Organik versus Anorganik

January 21, 2008 at 2:42 pm | Posted in PEMUPUKAN DAN ZPT | Leave a comment

Organik versus Anorganik

Pak Ganggeng Kanyoet wrote:

Sambil nunggu Liga Champion, Madrid vs Munchen, dan sesuai janji saya, tulisan ini merupakan kutipan Buku Acuan Pelajaran Kimia SMU untuk kelas 1, Kurikulum 1994, Suplemen GBPP 1999, Irfan Anshory, Penerbit Erlangga, Bab 13 Hidrokarbon, Sub bab A. Senyawa Organik, halaman 124), apa adanya tanpa editing. Semoga rekans yang dahulu berasal dari non SMA-B atau non Paspal, dapat mengikuti dan dapat menarik pelajaran darinya :
————————————————————————————–
Sudah sejak zaman purba orang mengetahui bahwa tubuh makhluk hidup (manusia, tumbuhan, dan hewan) dapat menghasilkan berbagai macam zat. Gula pasir didapat dari batang tebu, dan gula merah dihasilkan dari pohon enau. Beras dan gandum dapat diuraikan oleh ragi menjadi alkohol. Bangsa Mesir kuno sudah mengenal formalin, suatu zat pengawet yang dihasilkan oleh semut. Orang Mesopotamia dahulu memperoleh zat-zat pewarna dari hewan molluska. Pupuk urea didapatkan dengan menguapkan air seni (urine) mamalia. Kini kita mengetahui bahwa fosil tumbuhan dan hewan yang terpendam berabad-abad dalam tanah dapat berubah menjadi minyak bumi.
Menjelang akhir abad ke 18, para ahli kimia membagi senyawa-senyawa menjadi dua kelompok :
a. Senyawa organik, yang dihasilkan oleh makhluk hidup (organisme)
b. Senyawa anorganik, yang dihasilkan oleh benda mati (kulit bumi atau udara)
Istilah organik dan anorganik ini diusulkan oleh Karl Wihem Scheele (1742 -1786) dari Swedia pada tahun 1780. Pada tahun 1807, Jons Jakob Berzelius(1779-1848) mengeluarkan teori bahwa senyawa-senyawa organik hanya dapat dibuat di dalam tubuh makhluk hidup dengan bantuan “daya hidup” (Vis Vitalisdalam bahasa Latin), sehingga senyawa organik tidak mungkin dapat dibuat dari senyawa anorganik di laboratorium. Oleh karena Berzelius dipandang sebagai ahli kimia terbesar pada saat itu, teorinya dianut oleh para ilmuwan lainnya tanpa ragu-ragu. Ternyata teori “daya hidup” itu tidak bertahan lama, dan akhirnya ditumbangkan oleh murid Berzelius sendiri, Friedrich Wohler (1800 -1882) dari Jerman. Pada tahun 1827, Wohler mereaksikan perak sianat dengan amonium klorida untuk membuat amonium sianat.
AgOCN + NH4CL à NH4OCN + AgCl(s)
Ketika Wohler menguapkan pelarut air untuk memperoleh kristal padat amonium sianat, ternyata pemanasan yang terlalu lama menyebabkan amonium sianat berubah menjadi urea !. NH4OCN à (NH2)2CO
Penemuan Wohler itu menggemparkan dunia ilmu kimia, sebab urea (senyawa organik) dapat dibuat dari amonium sianat (senyawa anorganik), atau sebagaimana bunyi surat Wohler kepada Berzelius tertanggal 22 Februari 1828 : “ Saya mampu membuat urea dalam tabung reaksi tanpa bantuan ginjal hewan atau manusia “.
Sejak saat itu banyak senyawa organik yang diproduksi di laboratorium, bahkan para ahli kimia mampu mensintesis senyawa-senyawa organik yang baru. ……. etc etc …. capek.
—————————————————————————————-
Demikian rekans, hari Kamis tanggal 22 Februari 2007 lusa, kita akan memperingati tepat 179 tahun yang lalu Wholer berkirim surat ke sang guru Berzelius.
“Saya mampu membuat urea dalam tabung reaksi tanpa bantuan ginjal hewan atau manusia “.

Semoga bermanfaat.

Ganggeng Kanyoet
Pas sekali Mr. Rcky Johanes dan Mr. Kusnaeni muncul di RCTI

Pak Henry Biantoro wrote:
Untuk melengkapi uraian Mas Ganggeng, URL dibawah ini menjelaskan senyawa organik dan anorganik versi Wikipedia.

http://en.wikipedia.org/wiki/Organic_compound

http://en.wikipedia.org/wiki/Inorganic_compound

Salam AI,
Henry Biantoro

Bu Tharie wrote:
Rekan-rekan…

Karena telah diulas panjang lebar oleh pak GK maupun pak Henry Biantoro, saya hanya dapat berkomentar melalui diagram terlampir.
Jelas bahwa tumbuhan tidak membutuhkan zat organik sebagai makanannya. Justru tumbuhan menyediakan zat organik sebagai makanan mahluk lain (notabene zat organik juga). Makanan tumbuhan berasal dan disediakan oleh udara, air, matahari dan tanah dalam bentuk zat anorganik.

Kesimpulan : tumbuhan tidak pernah makan zat organik

Kalaupun tetap mau dipaksakan agar nampak tumbuhan membutuhkan zat organik, itu adalah jazad renik (pengurai) yang “nampak membantu” alam dalam proses biodegradasi. Dalam proses ini, jasad renik akan mengeluarkan zat anorganik dari materi organik hingga dapat dimakan tumbuhan (itupun dalam porsi amat sangat kecil).

Agar sejalan dengan pak GK, disini saya ambil contoh urea {(NH2)2CO}. Sebagai zat organik, urea tidak dapat dimanfaatkan langsung oleh tumbuhan sebelum diuraikan terlebih dahulu oleh jasad renik. Oleh sebab itu agar efektip dalam pemakaiannya sebagai pupuk, harus melihat situasi dan kondisi apakah aktivitas jasad renik ditempat tersebut berlangsung secara optimum ?

Monggo.. sekarang giliran mbak Mona nambahin ………

Tharie Wie
Omahijo.com

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: