Insektisida sistemik organik – Air Beras???

November 15, 2008 at 8:47 am | Posted in HAMA dan PENYAKIT | 17 Comments

Insektisida sistemik organik – Air Beras???
oleh: Bpk. Faries Fadhil, Jakarta

Sudah 3 hari ini saya tidak habis pikir tentang ramuan ajaib Pak Heri (pemilik Gonku Nursery tempat gathering bulan lalu) untuk membunuh ulat di pohon rambutan yang jumlahnya ratusan itu

Pohon yang letaknya dekat ruang perbanyakan ini memang gundul hampir 50% karena diserang ulat

Hari senin pagi2 sekitar pukul 8.. saya nemenin beliau yang cengangas-cengenges bawa 2 liter air beras … ini air dukun katanya heheheheh… air beras ini kemudian disiramkan ke tanah tepat di bawah tajuk si rambutan…. liat aja besok kata dia…

Besoknya.. pagi2 sekali .. banyak sekali ulat bergelimpangan di bawah pohon… lho lho lho…. ada apa ini… kok bisa… hari berikutnya jumlah korban makin banyak… saya makin tidak habis pikir..

Apa yang dibawa si air beras ini hingga bisa membunuh ulat secara sistemik… eddaaann .. selama saya kuliah di bogor.. baru kali ini saya kagum sama insektisida made in dapur ini..

Kebetuan di rumah saya… Semua aglo selalu disiram air beras tiap hari kecuali beberapa.. yaitu Siam Aurora, Butterfly, dan satu Alocasia… ini juga ajaib.. ketiga makhluk ini langsung cepak dihajar ulat.. sementara yang lainnya ga disentuh sama sekali… sekalipun saya temukan cangkang telur ulat di daun yang lainnya…

Hari ini saya sharing dengan sangat berbahagia dan penasaran hehehehe

Air Beras… ada apa dengan dirimu… ternyata sakti hehehehehe

About these ads

17 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Saya pikir itu adalah campuran air beras dan bawang merah, bawang putih, temulawak, cabe rawit, kacang babi yang diperamn selama 14 hari….seperti temuan Mr. Fuad Affandi

    Kalaupun bukan itu dan air beras saja…saya pikir ada hubungan antara biakan bakteri akibat air beras yang disiramkan dan bakteri itulah yang membunuh ular-ular tersebut..atau enzim yang dikeluarkan bakteri itulah yang membunuh ulatnya.

    Hanya saja masih perlu dicari alasan ilmiahnya sebagai berikut :
    1. Gejala ulat mati seperti apa? ini berhubungan dengan jenis zat yang membunuhnya.
    2. Mikroorganisme didalam tanah dan medianya apa saja?
    3. Teliti air berasnya…apa air beras murni atau ada campurannya…..

    Salam
    Dian

  2. Air beras murni… lha wong dia langsung minta ke istrinya yang lagi nyuci beras… makanya saya bingung, penasaran, campur seneng.

    Kayaknya kejauhan deh kalo bakteri yang membunuh si ulat.. Ini terjadi secara sistemik dalam tempo cepat. Secepat insektisida sistemik yang sintetik..

    Ini reaksi endogen antara air beras yang disiramkan dengan sistem fisiologis si tanaman..

  3. Saya juga heran jika air beras murni langsung bereaksi dengan fisiologis tanaman…apalagi dicoba di rambutan tokcer dicoba di aglaonema juga tokcer…karena ada perbedaan fisiologis dari keduanya. artinya ada mekanisme general yang membuat saya makin heran.
    Karena kandungan air beras adalah :

    Sebagaimana bulir serealia lain, bagian terbesar beras didominasi oleh pati (sekitar 80-85%). Beras juga mengandung protein, vitamin (terutama pada bagian aleuron), mineral, dan air.
    Pati beras dapat digolongkan menjadi dua kelompok:

    * amilosa, pati dengan struktur tidak bercabang
    * amilopektin, pati dengan struktur bercabang.

    Komposisi kedua golongan pati ini sangat menentukan warna (transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera).

    Amilosa merupakan polisakarida, polimer yang tersusun dari glukosa sebagai monomernya. Tiap-tiap monomer terhubung dengan ikatan 1,6-glikosidik. Amilosa merupakan polimer tidak bercabang yang bersama-sama dengan amilopektin menjadi komponen penyusun pati. Dalam masakan, amilosa memberi efek “keras” atau “pera” bagi pati atau tepung.

    Amilopektin merupakan polisakarida yang tersusun dari monomer α-glukosa (baca: alfa glukosa). Amilopektin merupakan molekul raksasa dan mudah ditemukan karena menjadi satu dari dua senyawa penyusun pati, bersama-sama dengan amilosa.
    Walaupun tersusun dari monomer yang sama, amilopektin berbeda dengan amilosa, yang terlihat dari karakteristik fisiknya. Secara struktural, amilopektin terbentuk dari rantai glukosa yang terikat dengan ikatan 1,6-glikosidik, sama dengan amilosa. Namun demikian, pada amilopektin terbentuk cabang-cabang (sekitar tiap 20 mata rantai glukosa) dengan ikatan 1,4-glikosidik. Amilopektin tidak larut dalam air.

    Dugaan saya adalah Bakteri thuringensis (Bt), hal ini berdasarkan adanya karbohidrat dan protein dalam air beras.

    Ketika Bt tertelan oleh serangga yang rentan, cristal protein akan terlarut dalam kondisi basa dalam saluran pencernakan (midgut) dana menghasilkan protoksin yang dengan adanya enzim proteolitik akan membuat protoksin ini aktif. Bagian dari molekul toksin ini akan melekat pada dinding gut untuk membentuk lubang atau pores pada dinding gut. Formasi pores ini akan menyebabkan terganggunya keseimbangan osmotik sepanjang gut yang pada akhirnya sel-sel gut akan membengkak dan beberapa akan meletus menyebabkan bakteri dapat menginvasi haemocol serangga, sehingga bakteri ini

    akan cepat memperbanyak diri dan serangga yang rentan akan mati dalam 1-2 hari

    Larva yang terinfeksi oleh Bt akan menunjukkan perubahan perilaku dan morfologi. Setelah beberapa jam menelan Bt, maka larva akan berhenti makan, berhenti bergerak, kemudian ditunjukkan dengan gejala perubahan diare, berubah warna menjadi agak gelap, dan akhirnya akan mati.

    Saya lampirkan gambar Ulat yang terinfeksi bakteri thuringensis…

    Salam

    Dian

  4. Awalnya terpikir juga oleh saya tth si BT ini… tetapi saya makin ga yakin.. kenapa? sebab setelah disiram, sore harinya si ulat-ulat terlihat aneh… berhenti makan dan menekuk tubuh ke belakang hanya sekitar 7 jam setelah disiram air beras.. ini sama cepatnya dengan insektisida sistemik sintetik.

    Bt yang pernah saya pakai untuk membunuh ulat racunnya tidak bekerja secara sistemik tetapi kontak.. Si Bt sendiri pun menginfeksi si ulat sebagai patogen

  5. Menurut beberapa orang dari IPB (sayangnya jawaban mereka kurang ilmiah) hal tsb kemungkinan disebabkan oleh zat yg dikandung oleh tubuh/kulit ulat sama dgn zat yg dikandung air cucian beras. Sehingga kalau air tsb disiramkan ke tubuh ulat maka akan menutupi saluran pernafasan ulat setelah airnya kering. Analogi orang IPB tsb (walau juga kurang ilmiah) adalah kita dipersilahkan mandi dgn air cucian beras, pasti gatal gatal. Begitu juga dgn ulat tsb, udah gatal-gatal air berasnya juga menutup saluran pernafasan setelah kering.

    Wassalam,

    Rudy Surbakti
    Medan

  6. Kalau menurut saya Bt bukan jenis insektisida kontak. mungkin perlu saya lurusken bahwa perbedaan antara sistemik dan kontak tidak hanya dilihat dari transportasi bahan aktif melalui akar, jaringan xylem, lalu ke daun ataupun lewat luar tubuh tanaman. Tetapi perbedaan juga terletak pada MODE OF ENTRY INSECTISIDA…dimana disitu terdapat racun lambung dan perut, racun kontak dan racun inhalasi dengan berbagai derivasi Mode of action-nya.

    Mode of action racun kontak membunuh melalui masukknya racun melalui jaringan kutikula serangga..sedangkan racun perut/lambung melalui mulut yang memakan tanaman yang ditempelinya. melihat menekuknya ulat pada bagian lambung baik melungker maupun njepat kebelakang kayaknya memang karena serangan pada lambung/perutnya dikarenakan proses seperti dibawah ini :

    Ketika Bt tertelan oleh serangga yang rentan, cristal protein akan terlarut dalam kondisi basa dalam saluran pencernakan (midgut) dana menghasilkan protoksin yang dengan adanya enzim proteolitik akan membuat protoksin ini aktif. Bagian dari molekul toksin ini akan melekat pada dinding gut untuk membentuk lubang atau pores pada dinding gut. Formasi pores ini akan menyebabkan terganggunya keseimbangan osmotik sepanjang gut yang pada akhirnya sel-sel gut akan membengkak dan beberapa akan meletus menyebabkan bakteri dapat menginvasi haemocol serangga, sehingga bakteri ini
    akan cepat memperbanyak diri dan serangga yang rentan akan mati dalam 1-2 hari.

    Jika ada yang 7 jam mati itu adalah kejadian dimana kualitas lambung serangga memang lebih rentan dari yang lainnya. Tetapi kalau melihat uraian besoknya ditemukan pada KO uletnya, kalo boleh saya simpulkan masuk dalam range 1-2 hari.

    Bukti kuat lagi adalah, bakteri ini terdapat hampir disemua tanah dan air beras adalah pemicu pembiakan yang cocok untuk Bt ini dikarenakan kandungan karbohidrat dan proteinnya. Pada Air beras tidak didapatken bahan aktif insektisida yang bisa ditransportasikan secara spesifik melalui jaringan taneman. Dan dari kandungan air beras, kemungkinan tidak ada atau bahkan kecil sekali bereaksi dengan sesuatu zat didalam tubuh tanaman. Apalagi pada rambutan tokcer dan pada aglaonema tokcer, yang satu berfisiologis khas tanaman kayu dan buah, yang satunya berfisiologi khas tanaman dengan batang tidak berkayu dan bukan buah…

    Base on diatas saya menduga adalah bakteri thuringensis penyebabnya…Tetapi anyway ini menarik untuk diteliti secara metodis dan sistematik..dianalisis di laboratorium akan lebih jos, karena jika betu; hipotesisnya…akan sangat mudah mendapatken air beras…dan akhirnya lumayan buat lingkungan dan bagus untuk hemat biaya produksi….

    Salam Diskusi Secara Sehat
    Dian

  7. Oh iya,info tambahan…. si ulat yang menyerang ini adalah grayak kuning – Spodoptera exigua

    Mungkin memang Bacillus thuringensis.. saya juga ga percaya kalo ini dari si air beras langsung. Selain Bt.. apa ada kemungkinan lain ya…

    Tapi masuknya si racun ke ulat jelas lewat akar-batang-daun. Jadi saya juga yakin ada hubungan juga dengan fisiologis tanaman.

  8. Bacillus thuringiensis (Bt) adalah bakteri gram positif yang berbentuk batang, aerobik dan membentuk spora. Banyak strain dari bakteri ini yang menghasilkan protein yang beracun bagi serangga. Sejak diketahuinya potensi dari protein kristal Bt sebagai agen pengendali serangga, berbagai isolat Bt dengan berbagai jenis protein kristal yang dikandungnya telah teridentifikasi. Sampai saat ini telah diidentifikasi protein kristal yang beracun terhadap larva dari berbagai ordo serangga yang menjadi hama pada tanaman pangan dan hortikultura. Kebanyakan dari protein kristal tersebut lebih ramah lingkungan karena mempunyai target yang spesifik sehingga tidak mematikan serangga bukan sasaran dan mudah terurai sehingga tidak menumpuk dan mencemari lingkungan.

    Mekanisme Patogenisitas
    Kristal protein yang termakan oleh serangga akan larut dalam lingkungan basa pada usus serangga. Pada serangga target, protein tersebut akan teraktifkan oleh enzim pencerna protein serangga. Protein yang teraktifkan akan me-nempel pada protein receptor yang berada pada permukaan sel epitel usus. Penempelan tersebut mengakibatkan terbentuknya pori atau lubang pada sel sehingga sel mengalami lysis. Pada akhirnya serangga akan mengalami gangguan pencernaan dan mati.

    Cara Isolasi
    Isolat Bt dapat diisolasi dari tanah, bagian tumbuhan, kotoran hewan, serangga dan bangkainya dan sumber lain. Salah satu cara isolasi yang cukup efektif adalah dengan seleksi asetat. Beberapa gram sumber isolat disuspensikan ke dalam media pertumbuhan bakteri (misal LB) yang mengandung natrium asetat kemudian dikocok. Media asetat tersebut menghambat pertumbuhan spora Bt menjadi sel vegetatif. Setelah beberapa jam media tersebut di-panaskan pada suhu 80°C selama beberapa menit. Pemanasan ini akan membunuh sel-sel bakteri atau mikroorganisme yang sedang tumbuh termasuk spora-spora bakteri lain yang tumbuh. Kemudian sebagian kecil dari suspensi yang telah dipanaskan diratakan pada media padat. Koloni-koloni yang tumbuh kemudian dipindahkan ke media sporulasi Bt. Koloni yang tumbuh pada media ini dicek keberadaan spora atau protein kristalnya untuk menentukan apakah koloni tersebut termasuk isolat Bt.

    Beberapa isolat Bt lokal yang mengandung gen cry1 dan beracun terhadap beberapa serangga dari ordo Lepidoptera seperti Ostrinia furnacalis (penggerek jagung), Plutella xylostella (hama kubis), Spodoptera litura (ulat grayak), Spodoptera exigua (hama bawang merah) dan Etiella zinckenella (penggerek kedelai).

    Reaksi Fisiologis
    Saya tidak melihat ada reaksi fisiologis yang bisa ber-output racun dalam tanaman rambutan dan aglaonema seperti yang Mr.Faries ramalkan..Berbicara tentang Biokimia tanaman agak aneh jika Input nya air beras yang isinya karbohidrat dan protein bereaksi dengan unsur kimia dalam tanah atau tumbuhan dan menghasilkan racun…

    Jika bakteri, memang logika dasarnya air beras bisa menjadi media biakan yang baik untuk bekteri ini..

    Trus yang membuat saya juga heran Spodoptera Exigua serangga Bawang Merah kok sampai diatas pohon rambutan dan aglaonema anda mas ? Seharusnya rambutan akrab dengan ulat Hyperaeschlera Insulicola kiriakoff. atau Tarsolepis sommeri yang pertaman biasa didapatkan di Jawa dan yang kedua sring ditemui di Sumatera Utara.

    Mungkin ada pattern reaksi lain secara fisiologis yang bisa diuraikan secara ilmiah?? silahken siapa tahu bisa menambah khasanah Ilmu Pengetahuan kita. Kalo saya sementara bertahan dengan hipotesis seperti diatas sebelum ada teori yang bisa meruntuhkan logika2 hipotesisnya….

    Salam Berdiskusi
    Dian

  9. Ini adalah jawaban dari salah seorang teman yg ahli pertanian.

    Bung Rudy,
    mohon maaf saya agak telat nimbrung.
    Sebagai praktisi saya berprinsip bahwa penelitian ilmiah harus didasari fenomena dan temuan alam yg sederhana. Karena gen Bt tidak disisipkan ke semua beras yg dipakai, sementara manfaat tsb pada semua beras dan hampir pada semua tanaman.
    Ada bagian tertentu dari makhluk hidup yg menjadi potensi alamiah sebagai sumber senyawa yg antagonis, repellant, dan antibiosis, dlll.. Masih panjang kalau diurut.
    Nah yg terdapat di kulit beras itu adalah sejenis insektisida alami plus senyawa lain yg bahkan lebih mujizat dibanding produk2 tertentu oleh perusahaan raksasa.
    Yg sering membuai kita adalah senyawa murni. Semua harus dimurnikan. Kita lupa bahwa ada senyawa yg hampir tak terdeteksi, barangkali sama seperti kalangan minoritas, padahal bermanfaat sebagai kunci.
    Contoh nyata adalah jangan jauh2 cari antidote jika kena ulat api (umum di kelapa sawit)–> belah saja ulatnya, ambil lemak dekat usus, oleskan, beres… dijamin sembuh. Contoh lain jika mancing sembilang dan kena patilnya, tak usah jauh-jauh cari obat –> ambil saja otak kecil sembilang tsb di belakang otak besar tempelkan pada bekas luka, dijamin tuntas
    Contoh nyata lagi pada cabe supaya jangan keriting, ambil saja tunas liar yg biasa dibuang. Keluarkan enzimnya dengan gula setelah diiris2 tipis. Semprotkan dosis rendah. Murah meriah dan aman.
    Kita memang perlu pada alam ciptaan Tuhan. Manusia sering njelimet. Padahal ilmuwan besar zaman dulu terkenal karena bergerak dari fenomena alamiah.
    Salam Kasih,

  10. Setuju bang Rudy, kiat2 yang simple namun tidak menguras biaya yang banyak sangat membantu sekali untuk petani miskin seperti saya.. Trims

  11. assalamualaikum.buat sdr.dian wikanto n sdr.rudy surbakti salut.semoga kalo ada permasalahan dilapangan pertanian saya bisa diskusi dengan saudara2.rekonstruksi pertanian kita.tata ulang dan maju.

  12. saya tertarik tentang komen2 mengenai penjelasan ilmiah BT terhadap air cucian beras. kira2 ad info mengenai bukunya tidak kalo ada saya mohon informasinya. kalo perlu penelitian kandunggan air beras terhadap culture BT

  13. hmm,.pembahasannya bagus sekali terutama analisis tentang microba BT tadi,.hmm klo boleh aq soroti juga secara logika saja,klo menrut teori mungkin sudah cukup di bahas tadi dari atas,.klo menurut perkiraan saya mungkin saja hal itu di sebabkan tingtkat pertahanan dan perlindungan diri dari tumbuhan tersebut jadi meningkat atau lebih aktif di sebabkan asupan nutrisi dan mineral yang cukup dari air beras tadi,.sehingga ulat2 tersebut dapat terbunuh secara alamiah,.karna kita ingat bahwa setiap tumbuhan atau makhluk hidup itu kan memiliki system pertahanan tersendiri dan berbeda-beda,ini logika saya,apabila salah mohon di ma’apkan.,, salam persahabatan,sukses selalu,.

    hafidz
    madura

  14. air cucian beras juga bisa sebagai racun bagi manusia,bila didiamkan 1 malam,itu udah banyak yg membuktikan lho spt cerita2 pembunuh berantai ,itu lho ada yg menggunakan minuman bekas cucian beras

  15. Jadi ingat hadist dari Rasulullah shalallahu alihi wassallam tentang minuman atau bejana yang kemasukan lalat.ambil aja lalatnya lagi kemudian benamkan kembali ke bejana.karena satu sayap terdapat racundan sayap lainnya terdapat penawarnya.

  16. saya tertarik tentang komen2 mengenai penjelasan diatas terhadap air cucian beras, sangat membantu… sya mempunyai banyak tanaman cabe yg saya tanam di dalam pot atau polibek. namun saya kesulitan terutama mengatasi pohon cabe saya daunnya banyak yang keriting… tolong rekan2 kalo ada infonya bantu saya…trims

  17. Wah tips yang sangat bermanfaat nih ..
    Tapi insektisida sistemik apa yang cocok untuk menanggulangi
    kutu perisai dan kutu putih (mealybug)..
    Ada yang bisa bantu???
    kalau bisa kirim ke email saya jhoniegudel[at]yahoo[dot]com
    Terimakasih.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: