalu, dibangun dari konsep ‘kimia dan plant nutrition’ berbasis hidroponik. Sementara praktek organik didirikan atas konsep ilmu tanah dan mikrobiologi. , telah dibaca berlebihan oleh sementara pihak. Akibat mampatnya komunikasi kedua ilmu, menimbulkan kecurigaan yang tidak perlu. Yang akhirnya justru dimanfaatkan oleh yang tidak bertanggung jawab. Bukankah sejak awal telah didefinisikan, bahwa : pemupukan adalah menambah atau melengkapi unsur hara yang kurang atau telah ada dalam tanah ? Pemberian pupuk harus berdasar nilai kisaran optimum nutrisi. Surplus pemupukan selain pemborosan uang juga menganggu keseimbangan nutrisi. Bukankah Liebig sejak 1862 dengan Hukum Minimumnya sudah mengatakan, bahwa pemupukan lebih diarahkan pada yang disebut ‘faktor minimum’, etc, etc, banyak lagi syarat dan prasyarat pemupukan yang seharusnya dilakukan.

    Dilain pihak mengapa juga yang organik memaksakan ke-organikan-nya. Apakah mereka tidak mengira ? Bahwa sebagian besar nutrisi tanah sudah berubah wujud menjadi sosok tanaman hingga perlu ditambah/dilengkapi. Bahwa varietas2 baru untuk menggenjot produksi (untuk memberi makan ledakan penduduk dunia) menghendaki lebih banyak nutrisi yang muskil kaluk diserahkan mikroorganisme semata dalam pemenuhannya. Pencemaran lingkungan – perkara pengaruh buruk ke lingkungan (air, tanah atau udara), yakilah dalam prakteknya semua yang namanya ‘polutan’ pasti adalah berasal dari yang ‘berlebihan’, tidak tertutup juga kelebihan bahan organik. Praktek ‘more is the better’ tidak tertutup terjadi pula pada yang organik dan ini tidak kalah berbahaya dengan yang kimia. JANGAN BERLEBIHAN – tertulis di setiap kitab suci agama apapun.

    Isu non pertanian – eco-labelling. Dunia industri kayu lapis pernah mengalami pukulan gaya kapitalis macam ini. Untuk melindungi industri mereka, dikeluarkanlah syarat eco – labelling atas produk2 kayu negara tropis. Sustainable forest harus menjadi satu2nya sumber kayu. Udang yang keracunan Hg sesampainya di US/China, minyak sawit asal Pekanbaru yang tercemar sesampainya di India. Ah masih banyak conto praktek dagang semacam itu.

    Pestisida – semuanya punya petunjuk pemakaian dalam label – Si usted no entiende la etiqueta, busque a algulen para que se la explique a usted detalle (If you do not understand the label, find someone to explain it to you in detail). Disitu jelas tercantum dosis, kapan harus dipakai, kapan tidak boleh dipakai. Kalukpun sampai berlebihan, salah pakai hingga menimbulkan bahaya kesehatan – pastilah semata karena masalah butahuruf atau ketidaktahuan saja.

    Last but not least, kita, Mr. Obama, Mr. Bush, Mr. SBY, Mr. Usamah bin Laden adalah pemakan produk revolusi hijau pupuk kimia. Sebab kita hidup dan pinter karenanya, maka wujud tanggung jawab kita bukan menjadikan bodoh penerus kita. Menjadi tugas kita yang tahu duduk permasalahan untuk menjelasken bagaimana seharusnya memupuk dan bagaimana sebetulnya maksud berorganik itu. Memang harus diakui, sulit rasanya mendobrak sikap kuno yang mengatakan pada orang biasa – betapa laparpun, karena Allah yang memberi kita gigi pasti akan memberi kita padi.

    Ganggeng Kanyoet

  7. Pak Ganggeng, terima kasih pencerahannya. Secara umum saya setuju.

    Untuk konteks Indonesia, krisis komunikasi organik-anorganik itu saya
    kira karena isu itu tidak menjadi sekedar isu teknis soal kelebihan
    dosis semata, tapi karena ada konteks ekonomi politik yang memunculkan
    tidak hanya kecurigaan tapi juga penindasan.

    Revolusi Hijau lebih kental sebagai proyek politik Orba selain soal
    pemenuhan pangan rakyat. Pemakaian pupuk kimia, mekanisasi pertanian,
    pepemberian kredit kecil, pemakaian bibit unggul, disertai oleh ancaman
    senjata serdadu kepada para petani. Buat petani yang cuma punya pacul,
    itu adalah ancaman luar biasa. Mereka terpaksa menerapkan sistem
    anorganik. Petani yang bertahan dengan sistem organik musti siap
    dikucilkan atau dicap tapol. Jadi di balik sukses swasembada pangan
    tahun 1985 (yang cuma setahun itu) bersemayam kegeraman petani akibat
    pemaksaan politik.

    Di manakah posisi para akademisi? Intelektual organik (yang ini bukan
    pupuk) ala Gramsci susah ditemukan di Indonesia. Kebanyakan adalah
    ilmuwan yang mudah disetir negara. Saya kira mazhab kurikulum pertanian
    fakultas di Indonesia semasa Orba lebih cenderung berkiblat kepada
    kehendak politik developmentalis, seperti halnya pada fakultas ilmu-
    ilmu sosial. Fak ekonomi UI misalnya, sangat jelas bisa diraba kemana
    kiblat paradigmanya.

    Akibatnya, kecurigaan anorganik-organik menjadi meruncing. Isunya
    menjadi bukan semata isu teknis tapi isu politik. Sistem organik
    dianggap sebagai jalan liberasi politik para petani yang tertindas itu.
    Persis di situlah kesilapan cara pandangnya, karena pabrik pupuk
    organik siap menjadi aktor penindas baru.

    salam,
    rk

    Rakyat hanya berhak atas alun-alun, para pangeran menentukan arah
    sejarah (Machiavelli)

  8. Saya ndak mau ber-pra-anggapan atau ber-pra-sangka sejauh itu.

    Krisis Komunikasi yang tak maksudken disini, timbul akibat kecepatan perkembangan pengetahuan itu sendiri. Sebegitu cepat dan terspesialisasinya membuat sulit berkomunikasi untuk penyampaian pengertian diantara mereka maupun kepada khalayak banyak. Ketambahan lagi luka lama, ‘ilmuwan vs humanis’. Anak2 murid humanities ini semakin larut dengan pengertian sempit ‘perikemanusiaan’. Fanatisme – Cinta yang lebih mendalam akan ‘manusia’ hingga mengaburken bentuk cinta2 lain yang mustinya juga dapat diberiken oleh siapapun juga, termasuk yang datang dari dari ilmuwan, agamawan, negarawan etc, etc. (Kasus PLTN – Muria etc, etc, bahkan Munir sekalipun rasanya juga ndak beda dengan organik vs anorganik)

    OK – its time untuk menikmati foto koleksi2 Mr. Moes, Mr. JK, etc, etc, etc, ………..

    Ganggeng Kanyoet

    Kuliah ilmu saat ini lebih merupakan kuliah kejuruan. Ilmuwan kian menjadi teknikus (tukang) dan bukan si ‘bijaksana’ lagi – Science is death


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: