CARA BERTANAM DAN PERAWATAN


Kiat Hasilkan Aglaonema Juara

 

Oleh Bpk. Songgo dan Bpk. Wiwik

Parkir Timur Senayan, 27 Juni 2008

Diketik ulang sesuai aslinya

 

 

Lingkungan Tumbuh

 

Setelah mendapat bibit berkualitas, selanjutnya mencari lokasi tepat agar Srirejeki itu bisa tumbuh prima.  Bila ada ruang kosong dan sedikit dana, sebaiknya dibangun rumah plastik.  Tujuannya agar pemberian air terkontrol.  Artinya, tanaman hanya menerima air dari penyiraman.  Ditempat terbuka, turunnya hujan sulit dikontrol.  Akibatnya pada musim hujan, kelembaban disekitar tanaman menjadi lembab.  Akibatnya penyakit merajalela.  Tanaman kesayanganpun menjadi sasaran serangan.  Di tempat ternaung, kelembaban terkontrol sehingga mengurangi keberadaan atau akibat serangan penyakit.  Selain itu, titik hujan juga bisa membuat daun merunduk bahkan daun jadi sobek atau patah.  Pemakaian jaring peneduh, hanya sekedar mengurangi intensitas sinar matahari sehingga menjadi teduh.  Namun tidak bisa mengurangi terpaan air hujan.  Namun bila keterbatasan dana, cukup banyak pecinta yang meletakkan koleksi aglao ditempat terbuka.  Tanamannya pun tetap tumbuh dengan baik.  Tentu saja ada persyaratan yang harus dipenuhi.  Pot mempunyai banyak lubang agar sirkulasi udara dan air berlangsung lancar.  Kalau tidak, koleksi bakal sulit tumbuh prima karena dihadang penyakit.

 

Pencahayaan perlu diperhatikan.  Aglaonema merupakan tanaman daun yang anti pada sinar matahari langsung.  Kebutuhan cahaya minim, hanya maksimum 40 %.  Bila lebih, daun akan keriput, pudar, daun terbakar, hingga akhirnya mati.  Untuk mengatasi bisa dipakai net untuk meneduhkan.  Biasanya yang tersedia dipasaran hanya 55 %, 65 % dan 75 %.  Namun dengan naungan seperti itu, pada musim panas, tetap belum memadai.  Sehingga pada umumnya pekebun memasang 2 rangkap.  Ada pula yang memasang net 90 % karena lebih teduh sehingga tidak harus memasang dobel.  Paranet khusus ini biasanya digunakan oleh petambak udang.

 

Di areal itu, maka idealnya sinar matahari berkisar 28°C - 30°C.  Bila suhu lebih dari itu, biasanya diatasi dengan melakukan penyiraman.  Idealnya tanaman menerima sinar matahari secara merata.  Bila hanya satu sisi yang menerima sinar, maka arah tumbuh daun tidak seragam.  Daun yang berada atau muncul di bagian yang kurang cahaya akan tumbuh lebih tinggi ketimbang yang menerima sinar lebih banyak.  Arah daunpun hanya satu arah, sehingga sosok tanaman tidak kompak.  Kalaupun keterbatasan tempat menjadi penyebab, maka pemilik harus sering melakukan pemutaran tanaman agar bisa tumbuh kompak.  Tinggi naungan 3 -4 m dari permukaan tanah.

 

Kelembaban diharapkan rendah, atau berkisar 30 % - 60 %.  Untuk mendapatkan kelembaban ideal itu, ada beberapa hobiis yang melengkapi rumah plastik dengan kipas angin.  Tujuannya agar sirkulasi udara berjalan dengan baik.  Demikian pula dengan titik air diudara sehingga kelembaban jadi rendah.  Penyakitpun diharapkan enyah ‘tertiup’.

 

Namun ternyata, kipas angin yang terus menerus aktif membuat tanaman dan medianya kekeringan.  Agar tanaman tidak mengalami kekeringan maka dilakukan penyiraman lebih sering.  Kalau kelamaan atau keseringan menerima udara panas, maka pada pinggir dan ujung daun jadi cokelat.

 

 

Media

 

Setelah mendapatkan bibit dan lokasi atau rumah yang tepat, pemilik segera mempersiapkan media tanam.  Ada berbagai bahan yang bisa dipilih.  Misalnya sekam bakar, cacahan pakis oven, humus kaliandra, pasir Malang dan coco-peat.  Bahan lainpun bisa dipakai, bila lebih mudah diperoleh.  Bahan-bahan itu kemudian dicampur.  Komposisi masing-masing bahan biasanya dibuat berdasarkan lingkungan.  Bila agak lembab, maka komponen yang bersifat porous dipakai lebih banyak.  Sedangkan bila daerah kering, ditambahkan bahan yang menyerap air bisa lebih banyak.  Salah satu komposisi yang bisa dipakai, yaitu dengan perbandingan 1:1:1:1:1. Artinya setiap bahan perbandingannya sama.

 

Namun sebelum mencampur, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, terutama untuk bahan kaliandra dan coco-peat.  Kedua bahan itu direndam 2 – 4 minggu.  Air yang digunakan diberi fungisida, atau sedikit dolomite.  Setelah diaduk, media direndam.  Bila digunakan 2 – 4 minggu kemudian, bahan itu diangkat lalu dibilas hingga bebas dari fungisida.  Setelah ditiriskan, media siap dicampur.  Bahan lain bisa langsung dipakai.  Tambahkan sedikit zeolit yang membantu porositas.  Campuran media itupun siap dipakai.

 

Pilih wadah atau pot yang seukuran dengan bola akar.  Pemilihan juga didasari oleh sifat tanaman.  Untuk jenis bongsor, gunakan pot lebih besar karena potensi bola akar yang dihasilkan besar.  Contohnya Widuri dan Hot Lady.  Sedangkan Legacy atau Lipstick bisa menggunakan pot kecil karena bola akar juga kecil.  Wadah itu kemudian dilubangi agar sirkulasi air dan udara lancar.  Tidak ada patokan khusus baik jumlah atau ukuran. Pada pot besar, dibuat lubang besar dan banyak.  Bila sebelumnya hanya 3 - 6 buah lubang, maka perlu dibuat 10 – 15 lubang.  Sebagian didasar pot sebagian didinding pot.  Dengan lubang lebih banyak, sehingga meski sering disiram, tidak akan membahayakan tanaman.

 

Untuk menanam, pot diisi dengan media hingga sepertiga bagian.  Tidak perlu memasukkan Styrofoam sebab berpotensi merusak akar saat ditembus.  Masukkan batang di media dan timbun.  Setelah itu ditimbun lagi hingga 1/3 bagian.  Lalu masukkan pupuk slow release (maksudnya setelah pot terisi 2/3 bagian).  Pupuk ini merupakan sumber hara utama tanaman.

 

 

Pemupukan

 

Meski telah disediakan cadangan hara dari pupuk lambat urai dan humus kaliandra, tetapi, sebaiknya tanaman tetap diberikan asupan tambahan.  Bisa dipilih pupuk kimia yang diberikan lewat akar atau daun.  Frekuensi pemberian bisa dilakukan per 2 hari atau per 2 minggu.  Dosis pemakaian 2 hari yaitu 1/5 dosis anjuran.  Sedangkan yang diberikan per 2-4 minggu, dosisnya sesuai anjuran.

 

Sebenarnya bila diberikan per 2 hari, mempunyai resiko tanaman cepat jenuh.  Biasanya ditandai dengan munculnya tepung-tepung putih dipinggir daun.  Bila itu terjadi, sebaiknya daun disemprot sehingga tepung itu hilang.  Sebaiknya akar juga harus dimanfaatkan menyerap hara dengan memberikan larutan pupuk lewat tanah dengan mengocor.  Gunakan beberapa pupuk secara bergantian.  Selain pupuk juga diberikan fungisida dan bakterisida.  Contoh larutan Super Thrive + Growmore + Baktosin.  Ulangi setiap bulan.

 

Pada lingkungan kering serangan hama dan penyakit relatif kurang.  Namun, ada saja penyakit yang biasa menyerang, terutama mealy bug dan kutu putih.  Binatang-binatang itu cukup lihai dengan memanfaatkan saluran pelepah daun untuk bersembunyi.  Agar pestisida yang diberikan efektif, maka kocor racun itu dari atas, dengan demikian, sela-sela daun juga diisi racun sehingga musuh tanaman itu ‘enyah’.

 

 

Penyiraman

 

Aglaonema sebenarnya tanaman yang suka air.  Jadi penyiraman bisa dilakukan pagi – sore hari, bahkan pada siang bolong pun bisa disiram untuk menurunkan suhu.  Selain media dibuat porous, bagian yang disiram pun hanya daun.  Pengguyuran media atau tanaman dilakukan hanya bila media amat kering.  Biasanya dilakukan setiap 5 – 7 hari, tergantung kondisi media.  Biasanya, pemberian air secara tepat dapat merangsang agar daun tumbuh optimal sesuai dengan potensi genetiknya.

 

 

Penggantian Pot

 

Pohon besar yang (mungkin maksudnya ‘jangan’) terlalu sering dibongkar karena riskan putus akar.  Bahkan bila hanya akan memisahkan anak, tidak perlu membongkar tanaman, tetapi dengan menggali sehingga bagian yang akan dipotong.  Tujuan utama pengantian pot agar akar leluasa bergerak.  Biasanya dilakukan karena bola akar sudah padat.  Media yang padat menghalangi pembentukan anakan.  Selain mengganti pot, biasanya diiringi dengan memisahkan anakan. Dan mengganti media baru.  Proses ini dilakukan setiap 6 – 12 bulan, tergantung kondisi tanaman.  Media yang digunakan sama dengan sebelumnya, hanya lebih baru.  Biasanya, media itu dibuat membumbung.  Tujuannya merangsang pembentukan akar.  Bila batang atau pangkal batang dipenuhi akar, memudahkan untuk perbanyakan lewat stek.  Sebab stek batang itu mudah dan cepat membentuk tunas karena mempunyai kemampuan menyerap hara.  Namun ada batasan kedalaman, yaitu maksimal 8 ruas, terdiri dari 4 ruas tanpa daun dan 4 ruas dengan daun.

 

 

 

Perbanyakan

 

Ada beberapa teknik perbanyakan Aglaonema.  Diantaranya lewat pemisahan anakan. Stek dan cangkok.  Perbanyakan dengan stek ada beberapa cara.  Ada cara memotong dengan 1 ruas atau lebih.  Perbanyakan cara ini dianggap paling riskan karena gampang mati.  Namun, dengan mengikuti kiat berikut, semoga bisa berhasil.

 

 

 

Pohon sehat – Siapkan indukan yang sehat, minimal memiliki 15 daun dan sehat.  Indukan yang sakit akan mengakibatkan tingkat keberhasilan lebih rendah.

 

Peralatan Yang Dibutuhkan – Siapkan peralatan pisau, fungisida, pot dan media untuk perbanyakan.

 

Korek Lubang – Korek media untuk menentukan tempat memotong.

 

Potong Batang – Potong batang dengan menyisakan 1-2 lembar daun untuk bonggol.

 

Hasil Pemotongan – Hasil pemotongan menyisakan bahan yang masih panjang.

 

Olesi Fungisida – Olesi luka di bonggol dan sisa potongan agar bebas dari busuk.

 

Potong Sisa Potongan – Potong lagi sisa potongan itu menjasi beberapa bagian dengan memotong 1 – 2 ruas.

 

Hasil Cacah – Dari 1 pohon diperoleh 8 bibit baru.

 

Tanam di Pot Kecil – Bibit langsung ditanam di pot kecil.

 

Siram Air Bersih – Siram dengan air agar lembab.

 

Satu Bulan Bertunas – Bibit diletakkan ditempat aman, dan bertunas 1 bulan kemudian.  Anakan itu bisa dipisahkan 2 – 3 bulan kemudian,  Saat itu akar sudah cukup banyak.  Setelah ditanam, diperoleh individu baru lagi.

 

 

 

Persiapan Kontes

 

Untuk persiapan kontes, perlu persiapan beberapa bulan sebelumnya.  Bahkan bisa sampai 1 tahun.  Dimulai dengan melakukan pengaturan anakan agar kelak tumbuh rimbun.  Proses itu dilakukan sekaligus untuk mengganti pot dan media.  Anakan yang tidak tumbuh merata pada sisi tertentu diarahkan sehingga mengelilingi induk.  Biasanya anakan itu muncul sesuai dengan arah daun yang melingkar seperti spiral.  Setelah besar, sosok keseluruhan jadi kompak.  Daun-daun yang tertekuk karena banyaknya daun diarahkan agar lurus.  Bila perawatan diatas diterapkan, tanaman akan tumbuh optimal.  Sehari sebelum hari H, daun dan batang dibersihkan dari kotoran yang mungkin melekat.  Tanaman disemprot dengan Vit B1 untuk memperkuat ketahanan.

 

Masalah Air untuk Aglaonema

Pak Syamsul wrote:

Rekan aglaover yang terhormat.
Saya seorang pemula, dan ada permasalahan dengan air tanah dirumah yang setelah dites dilab ternyata banyak mengandung lumpur dan zat besi, maklum dulunya bekas empang. Apakah dampak yang akan timbul dari air tersebut terhadap aglao yang saya miliki??
Kemudian kalau saya pakai air PAM baguskah buat aglao yang saya miliki? (katanya juga banyak mengandung kaporit).
Saya sangat membutuhkan pencerahan dari rekan2 sekalian.
Terimakasih sebelumnya.

Salam
Syamsul

Pak Fennani Arfan wrote:

Pak Samsul Hadi yth

Memang salah satu kendala bertanam di perumahan adalah air pak.
sepengetahuan saya kalau air tanah mengandung lumpur dan besi biasanya bersifat asam (Ph nya kurang dari 7). untuk aglao maunya normal (Ph = 7).
Air PAM mengandung kaporit yang tidak baik untuk aglao karena merupakan racun.
 Bagaimana jalan keluarnya? Saran, ini saran pak mungkin ada teman yang lain yang punya pengalaman lain,

1. Air PAM kalau mau digunakan untuk nyiran aglao sebainya diberi zat panghilang kaporit (banyak dijual ditoko ikan hias).
2. Air PAM bisa juga di aerasi dulu selama 24 jam, baru di gunakan
3. Air tanah bisa juga di aerasi selama 24 jam lalu didiamkan dan disaring, baru digunakan untuk nyiram aglao.

Mungkin ini dulu pak share dari saya, bagai mana rekan-rekan yang lain yang punya pengalaman dengan air, mohon pencerahannya.

salam AG
Fennani Arpan

Pak Zainuddin Siregar wrote:

Memang belum pernah coba nih air yang mengandung besi (teringat daerah sungai besi di kuala lumpur .. Di daerah itu banyak peninggalan danau2 bekas tambang biji besi.. saya yakin kandungan besi cukup tinggi di situ.. pernah lihat program pemerintah disini tentang penanaman sayur2an sistem hidroponik menggunakan air danau dan ditanam di rakit di atas danau bekas lumbong (tambang) besi itu.. hasilnya tanaman sayur2 subur.. kalau ingat ini, kayaknya ga terlalu masalah buat aglao… kalau khawatir sih coba dulu ke aglaonema biasa (ijo royo2)..

Air Pam, saya termasuk yg menggunakan air pam langsung untuk nyiram, semprot, dll.. karena memang ga punya sumur..paling sesekali pakai air hujan yang ditampung.. Sepertinya ga masalah.. tapi mungkin ini tergantung kadar kaporit di masing2 tempat…

salam

zai

Pak Andri Minggon wrote:

sapa tau aja bisa meningkatkan kualitas pertumbuhan aglo dan menambah subur, bisa2 bikin mutasi. hihihi………..

Pak Gede Sudarma wrote:

Sekedar menambahkan… (berdasarkan pengalaman piara ikan akuarium), untuk menghilangkan kaporit (senyawa Cholrida) bisa dilakukan dengan menyaring air PAM dengan serbuk carbon aktif (dijual ditoko akuarium sudah di pak dalam kantong saringan) atau dengan batu zeolit (atau batu kapur) yang sudah di hancurin kecil-kecil, juga bisa diperoleh ditoko sejenis.
Cara yang paling sederhana adalah dengan membiarkan air PAM di tempat penampungan terbuka selama 2-3 hari, untuk menguapkan gas chlorine-nya (Cl2), cuman hati-hati bisa jadi sarang nyamuk.
Kenapa nggak dicobakan saja ke aglo yang kelas murah, yang hijau, siapa tahu bisa mutasi merah… ’setiap daerah membawa rejeki tersendiri’.

Salam,
Gede Sudarma

Mengatasi Problem Busuk Akar

Tomo wrote:
Pak Gede numpang nyeletuk,
kalau di pemain besar saja tewas karena busuk akar, bagaimana dengan yang pemula kayak saya ini.
Apakah rekans pernah ada yang mengamati perilaku aglao sepanjag tahun, kaitannya dengan peruabahan suhu, musim, kecepatan pertumbuhan, kecepatan beranak dsb?

salam,
tomo

Pak Gede Sudarma wote:
Mas Tomo,
Problem utama hobbyst aglo pada umumnya adalah busuk akar karena ‘over-watering’, media tidak ’steril’ serta kekhawatiran dari hobbyst kalau media kekeringan lalu aglonya mati dan kekurang-sabaran. Problem lain banyak, tapi relatif masih bisa diatasi. Nah, ‘over-watering’ ini disebabkan oleh kurang pengalamannya kita terhadap perubahan musim dan lingkungan dimana aglo tersebut berada serta penggunaan media yang kurang pas dengan cuaca. Bisa jadi untuk dilingkungan yang sama (katakanlah dirumah), antara ditempat teduh dan ditempat yang kena sinar, medianya sama sekali berbeda.
Contoh sederhana, penggunaan pakis (umumnya hobbyst selalu berpikiran bahwa akar pakis itu sangat porous). Media pakis, kalau ditempat yang kena sinar bisa jadi sangat cepat kering, tapi begitu di tempat teduh, lembab atau basahnya menjadi lama karena akar pakis lama ‘memegang’ air. Idealnya (ini pengamatan saya saja), apapun medianya dan dimanapun aglo ditempatkan, dalam waktu paling lama 2 hari media harus kering atau minimal lembab sedikit. Jadi semua petunjuk di buku-buku itu saya pikir sifatnya hanya ‘guidance’, petunjuk umum… yang selebihnya tergantung ‘improvisasi’ kita yang disesuaikan kondisi lingkungan dan cuaca kita dirumah. Kunci utamanya ‘MEDIA HARUS POROUS DAN CEPAT KERING’ (maaf menggunakan huruf besar, maksudnya biar agak jelas).
Media yang memberikan efek lekas kering (umumnya) sekam bakar, kompos batang bambu, cocopeat, arang. Kemudian campuran bahan lainnya bisa apa saja, tinggal disesuaikan komposisinya untuk memberikan efek diatas.

Maaf, agak panjang, rodo njelimet….. dan akhirnya gak jelas dan gak nyambung….

Salam,
Gede Sudarma

Pak Henry Biantoro wrote:
Menurut pengalaman saya (belum tentu yang paling benar):

v Komposisi media: Pakis cacah (2 bagian); Sekam Bakar (2 bagian); Pasir Malang (1 bagian) dan Kaliandra (1 bagian).
v Penyiraman 3 hari sekali (musim panas) atau 4 hari sekali (musim hujan).
v Pemupukan hanya setiap dua minggu, dengan pupuk daun yang disemprotkan keseluruh bagian daun (atas-bawah) dan media.
v Pestisida untuk pencegahan, setiap dua minggu secara bergantian antara fungisida dengan bakterisida, dicampur dengan pemupukan.

Ternyata sewaktu mengganti media setelah enam bulan (karena saya diberitahu kalau pakai kaliandra harus ganti media setiap enam bulan), sama sekali belum ada akar yang rusak. Menurut pengalaman saya, penggantian media tidak menyebabkan tanaman stress asalkan tidak ada atau tidak banyak akar yang terganggu atau rusak, juga setelah ganti media saya hanya siram media baru dengan fungisida campur bakterisida plus Vitamin B-1, setelah itu selama dua minggu pertama saya tidak memberi pupuk apapun.

Bli Gede benar sekali, banyak diantara kita yang tidak tega kalau melihat media yang bagian atas terlihat kering (termasuk saya sendiri). Tapi kita harus tega karena bagian dalamnya kalau kita bongkar masih lembab. Waktu pertemuan di TAIP, Pak Greg juga cerita kalau Pak Greg sudah mencoba untuk tidak menyiram satu pot Aglaonema selama 10 hari, ternyata tidak menyebabkan tanaman menjadi layu apalagi wafat.

Kesalahan umum yang kedua akibat nafsu kita untuk mempercepat pertumbuhan dan mendapatkan anakan adalah pemupukan yang berlebihan, sehingga dapat mengakibatkan daun layu/terbakar, daun keriting, dan kalau media terlalu asam maka akar akan sangat mudah terserang jamur alias busuk.

Demikian dari saya, semoga bermanfaat.

Salam AI,
Henry Biantoro

Mengatasi Daun Menguning
oleh Bpk. Henry Biantoro

AMB and Aglaovers,

Menurut pengalaman saya, aglao tidak mengalami stress yang berarti walaupun kita bongkar total medianya, asalkan akarnya tidak banyak yang rusak.

Oleh karenanya, saya tidak pernah ragu-ragu untuk membongkar media aglao kalau ada kecurigaan-kecurigaan seperti daun tua melengkung kebawah, daun banyak yang menguning, daun baru tumbuhnya jauh lebih kecil dari daun yang sebelumnya (kecuali bila tumbuh bunga), tunas daun baru tidak muncul setiap 3 minggu sampai 5 minggu, dll.

Dalam kasus AMB, apabila daun banyak yang menguning serentak, kita perlu curiga terjadinya pembusukan batang bawah dan/atau akar. Jadi tidak ada salahnya kalau media dibongkar total untuk melihat kondisi dibawah permukaan. Lagipula kalau media sudah berumur 6 bulan atau lebih, sebaiknya media diganti dengan yang baru (repotting) untuk menyegarkan media yang mungkin sudah terlalu asam.

Apabila pembusukan batang dan/atau akar memang terjadi, saya lakukan langkah-langkah berikut ini:

v Batang dan akar yang rusak saya potong sampai bersih;

v bagian bawah tanaman saya cuci sampai bersih dengan kuas dan mengocok-kocoknya didalam ember berisi air bersih. Kalau akar masih banyak yang selamat, hati-hati untuk tidak merusak akar tersebut;

v saya bubuhi fungisida campur bakterisida secukupnya. Pembubuhan saya lakukan dengan mencampur fungisida + bakterisida dengan komposisi seimbang, lalu saya aduk sampai rata dengan sedikit air sehingga seperti pasta agak kental, lalu saya bubuhkan dengan kuas kecil pada batang dan akar yang bekas dipotong atau luka;

v setelah pasta campuran obat yang dibubuhkan kering, tanaman saya tanam kembali dengan media yang fresh; dan

v selama tiga sampai empat minggu pertama tanaman saya letakkan ditempat yang cukup sinar dan aliran udara, tapi tidak terekspose sinar matahari secara langsung.

Apabila tidak ada akar sehat yang tersisa tapi batang atas masih ada yang bisa diselamatkan:

v Saya kurangi daun bagian bawah dengan menyisakan beberapa lembar yang teratas saja;

v batang saya bubuhi dengan perangsang pertumbuhan akar (rootone atau yang sejenis);

v lalu batang saya tanam di media yang sudah disterilkan; dan

v kemudian tanaman disungkup selama 6 – 8 minggu sampai tumbuh tunas daun baru sebelum sungkup dibuka. Selama penyungkupan, tanaman diletakkan ditempat yang cukup terang tapi tidak terekspose sinar matahari secara langsung, dan tidak perlu disiram.

Dimusim penghujan seperti sekarang ini, saya menyiram aglao hanya setiap 4 hari sekali. Bahkan minggu lalu karena hujan dan mendung terus, aglao baru saya siram setelah hari keenam karena medianya masih terlihat lembab.

Demikian pengalaman saya, mudah-mudahan bermanfaat.

Salam AI,
Henry Biantoro

Daun Aglaonema Mengecil
oleh : Bpk. Henry Biantoro

Seperti sudah diperiksa oleh Bung Oedik, pengecilan daun dapat disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya busuk akar atau tumbuhnya bunga.

Satu lagi yang mungkin terjadi dan jarang terdeteksi kecuali kalau sudah terlambat adalah busuk batang dari dalam. Biasanya kita tahu hal tersebut terjadi setelah batang patah dan dalamnya sudah bolong membusuk. Mudah-mudahan bukan demikian Bung Oedik.

Salam AI,
HenryBiantoro

Penyebab tangkai daun memanjang
oleh Bpk. Henry Biantoro

Tangkai daun memanjang disebabkan karena kurangnya sinar matahari. Semua tanaman kalau kurang sinar matahari yang cukup untuk jenis masing-masing pasti akan memanjang tangkai daun dan batangnya.

Tangkai daun dan batang yang sudah terlanjur memanjang tidak akan bisa dikoreksi, yang akan tumbuh kemudian bisa dikoreksi dengan memberikan sinar matahari secukupnya, dalam hal aglaonema, sekitar 35-40%.

Alat pengukurnya [ mengukur kebutuhan cahaya dengan pasti bukan kira2 - red] ada, tapi saya tidak memakai jadi tidak bisa cerita lebih jauh. Saya hanya mengira-ira saja, awalnya memakai shading net 65 %, tapi kelihatannya masih terlalu panas. Akhirnya saya rangkap 2 dengan sedikit jarak diantara keduanya, kelihatannya cocok. Tapi ini bukan jaminan karena tergantung didaerah dimana kita meletakkan tanaman. Di lokasi saya, tanaman bisa mendapat sinar hampir sepanjang hari.

Salam AI,
Henry Biantoro

Perawatan Aglaonema
oleh Ibu Dewi MD, Ungaran

Salam Kenal Ibu Russy
 
Perkenankan saya dengan pengetahuan saya yang terbatas ini memberi masukan yang semoga berguna buat Ibu.
Saya dulu juga merasakan hal yang sama, menunggu2 kok ga muncul2 anakan dari aglo saya.
Padahal sudah ada lebih dari 10 daun. Terlebih lagi setelah membandingkan di nursery2 tempat saya membeli aglo, baru 8 daun bahkan 5 daun sudah ada yang “beranak”. Sempat jengkel tapi saya tetap sabar dan merawat aglo2 saya dengan memberi mereka:
1. Media dengan komposisi = aramg sekam:pakis:pupuk organik=2:2:1
2. Pupuk Slow release (Dekastar)
3. Pupuk Daun 10 hari sekali
4. Vitamin B1 3 hari sekali
5. Hormon sitokinin 10 hari sekali
6. Menyiram 2-3 hari sekali (mengecek lebih dulu kelembaban media, dg cara memasukkan jari ke dalam media, jika masih ada sekam yang menempel berarti masih lembab dan tidak usah disiram dulu; = meniru resep dari rekan milis kita juga=)
     Saya kemudian bandingkan dengan yang di nursery2 tadi, saya yakin aglo saya lebih bagus, ceilee PD banget ya…(ga apa2 daripada minder) Aglo saya lebih kompak daunnya. Walaupun lebih butuh waktu lama, kemudian muncul anakan yang lumayan banyak; min 5 anakan lho…
     Kemudian saya menganalisa mungkin nursery tsb. memang sengaja mengusahakan agar cepat muncul anakan saja, jadi tidak membuat daunnya tetap kompak tetapi membiarkannya “tumbuh apa adanya” karena (setelah saya tanyakan kepada mereka mengapa begitu) berdasarkan pengalaman mereka, indukan yang sosoknya tidak bagus (karena banyak daun yang menguning dan tanggal) itulah yang menghasilkan anakan yang lebih cepat.(prinsip tanaman: jika tunas aksiler/tunas pucuk dipotong/dihambat pertumbuhannya maka akan tumbuh tunas adventif / tunas samping
=mohon koreksi dari rekan2 milis, jika keliru=)
     Tetapi saya punya prinsip, saya akan merawat aglo2 saya dengan maksimal, nanti suatu saat pasti akan “beranak”.  Walaupun menunggu lebih lama tetapi hasilnya memuaskan. Soalnya dengan daun yang besar dan banyak serta dengan akar yang lebat maka nutrisi akan lebih banyak terserap. Saya lampirkan foto salah satu aglo saya yang “beranak” banyak.
Demikian pengalaman saya semoga bermanfaat ya… dan selamat bereksperimen..
 
 
Salam hangat
 
Dewi MD- Ungaran

Luwailayan Anakan Luwailayan

Menyungkup Aglao
oleh Bpk. Gede Sudarma

Mungkin itu sebabnya orang bijak mengatakan “never too old to learn something”, “belajar sampai tua”, dll.
Bonggol busuk adalah masa lalu (mudah-mudahan), nggak ada yang bisa diambil kecuali pelajaran darinya, hikmahnya. Kalau diibaratkan kita ini wayang, sudah ada dalangnya yang menggerakkan tangan kita, kaki kita, apa yang harus kita lalui, kemana kita pergi… sudah diatur didalam ’skenario’.

Tentang aglo yang lagi sungkupan, mungkin Pak Henry bisa coba resep saya. Saya dapet resep ini berdasarkan masukan dari banyak orang. Bahwa tanaman (sebagian besar) itu sudah kodratnya hidup di tanah, dengan kata lain medianya harus mengandung tanah… kalau saya lalu menyebutnya ‘modified soil’.
Saya dirumah pakai media bekas (pakis halus, sekam bakar, kaliandra) yang masih baru (belum lama), lalu saya campur tanah antara 50-70% (sampai kelihatan dominan tanah). Dicampur merata lalu dipakai untuk menanam pucuk tanpa akar. Media dipadatkan dengan menepuk-nepuk potnya dan ditekan sedikit permukaannya. Nyiramnya hanya dikabutin saja permukaan medianya. Tadinya saya agak ragu, tapi beberapa pucuk aglo Thai murahan yang saya aplikasikan hasilnya luar biasa. Lalu saya aplikasikan untuk pucuk Tiara, HL, Dolores yang bonggolnya (awalnya) busuk. Lumayan, dalam waktu 3 minggu begitu saya bongkar, akarnya banyak dan sudah 1cm-an. Melihat akar tumbuh sehat dan banyak rasanya sama seperti melihat tunas muncul dari media. Kalau di ibaratkan seorang bayi yang disusui ibu pertiwi, lebih sehat…
Yang penting jangan sampai disiram basah banget.

Mudah-mudahan ada hasilnya… sekalian verifikasi pengalaman saya…

Salam,
Gede Sudarma

Menangani Aglao Bermasalah
oleh Bpk. Gede Sudarma

Sekedar sharing sama kawan-kawan hobbyst agar jangan sampai aglonya mati (terutama bagi yang pemula). Berdasarkan pengalaman saya merawat aglo bahwa ada beberapa tanda kalau aglo sedang bermasalah… (mulai dari yang paling ringan)
- Corak daun ada yang bermutasi atau nge-blok warna hijau, tandanya ada sedikit akar yang bermasalah
- Daun terakhir tumbuh mengecil, tandanya ada sekitar 50% akar bermasalah, terlepas dari tumbuhnya bunga atau baru potong bonggol
- Pucuk stagnan dan daun terbawah menguning atau ‘njeglek’, tandanya semua akar dan kemungkinan sebagian bonggol bermasalah
- dan ada beberapa kasus yang tergolong berat, misal: tanaman kelihatan sehat, nggak kelihatan tanda-tanda seperti diatas tapi tiba-tiba jatuh, batang seperti bubur. Atau seluruh daun mengering dari bagian luar ke arah dalam lalu aglonya mati. Yang paling parah adalah aglonya lenyap tanpa bekas (sak pot-potnya)… umumnya yang begini ini udah nggak bisa diselamatkan sama sekali.

Tiga masalah diatas umumnya disebabkan oleh ‘over-watering’, media yang sudah terkontaminasi, bibit aglo yang sudah sakit sejak beli atau penanganan yang terlalu berlebihan. Umumnya kalau aglo sehat, media baru dan ’steril’ / bersih, penanaman awal dengan media kering, disiram dengan air sampai mampat (kemudian baru disiram lagi setelah kering), aglonya akan tumbuh sehat dan normal (jadi jangan takut untuk menyiram).

Cara menanganinya pasca bermasalah adalah dengan membuang semua bagian yang busuk (kelihatan berwarna coklat) sampai benar-benar tidak ada lagi yang berwarna coklat (sekalipun kadang harus membuang beberapa daun dan hanya menyisakan batang muda), obati bekas potongan dengan anti jamur (atau betadine + kapur sirih / jambe), kering anginkan, lalu ditanam dengan media kering / sedikit lembab, jangan disiram / hanya dikabutin permukaan medianya, daunnya diikat untuk mengurangi penguapan, lalu taruh ditempat teduh (bagusnya disungkup seperti teori pak Moes).

Yang tidak disungkup, dikabutin media dan daunnya dengan B1 + Atonik (beberapa tetes saja) setiap 3 hari sekali (atau kalau media nampak kering). Yang disungkup umumnya seminggu sekali sungkup dibuka lalu media dan daunnya dikabutin, masukkan kembali dalam sungkup kalau daunnya sudah kering. Baik yang disungkup atau tidak, dua-duanya ada kemungkinan beberapa daun terbawah layu dan mengering / busuk. Yang tidak disungkup umumnya kering, yang disungkup umumnya busuk. Semuanya tergantung kecepatan tumbuhnya akar (ini dipengaruhi oleh kesehatan tanaman dan tua-mudanya bonggol).

Juga dari pengalaman… ada saatnya saya menanam aglo dengan media kering atau lembab tanpa disiram (baru disiram sehari / dua hari setelah penanaman dengan cara pengabutan permukaan media), ada juga penanaman dengan media kering tanpa disiram sampai sebulanan, hanya dikabut-kabutin permukaan medianya (umumnya bonggol yang baru ditanam)… Mudah-mudahan ada gunanya untuk menghindarkan aglo dari kematian.

Salam,
Gede Sudarma

Mengkilapkan Daun ala Bpk. Henry Biantoro
oleh Bpk. Henry Biantoro

Wah, wah, wah, saya bukan ahli apalagi mestro lho Jeng dan Mas.  Sudah sering saya katakan bahwa saya hanya bandel dan pakai metode saya sendiri, kalau hasilnya bagus saya gak bisa jawab kenapa. 

Untuk mengkilpakan daun, saya diajari oleh Mas Gatot untuk diseka (di lap secara merata) pakai larutan baby shampoo yang ringan (1 sendok teh per liter air) dengan menggunakan spon halus (seperti spon untuk bedak wanita).  Saya sudah coba dan hasilnya bagus serta tidak meninggalkan efek samping. 

Bedanya adalah: 

v       Kalau pakai baby shampoo, kesan glossy yang didapat adalah alamiah karena pada dasarnya daun aglaonema memang sedikit mengkilat.  Sebelum diseka kesan tersebut tidak/kurang nampak karena tertutup kotoran, pupuk daun  dan pestisida yang sering kita semprotkan.

v       Kalau pakai ampas kelapa, baby oil atau minyak pengkilap daun, kesan glossy nya didapat karena cairan tersebut memang mengkilat, sehingga tidak natural dan menurut saya malah nDeso (bukan kaya Thukul).  

Demikian pendapat saya Jeng dan Mas.  Mudah-mudahan bermanfaat.

Salam AI,

Henry Biantoro