Pengaruh Auksin pada Aglaonema

January 21, 2008 at 3:24 pm | Posted in PEMUPUKAN DAN ZPT | Leave a comment

Rekans,
tadi sore saya beruntung bisa ikut conference di ym antara Pak Faza
dan Pak Yusuf Eko, cukup menarik pembahasan para praktisi ini, ttg
pengaruh hormon pada aglao.
Pak Faza, transkrip chat-nya saya share ke milist ya, sayang kalau
hanya saya yang nyimpan?

Rekans, terlampir conference antara Pak Faza dan Pa Yusuf Eko
“…disetip…
Faza Rosyada: Mas, saya mau share sedikit ttg hortinD
Yusup Eko Andrianto: ha litbang enaknya gimana nih. dah ada bocoran pak zai blm pak?
Yusup Eko Andrianto: oh … ok
Faza Rosyada: kalau saya baca di labelnya, kandungan hormonnya kan IAA (indole acetic acid)
Yusup Eko Andrianto: sebagian besar pak
Yusup Eko Andrianto: gmn?
Faza Rosyada: yup, itu rupanya hormon paling oke (aktif) di golongan auxin
Faza Rosyada: dia sangat berperan dalah apical dominance
Faza Rosyada: artinya dalam kata2 yang ekstrim : kalau IAA yang terlau berpengaruh dlm suatu tanaman maka pertumbuhan pucuknya cepat sekali..
Faza Rosyada: tetapi kurang dalam pertumbuhan anakan..
pengalasan: waduh.. pantes tanamanku ndak beranak2..
Yusup Eko Andrianto: sebentar pak …
Faza Rosyada: hal lainnya adalah ternyata IAA (auxin) bisa menyebabkan female dominansi
Faza Rosyada: oke..
Faza Rosyada: saya lanjutin aja ya..
Yusup Eko Andrianto: ok
Faza Rosyada: artinya bunga akan cenderung betina dan pollen terhambat utk muncul..
Faza Rosyada: pantesan aglao2 saya yang berbunga termasuk rotundum nggak keluar pollennya..
Yusup Eko Andrianto: waduh bener juga ….
Faza Rosyada: jadi kalau mau nyilangin aglao, begitu berbunga, amannya nggak usah dipupuk apalagi pake hormon..
Faza Rosyada: cukup siram air biasa aja..
Faza Rosyada: terus IAA itu akan sangat membantu pembentukan anakan bisa dicampur dengan sitokinin dan membantu pembungaan bila dicampur dengan GA3 tetapi sedikit aja.
….. disetip…”

Ethrel

January 21, 2008 at 3:15 pm | Posted in PEMUPUKAN DAN ZPT | Leave a comment

Ethrel
oleh Bpk. Zainuddin Siregar

Ruar biasa.. bravo Mbak Thari..

Bagi ‘tukang kebun’ bahan Ethrel adalah bahan yang biasa digunakan di
ladang karet untuk menutup luka bidang sadap.. apa ya kira2 yang
membuat bahan ini dibutuhkan untuk luka bidang sadap ? barangkali
selaras dengan penjelasan si mbak dimana ethrel ini bisa menekan
dominasi auxin .. sebagaimana kita tahu bekas luka pada kulit batang
menyebabkan terbentuknya benjolan2 kulit yang disebabkan menumpuknya
auxin untuk merangsang tumbuhnya akar di bekas luka yang sembuh.. jika
ethrel diberikan pada luka, dia akan menekan kerja auxin di daerah
tersebut hingga kulit sadap karet sembuh normal dengan ketebalan sama
tanpa benjolan2. Barangkali demikian logikanya.

Ethrel bisa juga digunakan untuk treatment buah sawit agar buah
serempak matang, gas etilen yang dihasilkan dari ethrel akan
mempercepat proses absisi (lepasnya buah dari tangkainya) agar mudah
diproses extraksi minyak.. ini belum biasa digunakan (ga ekonomis kali
ya).

Jika dominasi auxin bisa ditekan dengan pemberian ethrel dan jika
warna jreng si merah ga berubah.. wow.. ini merupakan solusi bagi
pengguna sitokinin untuk mempercepat tumbuhnya tunas samping (baca:
anakan) tanpa ragu hasil aglao2nya jadi dominan hijau. Di rumah sudah
ada beberapa aglao merah terjadi penghijauan karena penggunaan
sitokinin.

Btw mbak.. apakah warna jreng si-merah berubah dengan pemberian ethrel ?
Jika ethrel bisa menaikkan daya tahan terhadap sinar matahari,
barangkali ethrel juga meningkatkan kandungan anthocianin daun yang
berfungsi menaikkan daya tahan terhadap sinar matahari (ingat pucuk
beberapa pohon yang berwarna merah- adalah karena menumpuknya
anthocianin pada bagian itu untuk melindungi dari sengatan matahari)..
jika ini memang benar.. mungkin dengan pemberian ethrel bisa2 daun
aglao merah bisa lebih jreng lagi.. ada ga literatur yang mendukung
hal ini ?

Ah si mbak.. saya jadi pengen incar ethrel nih..

zai

Teknik Perbanyakan Aglaonema ala Bu Tharie Wie

January 21, 2008 at 3:12 pm | Posted in PERBANYAKAN AGLAONEMA | 1 Comment

Teknik Perbanyakan Aglaonema ala Bu Tharie Wie
oleh Ibu Tharie Wie

Apa khabar rekan-rekan..?
Lama tak muncul, milis kita kian oke saja..
Tertarik dengan subject mengenai teknik perbanyakan aglao, saya mencoba bagi pengalaman yach…
Sedikit tambahan saja utk apa yang telah diberikan rekans yang lain…

Pertunasan merupakan fungsi dari faktor internal (genetik) dan external (lingkungan). Sebagai grower, mungkin faktor internal-genetik dapat dianggap sebagai uncontrollable. Namun ada beberapa faktor internal yang dapat diakali dengan pemberian hormon asal exogenous.
Teori yang umum berlaku, selama masih dalam pengaruh “apical dominance” tunas samping tidak akan tumbuh. Pertanyaannya bagaimana menghilangkan pengaruh dominansi pucuk tersebut ? Notabene bagaimana memperkecil pengaruh hormon auksin di pucuk.
Ada teori yang mengatakan, beberapa faktor eksternal yang operatip terhadap pertumbuhan tunas, antara lain masukan cahaya yang cukup, cahaya yang mengenai ujung sampai dasar, temperatur, kecukupan air dan mineral terutama nitrogen, serta pemangkasan. Pertanyaannya kemudian adalah membuat aglao tahan terkena cahaya dan panas ? Bukankah cahaya justru akan meningkatkan jumlah auksin ?

Berangkat dari teori tersebut saya coba melakukan “treatment” pada 5 lipstik (3 – 4 daun) dan 3 heng-heng (4 daun). Alasan pemilihan semata-mata pada harga yang murah saja. Mengapa hanya delapan, karena hanya itu yang saya punya. Ke 8 aglao tersebut saya semprot dengan “ETHREL”, suatu merk dagang ZPT produk Bayer dengan kandungan aktip “ethepon”. ZPT tersebut, gampang diperoleh, murah (di toko Tani Maju Rp 23.000,- per botol).
Pada label disebutkan, ETHREL digunakan agar buah matang pohon secara serentak, serta menurunkan pertumbuhan vegetatip. Seperti jenis hormon ABA lainnya, ethepon dikatakan mampu mempengaruhi kinerja auksin. Dan yang menggembirakan, ABA juga diyakini sebagai pemicu pengendalian stomata. Lebih jauh da artikel dari Univ. Florida yang mengatakan, penyemprotan ABA akan membuat “foliage plant” lebih tahan cahaya, kekeringan dan temperatur tinggi.

Nah …. Impian saya menghambat dominansi pucuk dan membuat aglao tahan panas saat terkena sinar matahari dapat dipenuhi ETHREL (maaf jangan dianggap iklan).
Dalam praktek, pemberian ETHREL selama 2 bulan ditambah pemberian pupuk N tinggi (20-15-20) membuat lipstik mengeluarkan tunas 3 – 4 mata tunas. Heng-heng maksimal 3 tunas. Dan yang jelas aglao tersebut tahan panas meski mendapat cahaya matahari langsung selama 3 jam (pk. 12.00 s/d 15.00).
Saya belum melakukan uji statistik atas perlakuan di atas. Apakah memang pengaruh genetik atau pengaruh ETHREL. Namun pemberian ETHREL kelihatannya cukup menjanjikan. Sayang lahan terbatas ……..
Semoga bermanfaat

Thari Wie

Organik versus Anorganik

January 21, 2008 at 2:42 pm | Posted in PEMUPUKAN DAN ZPT | Leave a comment

Organik versus Anorganik

Pak Ganggeng Kanyoet wrote:

Sambil nunggu Liga Champion, Madrid vs Munchen, dan sesuai janji saya, tulisan ini merupakan kutipan Buku Acuan Pelajaran Kimia SMU untuk kelas 1, Kurikulum 1994, Suplemen GBPP 1999, Irfan Anshory, Penerbit Erlangga, Bab 13 Hidrokarbon, Sub bab A. Senyawa Organik, halaman 124), apa adanya tanpa editing. Semoga rekans yang dahulu berasal dari non SMA-B atau non Paspal, dapat mengikuti dan dapat menarik pelajaran darinya :
————————————————————————————–
Sudah sejak zaman purba orang mengetahui bahwa tubuh makhluk hidup (manusia, tumbuhan, dan hewan) dapat menghasilkan berbagai macam zat. Gula pasir didapat dari batang tebu, dan gula merah dihasilkan dari pohon enau. Beras dan gandum dapat diuraikan oleh ragi menjadi alkohol. Bangsa Mesir kuno sudah mengenal formalin, suatu zat pengawet yang dihasilkan oleh semut. Orang Mesopotamia dahulu memperoleh zat-zat pewarna dari hewan molluska. Pupuk urea didapatkan dengan menguapkan air seni (urine) mamalia. Kini kita mengetahui bahwa fosil tumbuhan dan hewan yang terpendam berabad-abad dalam tanah dapat berubah menjadi minyak bumi.
Menjelang akhir abad ke 18, para ahli kimia membagi senyawa-senyawa menjadi dua kelompok :
a. Senyawa organik, yang dihasilkan oleh makhluk hidup (organisme)
b. Senyawa anorganik, yang dihasilkan oleh benda mati (kulit bumi atau udara)
Istilah organik dan anorganik ini diusulkan oleh Karl Wihem Scheele (1742 -1786) dari Swedia pada tahun 1780. Pada tahun 1807, Jons Jakob Berzelius(1779-1848) mengeluarkan teori bahwa senyawa-senyawa organik hanya dapat dibuat di dalam tubuh makhluk hidup dengan bantuan “daya hidup” (Vis Vitalisdalam bahasa Latin), sehingga senyawa organik tidak mungkin dapat dibuat dari senyawa anorganik di laboratorium. Oleh karena Berzelius dipandang sebagai ahli kimia terbesar pada saat itu, teorinya dianut oleh para ilmuwan lainnya tanpa ragu-ragu. Ternyata teori “daya hidup” itu tidak bertahan lama, dan akhirnya ditumbangkan oleh murid Berzelius sendiri, Friedrich Wohler (1800 -1882) dari Jerman. Pada tahun 1827, Wohler mereaksikan perak sianat dengan amonium klorida untuk membuat amonium sianat.
AgOCN + NH4CL à NH4OCN + AgCl(s)
Ketika Wohler menguapkan pelarut air untuk memperoleh kristal padat amonium sianat, ternyata pemanasan yang terlalu lama menyebabkan amonium sianat berubah menjadi urea !. NH4OCN à (NH2)2CO
Penemuan Wohler itu menggemparkan dunia ilmu kimia, sebab urea (senyawa organik) dapat dibuat dari amonium sianat (senyawa anorganik), atau sebagaimana bunyi surat Wohler kepada Berzelius tertanggal 22 Februari 1828 : “ Saya mampu membuat urea dalam tabung reaksi tanpa bantuan ginjal hewan atau manusia “.
Sejak saat itu banyak senyawa organik yang diproduksi di laboratorium, bahkan para ahli kimia mampu mensintesis senyawa-senyawa organik yang baru. ……. etc etc …. capek.
—————————————————————————————-
Demikian rekans, hari Kamis tanggal 22 Februari 2007 lusa, kita akan memperingati tepat 179 tahun yang lalu Wholer berkirim surat ke sang guru Berzelius.
“Saya mampu membuat urea dalam tabung reaksi tanpa bantuan ginjal hewan atau manusia “.

Semoga bermanfaat.

Ganggeng Kanyoet
Pas sekali Mr. Rcky Johanes dan Mr. Kusnaeni muncul di RCTI

Pak Henry Biantoro wrote:
Untuk melengkapi uraian Mas Ganggeng, URL dibawah ini menjelaskan senyawa organik dan anorganik versi Wikipedia.

http://en.wikipedia.org/wiki/Organic_compound

http://en.wikipedia.org/wiki/Inorganic_compound

Salam AI,
Henry Biantoro

Bu Tharie wrote:
Rekan-rekan…

Karena telah diulas panjang lebar oleh pak GK maupun pak Henry Biantoro, saya hanya dapat berkomentar melalui diagram terlampir.
Jelas bahwa tumbuhan tidak membutuhkan zat organik sebagai makanannya. Justru tumbuhan menyediakan zat organik sebagai makanan mahluk lain (notabene zat organik juga). Makanan tumbuhan berasal dan disediakan oleh udara, air, matahari dan tanah dalam bentuk zat anorganik.

Kesimpulan : tumbuhan tidak pernah makan zat organik

Kalaupun tetap mau dipaksakan agar nampak tumbuhan membutuhkan zat organik, itu adalah jazad renik (pengurai) yang “nampak membantu” alam dalam proses biodegradasi. Dalam proses ini, jasad renik akan mengeluarkan zat anorganik dari materi organik hingga dapat dimakan tumbuhan (itupun dalam porsi amat sangat kecil).

Agar sejalan dengan pak GK, disini saya ambil contoh urea {(NH2)2CO}. Sebagai zat organik, urea tidak dapat dimanfaatkan langsung oleh tumbuhan sebelum diuraikan terlebih dahulu oleh jasad renik. Oleh sebab itu agar efektip dalam pemakaiannya sebagai pupuk, harus melihat situasi dan kondisi apakah aktivitas jasad renik ditempat tersebut berlangsung secara optimum ?

Monggo.. sekarang giliran mbak Mona nambahin ………

Tharie Wie
Omahijo.com

Widuri

January 21, 2008 at 11:51 am | Posted in Widuri | Leave a comment

Widuri

WiduriWiduri

Nama : Widuri
Indukan : A . commutatum var tricolor x A Rotundum
Penyilang : Bpk. Greg Hambali
Tahun Release : 2000
Image Source : Bpk. Martin Tjia Jakarta Selatan
Asal Nama : terinspirasi oleh lagu lama yang berjudul Widuri yang dinyanyikan oleh Broery Marantika. Lagu tersebut menceritakan tentang seorang gadis yang cantik, secantik A. Widuri.

Deskripsi: – Secara keseluruhan helaian daunnya kekuningan karena bercak hijaunya sedikit. Ada juga yang spot hijaunya lebar lebar dan didominasi oleh warna pink. Jika diperhatikan, bagian tulang daun utama nampak merah menyala ciri khas A. rotundum. Bnetuk daun oval yang merupakan perpaduan bentuk kedua tetuanya. Permukaan daun agak cekung. Anakannya banyak sehingga mudah dibiakkan. [Sumber: Flona Serial: Aglaonema Silangan Greg Hambali]

Note: Aglao Widuri ini koleksi Bpk Krismanto, Tangerang yang menjadi Juara 1 Kelas Majemuk Kontes Aglaonema AI & Trubus 16 November 2008.

Red Dragon

January 21, 2008 at 11:47 am | Posted in Red Dragon | Leave a comment

Red Dragon

Red Dragon

Nama : Red Dragon
Image Source : Bpk. Henry Biantoro, Jakarta Selatan

Srikandi

January 21, 2008 at 11:44 am | Posted in Srikandi | Leave a comment

Srikandi

Srikandi

Nama : Srikandi
Indukan : A . commutatum var tricolor x A Rotundum
Penyilang : Bpk. Greg Hambali
Tahun Release : 2004
Image Source : Bpk. Henry Biantoro, Jakarta Selatan
Asal Nama : Merupakan aglaonema seri wayang (yang dinamai tokoh pewayangan). Srikandi diambil dari ksatria putri yang pandai memanah.

Deskripsi: – Tingginya sedang. Warna lembut, kombinasi pink dan oranye. [Sumber: Flona Serial: Aglaonema Silangan Greg Hambali]

Mengatasi Problem Busuk Akar

January 21, 2008 at 11:40 am | Posted in CARA BERTANAM DAN PERAWATAN | Leave a comment

Mengatasi Problem Busuk Akar

Tomo wrote:
Pak Gede numpang nyeletuk,
kalau di pemain besar saja tewas karena busuk akar, bagaimana dengan yang pemula kayak saya ini.
Apakah rekans pernah ada yang mengamati perilaku aglao sepanjag tahun, kaitannya dengan peruabahan suhu, musim, kecepatan pertumbuhan, kecepatan beranak dsb?

salam,
tomo

Pak Gede Sudarma wote:
Mas Tomo,
Problem utama hobbyst aglo pada umumnya adalah busuk akar karena ‘over-watering’, media tidak ‘steril’ serta kekhawatiran dari hobbyst kalau media kekeringan lalu aglonya mati dan kekurang-sabaran. Problem lain banyak, tapi relatif masih bisa diatasi. Nah, ‘over-watering’ ini disebabkan oleh kurang pengalamannya kita terhadap perubahan musim dan lingkungan dimana aglo tersebut berada serta penggunaan media yang kurang pas dengan cuaca. Bisa jadi untuk dilingkungan yang sama (katakanlah dirumah), antara ditempat teduh dan ditempat yang kena sinar, medianya sama sekali berbeda.
Contoh sederhana, penggunaan pakis (umumnya hobbyst selalu berpikiran bahwa akar pakis itu sangat porous). Media pakis, kalau ditempat yang kena sinar bisa jadi sangat cepat kering, tapi begitu di tempat teduh, lembab atau basahnya menjadi lama karena akar pakis lama ‘memegang’ air. Idealnya (ini pengamatan saya saja), apapun medianya dan dimanapun aglo ditempatkan, dalam waktu paling lama 2 hari media harus kering atau minimal lembab sedikit. Jadi semua petunjuk di buku-buku itu saya pikir sifatnya hanya ‘guidance’, petunjuk umum… yang selebihnya tergantung ‘improvisasi’ kita yang disesuaikan kondisi lingkungan dan cuaca kita dirumah. Kunci utamanya ‘MEDIA HARUS POROUS DAN CEPAT KERING’ (maaf menggunakan huruf besar, maksudnya biar agak jelas).
Media yang memberikan efek lekas kering (umumnya) sekam bakar, kompos batang bambu, cocopeat, arang. Kemudian campuran bahan lainnya bisa apa saja, tinggal disesuaikan komposisinya untuk memberikan efek diatas.

Maaf, agak panjang, rodo njelimet….. dan akhirnya gak jelas dan gak nyambung….

Salam,
Gede Sudarma

Pak Henry Biantoro wrote:
Menurut pengalaman saya (belum tentu yang paling benar):

v Komposisi media: Pakis cacah (2 bagian); Sekam Bakar (2 bagian); Pasir Malang (1 bagian) dan Kaliandra (1 bagian).
v Penyiraman 3 hari sekali (musim panas) atau 4 hari sekali (musim hujan).
v Pemupukan hanya setiap dua minggu, dengan pupuk daun yang disemprotkan keseluruh bagian daun (atas-bawah) dan media.
v Pestisida untuk pencegahan, setiap dua minggu secara bergantian antara fungisida dengan bakterisida, dicampur dengan pemupukan.

Ternyata sewaktu mengganti media setelah enam bulan (karena saya diberitahu kalau pakai kaliandra harus ganti media setiap enam bulan), sama sekali belum ada akar yang rusak. Menurut pengalaman saya, penggantian media tidak menyebabkan tanaman stress asalkan tidak ada atau tidak banyak akar yang terganggu atau rusak, juga setelah ganti media saya hanya siram media baru dengan fungisida campur bakterisida plus Vitamin B-1, setelah itu selama dua minggu pertama saya tidak memberi pupuk apapun.

Bli Gede benar sekali, banyak diantara kita yang tidak tega kalau melihat media yang bagian atas terlihat kering (termasuk saya sendiri). Tapi kita harus tega karena bagian dalamnya kalau kita bongkar masih lembab. Waktu pertemuan di TAIP, Pak Greg juga cerita kalau Pak Greg sudah mencoba untuk tidak menyiram satu pot Aglaonema selama 10 hari, ternyata tidak menyebabkan tanaman menjadi layu apalagi wafat.

Kesalahan umum yang kedua akibat nafsu kita untuk mempercepat pertumbuhan dan mendapatkan anakan adalah pemupukan yang berlebihan, sehingga dapat mengakibatkan daun layu/terbakar, daun keriting, dan kalau media terlalu asam maka akar akan sangat mudah terserang jamur alias busuk.

Demikian dari saya, semoga bermanfaat.

Salam AI,
Henry Biantoro

Mengatasi Daun Aglaonema Menguning

January 21, 2008 at 11:33 am | Posted in CARA BERTANAM DAN PERAWATAN | Leave a comment

Mengatasi Daun Menguning
oleh Bpk. Henry Biantoro

AMB and Aglaovers,

Menurut pengalaman saya, aglao tidak mengalami stress yang berarti walaupun kita bongkar total medianya, asalkan akarnya tidak banyak yang rusak.

Oleh karenanya, saya tidak pernah ragu-ragu untuk membongkar media aglao kalau ada kecurigaan-kecurigaan seperti daun tua melengkung kebawah, daun banyak yang menguning, daun baru tumbuhnya jauh lebih kecil dari daun yang sebelumnya (kecuali bila tumbuh bunga), tunas daun baru tidak muncul setiap 3 minggu sampai 5 minggu, dll.

Dalam kasus AMB, apabila daun banyak yang menguning serentak, kita perlu curiga terjadinya pembusukan batang bawah dan/atau akar. Jadi tidak ada salahnya kalau media dibongkar total untuk melihat kondisi dibawah permukaan. Lagipula kalau media sudah berumur 6 bulan atau lebih, sebaiknya media diganti dengan yang baru (repotting) untuk menyegarkan media yang mungkin sudah terlalu asam.

Apabila pembusukan batang dan/atau akar memang terjadi, saya lakukan langkah-langkah berikut ini:

v Batang dan akar yang rusak saya potong sampai bersih;

v bagian bawah tanaman saya cuci sampai bersih dengan kuas dan mengocok-kocoknya didalam ember berisi air bersih. Kalau akar masih banyak yang selamat, hati-hati untuk tidak merusak akar tersebut;

v saya bubuhi fungisida campur bakterisida secukupnya. Pembubuhan saya lakukan dengan mencampur fungisida + bakterisida dengan komposisi seimbang, lalu saya aduk sampai rata dengan sedikit air sehingga seperti pasta agak kental, lalu saya bubuhkan dengan kuas kecil pada batang dan akar yang bekas dipotong atau luka;

v setelah pasta campuran obat yang dibubuhkan kering, tanaman saya tanam kembali dengan media yang fresh; dan

v selama tiga sampai empat minggu pertama tanaman saya letakkan ditempat yang cukup sinar dan aliran udara, tapi tidak terekspose sinar matahari secara langsung.

Apabila tidak ada akar sehat yang tersisa tapi batang atas masih ada yang bisa diselamatkan:

v Saya kurangi daun bagian bawah dengan menyisakan beberapa lembar yang teratas saja;

v batang saya bubuhi dengan perangsang pertumbuhan akar (rootone atau yang sejenis);

v lalu batang saya tanam di media yang sudah disterilkan; dan

v kemudian tanaman disungkup selama 6 – 8 minggu sampai tumbuh tunas daun baru sebelum sungkup dibuka. Selama penyungkupan, tanaman diletakkan ditempat yang cukup terang tapi tidak terekspose sinar matahari secara langsung, dan tidak perlu disiram.

Dimusim penghujan seperti sekarang ini, saya menyiram aglao hanya setiap 4 hari sekali. Bahkan minggu lalu karena hujan dan mendung terus, aglao baru saya siram setelah hari keenam karena medianya masih terlihat lembab.

Demikian pengalaman saya, mudah-mudahan bermanfaat.

Salam AI,
Henry Biantoro

Rotundum

January 20, 2008 at 4:18 pm | Posted in Rotundum | Leave a comment

Rotundum

Rotundum

Nama : Rotundum
Image Source : Bpk. Faza Rosyada, Jakarta

« Previous PageNext Page »

Blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.