Organik Vs Anorganik – Penyerapan Hara

August 13, 2008 at 3:05 pm | Posted in PEMUPUKAN DAN ZPT | 3 Comments
Tags: ,

Organik Vs Anorganik – Penyerapan Hara
oleh Bpk. Ganggeng Kanyoet, Yogya

Kecuali unsur C, H, dan O, unsur mineral diperoleh tanaman dari tanah/media tanam dengan keterangan sbb. :
1. Ditinjau dari fungsi dan manfaat, unsur hara diserap tanaman digunakan sebagai, pembangun struktur dasar (C,H, dan O); penyimpan energi dan transfer ikatan energi (N, S, P,); Keseimbangan muatan listrik (K, Ca, Mg); Aktivasi enzim dan transpor elektron (Fe, Mn, Zn, B, Cu, Mo)
2. Unsur hara larut dalam larutan tanah dan akan diserap tanaman dalam bentuk ion positip (kation) dan atau ion negatip (anion). Unsur N diserap sebagai kation (NH4+) atau anion (NO3-). Unsur P diserap sebagai anion (H2PO4- ) atau (HPO42-), unsur K diserap dalam bentuk kation K+, etc, etc.
3. Kontak antara akar dengan larutan tanah merupakan syarat utama proses penyerapan. Mekanisme penyerapan berlangsung secara aktif (diffusi dan pertukaran ion) maupun pasif (mass flow), dengan arah tanah – akar – batang – daun.
4. Kualitas dan kuantitas unsur hara yang diserap tanaman dipengaruhi oleh :
a. Status tanaman :
1. Jenis atau species tanaman, mempunyai kebutuhan spesifik akan unsur hara (lihat kembali diskusi terdauhulu – unsur hara – mail Mr. Zai (24 April 2007) dan Mrs Tharie (23 April 2007 )
2. Fase dan siklus hidup tanaman, mudah dipahami perbedaan kebutuhan hara antara tanaman fase muda/young – seddling, dengan fase semenjana / juvenile dan tanaman fase dewasa/adult. Perbedaan juga timbul antara tanaman tahap pertumbuhan vegetatip dengan tahap pertumbuhan generatip. Mr. GS 4610 (25 April 2007) memberi contoh gamblang, tanaman sehat, sakit, atau baru sembuh sakit tentu berbeda kebutuhan haranya.
b. Ketersediaan hara :
1. Tingkat keasaman (PH) tanah, menentukan daya larut unsur mineral dalam tanah dan berarti menentukan pula tingkat kelimpahan jenis dan kuantitas unsur hara yang dapat diserap tanaman.
2. Tingkat energi ionisasi menentukan interaksi ion yang berefek pada kelimpahan hara. Contoh K menghambat penyerapan Ca dan Mg; Ca menghambat penyerapan Cu; Na menghambat penyerapan K, demikian pula P menghambat penyerapan Fe dan Zn. Sementara NH4+ membantu penyerapan P.
3. Kapasitas tukar kation (CEC), ikut menentukan mengapa beberapa unsur tertentu lebih melimpah, mudah diserap tanaman dan mengapa unsur tertentu mudah tercuci dari dalam tanah.
4. Proses pencucian (leaching) atau penguapan, ion pada larutan tanah mudah hanyut terbawa aliran air permukaan. Sementara ion yang terikat koloid tanah tidak mudah tercuci yang berarti juga sedikit tersedia bagi tanaman. Beberapa unsur hara dalam kondisi tertentu dapat berubah dalam bentuk gas dan mudah menguap, otomatis akan mengurangi hara tanaman.
5. Aktivitas mikroorganisme dalam tanah, ada yang menguntungkan bagi ketersediaan hara, ada pula yang merugikan. Pada syarat tertentu, unsur N akan melimpah bila ada mikroorganisme yang mampu mengikatnya (fiksasi) untuk kepentingan tanaman. Namun tak jarang pula beberapa organisme justru merebut hara dalam tanah hingga mengurangi kelimpahannya. Uraian tentang mikroorganisme yang menguntungkan dapat dilihat mail Mr. Ramada Agus (19 April 2007)
6. Genesa tanah, macam, jumlah, dan kelimpahan hara tanaman, sifat kimia dan fisik tanah ditentukan asal (batuan induk atau materi asal) tanah tersebut. Tanah pelapukan (fisik, kimia, biologi) batuan, kaya senyawa anorganik. Misal batuan induk jenis basa (basaltic rock), kaya unsur hara kation basa. Tanah pelapukan biologi eks makhluk hidup, kayaa unsur yang terkandung dalam senyawa organik.
c. Kondisi Lingkungan:
Kelembaban dan temperatur, berpengaruh terhadap proses penyerapan hara oleh tanaman. Lebih 90 % penyerapan hara dilakukan secara aliran masa, yang sangat dipengaruhi proses evapotranspirasi. Disisi lain proses evapotranspirasi ditentukan oleh kelembaban dan temperatur.
Beberapa unsur tertentu juga lebih mudah diserap tanaman bila memenuhi pada temperatur tertentu. Aktivitas mikroorganisme pembantu penyediaan hara menghendaki kondisi kelembaban dan temperatur tertentu untuk dapat hidup dan beraktivitas.

Demikian untuk sementara awal diskusi – penyerapan hara. Apa yang tertulis di atas adalah apa yang selama ini saya merasa ‘telah membaca’. Mohon temans menambahi atau koreksi kekurangan dan kesalahan baca itu. Penulisan sengaja diberi nomor urut agar mudah dalam penunjukan sub topik bahasan di diskusi selanjutnya.

Untuk dewan R&D Aglaonema Indonesia, mohon sumban saran tentang berapa kebutuhan masing-masing unsur hara bagi aglaonema, agar tumbuh optimal ? Bukantah begitu Mr. GS 4610 dan pecinta aglaonema di milis ini.

Seperti kesepakatan awal, peserta diskusi hanya berhak dua kali kirim mail. Topik akan berganti setelah satu minggu tayang (hinga tanggal 4 Mei 2007). Next topic : Apa itu Bahan Organik, Kelebihan dan Kekurangannya Bagi Tanaman.

Salam
Ganggeng Kanyoet

Pupuk Organik Vs Anorganik – Unsur Hara

August 13, 2008 at 3:01 pm | Posted in PEMUPUKAN DAN ZPT | Leave a comment
Tags:

Pupuk Organik Vs Anorganik – Unsur Hara
oleh Bpk. Ganggeng Kanyoet, Yogya

Sebenarnya disukusi tentang pupuk membuat kita mundur ke jaman lebih dari seratus tahun yang lalu (1840 an). Better late than never, tidak ada jeleknya kita gali kembali masalah pupuk. Mudah-mudahan diskusi ini akan semakin menambah wawasan dan tidak membuat orang makin bingung tentang pupuk.

Agar fokus, masalah pertama yang harus kita sepakati bersama adalah macam unsur hara yang dibutuhkan tanaman ?

Saya bukan ahli pupuk, pengetahuan tentang pupuk hanya saya peroleh dari buku bacaan populer, majalah, dan satu text book. Dari bacaan tersebut, yang dimaksud hara (makro dan mikro) tanaman adalah unsur-unsur : C, O, H, N, P, K, Fe, Mg, Ca, S, B, Cu, Zn, Mo,. Semuanya unsur anorganik, tidak ada yang organik.

Mungkin temans punya pendapat lain ? Ada yang mengetahui bahwa tanaman membutuhkan unsur organik, bisa menambahkan data tersebut.

Mohon jangan melebar terlebih dulu kemana-mana, agar terdapat kesepakatan tentang unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Supaya tidak membosankan, tiap peserta perlu dibatasi dua email untuk satu topik yang sama.
Karena saya yang mulai, berarti saya telah menggunakan porsi 1 kali email. Per topik dibatasi masa tayang 1 minggu, setelah itu harus sudah ganti topik selanjutnya.

Bahan diskusi selanjutnya : darimana, dimana asal unsur hara dan bagaimana tanaman menyerap unsur hara yang dibutuhkan.

Ganggeng Kanyoet

Organik versus Anorganik – Buku kimia kelas 1 SMA

August 13, 2008 at 2:52 pm | Posted in PEMUPUKAN DAN ZPT | 1 Comment
Tags:

Organik versus Anorganik – Buku kimia kelas 1 SMA
oleh Bpk Ganggeng Kanyoet, Yogya

Sambil nunggu Liga Champion, Madrid vs Munchen, dan sesuai janji saya, tulisan ini merupakan kutipan Buku Acuan Pelajaran Kimia SMU untuk kelas 1, Kurikulum 1994, Suplemen GBPP 1999, Irfan Anshory, Penerbit Erlangga, Bab 13 Hidrokarbon, Sub bab A. Senyawa Organik, halaman 124), apa adanya tanpa editing. Semoga rekans yang dahulu berasal dari non SMA-B atau non Paspal, dapat mengikuti dan dapat menarik pelajaran darinya :

————————————————————————————–

Sudah sejak zaman purba orang mengetahui bahwa tubuh makhluk hidup (manusia, tumbuhan, dan hewan) dapat menghasilkan berbagai macam zat. Gula pasir didapat dari batang tebu, dan gula merah dihasilkan dari pohon enau. Beras dan gandum dapat diuraikan oleh ragi menjadi alkohol. Bangsa Mesir kuno sudah mengenal formalin, suatu zat pengawet yang dihasilkan oleh semut. Orang Mesopotamia dahulu memperoleh zat-zat pewarna dari hewan molluska. Pupuk urea didapatkan dengan menguapkan air seni (urine) mamalia. Kini kita mengetahui bahwa fosil tumbuhan dan hewan yang terpendam berabad-abad dalam tanah dapat berubah menjadi minyak bumi.

Menjelang akhir abad ke 18, para ahli kimia membagi senyawa-senyawa menjadi dua kelompok :

a. Senyawa organik, yang dihasilkan oleh makhluk hidup (organisme)

b. Senyawa anorganik, yang dihasilkan oleh benda mati (kulit bumi atau udara)

Istilah organik dan anorganik ini diusulkan oleh Karl Wihem Scheele (1742 -1786) dari Swedia pada tahun 1780. Pada tahun 1807, Jons Jakob Berzelius (1779-1848) mengeluarkan teori bahwa senyawa-senyawa organik hanya dapat dibuat di dalam tubuh makhluk hidup dengan bantuan “daya hidup” (Vis Vitalis dalam bahasa Latin), sehingga senyawa organik tidak mungkin dapat dibuat dari senyawa anorganik di laboratorium. Oleh karena Berzelius dipandang sebagai ahli kimia terbesar pada saat itu, teorinya dianut oleh para ilmuwan lainnya tanpa ragu-ragu. Ternyata teori “daya hidup” itu tidak bertahan lama, dan akhirnya ditumbangkan oleh murid Berzelius sendiri, Friedrich Wohler (1800 -1882) dari Jerman. Pada tahun 1827, Wohler mereaksikan perak sianat dengan amonium klorida untuk membuat amonium sianat.

AgOCN + NH4CL à NH4OCN + AgCl(s)

Ketika Wohler menguapkan pelarut air untuk memperoleh kristal padat amonium sianat, ternyata pemanasan yang terlalu lama menyebabkan amonium sianat berubah menjadi urea !. NH4OCN à (NH2)2CO

Penemuan Wohler itu menggemparkan dunia ilmu kimia, sebab urea (senyawa organik) dapat dibuat dari amonium sianat (senyawa anorganik), atau sebagaimana bunyi surat Wohler kepada Berzelius tertanggal 22 Februari 1828 : “ Saya mampu membuat urea dalam tabung reaksi tanpa bantuan ginjal hewan atau manusia “.

Sejak saat itu banyak senyawa organik yang diproduksi di laboratorium, bahkan para ahli kimia mampu mensintesis senyawa-senyawa organik yang baru. ……. etc etc …. capek.

—————————————————————————————-

Demikian rekans, hari Kamis tanggal 22 Februari 2007 lusa, kita akan memperingati tepat 179 tahun yang lalu Wholer berkirim surat ke sang guru Berzelius.

“Saya mampu membuat urea dalam tabung reaksi tanpa bantuan ginjal hewan atau manusia “.

Semoga bermanfaat.

Ganggeng Kanyoet

Pas sekali Mr. Rcky Johanes dan Mr. Kusnaeni muncul di RCTI

EM dan Asam Jawa

August 4, 2008 at 1:00 am | Posted in MEDIA TANAM, PEMUPUKAN DAN ZPT | 6 Comments

pak Faris dan pak GK mohon lebih khusus diulas penggunaan EM4 bagi aglonema.

Barangkali Mr. Faries baru sibuk, sementara tak jawab dulu. Masih seperti dulu, sepanjang itu untuk hobi ya ndak masalah. Mean while bagi  keperluan aplikasi yang lebih luas, silakan baca dulu lampiran – pokok pikiran dan gagasan dari konseptor awal EM (Dr. Teruo Higa). Harusnya minimal lulusan Kejar Paket C sudah bisa meraba jawabannya.

air perasan asam jawa supaya media tanam menjadi asam untuk membuat mutasi  

Saya belum pernah dengar senyawa yang ada di dalam ‘asam jawa’ bersifat mutagen. sekaligus mencerahkan warna merah aglo

Teori bakunya , kecerahan pigmen warna dipengaruhi tingkat keasaman (pH) vacuola (rongga sel). Yang perlu dipahami selanjutnya, bahwa pH media tidak mempengaruhi pH rongga sel (umumnya rongga sel dari sononya memang sudah asam, pH 5–6 : Russell Jones, 2001). Namun bila media dalam keadaan asam (katakan saja < 5) maka beberapa ion logam tertentu menjadi lebih mudah diserap tanaman. Yang mana saat unsur logam tersebut berada di rongga sel dan diikat antosianin, akan merubah tampilan pigmen warna (Hank Becker, 1996). Dus sebenare bukan asam jawa yang menyebabken cerah. Di beri urea pun, media akan menjadi asam. Urea dan kecerahan aglao ? Silakan buktikan sendiri (walau saya lebih suka menyebut urea menambah tingkat vibrasi warna pigmen).

Karena tingkat keasaman media mempengaruhi diversitas penyerapan ion tertentu oleh tanaman, pada akhirnya juga mempengaruhi rasio pembentukan kloropil dan karoten di plastid. Di file lama ada diskusi tentang ini, bisa dicari.

 

Ganggeng Kanyoet

Jangan lupa : cahaya matahari meningkatken pH vacuola dan meningkatken konsentrasi pigmen photoprotectans……

Media tanam dan fermentasi pupuk organik cair

July 21, 2008 at 1:06 pm | Posted in MEDIA TANAM, PEMUPUKAN DAN ZPT | 24 Comments

Media tanam dan fermentasi pupuk organik cair

oleh : Faries Fadhil <faries_1@yahoo.com>

Tentang media tanam dan fermentasi.. kemarin sempet dibahas ya waktu di bogor, dan saya pernah juga posting ttg cara membuat pupuk organik cair mandiri.

Kita bahas satu-satu dulu..

1. Tentang media tanam. Saya nggak tahu pak Songgo make media tanam apa, tetapi sebaiknya kalo menurut saya, sesuaikan media tanam anda dengan karakter asli dari Aglo. Aglo itu kan tanaman yang berasal dari Hutan hujan tropis, dia hidup di bawah tegakan pohon2 di hutan, media tanamnya adalah tanah dan humus dengan kelembaban udara dan media yang tinggi tetapi poros. Sebaiknya jangan biarkan aglo anda kekeringan karena walaupun umumnya araceae toleran terhadap kering, tetapi hal ini akan mengganggu pertumbuhannya.

Kalo saya sendiri menggunakan tanah + kompos dengan rasio 40:60. dan tidak saya campur merata, melainkan tanah dan sebagian kompos di bawah (50%) lalu di atasnya kompos semua. Saya mencoba mengikuti kondisi di alam.

2. Tentang fermentasi. Satu hal yang harus diketahui, bahwa pupuk organik cair tidak akan bisa dan tidak pernah bisa menggantikan pupuk organik padat. Sifat fisik dan kimianya banyak perbedaan. Jadi kalo mau menggunakan pupuk organik cair, sebaiknya media tanamnya juga menggunakan kompos. Sebab di dalam pupuk organik cair banyak bakteri menguntungkan buat tanaman dan banyak agen antagonis penyakit (musuh alami penyakit) yang hidup dari mendekomposisi kompos tersebut.

Teknik fermentasi sangat mudah. Anda cukup merendam kompos 5kg (sudah dibungkus kain atau kasa) ke dalam air 100liter, lalu aduk2 hingga airnya menjadi kecoklatan. Lalu masukkan 300 ml pupuk organik cair atau EM4. lalu masukan gula sebanyak 100g (sebaiknya sudah dilarutkan). Kemudian tutup rapat2 dan biarkan 2 minggu. Selesai.

Zemoga bermanfaat..

Zalammblengerbunderklengerkeder..

Know how dan why ORGANIK

July 20, 2008 at 5:39 am | Posted in PEMUPUKAN DAN ZPT | 8 Comments

 Know how dan why ORGANIK
oleh Ganggeng Kanyoet <ganggeng_k@yahoo.com> 

Gema pertanian organik maupun ‘suatainable agriculture’ sebenarnya sudah terdengar sejak tiga dekade yang lalu. Banyak buku, artikel, seminar ilmiah maupun ngilmiah, bicara tentang indahnya PRODUK ORGANIK dan POTENSI BAHAYA ‘pupuk kimia’ kedepan.

Tapi mengapa segala tempik-sorak itu se-akan2 laksana sebuah ‘retorika’ belaka. Sebab ternyata kemudian dalam praktek, trend demand pupuk dan pestisida kimia selalu saja meningkat di belahan dunia manapun. Tiap tahun siapapun menterinya, selalu bingung masalah ‘kelangkaan’ pupuk Urea dan TSP. Adakah ini pertanda yang jelas ? Bahwa kondisi ideal yang di-cita2kan sangat berlawanan dengan praktek. ‘Jauh panggang dari api’. Atau barangkali concern organik tersebut LEBIH BUKAN pada masalah pertanian  ….. ho ho ho ho.

Ada kala terbesit ‘prasangka’ buruk pada yang bisa berkata ‘TANPA pupuk kimia LEBIH meningkatken hasil dan lebih menguntungkan’. Sebab, tidak mustahil yang demikian itu berasal dari TRAUMA kegagalan sebelumnya dalam menjalanken praktek tani modern (pupuk dan pestisida sintetis) dengan BENAR?. Atau itu  hanya cara ME-MINIMALISIR kerugian dengan kembali ke satu2nya praktek tani lama yang dia kenal dan pahami ? Warisan leluhur – bertani dengan pupuk kandang memanfaatken unsur ‘SUNK COST’ di dalamnya. Pasti terasa ada kejanggalan disana, bila lihat tetangga sebelah sukses berorganik-ria, tidak menjadikan orang lain tertarik meniru. Atau memang benar apa kata Hornick (1993) : ‘kegagalan utama kampanye organic farming sebenarnyalah pada masalah ‘balikan’ ekonomi di dalamnya. Suatu sistem atau metode bila secara ekonomi tidak ‘sustain’, pasti tidak akan bertahan lama atau bahkan layu sebelum berkembang’. Harus bisa memuaskan secara phisik dan ekonomi.

Atau jangan2 semua ini karena terlalu banyak orang PAHAM membabi buta KNOW-HOW bertani tapi sama sekali BUTA tentang KNOW – WHY ? Atau sebaliknya, membabi buta pada WHY lupa pada HOW. Atau besar pula kemungkinan ndak paham how dan why sekaligus …….   ho ho ho ho ho

 

Ganggeng Kanyoet

Untuk temanku di Pringadi yang nyari topik ……  

Boleh ndak organik dicampur kimia

May 18, 2008 at 11:09 am | Posted in PEMUPUKAN DAN ZPT | Leave a comment

Boleh ndak organik dicampur kimia
oleh Mr. Ganggeng Kanyoet

Lalu pertanyaanya boleh nggak pupuk yang mengklaim organik dicampur yang katanya kimia.
Lalu jawabnya adalah boleh, kenapa tidak ?
Mr. Indra,
Bener apa kata Mr. Kasali, kita masuk eranya ‘pemasaran’. Lha kok kebetulan, banyak dari kita yang terkena penyakit ‘myopic’ tanpa sadar. Contonya, pertengahan 80 an orang mulai concern masalah organik – non organik, akhir 90 an ‘yang tahu komputer’ se-akan2 dibingungkan masalah 2YK, lalu akhir2 ini sibuk dengan isu Global Warming.
Saya melihatnya persis kejadian gempa di Jogja kemarin. Segerombolan oknum teriak2 ada tsunami. Gayung bersambut, orang2 bingung berlarian mencoba menyelamatkan diri (ndak sadar atau karena memang dungu, kalau mereka berada lebih dari 100 m dpl). Nah pada gilirannya, gerombolan oknum tersebut mengeruk keuntungan, banyak barang berharga ditinggal pergi tuannya… ho ho ho ho.
Hal di atas dapat terjadi karena orang yang ‘mestinya tahu dan paham’ hanya diam saja, membiarkan semua itu tanpa upaya menjelaskan yang seharusnya terjadi. Entah kenapa ? Pasti banyak alasan lah.
Bener kata temen saya, hari gini ngapain ngikut ulah Copernicus. Bersedia mati minum racun untuk sekedar meyakinkan orang lain, bahwa bumilah yang mengitari matahari dan bukan sebaliknya seperti yang disangka orang banyak.
Dus, kenapa ndak malah ngikut ambil keuntungan. Biar orang lain yang teriak2 ada tsunami, kaluk bisa kita ikut untunglah. Ini baru orang pintar namanya.

Lain2 :
Pupuk an-organik adalah pupuk hasil proses rekayasa secara kimia, fisik dan atau biologis, dan merupakan hasil industri atau pabrik pembuat pupuk (ayat 3, pasal 1, Bab I. Ketentuan Umum, Keputusan Menteri Pertanian No. No. 09/KPTS/TP.260/1/2003, tanggal 28 April 2003)

Ganggeng kanyoet

Hormon dan Kodrat

May 18, 2008 at 10:57 am | Posted in PEMUPUKAN DAN ZPT | Leave a comment

Hormon dan Kodrat
oleh Mr. Ganggeng Kanyoet

Zat Perangsang Tumbuh keliatannya memang dari sononya untuk memacu pertumbuhan …

Mr. Stuba
Fungsi ZPT adalah ‘alat komunikasi’ antar bagian (atau sel) tanaman untuk ‘melakukan’ atau ‘tidak melakukan’ sesuatu bagi keuntungan tanaman secara keseluruhan. Orang yang hati2, menyebut ZPT sebagai Zat Pengatur Tumbuh, karena mengatur = bisa ‘mendorong untuk’ atau ‘melarang untuk’, walau ada juga yang lebih enak dengan sebutan ‘hormon’.
Gambaran mudahnya :
– Saat akar menjumpai kondisi yang ndak mendukung (tergenang atau kekeringan) maka dikeluarkan ABA supaya pucuk berhenti tumbuh (dormansi).
– Saat matahari meninggi, ABA memerintahkan stomata daun untuk menutup.

Bahasan ini bisa diperoleh di kumpulan diskusi punya Mr. Dodi. Dengan catatan jangan acuhkan hapalan hormon A untuk proses X, hormon B untuk proses Y. Itu hanya berlaku untuk sistem tertutup yang dijumpai dalam praktek kuljar (explan yang hanya berupa sekerat meristem). Menjadi lain dan bisa bingung sendiri kaluk dikenakan pada satu sistem terbuka (tanaman utuh). Kenapa kok gitu ?
Banyak pengamatan hormon hingga kini masih berputar ‘dapat ditandainya keaktifan’ atau peningkatan konsentrasi hormon tertentu yang mengikuti proses kegiatan tanaman. Belum bisa langsung menunjuk langsung proses ini akibat hormon itu. Akibatnya dalam buku hapalan hormon bisa kebaca satu hormon berpengaruh pada banyak kegiatan, sebaliknya satu kegiatan dipengaruhi banyak hormon. Di kuljarpun begitu, kadang lebih baik pakai IAA, atau IBA, BA, atau BAP, atau kinetin, atau TDZ. Semua perlu coba2 sifatnya (lalu banyak yang kemudian menyebut kujar = Vodoo, maaf).
Supaya ndak bingung, harus kembali ke ‘laptop’ – fungsi hormon = alat komunikasi – bentuknya bisa on-off, bisa if … then, bisa if .. then gosub …, (kaluk ada yang ahli Boolean, bagus juga dibuat diagramnya).

persoalannya apakah perangsangan untuk tumbuh tidak menyalahi kodrat ?
Tanaman adalah mahkluk ‘sesile’ (ndak bisa pindah tempat). Dus pola tumbuh dan kembangnya sebenarnya adalah bentuk respon terbaik tanaman (bukan bagi manusia) terhadap variasi kondisi lingkungan di tempat itu. Inilah yang dimangsud KODRAT itu.
Misal, intensitas matahari, panjang hari, temperature, ketersediaan nutrisi, akan menstimuli tanaman. Terjadi komunikasi dalam tanaman melalui hormon, menentukan tanggapan terbaik yang harus diberikan (tanaman punya program itu tercatat di gen). Misal, menggugurkan daun terbawah karena mineral yang ada disitu lebih baik dan menguntungkan kaluk dimanfaatkan organ atau bagian lain.

Yang perlu diingat, skenario KODRAT ndak hanya satu. Ada trilyunan kodrat. Pokok masalah adalah sudah tepat dan sesuaikah pilihan tanggapan dengan skenario kodrat ? Yang ginian, tanaman ahlinya. Apapun tanggapannya, selalu dalam rangka menomor-satukan kelangsungan hidupnya (paling ndak kelangsungan turunannya) dengan jalan milih yang paling kecil resikonya serta yang paling hemat biayanya (pengeluaran energi).

Respon tanaman atas stimuli lingkungan inilah yang dicatat orang. Kaluk tunas cabang tumbuh, ternyata di tempat itu konsentrasi sitokinin meningkat. Kaluk tunas bunga tumbuh, ternyata kandungan giberelin jadi meningkat, misalnya. Berbekal itu, kemudian dipakai manusia dalam manipulasi kodrat, demi kepentingan manusia tentunya. Yang perlu diingat oleh manusia, MANIPULASI kodrat ndak boleh diartikan NYALAHI kodrat, tetap harus dalam koridor kodrat itu sendiri (bingung ya ? Ho ho ho ho … sama).
Conto : manipulasi agar cepat beranak, buku hapalan bilang beri sitokonin. Kaluk kodrat tumbuh anak harus didukung pangan, air, mineral yang cukup dilanggar, kodrat anak ndak didapat malah ketemu kodrat modiaaarrr ….. ho ho ho.

Kita lanjut nanti dengan catatan kejadian seputar menumbuhkan tunas (anak) ….

Ganggeng Kanyoet
Yang banyak terjadi dalam merawat tanaman, masih seperti melihat penderita kanker yang di-kemoterapi. Lalu dipikirnya, orang itu sakit karena kekurangan sinar gama … ho ho ho ho.

Spek Growmore Biru

January 27, 2008 at 11:01 am | Posted in PEMUPUKAN DAN ZPT | 3 Comments

Spek Growmore Biru
oleh Bpk. Mr Ganggeng Kanyoet

Mohon pencerahan pentang Growmore Biru (32-10-10) dan Merah (10-55-10).
Angka 32-10-10 hanya berkata GM Biru mengandung 32 % N total, 10 % P2O4, 10 % K2O, dan 48 % bahan campuran lain yang berfungsi sebagai pengikat. Dus, dalam 1 kg pupuk itu ada 320 gram N-total, 100 gram P2O5, 100 gram K2O, dan 480 gram bahan campuran non hara tanaman.
Untuk apa sebenarnya penggunaannya dari masing2 spek tsb?
Ya ndak ada artinya apa2. Kecuali hanya produsen ingin meng-komunikasi-kan, bila butuh tambahan hara 320 ppm N total, 100 ppm P2O5 dan 100 ppm K2O, lakukan dengan melarutkan 1 gram GM biru dalam 1 liter air. Dah itu saja, ndak lebih dan ndak kurang.
Mr. Marsudi jangan tersesatkan oleh pengertian NPK sekian untuk bunga, sekian untuk buah, etc, etc. Yang mengatur berbunga atau berbuah itu hormon, padahal pupuk bukan hormon. Demikian juga dengan unsur yang lain, N, P etc, etc tidak punya hubungan langsung dengan banyak sedikitnya daun atau akar. Kalau dimensi daun, batang atau akar, memang ya.  
 
Pasti ada pertanyaan sebaiknya aglao dipupuk apa ?
Tanyakan pada paman/saudara Mr. De2MQ yang pernah melakukan analisa daun aglao. Dari sana akan ketahuan aglao itu butuh apa saja. Itu kalau mau serius merawat aglao. Kalau sekedar hobi, ya tiru aja tetangga terdekat yang berhasil piara aglao, atau ikuti apa kata pakar2 aglao.
Saya ikut saran NPK 3-1-2,  equivalen pupuk komersial berlabel 21-16-16, atau 15-11-11, atau 25-19-19 (pokoknya sesuai perbandingan 3-1-2) ….. Ho ho ho berhubung ndak ada yang jual, ya modifikasi ala Mr. Tomo, minggu pertama NPK mutiara (warna biru) 25-7-7,  minggu 2,3, dan 4 NPK ex Rusia (warna coklat) 20-20-20. Plus sebulan sekali semprot Multimicro  +  Kalium Nitrat (kenyataan di lapangan saya ndak tahu persis, lha wong yang mupuk si Slamet)
Saran Mrs. Mona juga cukup ‘make sense’ untuk diikuti, kombinasi selang-seling pupuk N tinggi dan NPK seimbang. (Lebih bagus lagi sebulan sekali ditambah Kalium Nitrat)  
 
Catatan :
Usulan ahli tanaman NPK 3-1-2 mesti diterjemahkan sebagai pupuk komersial dengan perbandingan N; P2O5; K2O =  3 :  2.3 : 2.4.   Cara ngitungnya piye ? Bobot P = bobot P2O5 x 0.44      Bobot K = bobot K2O x 0.83
 
 
Ganggeng Kanyoet
Mode : Agak serius, biar  dimuat Mr. Tomo …… ho ho ho ho
 

Dosis Pemupukan Aglaonema

January 23, 2008 at 2:11 pm | Posted in PEMUPUKAN DAN ZPT | 1 Comment

Dosis Pemupukan Aglaonema
oleh Bpk. Ganggeng Kanyoet

Mr. Christian Hadiraharja,
Pertimbangan dosis
Dosis pada kemasan pupuk, selain nilai maximum ter-aman, juga dilakukan pada kondisi terkendali di lab mereka. Apa kita mau meniru lab mereka dulu agar hasil sama ?
Jadi, mau tidak mau ya harus coba2 sendiri di rumah masing2. Cara termudah cubak dengan hitungan konsentrasi kandungan N= 100 ppm, 200 ppm, 300 ppm. Teruskan yang memberi hasil terbaik (daun tidak terlalu besar, tangkai tidak terlalu panjang, ekpresi warna optimal, cepat beranak, etc, etc).
Memang lebih mudah meniru yang dilakukan Mr. Zai atau Mr. GS 4610. Jangan salahkan kalau hasilnya ndak sama. Kalau pengin sama, ya sekalian saja titip aglao ke tempat beliau2 tersebut, atau hadirkan kondisi kebun beliau di rumah kita.
Boleh apa tidak pupuk daun disiramkan ke media
Prinsip boleh. Toh kandungan juga sama dengan pupuk akar. Tapi apa ndak sayang ?. Pupuk daun lebih mahal dari pupuk akar karena punya daya kelarutan lebih tinggi. Ini juga membuat aplikasi pupuk daun lewat akar lebih banyak ruginya. Kelarutan tinggi membuat nutrisi banyak hilang larut air, mengalir terbuang keluar lewat lubang dasar pot.
(Apa yang bikin petunjuknya ada yang males dan ada yang rajin?)
Wah ndak tahu ya. Yang lebih parah lagi di kemasan pasta gigi, malahan ndak pernah ada petunjuk pemakaian. Kale dianggap dah tahu cara makainya.
Ngitung nilai ppm N
Rumus baku D = A*B/C*10
A = nominal % kandungan N seperti yang tertera pada kemasan pupuk
B = berat pupuk (gram) yang hendak diencerkan
C = konsentrasi yang dikehendaki (ppm)
D = jumlah air pengencer (liter)

Conto pake pupuk Gandasil (20:15:15), pupuk ini punya kandungan N= 20%, P2O5= 15%, dan K2O=15%. Berapa liter air harus ditambahkan dalam 1 gram Gandasil tersebut agar diperoleh nilai N = 100 ppm ?
A= 20, B = 1 gram, C = 100, D = A*B/C*10 = 20*1/100*10 = 2 liter

Di rumah saya, hasil terbaik kalau dipupuk dengan konsentrasi N = 150 ppm, seminggu sekali. Perbandingan NPK pupuk yang pas di rumah saya untuk pertumbuhan vegetatip kurang lebih 20:10:15. Untuk membuat ini, saya campur 1 bagian Gandasil (20:15:15) dengan ¾ bagian Hyponek merah (25:5:20) diselingi penyemprotan Kalsium Nitrat (merk Growmore) sebulan sekali (konsentrasi N dibuat sebesar 100 ppm).

Jangan tiru mentah2, adakan percobaan sendiri yang cocok di rumah masing2. Percobaan2 membuat miara aglao punya ‘dimensi’ lain.
Demikian, semoga sukses di percobaan yang ke sekian …..

Ganggeng Kanyoet

Next Page »

Blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.