Diskusi Propagasi Aglaonema

January 26, 2008 at 4:18 am | Posted in PERBANYAKAN AGLAONEMA | Leave a comment

Diskusi Propagasi Aglaonema

Hermawan Andrianto wrote:

Begini mbah Gk dan aglovers,
Pertanyaan untuk Mr. AH;
Mr Gk : Kenapa mesti dua daun yang ditinggal di bonggol bawah ? Bukankah itu memperkecil peluang keluar tunas pada daun tersisa, dua calon anak jadi muspro. Kenapa ndak cukup satu daun seperti yang dilakukan Mr. Moes ?

Pak Andrianto : Jawaban versi Saya :
1. 2 daun yg saya tinggalin itu,saya anggap sebagai ‘juru masak’ buat bonggol di bawahnya …..jadi naiknya calon2 tunas lebih cepat ketimbang di tinggalin hanya 1 daun (ibaratnya 2 kepala lebih baik dan mudah utk diskusi)
Mr GK: 2. Untuk mengantisipasi pertanyaan kenapa ndak pakai 3-4-5-6 dst daun saja yg di tinggalin ?
Pak Andrianto: jawaban saya :
kalau yg masak kebanyakan ……yg makan nanti siapa?,malah2 nanti di buang2 percuma ….hue3x kan sayang mbah,pupuk dan hormon lagi mahal2nya sekarang,mending buat di pucuk atas saja,kan bisa nambah2 mahal pucukan atas untung bawahnya😀

Dahulu,resiko rontok daun pada pucuk aglo yg akan di repoting tinggi sekali,walaupun kita menggunakan hormon ‘Superthrieve’ sekalipun,sekarang sudah ada karya anak bangsa yg melebihi ‘Supethrieve’
Mbah GK masih arisan ‘Anthu..’ ,masa ndak pernah liat dan mencoba hormon bikinan Bekasi yg tembus beberapa kontainer ke Belanda dan Philipine….

Monggo silahken Mbah GK jjs,sambil liat Hormon apa yg ada ‘Manual Book” nya 4 halaman ,berikut gambar perbanyakan Aglonema,Anthu,Adenium pula he3x

Met Hunting yo Mbah….di tunggu sharing lainnya,’Berantem’ juga boleh….ora pareng nesu….,Salam buat Mas Wid kalau mbah Golf bareng….di tunggu bagi2 Adelianya kalau sudah buanyak

Happie Gardening N Met Weekend’s All

Salam

A.H

Pak Ganggeng Kanyoet wrote:

Sip saya setuju. Dua lebih banyak dari satu …… dan lebih aman karena ada reserve nya. Safety player ……… ho ho ho ho. Juga karena Mr. AH menghendaki kemunculan anak lebih dari 4 sekaligus, sukur2 bisa 11.
Supethrieve ? Ex Kanada ? Mr. Adeng pernah memperagakan metode Thailand, pakai tupperware, pasir malang + superthrieve + air ion. Cara bagus, walau masih kelamaan nunggu keluarnya akar.
Potong pucuk, ada lag time di pucuk yang minus akar. Perlu waktu lebih sebulan sebelum tumbuh normal. Dikerat aja ? Ide datang dari alm. Mr. Frans – cangkok. Daripada aglao nampak ‘mblenduk-mblenduk’ ? Dikerat saja, toh tujuan sama. Saat dipotong, pucuk dah keluar akar.
 
Hormon bikinan Bekasi ? Biozone kah ? Saya ndak suka gaya iklannya. Banyak mirip iklan Bos Eddy, saya mbalah jadi ndak tertarik. Kok seperti iklan ‘air azizat’ atawa ‘rapet swargaloka’nya juragan dari Pati ya ? Juga karena salah satunya bawa2 istilah alami, jadi agak ngganjel di otak kiri. Setahu saya masalah terbesar kinerja hormon alami selalu terbentur proses ‘oxygenase’ (lain kali perlu didiskusikan).
 
Masalah akar di pucuk sudah teratasi by sistem kerat. Terasa masih kurang. Kurang cepat. Masih ada kendala WAKTU. Tunas anak muncul karena dekapitasi (pucuk dipotong). Potong pucuk dulu, baru keluar tunas anak  Kurang asyik. Mustinya saat potong pucuk, tunas anakan di calon bonggol dan akar di bagian calon pucuk, sekalian dah keluar semua ? NYAMLENG tenan. Penghematan waktu buanyak sekale.
Setengah tahun yang lalu, saya main ke kebun petani kenalan. Kaget setengah mati. We ladalah, hampir semua aglaonya nyembul tunas anak dari media, ndak cuman satu lagi. Minimal tiga, tanpa pucuk lagi. Pasti ada apa2nya  …. Yuuuk mari. Saya ketinggalan jaman rupanya.
Tenan to. Mereka main hormon. Yang bikin gelo, lha kok hormonnya musti berasal dari yang satu itu. Lha kalau ketemu pasti mbagusi karo mesam-mesem, ngece. Celaka 13.
Ada rasa gengsi dikit saat minta bagian hormon ke sumbernya, tapi ndak masalah demi hobi. Lha wong yang lain aja ndak gengsi ‘nggoreng’ taikam kok. Hormon warna ijo. Novelgro ? Bukan, kata ‘dia’. Coba aja dulu, baru diskusi, lanjutnya. Cara pakai : oleskan merata ke batang bonggol bawah (bukan di akar). Tanam kembali. Jangan disiram minimal 6 jam after oles. Jangan dioleskan sehabis potong pucuk. Jangan diencerkan, langsung oles saja. Hasil paling baik bila saat mengoles dilakukan di waktu subuh sehabis mandi junub (syarat terakhir ini terbukti salah dan ngawur, hanya guyon khas dia).
Praktek pada 5 jenis aglao di rumah membuktikan, 2 WAT (weeks after treatment), tunas anak pada muncul. Hebat.
Kok masih ada yang kurang. Harus bisa lebih cepat lagi. Akhirnya perlu kombinasi dengan metode potong pucuk + kerat. Oles + kerat, setelah keluar tunas dan akar,  potong pucuk. Berhasil, jauh lebih cepat, 2x sistem oles thok, dan lebih dari 4 kali sistem potong pucuk biasa. Lihat gambarnya saja dah tambah nyeni kan ?.   
Masih ada yang kurang lagi. Masih repot pake bongkar2 media. Kenapa ndak sistem semprot (foliar spray) atau yang lain, agar lebih praktis. Ho ho ho ho ternyata ini juga sudah diantispasi yang punya. Foliar spray dan sistem dicat ke pot sedang dijalankan, sampai taraf percobaan konsentrasi terefesien, katanya. Kita tunggu hasilnya.
Ada 8 rekan yang tak kirimi sample hormon itu. Entek, saya ndak punya lagi. Maaf baru tadi siang ngirimnya. Ada kendala di TIKI – ONS, kirim benda cair dilarang. Harus cari kurir agen lain.
 
Ganggeng Kanyoet
Mr. AH kenal juga dengan pak Wid to ? Bisa minta dikirimi langsung kalau gitu ……..

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: