Kiat memperbanyak Aglaonema cara cepat (3)

January 27, 2008 at 1:25 pm | Posted in PERBANYAKAN AGLAONEMA | 1 Comment

Kiat memperbanyak Aglaonema cara cepat (3)

Pak Faries Fadhil wrote:
Wah hal ini yang saya paling senang untuk sharing, karena kebetulan saya sekolah pertanian dan juga hoby tanaman. terutama membahas tentang fisiologis.

Tapi saya minta maaf dulu nih buat bu Thari, ga apa2 ya kalo saya koreksi.

1. Laju fotosintesis tertinggi bukanlah pada daun muda. daun muda adalah jaringan “sink” atau pengguna fotosintat (hasil fotosintesis). Laju tertinggi fotosintesis ada pada daun dewasa, yang morfologinya sudah lengkap dan sempurna.

2. Tidak ada hubungan antara produksi gula dengan auxin. Auxin tertinggi memang ditemukan di pucuk tanaman. auxin dibuat oleh tanaman dalam sebuah proses metabolisme yang rumit yang justru menghindari sinar matahari. Ada satu hal lucu yang sebetulnya selama ini disalah-fahami oleh kebanyakan orang. Waktu kita masih SD atau SMP atau SMA, kita diajarkan tentang fenomena fotonasti yaitu pergerakan tanaman yang dipengaruhi oleh respon cahaya. Nah kita kan dulu pernah tuh ngecambahin kacang ijo yang ditutup dalam kotak yang dilubangi di salah satu sisi kotak tsb. Pasti si kacang ijo akan tumbuh ke arah lubang di mana cahaya masuk. Nah hal ini selama ini dimengerti oleh kita sebagai : Si tanaman lagi nyari cahaya… padahal yang sebenarnya terjadi adalah : Auxin adalah hormon yang mudah rusak oleh cahaya matahari, dan tanaman mendistribusikan auxin dari daun ke seluruh bagian. Fungsi auxin adalah sebagai promotor perpanjangan sel. Jika hanya sebagian sisi tanaman yang kena sinar matahari, maka sisi yang kena sinar itu auxinnya banyak yang rusak, dan sisi yang satunya lagi auxinnya tidak rusak. Akhirnya panjang sel kedua sisi itu berbeda. makanya kemudian si tanaman jadi bengkok… faham kan yaaa….🙂

3. Kinerja hormon dalam tanaman sengat berhubungan antara satu hormon dengan hormon2 yang lainnya. Hormon makro dalam tanaman ada 5 yaitu : Auxin (sebagai promotor perpanjangan sel, menjaga dominasi tunas apikal, promotor inisiasi akar, dan membantu penyerbukan), Giberelin (sebagai promotor pembesaran sel, pemecah dormansi, dan inisiasi kecambah dan bunga), Sitokinin (promotor duplikasi sel, promotor aktivitas tunas lateral ), Asam Absisat (pengguguran daun, bunga, membantu perkecambahan), dan yang terakhir Ethylen (membantu pematangan buah).

Bu Tharie Wie wrote:
Terimakasih pak Faries, atas koreksinya . . .🙂

Selanjutnya mohon pencerahan bila pemahaman saya tentang tanaman ada yang kurang atau salah. Maklum tidak punya latar belakang pertanian sih, dan hanya tahu dari buku pengetahuan populer saja selama ini.
Tapi berhubung mengaku pecinta tanaman, saya harus belajar agar tahu apa yang terjadi, apa yang dibutuhkan, dan apa yang membuat tanaman menjadi senang.

Untuk mempercepat pemahaman dan sok ilmiah, saya biasa membuat suatu “model” sederhana yang sekiranya dapat menjelaskan “grand design” tanaman. Daripada saya menghapal kerja hormon a begini.. begitu, kerja hormon b begini juga..dan begitu juga … dst, lebih baik memahami sesuatu, tetapi secara menyeluruh dapat menjelaskan keberkaitan kerja hormon.

Untuk memudahkan, saya membagi hormon tanaman dalam 3 kelompok besar, yaitu :
a. Hormon pertumbuhan, disekresikan bila terdapat kondisi yang dapat mendukung pertumbuhan, pokoknya lebih dari sekedar bertahan hidup. Contoh, auksin (IBA) dan sitokinin (CK)

b.Hormon stres, disekresikan bila ada gangguan yang sifatnya jangka panjang yang sekiranya membuat sengsara atau bahkan mati. Bila gangguan/stress terjadi, tanaman akan segera memindahkan/meredistribusi sumber daya pada area
stress ke bagian lain dari tanaman, hingga stress tersebut teratasi. Termasuk dalam kelompok ini adalah hormon giberelin (GA), dan ethylene (ET)

c.Hormon regulator, disekresikan bila ada perubahan kondisi secara cepat, misal kondisi baik ke stres atau sebaliknya dari stres ke kondisi baik. Termasuk dalam kelompok ini adalah hormon asam salisil (Salicylic Acid = SA) dan asam abisat (Abscicic acid =ABA).

Sehubungan dengan tulisan saya terdahulu :

1. Betul laju fotosistesis tertinggi berlangsung pada daun yang telah sempurna. Kemampuan daun untuk berfotosintesa meningkat pada awal perkembangan daun, tetapi kemudian mulai turun, kadang sebelum daun tersebut berkembang penuh atau “fully developed” (kata Benyamin Lakitan, 2001, Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan, hal. 156, kebetulan bukunya ada di meja kantor nih). Agar sederhana dan mudah dipahami, saya pilih model tanaman baru tumbuh yang masih berdaun tunggal. Toh pada saat daun terbentuk, proplastid sudah berkembang menjadi kloroplas dan  memungkinkan untuk fotositesis..he.. he.. cari gampangnya kan.

2. Seperti pada uraian di atas pada pengelompokan hormon, pemahaman saya sejauh ini, hormon akan disekresikan bila tercapai atau ada suatu kondisi/keadaan tertentu yang terpenuhi. Tanaman tidak akan mengeluarkan hormon bila tidak ada rangsangan atau pengaruh dari luar. Ada contoh lain. Pada saat kondisi kekeringan entah itu karena kekurangan air
atau karena terik matahari, akan disekresikan hormon asam abisat hingga membuat stomata daun menutup (mencegah transpirasi lebih lanjut). Demikian pula dengan auksin, bila kondisi banyak makanan terpenuhi, artinya banyak gula/karbohidrat, maka akan disekresikan auksin. Kata beberapa pakar biologi, konsentrasi sitokinin berhubungan erat dengan keberadaan mineral, terutama NH4 . . . nah lo.
Fotonasti atau phototropism (percobaan Darwin dan anak lelakinya, Fancis di tahun 1881), tidak menyebutkan auksin rusak oleh sinar matahari. Sepanjang yang saya baca selama ini, dijelaskan bahwa auksin akan “migrate away” sehubungan dengan sinar matahari. Dan itu saya terjemahkan dengan menyingkir, atau berpindah menjauhi sinar matahari. Auksin akan ngumpet ke bagian sisi gelap.
Apa yang terjadi di bagian sisi terang …? Saya coba jelaskan dilain waktu biar tulisan ini tidak terlalu panjang.

3. Hingga saat ini, paling tidak ada 10 macam hormon yang berhasil dikenali. Namun yang sering kita dengar memang hanya 5 macam (kita setujui sebagai makro hormon saja ya). Dalam literatur disebutkan fungsi masing-masing hormon tersebut, ini dan itu, yang mungkin satu hormon bisa mempunyai lebih dari 5 fungsi.
Yang perlu menjadi catatan, kerja hormon bisa saling tumpang tindih, hingga sulit dihapalkan. Dan yang paling penting kerja hormon jangan dipahami secara individual. Kedua hal tersebut justru sering menimbulkan salah pengertian. Contoh :

a. Auksin dan giberelin, keduanya mempunyai kesamaan fungsi “cell elongation ” , pemanjangan sel. Tapi masing-masing memiliki mekanisme kerja dan rangsangan kondisi yang berbeda (uraiannya lain kali aja ya nanti terlalu panjang).

b. Pemberian auksin dengan konsentrasi tinggi tidak membuat tanaman menjadi tumbuh tinggi, tetapi justru akan membuat tanaman mati. Hal ini telah dimanfaatkan tentara USA dalam perang Vietnam dan terkenal dengan
istilah “agent orange” (herbisida dengan konsentrasi auksin tinggi), untuk merontokan daun dan membasmi semak.

Kerja hormon harus dipahami secara saling terkait, misal ethyelin akan disekresikan bila dirasa konsentrasi auksin sudah terlalu tinggi (ingat agent orange).
Catatan untuk Pak Farish, asam abisat tidak berfungsi membantu perkecambahan tetapi banyak digunakan dalam teknologi penyimpanan benih. Karena salah satu fungsi asam abisat adalah untuk membuat “dorman” benih.
Demikian pula yang membuat daun gugur bukan asam abisat, namun ethyelin (ingat “agent orange” di Vietnam, filmnya bagus lho pak).

Demikian rekans milis pemahaman saya tentang hormon. Saya memang sulit menghapal, jadi untuk itu saya harus
mencoba membuat model, agar mudah dihapal dan dimengerti. Dari model tersebut akan lebih mudah memahami mengapa hormon auksin juga dijumpai di bunga, apa itu parthenocarpy dsb. Praktek lapangan untuk model hormon selama ini, salah satunya saya pakai untuk perbanyakan adenium secara stek.
Sebelum bahan stek dipotong, bagian yang nantinya akan ditanam biasanya saya kerat melingkar atau saya tutup
dengan plester hitam selama 1 bulan. Maksud keratan agar gula/karbohidrat menumpuk di sekitar keratan
sekaligus pula auksin (bukan ada gula ada semut, tapi ada gula ada auksin . . . he he he).
Penutupan plester akan membuat bagian tersebut berkembang jaringan parenchymatis yang kaya dengan
auksin. Pemanfatan efek fotonasti, plester hitam menjadi tempat ngumpet akusin yang takut matahari.
Dengan demikian saya dapat menghemat uang dengan tidak membeli auksin . Metode ini pada awal musim panas nanti, akan saya coba di tanaman aglaonema. Hasilnya nanti saya laporkan deh.

Sorry … jadi agak melantur. BTW terimakasih Pak Faries, memang banyak yang harus saya pelajari lagi.

T H A R I

Pak Eku Purwantoro wrote:
Wah…wah, saya yang ‘mengaku’ pecinta tanaman jadi merasa ‘tak tahu apa-apa’ tentang tanaman😦

Matur sembah nuwum Bu Thari dan Terima kasih banyak Pak Faries atas sharing ilmu-nya yang luar biasa.

SA,
Epurwantoro

Pak Judi Ginta wrote:
Saya juga pak Pur, untung gabung milis yang luar biasa ini.. Terimakasih atas curahan ilmunya bu Thari & pak Faries..
Hidup serasa jadi lebih cerah🙂

SA,
judi

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. salam,
    saya dari malaysia, ingin tahu lebih lanjut tentang Aglaonema Indonesia – Hormon Untuk Tanaman Daun

    terima kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: