Merawat Anakan Sampai jadi Indukan

April 8, 2009 at 4:04 pm | Posted in CARA BERTANAM DAN PERAWATAN | 5 Comments

Dear aglovers,

Mohon sharing pengalamannya, kira2 butuh berapa waktu ya jika kita rawat anakan aglo 2-3 daun sampai jadi aglo indukan?…

salam

herryk

Cara Memerahkan Daun

April 8, 2009 at 3:55 pm | Posted in CARA BERTANAM DAN PERAWATAN | 1 Comment
Tags:

Dear Pask Ganggeng,
kalau untuk memerahkan daun, gimana caranya ya?? Apakah harus di jemur 4 jam juga? Ada yang pernah coba ga ??

 

Trims

Salam

Andy

Jadwal Penyiraman

February 23, 2009 at 12:01 pm | Posted in CARA BERTANAM DAN PERAWATAN | 22 Comments
Tags:

Jadwal Penyiraman

Saudara2ku,
ada yang tau cara penyiraman yang benar pada aglo dengan media yang berbeda? Misalnya; media pakis harus tiap hari, media campuran pupuk kandang harus 3 hari sekali, media pasir malang 2 hari sekali dlsb.
Bisa tolong di share kalau ada yang tau informasinya?

Trims sebelumnya.

Andy G.

SayA TeRkecOh pEnamPiLan aGLo YaNg seGaR

November 19, 2008 at 12:48 am | Posted in CARA BERTANAM DAN PERAWATAN, HAMA dan PENYAKIT | 11 Comments
SayA TeRkecOh pEnamPiLan aGLo YaNg seGaR
Ibu. Yenyen Yanuati

Rekans,

Bukan bermaksud menggurui, saya hanya ingin berbagi pengalaman saya minggu lalu yang mudah2an tidak dialami oleh rekan2 lain. Sengaja saya pilih topik diatas, karena saya memang terkecoh oleh penampilan aglo2 yang tampak luarnya segar….tapi keropos didalam.

Mula2 saya curiga LV saya tidak bertambah daun ,,,,,rasanya sejak sebulan terakhir.
Ketika saya sentuh batangnya…batang goyang jaipongan.
Saya tarik perlahan keatas…lolos…akar sudah busuk , batang pun sudah gunawan (gundul menawan).
Padahal daun tetap segar, pink asli …tidak kuning atau kekuningan seperti layaknya aglo yang kena serangan bakteri.

Saya semakin curiga karena saya lihat Ruby Thai saya agak doyong kekiri. Saya sentuh batangnya….jaipongan juga…batang saya tarik keatas….tidak lolos….tapi terasa cengkramannya agak longgar dibawah.

Lalu saya check secara random tetangga2nya dan mulai panik karena ada 1..2..3..4…5..6…dstnya yang berjaipongan ria juga.
Pada akhirnya …dalam 2 hari saya harus membongkar lebih dari 40 pot,….24 pot bermasalah. Akar busuk dan beberapa yang batangnya sudah MULAI busuk dari bawah atau dari tengah2 batang.

Kenapa aglo masih tumbuh normal ?….ada beberapa lembar akar baru yang tumbuh dibagian atas batang yang terpendam. Sementara pembusukan terus berlangsung dari bawah. Tinggal menunggu waktu bagi sang aglo untuk tergelimpang mencium media.

Apa yang saya lakukan ?
1. cuci batang dan akar (kalau masih ada) sampai bersih…sih…dari media (kalau perlu disikat…hehehehe)
2. buang akar busuk dan batang busuk
3. periksa dengan teliti kondisi batang…apa ada tanda2 coklat (sering ditengah sudah ada lubang). Kalau ada (walaupun hanya setitik) lebih baik potong beberapa cm diatasnya (terkadang saya hanya tinggalkan 1cm dari pelepah daun terbawah, tanpa akar)
4. rendam aglo sak daun2nya dalam larutan bactocyn + B1 selama 1 jam.
5. kering anginkan (jangan dijemur), kalau perlu pakai kipas angin.
6. baru ditanam di media baru.

Catatan:
a. Kalau media sangat kering, siram dengan sedikit larutan perendam agar lembab.
b. Untuk pohon yang gundul tanpa akar, ditanam di coco peat lalu siram campuran B1+atonik.
c. Karena stock cocopeat saya sedikit, sebagian saya rendam batangnya di erecto.

7. Taruh pot ditempat yang teduh
8. Siram air keesokan harinya (kecuali yang ditanam di coco peat)
9. hari ke 4 – semprot larutan LT akar + B1 (kecuali yang ditanam di coco peat)
10. Semprot B1 setiap 3 hari sekali.

Alhamdulillah, sampai hari ini tidak ada yang RIP.
Yang masih berakar sudah segar dan mejeng lagi di rak..
Yang tanpa akar mulai segar walaupun ada beberapa pohon yang tadinya rimbun harus kehilangan 2-3 daun terbawah.
Yang direndam Erecto tetap segar tanpa kehilangan daun.

Sebagai tindakan preventive, aglo2 yang sehat saya siram larutan perendam sementara menunggu giliran diganti medianya.

Mudah2an bermanfaat….niru perkataan pak HB….Kalau tidak cocok jangan ditiru.

Salam, Yenni

NB: apa yang saya lakukan diatas adalah saran2 Danish Lee yang saya gabungkan dengan saran2 dari beberapa teman (bukan anggota milis). Danish…terimakasih banyak !!!

Persiapan Ikut Kontes AI-Trubus

November 1, 2008 at 2:00 pm | Posted in CARA BERTANAM DAN PERAWATAN, KONTES AGLAONEMA | Leave a comment
Tags:

Persiapan Ikut Kontes AI-Trubus
oleh: Bpk. Gatot P

Keluarga AI-ku,

Sebetulnya yang lebih layak cerita adalah Pak Sun Sun. Namun sesuai
perintah Presiden KK yang gak boleh ditolak, saya mohon ijin berbagi
dari catatan dan pengalaman pribadi.

Pertama tentu mengacu pada beragam buku pemeliharaan Aglaonema yang
banyak tersedia di toko, dan biasanya menyediakan bab tentang persiapan
kontes di bagian belakang.

Setelah itu kita mulai memilih tanaman yang akan tampil. Ukuran dipilah
sesuai jenis kelas/kategori yang akan diikuti. Biasanya Majemuk atau
Tunggal (kadang kala ada juga kelas non merah). Untuk kontes kali ini
akan ada kelas pemula/juvenile/prospect/atau apalah namanya. Hitung
jumlah daun sesuai batas atas agar tidak kena disqualifikasi.

Tanaman tersebut sebaiknya dalam kondisi sehat, tidak mengalami
gangguan penyakit atau kondisi alam. Dari tingkat dan mutu diskusi yang
terjadi di milis kita, saya cukup yakin kodisi tanaman milik kawan
kawan akan tampil optimum, vigor, bebas dari jamur dan bakteri, tepat
air, tepat kelembaban, tepat suhu, tepat sinar dari seluruh arah, dan
cukup sirkulasi udara.

Untuk kelas majemuk, mungkin bisa kita periksa dan sesuaikan arah
tumbuh daun sehingga telihat lebih kompak, rapat dan membentuk
lingkaran bola. Satu hari sebelum kontes, bila berkenan, silahkan
bersihkan daun dengan air atau beragam larutan pembersih yang kerap di
bicarakan di milis.

Tidak ada salahnya, bila tersedia, untuk memasukan pot plastik kedalam
pot keramik dengan ukuran dan bentuk yang menunjang penampilan bentuk
tanaman, serta glazur warna yang serasi sehingga mampu “mengeluarkan”
seluruh komponen warna tanaman pada kesan umum.

Namun yang paling penting adalah persiapan kondisi kejiwaan kita. Semua
harus dilatari dengan rasa gembira bisa terlibat dalam salah satu
segmen hobby memelihara Aglaonema. Dalam kontes tentu ada yang menang
dan ada yang kalah. Sudah bosan kita mendengar petuah ini sejak masa
sekolah dulu. Walau ternyata kadang tak mudah berlaku sportif. Akan
lebih nikmat kalau kita bisa menerima kekalahan dengan ringan dan
semangat belajar dari pemenang untuk lebih baik lain kali. Pengumuman
hasil kontes bukan akhir dari dunia.

Have fun, Folks.

Salam,
GP – Cirendeu

Agloholic

September 10, 2008 at 12:20 pm | Posted in CARA BERTANAM DAN PERAWATAN, OPINI | 1 Comment
Tags:

Agloholic…

Ibarat merokok, awalnya hanya sekedar coba-coba… pueehhh… pahit amat
(rupanya tembakaunya ketelen), next… sambil cengangas-cengenges bergaya
ala the changcuters didepan cewek-cewek berseragam putih abu, ae lop yu
bibeh… geulis pisan euuyyy… pahit sedikit ditahan-tahan, nyedot dari
mulut keluar pol dari hidung sampai bulu hidung hangus kecoklatan (bila
perlu keluar asep dari telinga), uhuk-uhuk… batuk ‘like hell’, muka
bengkak, mata sembab menahan perih dan ‘seedling’ serasa ditarik-tarik…
Lulus ‘seragam putih abu’ sudah ngebul terus bak knalpot mayasari bakti
atau truk bongkok keluaran tahun tujupulu… ndak ada orang merokok mati…
jarene wong ndablek ! Adem benerrrrrr….. HAH ! It’s my world… ndak
pernah kapok, malah ketagihan…

Awalnya dece, pos, butterfly, paramruay… standard, terjangkau oleh kocek
sisa belanja sayur-mayur di pasar tradisional, ndak pakai ribut, ndak
perlu surat ijin dari ‘pentagon’. Lalu besoknya sudah mulai bisa
membedakan yang burik, yang mbatik, mana lokal, mana thai . Lusa… burik
lokal, kochin langka, aglo atu-atunya, harga nomor sekian… Satu bulan
tujuh hari setelahnya sudah Rindu ama Gadis pingitan, Tiara, Widuri,
Alicia, Arini, Paulina bahkan menghayal bisa memeluk Ken Dedes dan Dewi
Ratih … ck…ck..ck… bonek, bondo nekad… pokok asal mahal dan langka, biar
ijo royo-royo… wong liyo ra nduwe…ben…. Satu Gadis nggak cukup, iler
masih suka netes setiap ngeliat ada yang lebih menor, mata seolah-olah
sudah tidak terkalibrasi, mode midnight shoot always ON, barang bagus
ndak ada yang ndak kelihatan. ‘Perang barata-yuda’ dimulai,
kebohongan-kebohongan bermula dari sini, istri tidur telentang tanpa
benangpun nggak peduli… just don’t care… terribly sorry… masih lebih
asyik ngelus-elus si Gadis atau mengusap-usap Hot Lady dan yang Sexy
Pink… anak-anak pada mengeluh (meski dalam diam)… ndak ada lagi
week-end… you’re freed to do anything, kids… dunia kita masing-masing…
begitu kejamnya dunia. Istri selalu tersenyum namun bathinnya merintih
perih… tersisih oleh klangenan what so called AGLAONEMA.

Kecemplung di aglo… uang habis jut-jutan bahkan mungkin em-eman (kalau
dibelikan bayem dijamin cukup buat nyangonin orang se kecamatan), untung
gak sebrapa, ruginya banyakbrapa…

What are you going to search for, buddy ? Long answer to a short
question… selalu ndak bisa memberikan jawaban yang lugas, singkat,
ringkas, jelas, tegas, masuk akal dan bisa diterima logika… (not even
till date).

Sudah telanjur kecemplung kenapa nggak sekalian basah aja….. ra nduwe
duwik, duitnye kagak gablek, dak ado hepeng, no money no-dong… no work
no-ngkrong…

Back to agloworld…
Kepala bak ngikutin putaran odong-odong, geleng-geleng terus saat
melihat dece tetangga yang rimbun, banyak anakan… media dari kita, pot
dari kita, epriting dari kita bahkan ditarok diluar ‘gak keurus’, hujan
panas gak kenal pupuk, cuman sesekali disiram kalau pas media kering
bianget. Tapi kok ya bisa anakannya banyak (memang nggak mulus siiyy…
seperti layaknya taneman dirawat) sementara punya kita sudah ko-it
duluan… ya jelas bisa dong… Kalau diibaratkan anak kecil maunya permen,
dia itu tidak dikasih permen, tidak juga dikasih yang lainnya, in short…
tidak dikasih apa-apa dan juga tidak diapa-apakan. Sementara kita ini
mau ngasi si anak kecil jamu brotowali (yang pahitnya sampai keubun-ubun
berasa sampai tiga hari tiga malam) yang menyehatkan (menurut kita)
sehingga si anak kecil lari terbirit-birit ketakutan, nyemplung got dan
is dead… I learned a lot, but the more I learn the more I don’t know.
Suerrr… moemet dewe…..

Apakah kita sudah terjerumus menjadi Aglaoholic ?

Continue Reading Agloholic…

Secangkir Kopi Hangat untuk Hobiis Pemula

September 5, 2008 at 4:39 am | Posted in CARA BERTANAM DAN PERAWATAN, MEDIA TANAM, OPINI | 6 Comments

Secangkir Kopi Hangat untuk Hobiis Pemula
oleh Bpk. Gede Sudarma, Jakarta

Apa bedanya antara…
– kemalingan aglo koleksi dengan
– aglo mati busuk atau
– beli aglo berkelas (baca: gengsi) dengan harga tinggi lalu dalam kurun waktu singkat harga terjun bebas dari langit ketujuh, drop mendekati harga sere / seledri di pasar kampung atau
– nggak bisa beli aglo idaman sampai kerah baju basah terus tiap liat aglo menor atau
– sekalinya bisa beli namun mulut ‘mak direktur’ bak peniup seruling ndangdut alias monyong terus ?

Dunia hobby, dunia ‘irrasional’ yang terpaksa dirasionalken demi mudahnya ngetung dapetnye berape lepasnye (baca: ruginye) berape, berape puun kali berape total ruginye berape… si Anu meninggal gara-gara kena serangan jantung… rugi sekian em gara-gara aglo, si Ana ndak pernah bisa tidur nyenyak sejak ngambil Arjuna, Si Ani uring-uringan terus gara-gara Ruby-nya dimakan Kura-Kura, Si Ano brantem mulu ame bininye gare-gare suke Rindu ame Gadis, etece…

Dengan niat ‘do something good for else’ (nak ana ma’sut laen, huerrr…), saya ingin sekedar sharing tentang pengalaman saya merawat aglo sejak lima tahunan lalu. Memang belum terlalu lama dibanding kolektor-kolektor kelas kampiun yang sudah dijadikan acuan dibuku-buku yang bahkan ‘nafas’nyapun selalu didengar (baru hidungnya kembang-kempis, belum ngomong… sudah ditulis sama wartawan, ancene pernyataan yang tepat en akurat) atau rekan-rekan kolektor, grower anggota milist AI yang terhormat (peace man…!), apalagi dibanding petani / pedagang kaki lima yang mungkin lahir, tumbuh rambut dan botax diantara semak-semak tanaman sri rejeki.
Namun dalam kurun waktu yang singkat ini rasanya (bukan saya bermaksud takabur) saya pernah mengalami masa ‘ancur-ancuran’ dalam merawat aglo, mulai dari bonggol / akar / daun busuk, akar / batang coklat, batang kopong, batang ‘njeglek’, batang / daun lonyo sampai akar batang daun lenyap tak berbekas alias digondole karoe malinge… kamprete !, dari DC sampai SP, dari Arjuna / Srikandi sampai Romeo / Juliet. Pun sebaliknya, saya pernah mengalami masa-masa ‘kedigjayaan’ dimana ‘tongkat kayu dan
batu jadi tanaman’, rasanya kok begitu mudahnya merawat aglo, setiap tancep… jrot-jrot-jrot jadi aglo ‘contest form’ (meski harga jualnya kemudian jauh dibawah harga beli saat masih anakan dulu) dan setelahnya lalu modiarr.. yo ben… wis gak enek regane… Suasana hati sangat ‘fluktuatif’, span-nya tingi, kadang merasa seperti petani paling hebat di dunia (Bojonggede, red) melihat aglo segar bugar, seolah dada dada… dan berujar… selamat pagi pak de, selamat sore pak de… sementara besoknya hati ini benar-benar merasa gak pede blaszs… kala membongkar SP akarnya gundul bahkan bonggolnyapun sudah tiada, herannya kok daunnya nggak njeglek… dasar penipu…
Hampir semua media yang pernah kita kenal pada umumnya ataupun yang nggak umum yang jarang kita kenal pernah saya pakai. Pakis, sekam bakar, sekam mentah, andam, e’ek embek baik yang sudah jadi tanah ataupun yang masih ‘glondongan’, kotoran kelelawar (kalau yang ini kayaknya belum deh… baru ide), kaliandra, pasir malang, pasir bangunan (semua sudah diayak), daun bambu, cocopeat, cocochip, arang batok, arang kayu, pecahan bata, pecahan batako, pecahan genteng, tanah sawah, tanah merah / coklat / hitam, gabus / styrofoam … sampai pada pupuk moderen made in dalem negri sampai dari bawah planet, be-satu, growmore, super thrive, hyponex, gandasil, osmocote, dekastar, atonik, metalik, extreme root, extreme growth, bao-de, ‘viagra’, root-up, quick grow, biozon, similikiti, weleh weleh, capek deh… blender gak lagi dipakai nge-jus buah, rusak gara-gara buat nge-gerus taie-kambinge… binie sewote… malem-malem begitu kumendan tidur kita mengendap-endap bak orang mau selingkuh, nggodok media sambil mulut ngepul terus kayak sepur taun dodol, aduk-aduk layaknya mengaduk cairan bijih emas yang siap dicetakdan menghayal besoknya punya kumpeni sekelas deBeers… atau minimal jadi saingan Wijaya… the art of the garden… kadang sampai jam 2 pagi masih cuci-cuci media atau sekedar ngelap-ngelap daun, spray-spray tipis (padahal jam ½ tigaan sudah harus diangkut sama malingnya)… UEDIAN TENANAN !
Sekali lagi ini hanya pengalaman saya bergila-ria dengan aglo… atas nama hobby (meski terpaksa banyak bohong sama bini), ditempat saya, dengan kondisi lingkungan alam Buitenzorg (Bogor), tepatnya di BSD (Billabong Sonoan Dikit alias Pura Bojonggede), air sumur fresh (kalau diminum benar-benar bisa menghilangkan dahaga), cukup panas namun sering hujan (Bogor hanya mengenal 4 musim – musim mendung, musim hujan, musim banjir dan musim kawin…he…he…), tempat sempit, sinar matahari terbatas
(11AM-14PM), angin hanya mengandalkan exhaust fan (kalau PLN nggak ‘njeglek’). Di tempat lain mungkin akan berbeda bahkan seratus delapan puluh derajat. Jadi ini sifatnya hanya ‘emperis’, ‘gak elmiah blasss…’
butuh diverifikasi, dikoreksi… dan bila perlu boleh kasi komisi (…asal jangan bonggolan dece!) untuk mungkin kedepan bisa dijadikan sekedar buku saku untuk menghindari ‘totally damaged’ terutama untuk aglo kelas ‘benci tapi rindu’, ‘rindu ama gadis’ atau ‘mata melek otak njeglek’ (bak abis di-ka-o mat taisen).

Continue Reading Secangkir Kopi Hangat untuk Hobiis Pemula…

Kiat Hasilkan Aglaonema Juara

June 28, 2008 at 8:48 am | Posted in CARA BERTANAM DAN PERAWATAN | Leave a comment

Kiat Hasilkan Aglaonema Juara

Oleh Bpk. Songgo dan Bpk. Wiwik

Parkir Timur Senayan, 27 Juni 2008

Diketik ulang sesuai aslinya

oleh Bpk. Henry Biantoro

Lingkungan Tumbuh

Setelah mendapat bibit berkualitas, selanjutnya mencari lokasi tepat agar Srirejeki itu bisa tumbuh prima. Bila ada ruang kosong dan sedikit dana, sebaiknya dibangun rumah plastik. Tujuannya agar pemberian air terkontrol. Artinya, tanaman hanya menerima air dari penyiraman. Ditempat terbuka, turunnya hujan sulit dikontrol. Akibatnya pada musim hujan, kelembaban disekitar tanaman menjadi lembab. Akibatnya penyakit merajalela. Tanaman kesayanganpun menjadi sasaran serangan. Di tempat ternaung, kelembaban terkontrol sehingga mengurangi keberadaan atau akibat serangan penyakit. Selain itu, titik hujan juga bisa membuat daun merunduk bahkan daun jadi sobek atau patah. Pemakaian jaring peneduh, hanya sekedar mengurangi intensitas sinar matahari sehingga menjadi teduh. Namun tidak bisa mengurangi terpaan air hujan. Namun bila keterbatasan dana, cukup banyak pecinta yang meletakkan koleksi aglao ditempat terbuka. Tanamannya pun tetap tumbuh dengan baik. Tentu saja ada persyaratan yang harus dipenuhi. Pot mempunyai banyak lubang agar sirkulasi udara dan air berlangsung lancar. Kalau tidak, koleksi bakal sulit tumbuh prima karena dihadang penyakit.

Pencahayaan perlu diperhatikan. Aglaonema merupakan tanaman daun yang anti pada sinar matahari langsung. Kebutuhan cahaya minim, hanya maksimum 40 %. Bila lebih, daun akan keriput, pudar, daun terbakar, hingga akhirnya mati. Untuk mengatasi bisa dipakai net untuk meneduhkan. Biasanya yang tersedia dipasaran hanya 55 %, 65 % dan 75 %. Namun dengan naungan seperti itu, pada musim panas, tetap belum memadai. Sehingga pada umumnya pekebun memasang 2 rangkap. Ada pula yang memasang net 90 % karena lebih teduh sehingga tidak harus memasang dobel. Paranet khusus ini biasanya digunakan oleh petambak udang.

Di areal itu, maka idealnya sinar matahari berkisar 28°C – 30°C. Bila suhu lebih dari itu, biasanya diatasi dengan melakukan penyiraman. Idealnya tanaman menerima sinar matahari secara merata. Bila hanya satu sisi yang menerima sinar, maka arah tumbuh daun tidak seragam. Daun yang berada atau muncul di bagian yang kurang cahaya akan tumbuh lebih tinggi ketimbang yang menerima sinar lebih banyak. Arah daunpun hanya satu arah, sehingga sosok tanaman tidak kompak. Kalaupun keterbatasan tempat menjadi penyebab, maka pemilik harus sering melakukan pemutaran tanaman agar bisa tumbuh kompak. Tinggi naungan 3 -4 m dari permukaan tanah.

Kelembaban diharapkan rendah, atau berkisar 30 % – 60 %. Untuk mendapatkan kelembaban ideal itu, ada beberapa hobiis yang melengkapi rumah plastik dengan kipas angin. Tujuannya agar sirkulasi udara berjalan dengan baik. Demikian pula dengan titik air diudara sehingga kelembaban jadi rendah. Penyakitpun diharapkan enyah ‘tertiup’.

Namun ternyata, kipas angin yang terus menerus aktif membuat tanaman dan medianya kekeringan. Agar tanaman tidak mengalami kekeringan maka dilakukan penyiraman lebih sering. Kalau kelamaan atau keseringan menerima udara panas, maka pada pinggir dan ujung daun jadi cokelat.

Media

Setelah mendapatkan bibit dan lokasi atau rumah yang tepat, pemilik segera mempersiapkan media tanam. Ada berbagai bahan yang bisa dipilih. Misalnya sekam bakar, cacahan pakis oven, humus kaliandra, pasir Malang dan coco-peat. Bahan lainpun bisa dipakai, bila lebih mudah diperoleh. Bahan-bahan itu kemudian dicampur. Komposisi masing-masing bahan biasanya dibuat berdasarkan lingkungan. Bila agak lembab, maka komponen yang bersifat porous dipakai lebih banyak. Sedangkan bila daerah kering, ditambahkan bahan yang menyerap air bisa lebih banyak. Salah satu komposisi yang bisa dipakai, yaitu dengan perbandingan 1:1:1:1:1. Artinya setiap bahan perbandingannya sama.

Namun sebelum mencampur, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, terutama untuk bahan kaliandra dan coco-peat. Kedua bahan itu direndam 2 – 4 minggu. Air yang digunakan diberi fungisida, atau sedikit dolomite. Setelah diaduk, media direndam. Bila digunakan 2 – 4 minggu kemudian, bahan itu diangkat lalu dibilas hingga bebas dari fungisida. Setelah ditiriskan, media siap dicampur. Bahan lain bisa langsung dipakai. Tambahkan sedikit zeolit yang membantu porositas. Campuran media itupun siap dipakai.

Pilih wadah atau pot yang seukuran dengan bola akar. Pemilihan juga didasari oleh sifat tanaman. Untuk jenis bongsor, gunakan pot lebih besar karena potensi bola akar yang dihasilkan besar. Contohnya Widuri dan Hot Lady. Sedangkan Legacy atau Lipstick bisa menggunakan pot kecil karena bola akar juga kecil. Wadah itu kemudian dilubangi agar sirkulasi air dan udara lancar. Tidak ada patokan khusus baik jumlah atau ukuran. Pada pot besar, dibuat lubang besar dan banyak. Bila sebelumnya hanya 3 – 6 buah lubang, maka perlu dibuat 10 – 15 lubang. Sebagian didasar pot sebagian didinding pot. Dengan lubang lebih banyak, sehingga meski sering disiram, tidak akan membahayakan tanaman.

Untuk menanam, pot diisi dengan media hingga sepertiga bagian. Tidak perlu memasukkan Styrofoam sebab berpotensi merusak akar saat ditembus. Masukkan batang di media dan timbun. Setelah itu ditimbun lagi hingga 1/3 bagian. Lalu masukkan pupuk slow release (maksudnya setelah pot terisi 2/3 bagian). Pupuk ini merupakan sumber hara utama tanaman.

Pemupukan

Meski telah disediakan cadangan hara dari pupuk lambat urai dan humus kaliandra, tetapi, sebaiknya tanaman tetap diberikan asupan tambahan. Bisa dipilih pupuk kimia yang diberikan lewat akar atau daun. Frekuensi pemberian bisa dilakukan per 2 hari atau per 2 minggu. Dosis pemakaian 2 hari yaitu 1/5 dosis anjuran. Sedangkan yang diberikan per 2-4 minggu, dosisnya sesuai anjuran.

Sebenarnya bila diberikan per 2 hari, mempunyai resiko tanaman cepat jenuh. Biasanya ditandai dengan munculnya tepung-tepung putih dipinggir daun. Bila itu terjadi, sebaiknya daun disemprot sehingga tepung itu hilang. Sebaiknya akar juga harus dimanfaatkan menyerap hara dengan memberikan larutan pupuk lewat tanah dengan mengocor. Gunakan beberapa pupuk secara bergantian. Selain pupuk juga diberikan fungisida dan bakterisida. Contoh larutan Super Thrive + Growmore + Baktosin. Ulangi setiap bulan.

Pada lingkungan kering serangan hama dan penyakit relatif kurang. Namun, ada saja penyakit yang biasa menyerang, terutama mealy bug dan kutu putih. Binatang-binatang itu cukup lihai dengan memanfaatkan saluran pelepah daun untuk bersembunyi. Agar pestisida yang diberikan efektif, maka kocor racun itu dari atas, dengan demikian, sela-sela daun juga diisi racun sehingga musuh tanaman itu ‘enyah’.

Penyiraman

Aglaonema sebenarnya tanaman yang suka air. Jadi penyiraman bisa dilakukan pagi – sore hari, bahkan pada siang bolong pun bisa disiram untuk menurunkan suhu. Selain media dibuat porous, bagian yang disiram pun hanya daun. Pengguyuran media atau tanaman dilakukan hanya bila media amat kering. Biasanya dilakukan setiap 5 – 7 hari, tergantung kondisi media. Biasanya, pemberian air secara tepat dapat merangsang agar daun tumbuh optimal sesuai dengan potensi genetiknya.

Penggantian Pot

Pohon besar yang (mungkin maksudnya ‘jangan’) terlalu sering dibongkar karena riskan putus akar. Bahkan bila hanya akan memisahkan anak, tidak perlu membongkar tanaman, tetapi dengan menggali sehingga bagian yang akan dipotong. Tujuan utama pengantian pot agar akar leluasa bergerak. Biasanya dilakukan karena bola akar sudah padat. Media yang padat menghalangi pembentukan anakan. Selain mengganti pot, biasanya diiringi dengan memisahkan anakan. Dan mengganti media baru. Proses ini dilakukan setiap 6 – 12 bulan, tergantung kondisi tanaman. Media yang digunakan sama dengan sebelumnya, hanya lebih baru. Biasanya, media itu dibuat membumbung. Tujuannya merangsang pembentukan akar. Bila batang atau pangkal batang dipenuhi akar, memudahkan untuk perbanyakan lewat stek. Sebab stek batang itu mudah dan cepat membentuk tunas karena mempunyai kemampuan menyerap hara. Namun ada batasan kedalaman, yaitu maksimal 8 ruas, terdiri dari 4 ruas tanpa daun dan 4 ruas dengan daun.

Perbanyakan

Ada beberapa teknik perbanyakan Aglaonema. Diantaranya lewat pemisahan anakan. Stek dan cangkok. Perbanyakan dengan stek ada beberapa cara. Ada cara memotong dengan 1 ruas atau lebih. Perbanyakan cara ini dianggap paling riskan karena gampang mati. Namun, dengan mengikuti kiat berikut, semoga bisa berhasil.

Pohon sehat – Siapkan indukan yang sehat, minimal memiliki 15 daun dan sehat. Indukan yang sakit akan mengakibatkan tingkat keberhasilan lebih rendah.

Peralatan Yang Dibutuhkan – Siapkan peralatan pisau, fungisida, pot dan media untuk perbanyakan.

Korek Lubang – Korek media untuk menentukan tempat memotong.

Potong Batang – Potong batang dengan menyisakan 1-2 lembar daun untuk bonggol.

Hasil Pemotongan – Hasil pemotongan menyisakan bahan yang masih panjang.

Olesi Fungisida – Olesi luka di bonggol dan sisa potongan agar bebas dari busuk.

Potong Sisa Potongan – Potong lagi sisa potongan itu menjasi beberapa bagian dengan memotong 1 – 2 ruas.

Hasil Cacah – Dari 1 pohon diperoleh 8 bibit baru.

Tanam di Pot Kecil – Bibit langsung ditanam di pot kecil.

Siram Air Bersih – Siram dengan air agar lembab.

Satu Bulan Bertunas – Bibit diletakkan ditempat aman, dan bertunas 1 bulan kemudian. Anakan itu bisa dipisahkan 2 – 3 bulan kemudian, Saat itu akar sudah cukup banyak. Setelah ditanam, diperoleh individu baru lagi.

Persiapan Kontes

Untuk persiapan kontes, perlu persiapan beberapa bulan sebelumnya. Bahkan bisa sampai 1 tahun. Dimulai dengan melakukan pengaturan anakan agar kelak tumbuh rimbun. Proses itu dilakukan sekaligus untuk mengganti pot dan media. Anakan yang tidak tumbuh merata pada sisi tertentu diarahkan sehingga mengelilingi induk. Biasanya anakan itu muncul sesuai dengan arah daun yang melingkar seperti spiral. Setelah besar, sosok keseluruhan jadi kompak. Daun-daun yang tertekuk karena banyaknya daun diarahkan agar lurus. Bila perawatan diatas diterapkan, tanaman akan tumbuh optimal. Sehari sebelum hari H, daun dan batang dibersihkan dari kotoran yang mungkin melekat. Tanaman disemprot dengan Vit B1 untuk memperkuat ketahanan.

Masalah Air untuk Aglaonema

January 25, 2008 at 2:02 pm | Posted in CARA BERTANAM DAN PERAWATAN | 1 Comment

Masalah Air untuk Aglaonema

Pak Syamsul wrote:

Rekan aglaover yang terhormat.
Saya seorang pemula, dan ada permasalahan dengan air tanah dirumah yang setelah dites dilab ternyata banyak mengandung lumpur dan zat besi, maklum dulunya bekas empang. Apakah dampak yang akan timbul dari air tersebut terhadap aglao yang saya miliki??
Kemudian kalau saya pakai air PAM baguskah buat aglao yang saya miliki? (katanya juga banyak mengandung kaporit).
Saya sangat membutuhkan pencerahan dari rekan2 sekalian.
Terimakasih sebelumnya.

Salam
Syamsul

Pak Fennani Arfan wrote:

Pak Samsul Hadi yth

Memang salah satu kendala bertanam di perumahan adalah air pak.
sepengetahuan saya kalau air tanah mengandung lumpur dan besi biasanya bersifat asam (Ph nya kurang dari 7). untuk aglao maunya normal (Ph = 7).
Air PAM mengandung kaporit yang tidak baik untuk aglao karena merupakan racun.
 Bagaimana jalan keluarnya? Saran, ini saran pak mungkin ada teman yang lain yang punya pengalaman lain,

1. Air PAM kalau mau digunakan untuk nyiran aglao sebainya diberi zat panghilang kaporit (banyak dijual ditoko ikan hias).
2. Air PAM bisa juga di aerasi dulu selama 24 jam, baru di gunakan
3. Air tanah bisa juga di aerasi selama 24 jam lalu didiamkan dan disaring, baru digunakan untuk nyiram aglao.

Mungkin ini dulu pak share dari saya, bagai mana rekan-rekan yang lain yang punya pengalaman dengan air, mohon pencerahannya.

salam AG
Fennani Arpan

Pak Zainuddin Siregar wrote:

Memang belum pernah coba nih air yang mengandung besi (teringat daerah sungai besi di kuala lumpur .. Di daerah itu banyak peninggalan danau2 bekas tambang biji besi.. saya yakin kandungan besi cukup tinggi di situ.. pernah lihat program pemerintah disini tentang penanaman sayur2an sistem hidroponik menggunakan air danau dan ditanam di rakit di atas danau bekas lumbong (tambang) besi itu.. hasilnya tanaman sayur2 subur.. kalau ingat ini, kayaknya ga terlalu masalah buat aglao… kalau khawatir sih coba dulu ke aglaonema biasa (ijo royo2)..

Air Pam, saya termasuk yg menggunakan air pam langsung untuk nyiram, semprot, dll.. karena memang ga punya sumur..paling sesekali pakai air hujan yang ditampung.. Sepertinya ga masalah.. tapi mungkin ini tergantung kadar kaporit di masing2 tempat…

salam

zai

Pak Andri Minggon wrote:

sapa tau aja bisa meningkatkan kualitas pertumbuhan aglo dan menambah subur, bisa2 bikin mutasi. hihihi………..

Pak Gede Sudarma wrote:

Sekedar menambahkan… (berdasarkan pengalaman piara ikan akuarium), untuk menghilangkan kaporit (senyawa Cholrida) bisa dilakukan dengan menyaring air PAM dengan serbuk carbon aktif (dijual ditoko akuarium sudah di pak dalam kantong saringan) atau dengan batu zeolit (atau batu kapur) yang sudah di hancurin kecil-kecil, juga bisa diperoleh ditoko sejenis.
Cara yang paling sederhana adalah dengan membiarkan air PAM di tempat penampungan terbuka selama 2-3 hari, untuk menguapkan gas chlorine-nya (Cl2), cuman hati-hati bisa jadi sarang nyamuk.
Kenapa nggak dicobakan saja ke aglo yang kelas murah, yang hijau, siapa tahu bisa mutasi merah… ‘setiap daerah membawa rejeki tersendiri’.

Salam,
Gede Sudarma

Mengatasi Problem Busuk Akar

January 21, 2008 at 11:40 am | Posted in CARA BERTANAM DAN PERAWATAN | Leave a comment

Mengatasi Problem Busuk Akar

Tomo wrote:
Pak Gede numpang nyeletuk,
kalau di pemain besar saja tewas karena busuk akar, bagaimana dengan yang pemula kayak saya ini.
Apakah rekans pernah ada yang mengamati perilaku aglao sepanjag tahun, kaitannya dengan peruabahan suhu, musim, kecepatan pertumbuhan, kecepatan beranak dsb?

salam,
tomo

Pak Gede Sudarma wote:
Mas Tomo,
Problem utama hobbyst aglo pada umumnya adalah busuk akar karena ‘over-watering’, media tidak ‘steril’ serta kekhawatiran dari hobbyst kalau media kekeringan lalu aglonya mati dan kekurang-sabaran. Problem lain banyak, tapi relatif masih bisa diatasi. Nah, ‘over-watering’ ini disebabkan oleh kurang pengalamannya kita terhadap perubahan musim dan lingkungan dimana aglo tersebut berada serta penggunaan media yang kurang pas dengan cuaca. Bisa jadi untuk dilingkungan yang sama (katakanlah dirumah), antara ditempat teduh dan ditempat yang kena sinar, medianya sama sekali berbeda.
Contoh sederhana, penggunaan pakis (umumnya hobbyst selalu berpikiran bahwa akar pakis itu sangat porous). Media pakis, kalau ditempat yang kena sinar bisa jadi sangat cepat kering, tapi begitu di tempat teduh, lembab atau basahnya menjadi lama karena akar pakis lama ‘memegang’ air. Idealnya (ini pengamatan saya saja), apapun medianya dan dimanapun aglo ditempatkan, dalam waktu paling lama 2 hari media harus kering atau minimal lembab sedikit. Jadi semua petunjuk di buku-buku itu saya pikir sifatnya hanya ‘guidance’, petunjuk umum… yang selebihnya tergantung ‘improvisasi’ kita yang disesuaikan kondisi lingkungan dan cuaca kita dirumah. Kunci utamanya ‘MEDIA HARUS POROUS DAN CEPAT KERING’ (maaf menggunakan huruf besar, maksudnya biar agak jelas).
Media yang memberikan efek lekas kering (umumnya) sekam bakar, kompos batang bambu, cocopeat, arang. Kemudian campuran bahan lainnya bisa apa saja, tinggal disesuaikan komposisinya untuk memberikan efek diatas.

Maaf, agak panjang, rodo njelimet….. dan akhirnya gak jelas dan gak nyambung….

Salam,
Gede Sudarma

Pak Henry Biantoro wrote:
Menurut pengalaman saya (belum tentu yang paling benar):

v Komposisi media: Pakis cacah (2 bagian); Sekam Bakar (2 bagian); Pasir Malang (1 bagian) dan Kaliandra (1 bagian).
v Penyiraman 3 hari sekali (musim panas) atau 4 hari sekali (musim hujan).
v Pemupukan hanya setiap dua minggu, dengan pupuk daun yang disemprotkan keseluruh bagian daun (atas-bawah) dan media.
v Pestisida untuk pencegahan, setiap dua minggu secara bergantian antara fungisida dengan bakterisida, dicampur dengan pemupukan.

Ternyata sewaktu mengganti media setelah enam bulan (karena saya diberitahu kalau pakai kaliandra harus ganti media setiap enam bulan), sama sekali belum ada akar yang rusak. Menurut pengalaman saya, penggantian media tidak menyebabkan tanaman stress asalkan tidak ada atau tidak banyak akar yang terganggu atau rusak, juga setelah ganti media saya hanya siram media baru dengan fungisida campur bakterisida plus Vitamin B-1, setelah itu selama dua minggu pertama saya tidak memberi pupuk apapun.

Bli Gede benar sekali, banyak diantara kita yang tidak tega kalau melihat media yang bagian atas terlihat kering (termasuk saya sendiri). Tapi kita harus tega karena bagian dalamnya kalau kita bongkar masih lembab. Waktu pertemuan di TAIP, Pak Greg juga cerita kalau Pak Greg sudah mencoba untuk tidak menyiram satu pot Aglaonema selama 10 hari, ternyata tidak menyebabkan tanaman menjadi layu apalagi wafat.

Kesalahan umum yang kedua akibat nafsu kita untuk mempercepat pertumbuhan dan mendapatkan anakan adalah pemupukan yang berlebihan, sehingga dapat mengakibatkan daun layu/terbakar, daun keriting, dan kalau media terlalu asam maka akar akan sangat mudah terserang jamur alias busuk.

Demikian dari saya, semoga bermanfaat.

Salam AI,
Henry Biantoro

Next Page »

Blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.